Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
16


__ADS_3

"Ehmm, Kak..., aku mau minta ijin untuk ngajak Rima pelayan pribadiku dulu untuk tinggal di sini, karena aku masih ngerasa asing di rumah ini," ujar Inka sedikit ragu.


"Terserah kamu aja, untuk urusan internal rumah aku serahin ke kamu aja. Kalo ada desain rumah yang ingin kamu ganti juga engga masalah, engga perlu permisi ke aku. Sekarang kamu nyonya rumah di kediaman ini," ujar Kanigara santai yang membuat Inka terkejut.


Apa-apaan ini? Ini engga benar, pasti ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh lelaki ini. Kanigara tak pernah sebaik ini pada Inka yang lama! batin Inka sembari menggeretakkan giginya. Ia semakin mencurigai maksud Kanigara dibalik semua sikap manisnya kepada Inka selama beberapa hari ini.


****


Mereka bertiga akhirnya berkumpul bersama di ruang makan untuk bersantap malam.


Aroma ini? batin Inka saat mengendus makanan yang akan masuk ke dalam mulutnya.


S*al! Mereka sudah mulai lebih awal ternyata! Cih! batin Inka geram. Ia berusaha memikirkan cara agar bisa lolos dari jebakan yang dipersiapkan untuk gadis itu. Inka memegang perutnya secara tiba-tiba dan mulai meringis kesakitan.


"Kamu kenapa sayang?" tanya Kanigara yang langsung mendekati sang istri untuk memeriksa keadaannya. Niskala juga mendekati adik iparnya itu.


"Kayaknya maag aku kambuh, Kak. Aku engga bisa makan berat hari ini. Ehmm, boleh aku makan bubur yang disiapkan Bik Marni aja? Aku pengen istirahat di kamar aja dulu," ujar Inka sembari mencoba berdiri. Kanigara langsung menggendong dirinya ala bridal yang membuat Inka terkejut. Niskala hanya tersenyum geli melihat betapa Kanigara sangat protektif kepada istrinya itu.


S*alan perempuan itu! Kenapa bisa pake acara sakit perut sih? Ke depan kamu engga akan bisa lolos! batin seseorang sembari mengepalkan tangannya kesal karena rencananya gagal kali ini.


"Kamu istirahat dulu, Bik Marni tolong buatkan bubur untuk istri saya! Kamu yakin engga mau diperiksa sama dokter?" ujar Kanigara yang langsung membuat Bik Marni pamit undur diri dan segera melakukan perintah Tuan Muda keduanya itu.


"Engga usah kak, aku punya obat sendiri kok," ujar Inka agar kebohongannya tidak terbongkar, walau sebenarnya ia sudah sangat ingin bertemu dengan gadis yang bernama Melanie itu. Kanigara meninggalkan Inka setelah memastikan istrinya itu beristirahat dengan posisi yang nyaman.


Mereka bergerak lebih cepat dari dugaan!


Inka mengirimkan pesan kepada Gianna yang membuat Gianna terkejut saat membacanya. Gianna menggeram kesal karena musuh-musuh Inka ternyata sebegitu membenci sahabatnya sampai tega melakukan hal-hal keji terhadap istri Kanigara itu.


****


"Bik Marni, Dokter Melanie itu udah lama bekerja untuk keluarga Janu? Masih mudakah?" tanya Inka keesokan harinya saat ia sedang bersantai di taman.

__ADS_1


"Dokter Melanie bekerja untuk keluarga Tuan Muda udah tiga tahunan, Non. Dulunya dokter Anjas, cuma beliau sudah meninggal, dan digantikan anak perempuannya yaitu dokter Melanie itu," jelas Bik Marni yang membuat Inka terkejut.


Dokter Anjas meninggal? Melanie putrinya dokter Anjas? batin Inka. Ia lalu mengetikkan sesuatu dan mengirimkannya kepada Gianna.


Aye, aye Captain. Serahkan saja pada detektif Gianna Edogawa... πŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Gianna membalas pesan yang dikirimkan oleh Inka dengan segera. Inka tertawa kecil saat membaca pesan yang dikirimkan oleh sahabatnya itu. Inka mengorek beberapa informasi lainnya tentang Melanie dan juga keberadaan Niskala di Batam. Inka merasa lebih baik karena mendapatkan informasi tentang mereka, sehingga Inka mendapatkan petunjuk yang lebih jelas terkait orang-orang yang tiba-tiba bermunculan di kehidupan kedua Inka.


****


"Haloha Nona Muda Janu, apa kabar?" tanya Jordan yang tiba-tiba muncul di kediaman keluarga Janu bersamaan dengan kepulangan Kanigara dan Niskala.


"Jordan, Segara?" ujar Inka sembari memeluk kedua kakak beradik itu. Kanigara menatap dingin ke arah tiga orang yang sedang berpelukan itu, yang membuat Niskala mendengus geli. Niskala segera menepuk bahu Kanigara dan mendekati tiga orang yang sedang sibuk mengobrol itu.


