Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
75


__ADS_3

Gianna tak tahu harus bersikap bagaimana tatkala Segara memeluknya seperti itu, ia tak berani melihat ke arah Segara karena ia tahu bahwa wajahnya saat itu sudah sangat memerah karena malu.


"Lepasin, Gar! Kamu ngapain sih?" ujar Gianna sembari mencoba menetralisir jantungnya yang berdetak begitu kencang. Alih-alih melepaskan pelukannya Segara malah meletakkan dagunya di bahu Gianna yang membuat Gianna semakin sulit bernafas.


"Kamu kesambet apaan sih tadi, Gar? Salah makan ya? Lepasin, panas tau!" ujar Gianna yang berusaha melepaskan pelukan dari sahabatnya itu. Segara terkekeh mendengar perkataan Gianna lalu melepaskan pelukannya dan duduk di bangku yang ada di depan meja kerja gadis itu.


Gianna tak punya keberanian untuk menatap Segara. Ia mencoba terlihat serius menekuni pekerjaan merangkai pesanan bunga dari pelanggannya.


"Gi, aku itu cuma mengekspresikan perasaaan rindu aku ke kamu. Kamu ini, aku bersikap manis kamu protes, ngajak gelut apalagi! Kamu maunya apa? Plin-plan banget sih jadi cewek!" ujar Segara yang membuat Gianna menghentikan kegiatannya. Ia tetap menundukkan kepalanya, seolah sedang memikirkan sesuatu.


Aku maunya kamu, tapi kamu maunya Inka! jerit Gianna dalam hatinya.


Gianna sebenarnya sangat berharap memiliki sedikit saja keberanian Inka dalam hal percintaan. Inka sangat berani mengejar cinta dari sang suami, Kanigara. Sayangnya, Gianna tak memiliki hal itu. Ia selalu berharap Segara mempunyai perasaan yang sama dengannya tetapi tatapan mata Segara kepada Inka dan dirinya sangatlah berbeda. Ia bisa melihat tatapan cinta yang sejak dulu selalu Segara hadiahkan untuk Inka, tetapi tidak untuk dirinya.


"Gi, kamu kenapa diam aja? Aku minta maaf deh, karena sembarangan meluk kamu. Sebagai permintaan maaf aku, aku mau ngajak kamu makan. Mau kan?" ujar Segara yang menatap Gianna dengan lekat.


Kamu emang engga penah peka!


****


Malam itu entah mengapa Inka merasa sangat gelisah. Ia sama sekali tak bisa memejamkan matanya, ia merasa sesuatu hal buruk akan terjadi. Ia mencoba kembali menggali ingatan masa lalu. Ia tak ingin kejadian yang menimpa sang ayah terulang lagi. Inka mengetahui dengan pasti bahwa Bimantara tak akan berdiam diri setelah semua kemalangan yang menimpa dirinya.

__ADS_1


Inka bangkit dari ranjangnya, ia melihat sekilas ke arah Kanigara yang tampak tertidur dengan pulas. Ia keluar dari kamar dan mencoba mengelilingi kediaman keluarganya itu. Ia mulai mengecek setiap kamar yang ada di kediaman masa mudanya itu, di mulai dari kamar sang ibu. Inka bernafas lega karena melihat sang ibu yang sudah tertidur dengan nyenyak. Ia mencium kening ibunya dan mulai berpindah ke kamar yang lain.


Ia mencoba ke kamar Asher. Ia mendapati kamar sang kakak sudah terkunci yang menandakan Asher sudah beristirahat. Ia berjalan menuju kamar Gianna yang berada di samping kamar Asher. Ia mencoba mengetuk pintu, tetapi tak ada yang menyahut. Ia mencoba membuka pintu kamar Gianna yang ternyata tidak terkunci. Inka kebingungan karena tak melihat sahabatnya itu di ranjang, padahal kala itu sudah jam 11 malam.


"Gi, Gigi kamu ada di dalam?" ujar Inka mencoba mengetuk pintu kamar mandi. Namun tak ada jawaban dan saat Inka periksa kamar mandi itu kosong. Inka berjalan ke arah balkon, tetapi penampakan Gianna juga nihil.


Inka mulai merasa cemas karena merasa ada yang tidak beres. Inka langsung berlari keluar dan menggedor kamar Asher yang membuat sang kakak yang kala itu sedang sibuk membaca di kamarnya terkejuut dan segera membukakan pintu.


"Ada apa teriak-teriak, dek?" tanya Asher.


