
"Non Inka, ini saya buatkan teh chamomile kesukaan, Nona Muda," ujar Riska yang baru saja memasuki kamar Inka. Riska mengetahui kejadian yang menimpa sang nyonya mudanya dari Seila dan Bik Marni. Namun ia sama sekali tak berani menyinggung hal itu kepada sang nyonya.
"Ehmmm, makasih Riska. Kamu tau aja yang saya mau ya. Padahal saya belum minta," ujar Inka sambil tersenyum manis. Inka melihat jari tangan Inka yang dibalut plester.
"Tangan kamu kenapa, Ris?" tanya Inka.
"Ooo, ehhh, ini tadi engga sengaja kepotong pas bantuin Mang Kusno motong labu, Non," jawab Riska dengan raut wajah yang aneh. Inka hanya menganggukkan kepalanya dan membiarkan Riska pamit undur diri.
Riska itu engga kidal, kalo yang motong tangan kanannya, engga mungkin tangan kanannya yang luka kan? Batin Inka merasa aneh.
Inka mengambil sesuatu dari laci meja kerjanya dan mencelupkan ke dalam teh buatan Riska. Ia tersenyum saat melihat reaksi yang terjadi pada teh, lalu ia meminum teh itu dengan santai.
"Tolong carikan informasi tentang hal yang saya bicarakan tadi, Pak Kenneth. Dan sekalian data orang yang sudah saya kirimkan by WA tadi ya," ujar Inka yang sedang menghubungi Kenneth, sang detektif sewaan mereka.
"Baik Nona Inka, akan segera saya kerjakan dan saya report langsung ke Nona," balas Kenneth. Inka langsung memutuskan panggilan mereka, dan mulai menuliskan sesuatu pada buku harian dimana ia menulis runutan kisah masa lalunya, hingga yang terjadi pada masa kini. Ia menghela nafas berat karena semua yang terjadi saat ini seperti benang kusut yang harus ia urai secara perlahan. Ia tak ingin gagal menilai dan akhirnya menghukum orang yang salah.
Kisah dari masa lalunya hanya menampakkan beberapa orang yang mencelakai dirinya, tetapi alur bagaimana semua itu bisa terjadi masih menjadi misteri bahkan bagi Inka sendiri. Orang-orang baru pun bermunculan tanpa bisa Inka cegah, yang mengharuskan Inka memikirkan dengan saksama setiap langkah yang diambilnya.
Inka tak ingin mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kalinya. Sekarang dia sudah menjadi lebih kuat dan jauh berbeda dengan Inka yang dulu sehingga ia optimis bahwa kali ini hasilnya akan berbeda. Inka ingin segera menyelesaikan semuanya, tapi ia tahu tindakan tergesa-gesa bisa menyebabkan ia salah mengambil langkah dan malah menghancurkan semua usaha dan kerja kerasnya selama ini.
****
Tiba-tiba terdengar ketukan pada pintu kamarnya yang membuat Inka segera merapikan meja dan menyimpan semua catatan yang sudah ia tulis sebelumnya.
__ADS_1
"Masuk...," ujar Inka.
"Kenapa kamu engga baring di tempat tidur? Kata dokter kamu kan masih harus beristirahat!" ujar Kanigara saat memasuki kamar Inka. Suami Inka itu terlihat segar, sepertinya ia baru selesai membersihkan diri.
"Aku cuma mau menikmati teh chamomile yang udah dibuatkan Riska aja, Kak. Sayang kalo engga diminum. Kakak mau juga tehnya?" tawar Inka yang mendapat anggukan dari Kanigara.
Mereka berdua menikmati teh di balkon kamar Inka yang menghadap taman kediaman mereka. Kecanggungan kembali ternyata di antara keduanya.
"Ehh, harusnya besok kamu udah masuk kerja kan ya?" tanya Kanigara pada akhirnya. Inka hanya mengangguk membenarkan perkataan Kanigara.
"Mung...," Perkataan Kanigara terputus karena Inka langsung menimpalinya.
"Besok aku masuk kerja ya kak, soalnya Kak Asher pasti perlu keberadaan Segara di Jakarta. Apalagi sepeninggalan aku, mereka juga belum mendapat pengganti Segara yang gantiin posisi aku di kantor."
