Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
71


__ADS_3

Seila membuka matanya setelah siraman air mengenai wajahnya. Ia mengedipkan matanya beberapa kali, untuk memperjelas pandangannya.


"Ahhh, sudah sadar ternyata! Selamat datang di kediaman kami, Nona Seiska Lamara alias Seila!" Suara orang yang dikenal oleh gadis itu terdengar di seantero ruangan.


"Lepasin aku, perempuan b*suk! Kau tak akan pernah selamat karena sudah berani menculik aku seperti ini!" teriak Seila pada suara itu.


"Wahhhh, buronan polisi berani berbicara selantang itu!!! Punya nyali besar juga ternyata seorang pembantu yang mengkhianati Tuan yang sudah sangat baik kepadanya. Ehmm, mungkin pembantu seperti itu perlu diberi sedikit ganjaran agar tau diri, bukan begitu!" ujar suara tersebut.


Tiba-tiba dari dalam kegelapan seseorang muncul dan menampar wajah Seila berkali-kali hingga darah mengucur dari bibirnya dan pipinya membengkak. Kata "stop" yang berasal dari wanita itu, membuat sosok yang berbaju serba hitam itu berhenti melakukan aksinya.


Seila hampir pingsan karena tamparan yang dialamatkan berkali-kali pada wajahnya itu. Ia mencoba mengenali wajah orang yang menamparnya itu, tetapi karena ruangan itu gelap ia tak bisa melihat dengan jelas. Namun melihat perawakannya, Seila bisa memastikan bahwa orang yang dihadapannya itu adalah seorang wanita.


"Urusan kita belum selesai Seila! Ujung dari kisahmu adalah hukuman mati, tapi sebelum itu mari kita bersenang-senang sebelum waktu kematianmu tiba, perempuan Iblis!" Suara itu takl lagi terdengar, yang ada hanya keheningan yang mencekam dalam ruangan itu seolah suara maut sedang membisikkan nyanyian pengantar tidur kepada gadis yang tiba-tiba pingsan itu.


****


"Maaf Pak, saya tidak bisa menyelamatkan Nona Seila karena tiba-tiba kepala saya dipukul dari belakang hingga saya pingsan," ujar Edward saat melapor kepada Bimantara yang terlihat siap untuk mengamuk.


"Ngurusin hal remeh kayak gitu aja kamu engga becus! Gimana kamu bisa jadi tangan kanan aku selama bertahun-tahun, Ed? Kerahkan sebagian anak buah kamu untuk mencari keberadaan Seila. Temukan dia hidup atau mati!" tanya Bimantara berusaha menahan amarahnya mengingat Edward adalah salah satu orang kepercayaannya. Ia dan Seila adalah tangan kanan Bimantara. Mereka berdua sudah bergabung di bawah naungan keluarga Bimantara sejak sepuluh tahun yang lalu.

__ADS_1


Sejak pertama kali melihat Bimantara\, Seila sudah menaruh hati kepada laki-laki itu. Dia bahkan dengan berani mengutarakan perasaannya kepada Bimantara yang membuat Bimantara menjadikannya penghangat r***angnya kapan pun lelaki itu menginginkannya. Seila sama sekali tak keberatan dengan hal itu\, selama ia bisa terus dekat dengan Bimantara. Hingga suatu hari\, ia ditugaskan menjadi mata-mata di kediaman Kanigara.


Saat pertama kali melihat musuh Bimantara itu, hatinya bergetar seperti pertama kali ia melihat Bimantara. Hal itu membuat Seila memendam sebuah rasa terlarang terhadap musuh tuannya itu. Ia menjadikan dirinya agen ganda karena ia tak ingin mengkhianati Bimantara, tetapi di lain sisi, ia juga tak ingin menyakiti Kanigara. Perasaannya terlanjur berkembang tanpa ia sadari, ia menjadi terobsesi pada Kanigara.


Semua khayalan Seila itu, menjadi hancur berantakan saat Inka menjejakkan kakinya pertama kali di kediaman keluarga Janu. Seila langsung menganggap Inka sebagai musuh yang harus ia lenyapkan karena Seila melihat binar cinta di mata Kanigara, setiap kali lelaki itu menatap sang istri.


