Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
56


__ADS_3

"Wahhh, Nyonya Inka saya merasa tersanjung Nyonya mengetahui nama saya padahal kita belum pernah bertemu?" ujar Maxwell dengan tatapan menyelidik.


"Saya yang merasa tersanjung bisa bertatap muka untuk kedua kalinya dengan Tuan Maxwell, seseorang yang disegani di organisasi dunia bawah tanah." Pernyataan Inka itu sontak membuat sebelah alis Maxwell terangkat.


"Kita pernah bertemu?" tanya Maxwell tak percaya karena seorang wanita terhormat seperti Inka pernah memasuki dunia bawah tanah, karena Maxwell hanya bisa ditemui di tempat seperti itu. Ia hampir tak pernah keluar dari organisasi yang didirikannya selama ini.


Inka tersenyum simpul lalu menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari Maxwell.


Tentu saja pernah! Karena di masa lalu, kau hampir membunuh suamiku! batin Inka geram.


Maxwell memperhatikan wajah Inka dengan saksama sebelum akhirnya ia tertawa keras.


"Nyonya Inka, kebohongan apa yang sedang anda utarakan?! Jelas kita belum pernah bertemu, apakah karena anda ketakutan jadi anda membual?!" seru Maxwell sembari mendengus kasar yang membuat Inka kembali tersenyum. Inka memaparkan beberapa fakta yang ia ketahui tentang lelaki itu. Maxwell terkejut saat mendengar pemaparan Inka yang sepenuhnya benar.


"Tuan Maxwell jika saya takut, tentu saya tak akan mengambil resiko pergi ke tempat ini seorang diri. Baiklah saya langsung ke intinya saja, nyawa ganti nyawa, gadis yang kalian culik ganti putri anda yang berada di tangan kami! Kami sudah mengetahui pergerakan kalian! Jadi lebih baik kita bekerja sama karena putri yang anda sembunyikan dari dunia itu, akan segera terekspos bila anda salah mengambil pilihan,


Putri kesayangan anda itu bisa jadi sasaran empuk musuh-musuh anda yang lain. Selagi saya masih melakukan penawaran yang menguntungkan, sebaiknya anda mengambil kesempatan itu!" Inka mengancam Maxwell dengan nada santai yang membuat lelaki paruh baya itu menatap Inka dengan tatapan tak percaya.


Maxwell segera menghubungi seseorang untuk mengkonfirmasi perkataan Inka. Ia menatap Inka dengan tatapan waspada. Ia tak menyangka bahwa semua ini adalah jebakan yang disiapkan untuknya.


"Bimantara sialan!" desis Maxwell sembari mengepalkan tangannya. Ia mempertimbangkan penawaran yang diberikan oleh Inka.


"Tuan Maxwell, saya tahu anda lelaki yang bijaksana. Daripada bekerja sama dengan orang kuat, bukankah lebih baik bekerja sama dengan yang terkuat?! Bimantara tak akan pernah menang melawan kami! Jadi jangan sampai mengusik orang yang salah!" ujar Inka memberi peringatan sekaligus nasihat kepada Maxwell yang membuat lelaki itu tahu bahwa Inka bukan sedang membual.


****

__ADS_1


"Inka!!!" teriak Kanigara, Asher dan Niskala. Mereka langsung berangkat setelah mendapat panggilan dari Gianna yang mengatakan bahwa Inka diculik.


Kanigara mendobrak pintu yang menjadi tempat dimana kemungkinan Inka disekap. Mereka menemukan Inka dan seseorang yang lain sedang diikat tangan dan kakinya, serta ditutup mata dan mulutnya.


"Sayang, kamu gapapa?!" ujar Kanigara yang langsung membuka penutup mata dan mulut istrinya itu. Niskala membuka ikatan tangan dan kaki Inka. Inka langsung memeluk Kanigara yang membuat lelaki itu balas memeluknya erat untuk menenangkan istrinya itu.


Sementara itu, Asher sedang membuka ikatan gadis yang ada di samping Inka.


"Melanie!" ujar Asher lirih saat melihat wajah gadis itu ketika penutup matanya dibuka. Setelah semua ikatannya terlepas Melanie langsung memeluk Asher sambil menangis yang membuat lelaki itu mematung.


"A..., aku..., takut, Ash!" ujar Melanie dengan tubuh yang gemetaran. Mereka membawa kedua gadis itu keluar dari gedung tua itu. Mereka sedikit merasa aneh karena mereka tak menemukan petunjuk apapun di tempat itu, bahkan tak ada yang berjaga di gedung yang merupakan tempat penyekapan Inka dan Melanie itu.