"Gi, Gigi, Gianna engga ada di kamarnya kak. Tolong telepon Segara tadi aku nyuruh dia jumpai Gianna ke toko!" seru Inka yang terlihat cemas itu. Asher segera melakukan permintaan Inka. Sementara itu, Inka langsung berlari ke pintu luar dan meminta penjaga untuk mencari keberadaan Gianna di sekitar lokasi kediaman mereka. Ia pun bergegas menuju kamarnya untuk mencari ponsel. Ia mencoba menghubungi Gianna tetapi ponsel milik sahabatnya itu tidak aktif.


Inka merasa sesuatu yang buruk sedang terjadi. Tangan Inka mulai bergetar dan nafasnya mulai tersengal.


"Ini obatnya kan, sayang?" ujar Kanigara yang langsung sigap membantu Inka mengambilkan obat dan meminumkan obat itu kepada Inka.


Suara ketukan terdengar di kamar Inka. Kanigara langsung membukakan pintu, karena mendengar suara Asher. Asher terkejut melihat penampakan Inka yang terlihat lemah. Ia tak berani mengatakan hal yang sebenarnya kepada Inka. Asher memilih berbohong kepada Inka.


"Gianna lagi di rumah Segara, sayang! Kamu engga perlu khawatir!" ujar Asher sembari tersenyum dan mengelus rambut Inka. Kanigara tahu bahwa Asher tidak mengatakan hal yang sebenarnya karena melihat kondisi Inka saat itu. Inka terlihat lega saat mendengar perkataan dari Asher. Karena efek obat penenangnya, tak lama Inka pun tertidur.


****

__ADS_1


"Sepertinya Gianna di culik. Segara sudah berusaha melacak keberadaan Gigi melalui ponsel milik Gigi. Segara tadi memang bareng Gigi, tapi setelah makan malam, Segara udah nganterin Gigi balik ke toko!" jelas Asher yang merasa Inka sudah tertidur pulas.


"Iya aku tahu dari ekspresi kamu tadi! Aku juga udah ngerahin tim yang ada di sini untuk mencari keberadaan Gianna. Ini pasti ulah Bimantara!" ujar Kanigara sembari mengepalkan tangannya karena geram. Kanigara juga menghubungi Niskala dan Rhode untuk membantu mereka. Asher juga segera menghubungi Melanie untuk bergegas menuju kediaman keluarga Janu, karena takut tunangannya itu kembali mengalami hal yang sama.


Melanie segera melakukan perintah dari Asher. Ia juga khawatir saat mendengar berita tentang Gianna. Ia berharap Gianna akan baik-baik saja. Saat akan menuju ke parkiran, ternyata seorang wanita sudah menunggu Melanie. Melanie sempat terkejut saat sang gadis menarik tangannya dan mengajak bersembunyi di sebuah ruangan.


"Ka..., kamu bukannya staf di kediaman Kanigara?" tanya Melanie sambil berbisik.


"Iya, dok. Saya ditugasin untuk jemput dokter. Kita harus nyamar dulu, Dok. Tadi di parkiran saya lihat ada beberapa orang yang mencurigakan ada di dekat mobil dokter," ujar gadis itu. Wajah Melanie menegangkan karena perkataan dari gadis yang berdiri di sampingnya itu.


"Dok, pakai ini!" ujar sang gadis sembari memberikan baju dokter bedah, masker dan menutup rambut kepada Melanie. Tanpa banyak bertanya, Melanie langsung mengganti pakaian dan mengikuti gadis itu keluar dari persembunyian mereka. Mereka segera menuju ke pintu luar rumah sakit karena sang gadis menyarankan agar mereka menaiki taksi saja sehingga penyamaran mereka tidak diketahui.


"Dok Melanie, aman Bu Bos!" ujar sang gadis saat menghubungi atasannya kala mereka sudah berada di dalam taksi dan menuju ke kediaman keluarga Janu.


****


Asher dan Kanigara telah bersiap untuk membantu pencarian Gianna. Mereka meminta Rima untuk menjaga Inka yang masih tertidur pulas. Mereka juga sudah memperketat penjagaan di kediaman keluarga Alora untuk mengantisipasi serangan yang bisa terjadi secara tak terduga.


Ponsel seseorang berbunyi dan sebuah terlihat sebuah pesan masuk di layar. Seseorang menyeringai, lalu bangkit.


"Gigi sayang, aku datang!"

__ADS_1


****


__ADS_2