Kanigara hanya bisa menghela nafas panjang, dan memilih sikap diam karena ia tahu yang dikatakan oleh sang istri benar adanya. Akhirnya ia mengangguk menyetujui permintaan Inka, yang membuat sang istri tersenyum.
****
"Iya kak, udah engga sabar pengen duduk di meja kerja lagi. Udah kelamaan nganggur," balas Inka sambil tersenyum.
"Pagi sayang," ujar Kanigara menyapa Inka sembari mengecup puncak kepala sang istri yang membuat beberapa orang terkejut dengan pikiran yang berbeda. Rima menautkan kedua tangannya dan tersenyum bahagia karena melihat kemesraan yang sejak kemarin sudah diperlihatkan Kanigara terhadap nona muda kesayangannya itu. Niskala sendiri hanya tertawa kecil karena sepertinya sang adik sudah mulai memiliki perasaan kepada adik iparnya itu.
Di lain pihak, dua pasangan mata sedang menundukkan kepalanya menahan amarah karena merasa Inka sedang pamer kemesraan bersama Kanigara. Padahal kenyataannya, Inka sendiri kembali dikejutkan dengan sikap manis sang suami yang sebenarnya mengganggu Inka.
__ADS_1
Aku harus membicarakan hal ini lagi sama Kanigara. Entah apa maksud semua ini?! Yang jelas aku masih mencurigai dia. Jangan lengah, Inka! Kamu tau siapa Kanigara di kehidupan pertamamu! Batin Inka menguatkan diri agar tak jatuh ke dalam perangkap Kanigara.
****
Inka pamit undur diri dan kembali ke kamarnya untuk mengambil tas kerjanya. Ia kembali mendapatkan surat kaleng yang membuat Inka waspada. Surat kaleng itu diletakkan tepat di bawah tas Inka, agar tak terlihat oleh orang lain.
JANGAN NAIK MOBIL YANG DISEDIAKAN UNTUK KAMU! REMNYA BLONG!
Inka mengumpat kesal karena musuhnya kali ini jelas tak membiarkan Inka bernafas lega walau hanya sesaat. Kejadian yang ia alami di kehidupan keduanya jelas lebih berat dan berbahaya dari kehidupan pertamanya. Tapi untungnya kali ini dia dikelilingi malaikat pelindung yang membantu dirinya baik secara langsung atau terselubung.
Inka bergerak cepat, dan menahan tangan Kanigara yang sedang berjalan menuju pintu.
"Kak Kani, karena ini hari pertama aku kerja..., ehmmm, bisa antarkan aku ke kantor. Aku pengen ngenalin kakak sebagai suami aku!" ujar Inka dengan wajah memelas yang membuat Kanigara tersenyum sambil mengangguk. Inka menghela nafas lega karena Kanigara sepertinya tidak mencurigainya.
"Aku ikut!" ujar Niskala yang langsung memasuki kursi penumpang mobil Kanigara. Kanigara berdecak kesal, karena kakaknya itu sepertinya tak ingin berhenti menggoda mereka. Inka hanya tersenyum dan duduk di kursi penumpang yang ada di samping Kanigara.
****
"Kenapa perempuan itu selalu lolos dari jebakan kita?! Apa ada yang tau rencana kita dan membantunya?" ujar seorang perempuan kepada rekannya itu. Saat ini dua orang yang merupakan otak dari gangguan yang Inka alami selama berada di kediaman keluarga Janu sedang berada di satu ruangan yang merupakan tempat rahasia mereka
"Engga mungkin ada yang tau, sayang. Bahkan ramuan yang kita masukkan ke dalam makanan perempuan itu hingga saat ini aja engga ada yang tau! Kalo pelayan pribadinya itu engga perlu diselidiki, dia hanya gadis polos dan b*doh! Mungkin perempuan m*rahan itu lagi beruntung aja. Yang penting walau lebih lambat dari rencana kita, lama kelamaan perempuan b*doh itu sendiri yang akan menghancurkan biduk rumah tangga mereka," ujar sang rekan sambil tertawa keras.
Perempuan itu hanya menatap rekannya itu dengan ragu. Namun ia menyimpan perkara itu dalam hati, karena tak ingin menyinggung perasaan rekannya yang sangat sensitif itu.
__ADS_1
Apa ini semua benar? Kenapa rasanya nasib buruk seolah sedang mendekati ya? Batin si perempuan yang tiba-tiba menjadi gelisah.
****