Kanigara terus memeluk Inka untuk menenangkan sang istri yang terlihat masih terguncang itu. Sementara Asher dengan terpaksa membiarkan Melanie terus bergelayut di lengannya. Ia bisa melihat ketakutan di mata gadis itu, yang membuat ia tak tega untuk menyuruh tunangannya itu menjauh dari dirinya.


Terima kasih buat kerja samanya Tuan Maxwell, putri ada sudah kembali ke asramanya dengan selamat. Anda bisa memastikannya sendiri.


Maxwell tersenyum simpul saat membaca pesan singkat dari Inka. Ia sudah menghubungi putri semata wayangnya yang sengaja ia tempat di asrama yang ada di luar negeri agar aman dan terhindar dari ancaman para lawannya.


Putrinya adalah hasil hubungannya dengan seorang penari di klub malam saat ia masih menjadi seorang tentara bayaran. Hubungan mereka tak berjalan lama, tetapi suatu hari penari itu menemui Maxwell dan mengatakan bahwa ia memiliki putri dari hubungan masa lampau mereka.


Awalnya Maxwell tak percaya, tapi tes DNA yang mereka lakukan membuktikan bahwa perkataan wanita itu benar adanya. Ia segera membayar penari itu untuk menyerahkan putrinya itu kepada seorang pengasuh yang dipilih oleh Maxwell.


Setelah penari itu menyerahkan putri mereka, Maxwell langsung mengirimkan pengasuh dan bayinya keluar dari Indonesia untuk mengamankan keberadaan putrinya itu. Ia tak menyangka rahasia yang ia simpan selama 15 tahun, bisa diketahui oleh seorang Inka Alora.


****

__ADS_1


"Bisakah tidak pergi, Ash? Aku masih takut!" ujar Melanie lirih saat melihat Asher akan beranjak dari kursi yang ada di samping bangsal yang ditempatinya. Asher menghela nafas berat, kemudian menganggukkan kepalanya.


"Hanya sampai Tante Remaya datang, paham kamu! Sekarang ceritakan kronologi gimana kamu bisa diculik?!" tanya Asher yang membuat tubuh Melanie kembali gemetar. Melanie berusaha menenangkan dirinya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.


Sembari meremas selimutnya, ia berusaha menceritakan detil penculikan yang diingatnya. Asher mendengarkan cerita Melanie dalam diam, sembari memikirkan sesuatu.


Kenapa Melanie dan Inka? Apa ini orang yang sama dengan yang membakar gedung kemarin? Apa mereka tahu Melanie adalah tunanganku? batin Asher mencoba menebak alasan penculikan itu.


"Asher, bisakah kasih aku kesempatan sekali aja untuk menjelaskanya yang terjadi di masa lalu. Please Ash, sekali ini aja! Tolong dengarkan kali ini aja!" Melanie merasa ini adalah kesempatan terakhir yang ia miliki untuk meluruskan kesalahpahaman yang terjadi di antara dirinya dan Asher.


Asher hanya diam, tetapi ia juga tidak berusaha menolak permintaan Melanie. Ia menatap Melanie dengan lekat. Namun tak ada tatapan penuh kebencian lagi.


Melanie menarik nafas panjang sebelum memulai penjelasannya. Asher mendengarkan semua penjelasan Melanie dalam diam. Ekspresi yang tampak di wajah lelaki tampan itu, hanyalah ekspresi datar. Hal itu membuat Melanie merasa kecewa, karena merasa seolah Asher tak berminat mendengarkan penjelasannya sama sekali.


Melanie menghela nafas pelan, setelah selesai menceritakan detil kejadian yang sebenarnya.


"Aku engga pernah disentuh oleh Axel. Ia hanya menggodaku. Chelsea yang sudah membayar Axel untuk melakukan hal itu, karena Chelsea ingin memisahkan kita! Percaya sama aku, Ash!" Itu adalah perkataan terakhir Melanie.


Melanie merasa tak nyaman dengan sikap diam Asher. Ia merasa Asher sama sekali tak tergerak hatinya saat mendengar penjelasan jujur dari dirinya. Ia meremas selimut yang menutupi setengah bagian dari tubuhnya.


"Masih ada yang lain, yang mau kamu jelaskan?" tanya Asher setelah beberapa saat. Melanie hanya menggeleng lemah karena ia merasa Asher tak akan pernah membuka hatinya lagi untuk gadis itu.


"Baiklah, kalo begitu pertunangan kita dilanjutkan! Sekarang tidurlah, aku akan nemanin kamu!"


****

__ADS_1


__ADS_2