Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
67


__ADS_3

Leticia telah kembali siuman dan wajah pertama yang ia lihat adalah wajah sang suami, Bimantara. Lelaki itu duduk di sofa yang menghadap ke arah jendela dan terlihat termangu.


Leticia mencoba mengingat apa yang telah terjadi, dan mengapa ia kembali berbaring di ranjang.


"DIA MATI!"


Ingatan tentang kata-kata terakhirnya tiba-tiba muncul di benaknya yang membuat Leticia mengumpat dalam hati. Ia mencoba berpura-pura tidur kembali, untuk mengulur waktu dan memikirkan alasan yang masuk akal terkait janin yang digugurkannya beberapa hari yang lalu.


Sial, darimana lelaki ini tau tentang kehamilanku? Arghhh, siapa pengkhianatnya kali ini? Dasar b**ingan! batin Leticia meradang.


Ia terus berpikir keras, guna mencari alasan tentang perkataannya sebelum Leticia pingsan. Setelah mendapatkan ide yang brilian tentang alasan keguguran yang ia alami, ia melakukan akting seolah baru saja siuman.


"Sayang..., maaf!" gumamnya lirih seolah sedang mengigau dalam tidurnya. Gumaman Leticia itu membuat Bimantara bergerak dan bergegas mendekati sang istri.


"Sayang," ujar Bimantara sembari mengguncang tubuh Leticia secara perlahan yang menyebabkan Leticia membuka matanya secara perlahan. Ia menatap Bimantara dengan tatapan sendu, yang membuat Bimantara menggenggam tangannya.


"Kamu kenapa? Bisakah kamu ceritakan tentang kejadian yang sebenarnya?" tanya Bimantara perlahan agar tak membuat sang istri kembali terguncang.


"A..., aku memang hamil anak kita! A..., aku pengen ngasih surprise ke kamu, ta..., tapi aku terjatuh di kamar mandi dan aku ngalamin pendarahan! Aku keguguran!" ujar Leticia sembari melakoni peran sebagai seorang ibu yang terguncang karena baru saja kehilangan bayi yang dikandungnya. Ia menangis terisak sembari memukuli dadanya, yang membuat Bimantara merasa iba dan memeluk sang istri dengan erat.


"Gapapa, sayangku! Kita masih bisa usaha lagi! Aku engga akan membenci atau memarahi kamu hanya karena hal itu! Kita masih punya banyak waktu untuk punya anak lagi! Please, jangan sedih lagi ya! Aku khawatir banget sama kondisi kesehatan kamu! Kenapa kamu engga jujur aja sama aku?" tanya Bimantara yang membuat Leticia semakin terisak dalam pelukan sang suami.


"Maafin aku, aku takut kamu kecewa sama aku, karena engga bisa jaga bakal bayi kita dengan baik, makanya aku sampai keguguran!" seru Leticia yang terlihat mulai histeris. Bimantara memeluk sang istri lebih erat, dan terus membisikkan kata-kata yang menenangkan untuk menjaga kestabilan emosi dari Leticia.


Bagus! Berhasil! Dasar laki-laki b*go!

__ADS_1


****


"Bimantara bergeming! Leticia pasti udah menemukan cara buat membungkam mulut Bimantara!" ujar Gianna yang membuat Inka tersenyum misterius. Gianna menatap Inka dengan bingung, sembari menebak apa yang ada dipikiran sahabatnya itu.


"Sekarang waktunya kartu trufnya kita buka dan kirimkan sebagai hadiah buat seorang Bimantara. Begitu juga surat cinta untuk Leticia!" ujar Inka menyeringai yang membuat Gianna berseru senang.


"Minta kenneth bekerja sama dengan Rhode untuk menjalankan misi itu. Aku mau mereka mendapat hadiah mereka secara bersamaan," lanjut Inka yang mendapatkan anggukan mantap dari Gianna yang sudah tak sabar untuk melaksanakan misi mereka itu.


Inka mengetuk-ngetukkan pena yang ada di tangannya, seolah menimbang sesuatu.


"Apa sudah waktunya untuk memberitahukan kebenarannya pada Kanigara ya? Aku takut kehabisan waktu dan berlalu tanpa mengungkapkan kebenarannya pada Kanigara!" ujar Inka lirih yang membuat Gianna terkejut. Gianna tak mengatakan apapun karena tatapan Inka saat itu sudah menjelaskan langkah yang akan diambil istri dari Kanigara itu.


