Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
15


__ADS_3

Saat tengah malam, Inka menyelip keluar dari kamarnya sendiri. Ia berjalan berhati-hati agar tak menimbulkan suara. Ia berjalan mengelilingi seluruh kediaman keluarga Janu sembari membuka kembali semua kenangan menyakitkan dan membahagiakan yang masih tersimpan di dalam memorinya.


Ia menekan dadanya dengan kuat dan memaksa dirinya untuk melewati semua lorong-lorong yang pernah ia lalui di kediaman itu. Beberapa kali ia merasa mendengar teriakan histerisnya yang menggema di kediaman itu saat penyakit yang diidapkannya kambuh. Suara cemooh yang ia dengar riuh rendah seolah memekakkan telinga, membuat Inka menutup telinganya.


"Inka kamu bisa, kamu pasti bisa. Taklukkan ketakutanmu!" bisik Inka lirih kepada dirinya. Ia kembali berjalan dengan peluh yang membasahi dahi dan sekujur tubuhnya. Air mata membuat langkahnya berembun, sehingga ia dengan cepat mengucek matanya. Akhirnya ia sampai ke taman yang ada di belakang kediaman itu. Inka segera menarik nafas sedalam-dalamnya dan menghembuskannya dengan keras untuk mengurangi sesak di dadanya.


Ia merasakan angin dingin yang menyapa tubuhnya yang gemetar akibat hawa dingin yang menyentuh kulit dan piyamanya yang basah karena keringat. Ia membiarkan dirinya merasakan sensasi tak menyenangkan itu, agar membuat dirinya tetap sadar.


"Nona Muda?" seru seseorang yang membuat Inka terkejut. Ia menoleh dan melihat Riska yang berjalan cepat ke arahnya.


"Nona muda, ngapain di sini sendirian? Trus kenapa pakaian Non Inka basah? Ayo, masuk dulu nanti Nona Muda masuk angin!" ujar Riska sembari menarik lembut tangan Inka yang membuat mata Inka kembali berkabut.


Riska! Kamu masih sama, syukurlah kamu masih ada di kehidupanku kali ini. Aku pasti akan membalas kebaikan gadis manis sepertimu! batin Inka sembari mengikuti langkah Riska.


****


"Kamu darimana?" seru Kanigara yang tengah duduk manis di kamar milik Inka. Ia menelisik sang istri dengan saksama, lalu memicingkan matanya.


"Kenapa baju kamu basah?" ujar Kanigara saat melihat piyama sutra Inka yang menempel di kulit gadis itu. Kanigara segera meminta Riska membantu Inka untuk berganti pakaian dan setelahnya ia juga meminta Riska untuk membuatkan teh panas untuk dirinya dan Inka karena ia ingin membicarakan sesuatu dengan istrinya itu.


Setelah Riska meninggalkan kamar itu, Kanigara segera memulai pembicaraan mereka.


"Kali ini, aku akan berbicara sebagai partner kamu. Aku rasa sebaiknya kamu masuk ke kantor mulai Senin depan aja, karena kondisi kamu juga belum pulih. Jangan memaksakan diri, ini semua demi kebaikan kamu juga!" ujar Kanigara yang tak bisa dibantah oleh Inka.


Inka dilanda kebingungan karena di kehidupan kali ini, Kanigara jelas jauh lebih perhatian kepada dirinya. Inka ingat dulu saat ia jatuh sakit, sang suami bahkan tak mau bersusah payah untuk menanyakan keadaan Inka. Ia akan meminta Inka pindah ke kamar tamu, setiap kali Inka mengalami sakit dan menyuruh Bik Marni untuk mengurus semua keperluan Inka dibantu oleh Seila dan Riska.

__ADS_1


****


Pada akhirnya Inka mengikuti keinginan sang suami untuk beristirahat terlebih dahulu di rumah, sehingga Asher mengirimkan Segara untuk mengurus cabang Batam selagi Inka beristirahat.


"Haloha, Bu Bos..., lagi pain di pagi yang indah ini?" ujar Gianna yang mengunjungi Inka keesokan harinya. Gianna membawakan beberapa buket bunga cantik untuk ditempatkan di ruangan khusus milik Inka.


"Gigi..., Kamu mau numpang sarapan ya, makanya pagi-pagi udah bertandang ke rumah orang?" canda Inka yang membuat Gianna tersenyum.


"Jelas! Aku mau ngerasain dulu sarapan ala sultan di kediaman megah ini!" balas Gianna yang membuat Inka bertepuk tangan karena merasa ucapan Gianna sangat lucu.


