
Inka tersenyum samar mendengar sapaan yang sudah bisa ia pastikan sebelumnya itu. Ia menoleh ke arah suara yang menyapanya itu. Ia tahu bahwa saat itu sang suami sedang menatapnya dengan pandangan bertanya, tetapi ia sengaja pura-pura tak melihat ekspresi Kanigara saat itu.
"Ahhh, Pak Bimantara. Apa kabar Pak?" tanya Inka seolah terkejut akan keberadaan Bimantara di tempat itu. Bimantara menatap Inka dengan kekaguman yang sama sekali tak ditutupinya yang membuat Kanigara mengepalkan tangannya dan menatap lawan bicara Inka itu dengan pandangan membunuh yang pasti akan membuat nyali lawan bicara Kanigara saat itu menciut.
Namun hal itu tak berlaku bagi lawan bicara Inka itu, ia terlihat tenang bahkan seolah tak perduli dengan keberadaan Kanigara.
"Seperti biasa, saya baik Bu Inka dan bertambah baik dengan kehadiran ibu di tempat ini!" balas Bimantara dengan senyum yang menggoda sambil menyodorkan tangannya ke arah Inka. Inka tersenyum sembari menyambut uluran tangan Bimantara. Bimantara dengan sengaja mencium tangan Inka saat bersalaman yang membuat wajah Kanigara semakin menggelap. Inka langsung melepaskan tangannya dengan cara yang anggun, karena ia tahu saat itu Bimantara sedang berusaha memprovokasi Kanigara.
"Ahhh, Tuan Muda dari keluarga Janu. Apa kabar? Wahhh, aku engga nyangka kamu bakalan punya seorang istri secantik Bu Inka ini. Hahahah..., aku lupa kalo dulu kamu dijuluki lelaki anti wanita! Ternyata julukan itu cuma rumor ya! Semoga pernikahan ini bukan suatu bentuk kamuflase ya?!" sindir Bimantara terang-terangan yang membuat kilatan emosi di mata Kanigara terlihat jelas.
Kanigara menggeretakkan giginya sebelum membalas perkataan Bimantara itu. Inka sengaja diam dan menunggu reaksi Kanigara terhadap perkataan Bimantara yang terdengar sangat kurang ajar itu. Senyum sinis dan merendahkan muncul di wajah Kanigara.
"Well, as you see..., saya memang beruntung mendapat istri secantik nyonya muda keluarga Janu yaitu wanita yang ada di samping saya ini. Rumor atau kamuflase itu tergantung sudut pandang orang yang melihat, dan anda mungkin yang paling tau bahwa saya tak pernah perduli omongan orang lain. Apalagi dari kumbang yang suka menebar benih terlarang di sembarang tempat, tapi tak punya nyali untuk bertanggung jawab atas benih yang ditebarnya," balas Kanigara dengan seringaian menghina yang membuat Bimantara berang.
Inka bisa mendengar suara-suara berbisik di sekitar mereka, diiringi tatapan penasaran yang dialamatkan kepada mereka. Inka tetap terlihat santai seolah tak terjadi sesuatu di antara mereka saat itu. Tak lama seseorang datang dan menyapa mereka.
"Pak Kanigara...," sapa Noah sang pemilik acara. Lelaki itu juga menyapa Bimantara dan berkenalan dengan Inka. Setelah berbasa-basi sebentar dengan Bimantara, Noah mengajak Kanigara dan Inka untuk memisahkan diri dari Bimantara dan menemui teman Kanigara yang lain.
"Bro, jangan ngamuk di pestaku, okay?" seru Noah sambil memeluk bahu Kanigara untuk menenangkan lelaki yang masih terbalut emosi itu. Kanigara menggenggam tangan Inka dengan sangat erat, Inka hanya diam dan membiarkan sang suami menyalurkan emosinya.
__ADS_1
****
"Bisa kamu jelaskan gimana kamu bisa kenal dengan lelaki itu?" tanya Kanigara saat ia dan Inka sudah berada di dalam mobil dan bersiap untuk pulang.
"Lelaki itu?" tanya Inka seolah ia tak memahami maksud pembicaraan Kanigara. Kanigara menatap tajam ke arah Inka yang berada di sampingnya. Inka tetap terlihat tenang bahkan tak tampak takut dengan tatapan Kanigara yang tak biasa itu.
"Aku rasa, aku punya partner yang cukup cerdas untuk memahami arah pembicaraanku! Kecuali aku salah menilai orang!" tandas Kanigara yang membuat ainka tersenyum dalam hatinya.
