Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
64


__ADS_3

Hamil??? Leticia merasa terguncang mendengar berita yang diberitahukan kepadanya. Ia tak menyangka bahwa ia mengandung anak Bimantara dalam rahimnya. Tangannya bergetar hebat saat mendengar perkataan sang dokter kandungan yang sedang duduk di hadapannya.


Leticia merasa tak siap dengan kenyataan yang harus ia hadapi.


Kenapa bisa kejadiannya kayak gini?! Aku udah berhati-hati bahkan meminum pil anti kehamilan agar aku tak perlu menanggung dosa karena menggugurkan kandunganku, karena sampai kapan pun aku tak sudi ngandung anak ini! batin Leticia geram.


Ia mengatakan pada staf pribadi yang menemaninya, untuk merahasiakan hal itu dari semua orang. Ia tak ingin kabar itu sampai di telinga Bimantara karena ia sudah mempunyai rencana sendiri terkait hal itu.


Bila gagal maka aku akan melenyapkanmu, batin Leticia.


****


Sementara itu, di rumah sakit yang berbeda, Kanigara dan Inka, yang ditemani oleh Melanie sudah berada di dalam ruangan poliklinik obgyn (kandungan).


"Ibu Inka tidak apa-apa, Pak. Mungkin sakit kepala dan oyong yang dialami oleh Bu Inka karena faktor perubahan hormonal saja. Saya melihat memang ada kista di dalam rahim Bu Inka, tapi itu hanya kista fungsional. Terkadang kista fungsional bisa muncul saat seorang wanita mendekati siklus menstruasinya," jelas dokter kandungan yang sedang duduk di hadapan Inka dan Kanigara.


Hal itu membuat baik Kanigara dan Inka merasa lega. Walau ada terbersit kesedihan dalam hati Inka, karena ia sungguh berharap bahwa ia bisa hamil secepatnya, agar ia bisa pergi dengan tenang bila waktu kepergiannya sudah tiba.


"Syukurlah dok, kalo begitu. Saya sudah takut bahwa terjadi sesuatu pada istri saya, karena Inka sering sekali mengalami sakit kepala hingga pingsan selama ini," ujar Kanigara yang membuat sang dokter kandungan dan Melanie tersenyum simpul. Dari gerak-gerik Kanigara, Melanie mengetahui perasaan Kanigara yang sesungguhnya terhadap Inka, hal itu membuat Melanie ikut berbahagia untuk mereka.


Inka dan Kanigara, pulang ke kediaman mereka dalam diam. Inka yang menyandarkan kepalanya pada bahu sang suami masih merasa kecewa dan sedih karena hasil pemeriksaan tadi. Sementara Kanigara sendiri merasa lega karena ternyata Inka tak mempunyai penyakit yang berat.


"Syukurlah kamu engga kenapa-kenapa, sayang! Aku udah khawatir banget kalo kamu sampe sakit berat!" ujar Kanigara sembari menggenggam tangan Inka. Inka hanya menganggukkan kepalanya pelan. Ia memilih menutup matanya seolah berpura-pura tertidur, agar Kanigara tak lagi berbicara.

__ADS_1


****


"Apa? Leticia hamil?" tanya Inka saat mendapat kabar baru dari Gianna terkait pergerakan Bimantara dan istrinya itu.


"Aku yakin dia engga akan ngebiarin Bimantara tau, terus awasi pergerakannya, mak! Aku yakin dia pasti akan ngelakuin sesuatu terkait kehamilannya itu!" ujar Inka yang langsung diiyakan oleh Gianna.


Leticia hamil? Batin Inka karena di kehidupan sebelumnya, hal itu sama sekali belum terjadi. Inka tersenyum sinis karena memikirkan sesuatu. Ia tahu bahwa kehamilan Leticia itu justru memberi satu keuntungan bagi kubu Inka, dan istri Kanigara tak akan melepas keuntungan itu.


"Ehmmm, Kak Kani..., kakak tau kalo Leticia udah menikah?" tanya Inka saat mereka sudah selesai makan malam dan sedang duduk bersantai di balkon kamar mereka.


" Udah sayang! Kakak dapat informasi dari kolega aku yang kebetulan merupakan keluarga Bimantara. Kenapa?" tanya Kanigara yang membuat Inka menggelengkan kepalanya pelan.