****


"Halo Kak, Inka sudah mulai menjalankan semua rencananya. Gianna sudah meminta aku untuk bekerja bersama informan mereka selama ini!" ujar Rhode saat berbicara dengan seseorang yang berada di seberang panggilan.


"Baik!" Balas Rhode kemudian memutuskan panggilan mereka. Rhode duduk termangu dan kembali mengingat percakapan ia dan Inka kala itu. Entah mengapa ia merasa bahwa Inka seakan tergesa-gesa seolah mengejar sesuatu yang Rhode tak tahu.


Mengapa rasanya ada yang mengganjal, kenapa kedua kakak beradik ini begitu misterius? Frissy, gimana kabar kamu di sana? Sebentar lagi orang sudah menghancurkan kamu dan kehidupan keluarga kita, akan menerima azab atas perbuatan mereka! Tunggu sekejap, adikku sayang! Setelah itu tidurlah dalam tenang, bersama papi dan mami! batin Rhode yang larut dalam lamunan dan perasaan sendu yang menyelimuti hatinya.


****


"Leticia, apa kabar?" ujar seseorang yang sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum penuh arti. Leticia terkejut dan melihat gadis yang berdiri di depannya, seolah sedang menatap hantu.


"Kau! Kenapa kau ada di sini?! Penjaga!" teriak Leticia.

__ADS_1


"Well, aku hanya sedang mengunjungi sahabat lama. suamiku, apa ada yang salah dengan itu? By the way, selamat atas pernikahan kamu dengan musuh sahabat kamu sendiri? Engga usah teriak, engga ada satu orang pun di depan pintu," ujar seorang wanita yang tak lain adalah Inka.


Kali ini, Inka memilih mengkonfrontasi pihak lawannya secara langsung sebelum kartu truf yang sudah mereka siapkan, akan dikirim oleh Rhode dan Kenneth. Ia merasa perlu untuk menemui Leticia, sebelum menghancurkan lawannya itu. Inka menatap Leticia dengan lekat yang membuat istri Bimantara itu merasa tak nyaman.


"KELUAR! KELUAR PEREMPUAN M*RAHAN!" teriak Leticia yang tiba-tiba menjadi histeris yang membuat Inka menyeringai dan mendekati musuhnya itu. Ia mencengkeram dagu Leticia dan menatap gadis itu dengan pandangan membunuh yang membuat Leticia tiba-tiba bergidik ngeri.


Leticia tak menyangka bahwa seorang Inka memiliki sorot mata kelam yang membuat ia mendadak takut seolah tertarik oleh magnet kegelapan yang tak berujung saat menatap iris mata milik Inka. Ia berusaha menepis tangan Inka, tetapi Inka menangkap tangan Leticia.


"Dengar! Kehancuranmu sudah mendekat, permainan ini akan segera berakhir! Mari ke neraka bersama-sama! Kali ini tawa itu milikku, bukan milikmu!" bisik Inka yang membuat Leticia terguncang. Ia seolah pernah mendengar perkataan itu entah di mana.


"Tidurlah," bisik Inka tepat sesaat sebelum ia menepuk leher Leticia pelan.


****


"Kirimkan dua jam lagi, si cantik masih tidur dengan pulas," ujar Inka saat ia sudah berada kembali di mobil yang dikemudikan oleh Gianna. Gianna menunggu Inka di luar kamar saat mereka menyelinap untuk melakukan kunjungan kejutan untuk seorang Leticia.


"Gimana dia?" tanya Gianna penasaran.


"Obat yang kita hadiahkan setiap hari ke dirinya, bekerja dengan baik! Rumah sakit jiwa sepertinya akan siap menampung seorang pasien lagi setelah mendapatkan kejutan yang sudah kita siapkan!" ujar Inka santai yang membuat Gianna tersenyum puas, sekaligus sedih karena itu salah satu pertanda bahwa semua kisah yang sudah mereka rangkai ini akan segera berakhir. Dan hal itu berarti, ia akan segera kehilangan seorang Inka untuk selamanya.


Mobil itu melaju dalam diam, baik Inka maupun Gianna sibuk dengan pikiran merek masing-masing. Tiba-tiba ponsel Inka berdering, dan nama sang kakak muncul di layar ponsel tersebut. Tiba-tiba perasaan takut menyelimuti Inka, yang membuat tangannya sedikit bergetar kala mengangkat panggilan Asher. Seolah firasat buruk yang beberapa hari ini seakan berusaha mendekati, akhirnya datang menyampaikan berita.


"Ka..., pa..., papi udah engga ada!" ujar Asher dengan suara parau.


"TIDAK!!!"

__ADS_1


****


__ADS_2