"Permisi tapi Pak suami kita ini juga kangen sama Bu istri," ujar Niskala sambil mendorong pelan punggung Kanigara agar mendekati sang istri. Segara dan Jordan langsung memberi jalan kepada Kanigara sembari menahan tawa karena baru pertama kali melihat Kanigara salah tingkah.


"Aku pulang!" ujar Kanigara canggung.


"Selamat datang kembali," ujar Inka sembari tersenyum simpul.


"S*alan!" gerutu Kanigara sambil menggenggam tangan Inka dan berlalu dari ketiga lelaki lainnya.


Sementara itu seseorang sedang memperhatikan interaksi Kanigara dan Inka sembari menggeretakkan giginya dan menatap ke arah pasangan suami itu dengan pandangan nanar.


Dasar J*lang! Tunggu aja pembalasanku!


****


Malam itu, Inka menyantap makan malam dengan santai yang membuat seseorang menyeringai puas karena merasa Inka masuk dalam jebakannya.


Tinggal menunggu waktu, Kak Kanigara akan segera membencimu!

__ADS_1


Setelah selesai makan malam, Segara memilih untuk menemani Inka mengobrol di taman, sedangkan Kanigara, Niskala dan Jordan berada di ruang kerja Niskala untuk mengikuti teleconference dengan tim yang berada di kantor pusat mereka yang ada di Singapore.


"Ga, tunggu di taman bentar ya aku mau ngambil hape di kamar," ujar Inka yang langsung mendapat anggukan oleh Segara.


Tak lama Inka bergabung bersama Segara. Mereka membahas tentang banyak hal, dan acapkali Inka terlihat tertawa mendengar guyonan Segara yang selalu berhasil membuat Inka merasa senang.


"Kamu bahagia, Ka?" tanya Segara dengan raut wajah serius. Inka menganggukkan kepala sambil tersenyum. Segara mengacak rambut Inka dengan lembut, yang membuat seseorang yang sedang memperhatikan mereka dari kejauhan tertawa sinis.


"Kalo suatu saat kamu ngerasa engga happy, ingat kamu masih punya kami, aku!" lanjut Segara yang membuat Inka merasa sedikit aneh dengan perkataan sahabatnya itu. Namun, Inka mengabaikan suara dalam hatinya itu.


Engga mungkin! Batin Inka. Segara menatap Inka dengan lekat yang membuat Inka sedikit risih.


"Vrooo, kamu engga kesambet kan? Serius amat ngomongnya, aku jadi takut tau!" ujar Inka yang membuat Segara tiba-tiba tertawa dan mengacak rambut Inka lagi. Inka mendengus kesal karena Segara lagi-lagi merusak tatanan rambutnya.


"Ada yang lucu? Kayaknya obrolannya asyik bener?!" Terdengar suara Kanigara yang tiba-tiba muncul di belakang mereka.


"Kak Kani, udah selesai meetingnya?" tanya Inka yang langsung berdiri menyambut sang suami. Segara pun ikut berdiri dan tersenyum ke arah Kanigara. Kanigara hanya menatap Segara dengan tatapan datar yang membuat Segara merasa mendapat peringatan dari suami sahabatnya itu.


"Karena Kak Gara udah selesai meeting, udah waktunya aku balik, Ka. Tugas aku nemenin kamu udah kelar, hehehe," ujar Segara sambil menepuk bahu Inka lembut yang membuat Kanigara menatapnya tajam. Segara hanya tersenyum simpul dan bersikap santai di depan Kanigara karena ia merasa tak melakukan hal yang salah.


****


"Aku harap kamu bisa jaga sikap kamu!" ujar Kanigara tegas saat mengikuti Inka masuk ke kamarnya selepas mengantarkan Segara dan Jordan ke depan pintu. Inka berbalik badan dan menatap sang suami dengan tatapan bingung. Ia tak mengerti maksud perkataan Kanigara.


"Boleh aku tau maksud perkataan kakak?" tanya Inka.


"Kamu itu wanita bersuami, seharusnya kamu engga berduaan dengan lelaki lain." Inka memandang Kanigara dengan tatapan tak percaya. Inka ingin melawan perkataan Kanigara, tetapi entah mengapa malam itu Inka sedang malas meladeni suaminya itu.


"Ada lagi yang mau kakak bicarakan, kalo engga silakan keluar dari ruangan ini. Aku paham dengan ucapan kakak, dan terima kasih udah mengingatkan! Aku akan jaga sikap aku, tapi sekedar koreksi, kami engga duduk berduaan di taman bareng Segara aja karena Bik Marni dan Seila ada di tempat itu juga," ujar Inka tegas yang membuat Kanigara sedikit terkejut dengan sisi lain yang baru diperlihatkan oleh sang istri. Kanigara tak percaya Inka berani mengusir Kanigara keluar dari kamarnya.


Kanigara segera keluar dengan membanting pintu, yang membuat Inka menghela nafas berat dan terduduk di sofanya.

__ADS_1


"Bagus Inka, kamu bukan yang Inka dulu. Kamu berhak membela diri kamu sendiri."


****


__ADS_2