Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
30


__ADS_3

Inka mencoba menyembunyikan raut keterkejutannya kala mendengar pertanyaan Kanigara.


"Emang perempuan engga boleh punya borgol ya, Kak? Ada aturan yang melarangkah?" tanya Inka santai yang membuat Kanigara tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya.


"Itu hadiah dari Kak Asher, waktu aku lulus sertifikasi keanggotaan dari Perbakin. Jadi aku bawa aja ke sini, ternyata ada gunanya," jelas Inka yang membuat Kanigara sedikit terkejut. Ia tak menyangka bahwa istrinya itu memang menyukai olahraga yang menantang adrenalin.


Kenapa Inka yang sekarang jauh beda dengan Inka yang dulu? Batin Kanigara yang merasa banyak hal yang tak ia ketahui tentang sang istri. Informasi yang Jordan berikan sebagian besar memang benar tapi ternyata tak bisa mewakili kepribadian Inka seluruhnya


Asher..., iya, Asher pasti tau! pikir Kanigara kala mengingat bahwa sahabatnya sudah menjadi kakak iparnya saat ini.


"Ayo tidur sekarang, kamu butuh istirahat!" ajak Kanigara sembari menarik tangan Inka pelan untuk mengajaknya masuk. Inka terkejut tapi tak menolak ajakan suaminya itu. Malam itu untuk pertama kalinya, Inka bisa melihat wajah lelap sang suaminya berhadapan dengan wajahnya kala mereka tidur.


****


"Pagi Bu Bos, Pak Bos," sapa Segara saat Inka dan Asher memasuki ruangan kerja mereka.


"Betah amat di Batam? Engga niat balik ke Jakarta lagi nih?" sindir Asher yang membuat Segara tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Asher hanya menepuk bahu Segara, sebagai penanda bahwa ia hanya bercanda. Segara memang sahabat Inka, tapi bila di kantor Segara adalah asisten Asher dan sebagai CEO, Asher bisa sangat tegas kepada bawahannya sekali pun dengan Segara yang notabene orang terdekat dari keluarga mereka juga.


Bagi Asher, Segara dan Jordan adalah adik laki-lakinya bila berada di luar kantor. Tapi begitu menginjakkan kaki ke kantor semua atribut itu akan ia lepas, atasan tetaplah seorang atasan tanpa ada embel-embel keluarga bahkan itu berlaku untuk seorang Inka. Asher tak akan segan menegur Inka, bila ia melakukan suatu kesalahan dalam pekerjaannya.


Mereka bertiga mendiskusikan banyak hal, hingga tak terasa sudah waktunya makan siang. Tiba-tiba ponsel Asher berbunyi, yang membuat lelaki itu tersenyum dan menyerahkan ponselnya kepada Inka.


"Halo...," sapa Inka.

__ADS_1


"Sayang, kenapa hape Asher sama kamu?" tanya Kanigara bingung karena yang mengangkat panggilannya adalah sang istri.


"Kak Asher ngasih aku yang angkat karena kakak yang nelpon. Ehmm, sejak kapan nama kakak berubah jadi Big...," ujar Inka menggoda sang kakak yang membuat Asher langsung merebut ponselnya dari Inka. Inka tertawa kecil saat melihat wajah panik sang kakak. Segara hanya tersenyum geli melihat kelakuan dua bersaudara itu.


Kanigara mengajak Inka, Asher dan Segara untuk makan siang bersama. Namun Segara menolak untuk ikut dengan alasan dia ada rapat dengan klien bersama Max. Inka tahu Segara berbohong tapi dia memilih diam karena ia tahu sahabatnya itu pasti punya alasan sendiri kenapa menolak tawaran Kanigara.


Kanigara! Kalo di kehidupan kali ini Inka tak berbahagia denganmu maka aku tak akan segan merebut Inkaku darimu!


****


"Loh papi, mami sama Kak Niska juga di sini?" tanya Inka saat melihat Kanigara ternyata bersama keluarganya.


"Iya, tadi Gara sama Niska jemput papi sama mami waktu lagi jalan-jalan di pantai," ujar Elisha yang kelihatannya sangat memuja anak menantunya itu. Inka hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya ke arah Kanigara sebagai penanda bahwa ia berterima kasih karena tindakan manis suaminya itu.