****


"Sial, mereka sudah mulai bergerak! Aku tak menyangka bahwa gadis itu memiliki kemampuan seperti itu. Bila ia bergabung dengan Kanigara maka posisi kita bisa terancam!" ujar Bimantara kepada Edward. Edward hanya mendengarkan atasannya dalam diam. Ia tak berani memberikan solusi, karena takut bila ia salah berucap, ia akan menjadi sasaran empuk pelampiasan emosi dari Bimantara.


"Hubungi Buana, ia harus tau tentang kondisi Leticia. Tapi kita bisa memanfaatkan kondisi Leticia untuk memanas-manasi lelaki tua itu!" ujar Buana sembari menyeringai karena merasa menemukan solusi buat masalah yang sedang menjerat dirinya.


Bimantara sudah menyiapkan kejutan, yang akan membuat istri Kanigara bahkan Kanigara sendiri tak berkutik. Ia akan mengirimkan serangan balasan yang tak akan diduga oleh musuhnya itu dengan menggunakan pion yang tepat untuk menghancurkan kehidupan Kanigara dan Inka.


****


Sementara itu, Kanigara yang mendapat informasi bahwa anak perusahaan Bimantara digeledah oleh pihak berwajib, merasa aneh karena setahu dirinya Bimantara memoles perusahaan itu dengan sangat baik hingga tak akan mudah untuk mengetahui bisnis yang sebenarnya dijalankan di perusahaan itu. Kanigara dan Niskala baru setahun belakangan ini, mengetahui transaksi ilegal yang terjadi dalam perusahaan Bimantara itu.


Kanigara dan Niskala sudah bersiap untuk membongkarnya bila melihat pergerakan Bimantara yang mereka anggap akan membahayakan keluarga dan perusahaan mereka. Namun ternyata orang lain sudah mendahului mereka dan membongkar bisnis ilegal dari musuh keluarganya itu.

__ADS_1


"Menurut kakak, siapa orang yang udah membongkar bisnis haram Bimantara itu?" tanya Kanigara saat ia dan Niskala sedang berada di ruang kerjanya.


"Menurut kamu?" tanya Niskala dengan raut wajah tak terbaca. Kanigara hanya diam saat mendengar pertanyaan Niskala itu. Ada beberapa orang yang Kanigara ketahui sebagai musuh dari Bimantara selain keluarga mereka, tetapi ia belum bisa memastikan keluarga yang sudah membongkar kejahatan Bimantara itu.


Niskala hanya tersenyum saat melihat reaksi dari adik laki-lakinya itu. Ia berharap bahwa Kanigara akan mendapatkan jawabannya sendiri karena ia tak ingin Kanigara tahu dari orang lain. Ia yakin suatu hari Kanigara akan mengetahui kebenarannya, entah itu dari informasi yang Kanigara cari atau dari sumbernya langsung.


****


Setelah urusan Kanigara di Batam selesai, Ia kembali ke Jakarta untuk menemani Inka dan keluarganya. Inka terlihat sangat bahagia dengan kehadiran sang suami. Ia segera memeluk lelaki itu ketika melihat Kanigara keluar dari pintu kedatangan bandara Soeta. Kanigara membalas pelukan Inka dengan erat lalu mencium bibir sang istri dengan mesra yang membuat Inka merona.


"Dikondisikan kemesraannya ya, ada yang masih jomblo di sini!" ujar Gianna sembari memanyunkan bibir yang membuat Kanigara tersenyum, sedangkan Inka tertawa kecil.


"Makanya jangan suka berantem aja, jadinya tuh orang engga nyadar ada yang sedang mencintainya diam-diam," sindir Inka yang membuat Gianna memelototi Inka.


Di kehidupanku kali ini, kalian harus bahagia, Gigi sayang. Akan aku pastikan kalian bersatu sebelum aku pergi, batin Inka yang menatap Gianna dengan sayang. Tatapan Inka itu membuat Gianna mendadak merasa haru. Ia tahu arti tatapan itu, tetapi ia tak tahu apa yang ada dibenak Inka saat melihat ke arahnya.


"Sayang, bisa kita bicara empat mata malam ini?"


****

__ADS_1


__ADS_2