
Setelah menyibukkan diri dengan semua persiapan pernikahan yang digelar di salah satu hotel yang merupakan anak perusahaan dari Janu Group, akhirnya dua hari sebelum pernikahan Inka bisa sedikit bersantai. Dua minggu belakangan, Inka sudah letih berjibaku dengan urusan pernikahan sembari berusaha mengejar waktu untuk menyelesaikan serah terima tugasnya kepada Segara yang diserahi tanggung jawab untuk menggantikan dirinya sebagai wakil CEO di perusahaan mereka. Segera setelah Inka menikah dengan Kanigara, lelaki itu langsung meminta Inka untuk pindah ke Batam, sepulang dari bulan madu mereka.
Inka sudah menyetujui permintaan dari calon suaminya itu karena banyak hal yang harus dia siapkan saat memasuki pintu gerbang kediaman Janu dan memulai pekerjaan sebagai Regional Manager yang memimpin cabang baru perusahaan mereka di Batam. Gianna juga tak tinggal diam dan selalu membantu Inka untuk mempersiapkan semua kebutuhan Inka saat kepindahannya ke Batam. Gianna pun sudah berencana berpindah domilisi ke Batam demi membantu melindungi sahabat kesayangannya itu.
"Kamu ngapain ngekorin Inka pindah ke Batam sih, Gi? Trus toko bunga kamu yang di sini gimana?" tanya Segara saat mereka sedang berkumpul bertiga di kamar Inka. Mereka berkumpul untuk melakukan farewell party untuk melepas kepindahan Inka ke Batam.
"Ihhh, suka-suka aku dong, Sega! Aku mau pindah ke Batam kek, ke Bulan kek engga ada urusannya sama kamu toh! Kalo masalah toko, aku udah delegasikan semuanya sama Mia! Jadi kamu engga perlu khawatir. Bilang aja takut ditinggal sendirian, pake acara bawa-bawa toko bunga aku pula!" gerutu Gianna sambil cemberut yang membuat Inka terkekeh sedang Segara hanya bisa mendengus kesal.
Begitulah bila Segara dan Gianna disatukan dalam tempat yang sama, ada saja hal yang mereka jadikan sebagai bahan perdebatan. Inka hampir selalu jadi penengah untuk kedua sahabatnya itu. Namun entah mengapa persahabatan mereka tetap awet meskipun Segara dan Gianna kerap terlibat adu mulut, bahkan mereka pernah tak saling bertegur sapa selama beberapa bulan saat berada di bangku SMA, hanya karena Segara lupa membelikan coklat kesukaan Gianna saat ia sedang berlibur ke Bandung.
****
Satu hari sebelum hari H, Inka meminta agar Gianna mengirimkan semua pesanannya ke kantor cabang perusahaan Alora Group yang ada di Batam.
"Gi, jangan lupa pas hari H suruh orang kiriman Kenneth memantau gerak-gerik orang-orang yang ada dalam daftar tamu yang sudah aku tandai sebelumnya. Kalo ada yang mencurigakan langsung lapor ke aku!" ujar Inka memberi instruksi kepada sahabatnya itu.
__ADS_1
"Kamu yakin waktu acara pernikahan kalian, mereka udah mulai bergerak, say?" tanya Gianna pada kesempatan itu.
"Ehmmm, kalo sesuai dengan kejadian di masa lalu, mereka melakukan playing victim yang membuat namaku jelek. Kali ini semua akan berbalik secara perlahan. Aku harap Tuhan berada di pihakku lagi kali ini!" balas Inka sambil mengepalkan tangan karena teringat hari pernikahannya yang sempat dinodai kejadian memalukan yang membuat Kanigara terlihat mulai membencinya.
Tak akan terulang untuk ke dua kalinya! batin Inka yang sudah mempersiapkan permainan untuk membalik keadaan bila memang kejadian di masa lalunya terulang kembali.
****
Hari pernikahan pun tiba, untuk pertama kalinya Inka bertemu kembali dengan Kanigara setelah melalui masa pingitan selama dua minggu. Kanigara sedikit tertegun saat melihat Inka memasuki ruangan pemberkatan didampingi oleh sang ayah, Oliver.