"Ahhh, Pak Bimantara...," ujar Inka kemudian menceritakan tentang kedatangan lelaki itu ke kantornya beberapa waktu yang lalu yang membuat Kanigara terkejut.
"Kenapa kamu engga bilang kalo dia datang ke kantor kamu?! Jangan menerima tawaran kerja sama apapun dengan dia! KAMU DENGAR!" tegas Kanigara yang membuat Inka mengerutkan dahinya. Ia mendebat sang suami karena tak terima dengan nada bicara Kanigara yang terkesan memerintah dirinya.
Kanigara sama sekali tak menyangka dengan balasan yang diberikan oleh istrinya itu. Ia tahu dengan baik bahwa saat ini, wanita yang ada di sampingnya itu sedang menunjukkan taringnya dan tidak dalam mode wanita yang bisa diajak bicara dengan cara mengintimidasi yang saat itu dilakukan oleh Kanigara.
Suasana dingin dan menegangkan tercipta di dalam mobil yang sedang dikemudikan oleh Kanigara itu. Kanigara sama sekali tak membalas perkataan Inka dan terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Sedangkan Inka masih dalam mode siaga karena ia tahu Kanigara belum selesai menyerang dirinya secara verbal, karena lelaki itu membenci kata kalah.
****
Setelah mereka sampai di rumah Inka langsung bergegas menuju kamar pribadinya yang diikuti oleh Rima yang sudah mengetahui kedatangan nyonya dan tuan mudanya itu.
__ADS_1
"Gimana pergerakan di rumah hari ini, Rim?" tanya Inka yang sudah duduk manis di meja kerjanya setelah gadis itu selesai membersihkan diri. Rima pun melaporkan semua kegiatan setiap penghuni kediaman keluarga Janu tanpa terkecuali. Inka tersenyum sinis saat mendengar laporan Rima.
"Kamu udah tau harus gimana kan, Rim?" tanya Inka memastikan bahwa Rima sudah mengetahui tugas selanjutnya.
"Sudah nona muda, siap laksanakan!" sahut Rima dengan penuh semangat yang membuat Inka tertawa kecil. Inka mengetikkan pesan untuk dikirimkan kepada Gianna. Gianna yang membaca pesan Inka mengerutkan dahinya sesaat lalu menyeringai senang.
****
"Kita perlu bicara!" ujar Kanigara saat Inka memasuki kamar tidur mereka. Inka yang sudah mengetahui bahwa sang suami sedang menunggunya, menghela nafas pelan karena ia tahu harus bersiap untuk konfrontasi yang akan dilanjutkan oleh Kanigara.
Inka duduk dengan tenang di depan Kanigara sambil menunggu perkataan yang akan keluar dari bibir suaminya itu.
"Maaf kalo tadi aku udah bicara keras ke kamu! Bimantara bukan pria yang bisa diajak kerja sama dan dia sangat licik!" ujar Kanigara pelan. Inka sedikit terkejut dengan situasi saat itu karena Kanigara berbicara dengan lembut dan tenang. Sisi lain yang dulu tak pernah dilihat oleh Inka. Namun Inka tahu Kanigara sudah berhasil mengatasi kemarahannya, yang membuat Inka tersenyum samar.
Kanigara menceritakan tentang siapa Bimantara dan mengapa Kanigara melarang Inka untuk berhubungan dengan lelaki itu. Inka mendengar dengan saksama penjelasan sang suami tanpa menginterupsinya. Setelah memastikan Kanigara selesai dengan ceritanya, Inka menatap Kanigara dengan lekat sebelum akhirnya mengutarakan isi kepalanya kepada sang suami.
"Ehmmm, makasih udah mau berbagi kisah kakak dengan lelaki itu. Tapi sebagai orang yang punya kemampuan menilai orang lain, seharusnya kakak tau siapa partner hidup kakak. Bukankah dalam kehidupan pribadi atau bisnis kita harus mempercayai insting kita dan menghargai pilihan yang kita ambil?!" balas Inka yang membuat Kanigara menghela nafas berat dan akhirnya menganggukkan kepalanya. Ia memahami maksud perkataan Inka, walau Kanigara sedikit khawatir bila Inka akan terkecoh dengan permainan Bimantara.
Inka mendekati Kanigara dan langsung memeluknya dengan erat tanpa aba-aba.
__ADS_1
Aku engga akan kalah dalam kehidupan kali ini, Kak. Karena aku kembali untuk memenangkan pertempuran kali ini dan mengambil apa yang harusnya menjadi milik aku, termasuk kamu!