Inka tak ingin keluarganya mengetahui yang terjadi di kediaman keluarga Janu beberapa hari yang lalu. Ia bahkan sudah mengultimatum kedua sahabatnya, Jordan dan seluruh staf di kediaman keluarga Janu untuk tutup mulut terkait hal yang menimpanya kala itu. Ia tak ingin keluarganya khawatir dan menyalahkan Kanigara atas insiden yang menimpanya.


S*al! Perempuan ini pasti sengaja datang untuk merusuh! Batin Inka. Ia memutar otaknya mencari cara agar Leticia tidak mengacau di acara makan siang keluarganya itu.


"Gara, Inka, wahh kalian juga di sini?!" seru Leticia seolah ia tanpa sengaja bertemu dengan mereka di tempat itu.


"Iya, kamu sama siapa ke sini?" tanya Kanigara.


"Sendiri, Gar. Aku kangen makanan di sini. Biasa kita makan bareng di sini, kan?" ujar Leticia memulai rencananya. Inka mencibir pelan sembari meminum teh yang ada di depannya.

__ADS_1


"Kenalin Mami, Pi..., ini Leticia sahabat kecil aku. Asher juga kenal...," ujar Kanigara agar kedua mertuanya tidak salah paham dengan kata-kata yang dilontarkan Leticia. Ia memandang Leticia dengan tatapan menegur, tetapi gadis itu seolah tidak melihatnya.


"Ahhh, kayaknya mami inget. Leticia datang ke pernikahan kalian kan, sayang? Ohhh, mami ingat kamu yang tali gaunnya putus waktu dansa dengan Kanigara bukan? Kamu gapapa kan kemarin, sayang?" ujar Elisha dengan raut wajah khawatir yang membuat Leticia terkejut dan mengepalkan tangannya menahan marah dan malu.


Inka hampir menyemburkan tehnya karena tak menyangka bantuan datang dari ibunya sendiri. Elisha menyerang gadis itu secara verbal, tetapi elegan. Keempat pria yang berada di antara ketiga wanita itu hanya bisa berdiam diri.


"Ahh, duduk sayang..., maaf tante engga maksud menyinggung perasaan kamu. Tante atas nama kedua keluarga kami kemarin belum sempat meminta maaf karena kejadian yang menimpa kamu di pesta pernikahan anak tante," ujar Elisha dengan tenang.


Dasar engga ibu, engga anak sama aja! Ngeselin! Awas aja kau Inkaaaa! Batin Leticia sembari memaksakan senyumnya.


"Gapapa kok, Tante. Ahhh, maaf sebentar ada telepon, Tan...," ujar Leticia sembari menjauh. Inka tahu itu hanya alasan Leticia untuk menghindari mereka.


"Maaf Tante, Om dan semuanya. Kali ini aku engga bisa gabung, karena ada urusan mendesak. Aku permisi...," ujar Leticia yang langsung meninggalkan keenam orang yang menatapnya dengan pandangan yang berbeda.


Ahh, selamat! Batin Inka sembari menatap sayang ke arah sang ibu yang juga sedang menatapnya. Elisha tahu Inka tak nyaman dengan keberadaan sahabat dari Kanigara itu, sehingga sang ibu langsung menyentil sisi sensitif Leticia dengan membicarakan aib yang menimpa gadis itu.


Kanigara menghela nafas berat karena merasa sifat Leticia berubah akhir-akhir ini. Ia menjadi tak mengenal sahabatnya itu. Padahal yang ia tahu Leticia adalah gadis manis dan lembut. Ia selalu mendukung Kanigara bahkan menjadi salah satu tempat Kanigara bersandar saat ia kehilangan sang ayah.


Kanigara sempat terkejut saat mendengar racauan Leticia yang menghina istrinya, sebagai efek dari meminum teh yang seharusnya diberikan kepada Inka. Ia tak menyangka di balik sikap manisnya ke Inka, ternyata sahabatnya itu membenci sang istri.


Ia juga tak menyangka kalau selama ini, Leticia menyimpan perasaan cinta kepadanya. Sejak kejadian itu Kanigara tak tahu harus bersikap bagaimana kepada Leticia. Mungkin Leticia tidak mengingat kejadian itu, tapi Kanigara dan orang-orang yang berada di ruang makan kala itu bisa mendengar semua perkataan yang keluar dari bibir Leticia.


"Pi, jalankan rencana kita berikutnya! Aku udah engga tahan lagi ngeliat p**acur itu!"

__ADS_1


****


__ADS_2