Setelah melakukan pengucapan janji nikah dan bertukar cincin, Kanigara dipersilakan untuk mencium sang mempelai pengantin wanita. Kanigara dengan santai membuka veil yang menutupi wajah Inka, lalu tanpa aba-aba ia langsung mencium bibir gadis itu yang membuat Inka berdiri terpaku karena tak siap dengan kelakuan sang suami yang berada di luar prediksinya. Terdengar seruan dan siulan dari para tamu saat melihat adegan mesra yang dilakoni oleh kedua mempelai pengantin itu. Sementara itu seseorang yang menatap mereka dari kejauhan sedang mengepalkan tangan, menggigit bibirnya dan menahan air mata yang ingin meloloskan diri.
"What the..., kiss on the lips?" seru Gianna tak percaya karena kali ini pun terjadi perubahan alur cerita dari ciuman di kening menjadi ciuman di bibir. Inka tersadar karena pekikan histeris dari para keluarga dan tamu, ia menatap lekat ke arah Kanigara yang sedang tersenyum manis sembari menatapnya. Inka memilih menahan diri dan menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan maksud dari Kanigara mencium bibir padahal mereka sudah mempunyai perjanjian perihal sentuhan fisik sebelumnya.
Setelah upacara pemberkatan selesai, mereka langsung menuju ruangan resepsi yang berada di ballroom hotel itu. Seluruh keluarga mengucapkan selamat kepada kedua mempelai pengantin yang terlihat sangat bahagia itu. Inka secara sengaja menampilkan raut wajah penuh kebahagiaan kepada seluruh tamu undangan yang hadir.
__ADS_1
Satu, dua, tiga, empat... Ehmmm, pemeran utama antagonis wanitanya belum hadir sepertinya. Mari menunggu Inka sayang! batin Inka bermonolog. Kanigara terus memperhatikan gerak-gerik istrinya dan terlihat puas karena Inka bersikap sesuai eskpetasi lelaki itu sebelumnya. Inka yang anggun, sopan dan lembut berhasil mengambil hati keluarga besarnya yang hadir saat itu.
Kanigara pun memasang tampang bahagia di hadapan semua tamu yang hadir untuk mengimbangi perilaku sang istri. Hari ini kedua mempelai pengantin itu seolah berlomba-lomba melakoni peran pasangan yang sedang di mabuk cinta dan saling memuja satu sama lain. Di tengah perayaan, Inka menghela nafas berat dan meremas kebayanya dengan erat. Gianna yang melihat perubahan pada gestur tubuh sahabatnya itu langsung melihat arah pandangan Inka.
Akhirnya muncul juga pemeran antagonis yang sudah kita nanti-nantikan, batin Gianna. Ia langsung bergerak menghampiri Inka dan memeluknya seolah-olah memberikan selamat kepada sahabat terkasihnya itu.
"Take a deep breath, dear. Kamu bukan Inka yang dulu! Kali ini kamu engga sendiri, ada aku! Exhale-inhale. Tegakkan punggung, angkat kepala kamu dan tersenyumlah. Ini hari kamu, sayangku! Let's win this battle!" bisik Gianna yang hampir saja membuat Inka menitikkan air matanya karena haru.
Pada akhirnya Inka kembali pada kesadarannya dan mengangkat wajah sembari menyunggingkan senyum termanisnya ke arah sang suami, yang sempat membuat Kanigara terpana.
"That's my girl!" ujar Gianna tanpa suara dan mengedipkan sebelah matanya kepada Inka sembari menyalami Kanigara. Inka tertawa sembari melemparkan tatapan sayang ke arah sahabatnya itu. Lagi-lagi Kanigara terpana karena baru kali itu ia melihat Inka tertawa lepas dan istrinya itu terlihat sangat cantik.
Di sisi lain terlihat seorang pria dengan sorot wajah sendu, sedang melihat sang mempelai pengantin wanita yang terlihat sang mempesona di matanya. Ia tahu sejak awal, ia tak akan pernah bisa memiliki gadis yang sangat dicintainya itu. Gadis yang sangat dekat dirinya, tetapi kali ini terasa sangat jauh.
"Selamat atas pernikahan kamu sayangku, dan selamat tinggal untuk perasaan tak berbalas ini, sahabatku!"
__ADS_1
****