"Gapapa kak, aku dengar dia lagi hamil!" ujar Inka pelan yang membuat Kanigara sedikit terkejut.


Ia sangat ingin menimang belahan hati mereka dan Kanigara. Apalagi setelah kejadian yang ia alami, ia semakin ingin mempercepat segala rencananya, termasuk memiliki keturunan dengan sang suami. Ia menyuarakan keinginannya itu kepada Kanigara yang membuat suaminya itu tertawa kecil.


"Aku akan melakukannya dengan senang hati, sayangku!" bisik Kanigara di telinga Inka yang membuat wajah Inka merona.


****


"MATI! MATI!" seru seseorang sambil memukuli perutnya dengan kencang. Ia merasa frustasi setiap kali mengingat bahwa ada benih manusia yang dibencinya tumbuh dalam rahimnya. Ia merasa jijik dengan kondisinya saat itu. Ia menjambak rambutnya sembari meracau tentang banyak hal.


Leticia merasakan sakit pada perutnya akibat pukulan yang ia layangkan sendiri, tapi ia tak perduli. Tujuannya hanya ingin membunuh benih yang bahkan belum menjadi janin itu. Seseorang mengetuk pintu kamarnya dan Leticia bergegas untuk membukanya.

__ADS_1


"Ini pesanannya, Nyonya besar!" ujar seorang staf rumah wanita yang merupakan kaki tangan Leticia.


"Bagus! Ingat jangan sampe ada mengetahui tentang ini atau kamu mati!" desis Leticia yang membuat gadis muda itu mengangguk kencang dan berjanji akan menjaga rahasia itu selamanya.


Leticia segera meminum ramuan yang sudah ia pesan kepada gadis itu.


Enyahlah cepat! Aku engga butuh keturunan dari Bimantara yang b*jat itu! batin Leticia sembari merasakan sesuatu yang mulai terjadi pada perutnya. Ia mengalami kesakitan yang hebat karena ulahnya sendiri. Ia merasakan tubuhnya mengeluarkan keringat dingin. Ia menggeliat di atas ranjang di kamarnya sambil memegangi perutnya.


Tak butuh waktu begitu lama, hingga akhirnya ia berlari menuju kamar mandi. Suara tawa terdengar dari kamar mandi, yang menandakan rencananya berhasil. Ia keluar dari kamar mandi sembari tersumringah, padahal sakit di perutnya pun belum reda. Kondisi fisiknya masih lemah, tetapi berbeda dengan perasaannya yang terasa begitu ringan dan bahagia, karena berhasil menyingkirkan sesuatu yang akan mengikat dirinya dengan lelaki yang paling ia benci di dunia ini.


****


"Ia menggugurkan kandungannya!" seru Gianna ngeri saat menginformasikan hal itu kepada Inka melalui panggilan dari ponselnya. Inka tertawa miris dan mengetahui itulah kemungkinan terbesar yang akan dilakukan oleh musuh bebuyutannya itu. Ia mengetahui dengan jelas bahwa Leticia tak akan membiarkan benih orang lain mengisi rahimnya, kecuali bila itu berasal dari suaminya, Kanigara.


"Dasar perempuan sakit jiwa! Psikopat mah dia itu! Tega! Engga punya hati!" seru Gianna dengan berapi-api yang membuat Inka tersenyum geli dari seberang panggilan.


"Simpan bukti yang dikirimkan oleh tim Kenneth, karena kita akan segera menggunakan bukti itu untuk memberi kejutan kepada seorang Bimantara," balas Inka sebelum ia memutuskan panggilannya.


Leticia! Psikopat yang berkedok wanita seksi dan cantik! Sungguh langkahmu sangat mudah untuk dibaca, sayang! Hadiahku kali ini belum sebanding dengan api yang membakar tubuhku kala itu! batin Inka dengan tangan yang meremas selimut yang menutup pinggangnya.


Inka sedang memikirkan cara paling dramatis yang bisa ia gunakan demi memberi kejutan manis untuk pasangan yang paling ia benci itu. Ia ingin Bimantara merasakan kemurkaan terhadap Leticia hingga menyebabkan hubungan lelaki itu dengan sang istri menjadi hancur seperti hubungannya dengan Kanigara pada kehidupan pertamanya.


"Mari kita mulai!" ujar Inka lirih.

__ADS_1


****


__ADS_2