****


Inka pun mengajak Gianna untuk sarapan setelah sebelumnya menanyakan keberadaan Kanigara dan Niskala pada Pak Gugun. Tak lama kedua lelaki yang dicari oleh Inka muncul di ruang makan. Gianna langsung menyapa keduanya ramah.


Mereka makan bersama dalam suasana santai. Setelahnya Inka dan Gianna mengantarkan kepergiaan Kanigara dan Niskala untuk berangkat ke kantor.


"Ada satu tokoh baru lagi yang muncul, namanya Melanie. Dokter keluarga Janu. Aku belum tahu muka sama secuil informasi pun tentang perempuan itu. Ntar aku tanyain ke Bik Marni sekilas tentang perempuan itu," ujar Inka setelah mereka berdua berada di ruangan pribadi istri Kanigara itu. Inka juga menceritakan insiden pingsannya kepada Gianna yang membuat sahabatnya itu terkejut dan langsung menghubungi psikiater langganan Inka untuk menceritakan kejadian itu.


Gianna berada cukup lama di kediaman keluarga Janu hingga menjelang sore ia memutuskan untuk pulang yang membuat Inka protes karena ia selalu merasa aneh bila ditinggalkan sendirian di rumah yang meninggalkan banyak nestapa baginya itu. Gianna yang memahami hal itu, mengusulkan agar Inka menarik Rima pelayan pribadinya saat di kediaman Alora untuk menemaninya tinggal di kediaman keluarga Janu yang membuat Inka mengangguk senang.


"Mami, gimana kabar kalian? Kapan mau main ke sini? Aku rindu." Inka segera menghubungi sang ibu setelah mengantarkan Gianna pulang.


"Halo sayangku, kami juga kangen banget. Minggu depan kami berangkat ke sana. Papi sama Asher lagi sibuk banget minggu ini, jadi baru minggu depan ada waktu buat ngunjungi kalian sayang," balas sang ibu yang membuat Inka senang.


"Mi, aku boleh ngajak Rima tinggal di sini engga? Soalnya aku ngerasa masih asing di sini," ujar Inka yang langsung disetujui oleh sang ibu. Elisha berjanji bahwa lusa ia akan memberangkatkan Rima ke Batam. Inka mengobrol cukup lama dengan sang ibu untuk melepas rindu.

__ADS_1


****


Menjelang malam Kanigara muncul bersama Niskala saat Inka sedang bersiap untuk makan malam.


"Kami pulang," seru Niskala sembari melambaikan tangan ke arah Inka yang sedang tersenyum.


"Selamat datang kembali," balas Inka. Kanigara melihat ke arah Inka yang tersenyum ramah kepada sang kakak. Kemudian Inka menatap ke arahnya lalu mendekati sang suami dan mengulurkan tangan ke arah lelaki itu yang membuat Kanigara mengerutkan dahinya. Ternyata Inka hanya bermaksud mengambil tas kerja milik sang suami.


"Biar aku aja yang bawa, berat ada beberapa dokumen yang aku bawa dari kantor," ujar Kanigara sambil menggenggam tangan Inka yang sedang memegang tasnya. Inka terkejut dengan tingkah laku sang suami.


"Ketemu 20 menit lagi di meja makan, Kak," lanjut Kanigara sambil menarik pelan tangan Inka agar mengikutinya, yang membuat Niskala tertawa kecil dan mengacak pelan rambut Inka.


"Jangan rusak rambut istriku!" ujar Kanigara sembari mendengus kesal yang membuat Niskala tertawa semakin kencang.


Sesampainya di kamar Kanigara, Inka memandang Kanigara dengan tatapan bertanya. Kanigara membalas tatapan Inka dengan cara yang sama. Inka menghela nafas panjang sebelum mengkonfrontasi Kanigara.


"Seingat aku, kita punya perjanjian mengenai skinship yang sudah kita sepakati sebelumnya kan? Kenapa kakak melanggar kesepakatan kita?" tanya Inka.


"Aku melarang, kapan dan dimana? Apa aku ada mencium, memeluk atau memperlakukan kamu lebih dari hanya sebatas genggaman, belaian di rambut selama kita menikah?" balas Kanigara yang membuat Inka memikirkan perkataan sang suami. Kemudian Inka menggelengkan kepalanya karena mengetahui suaminya mengatakan hal yang benar, dan melupakan kejadian saat Kanigara mencium tepat di bibir Inka saat pemberkatan nikah mereka.


Kanigara tak mengatakan apapun lagi. Ia langsung masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan meninggalkan sang istri yang terduduk dengan lemah di sofa.


Kenapa Kanigara berubah? Apa yang membuat dia berubah? Dulu bahkan ia terlihat jijik sangat menyentuh tanganku!


****

__ADS_1


__ADS_2