
Gianna mengetahui kedatangan Leticia dari Rima. Rima sudah mereka tugaskan untuk memantau semua kegiatan yang dilaksanakan oleh seluruh staf di kediaman keluarga Janu secara diam-diam.
Gianna segera bergegas ke rumah sakit untuk menjaga Inka walaupun ia baru saja kembali dari pameran tanaman yang diselenggarakan di Puncak, Bogor.
"Gigi..., pameran kamu udah kelar ya?" tanya Inka yang terlihat senang dengan kedatangan Gianna dan mengabaikan keberadaan Leticia yang membuat gadis itu berang. Gianna langsung memeluk Asher saat melihat kakak angkatnya itu.
Gianna terus mengajak Inka dan Asher mengobrol agar Leticia tak bisa mengganggu Inka yang masih lemah secara fisik dan mental. Leticia merasa kesal karena Gianna terus memonopoli pembicaraan mereka yang membuat Leticia tidak bisa berbicara dengan Inka.
Kanigara yang melihat gerak-gerik Leticia yang tak nyaman itu, akhirnya mengajak Leticia keluar dan meminta gadis itu kembali ke kediamannya. Leticia memanfaatkan momen itu untuk mengajak Kanigara meminum kopi bersamanya. Kanigara yang merasa ia tidak diperlukan di ruangan itu karena Gianna sejak tadi terus mengajak Asher dan Inka mengobrol tentang masa lalu mereka, akhirnya mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
Leticia bersorak dalam hati karena lagi-lagi ia bisa berduaan dengan lelaki pujaannya itu. Inka melirik kepergian Kanigara dan Leticia dengan ekor matanya. Perasaannya kembali terasa tak nyaman, ia merasa kesal karena melihat Leticia yang kembali dekat dengan sang suami. Ia merutuk dalam hati karena ia harus kembali merasakan tidur di bangsal rumah sakit karena ia belum bisa mengatasi emosinya dengan baik.
Gianna yang mengetahui perasaan sang sahabat menggenggam tangan Inka untuk menguatkan sahabatnya itu. Gianna terus menemani Inka, ketika Asher pergi untuk membeli minuman untuk mereka berdua.
"Kenapa bisa kambuh lagi, Nona Inka sayang?" tanya Gianna pelan. Inka pun menceritakan detail kejadian yang membuat ia kembali pingsan yang membuat Gianna menghela nafas panjang. Mereka berdua kembali berkonsultasi dengan psikiater yang merawat Inka saat masih di Jakarta dan sang psikiater memberikan rekomendasi psikiater baru untuk Inka yang merupakan teman sang psikiater yang kebetulan berdomisili di Batam.
****
Keesokan harinya, Inka dan Kanigara terpaksa menghadiri persidangan Bik Marni dan Seila. Dalam persidangan Bik Marni dan Seila sama sekali tidak melakukan pembelaan. Persidangan dilakukan dalam empat tahap dan selama tahapan itu tak ada halangan yang berarti sehingga persidangan itu sampai pada putusan bahwa Bik Marni akan di penjara selama empat tahun, sedangkan Seila akan di penjara selama 10 tahun karena terbukti melakukan percobaan pembunuhan terhadap Inka.
Inka tak tahu harus bereaksi bagaimana saat putusan sidang itu dibacakan karena sebenarnya ia merasa kasihan kepada Bik Marni. Saat Seila dan Bik Marni akan dibawa kembali ke lapas, Seila menatap Inka dengan tatapan sinis dan seringaian licik.
__ADS_1
Inka bergidik ngeri dengan tatapan penuh kebencian yang ditunjukkan oleh Seila, seolah gadis itu memberikan peringatan kepada Inka bahwa semuanya belum selesai. Kanigara yang melihat tatapan Seila yang tak biasa, langsung merangkul sang istri dan membalas Seila dengan tatapan tajam yang sarat dengan ancaman tersirat.
"Kamu gapapa?" tanya Kanigara dan membawa Inka keluar dari ruang persidangan. Inka menggelengkan kepalanya dan berjalan mengikuti langkah sang suami.
Selama dalam perjalanan Inka hanya berdiam diri yang membuat Kanigara sesekali menatapnya karena khawatir. Inka hanya menatap keluar jendela dengan tatapan kosong, seolah jiwanya sedang tak berada di tubuhnya.
"Ekhemm, kamu mau ke suatu tempat?" tanya Kanigara pada akhirnya. Ia merasa Inka pasti tak nyaman dengan tatapan Seila tadi. Inka yang mendengar perkataan sang suami, menoleh ke arah Kanigara sembari menimbang tawaran dari suaminya itu. Akhirnya Inka mengangguk dan meminta Kanigara mengajaknya ke pantai.
Kanigara membawa Inka ke pantai yang diinginkannya. Hari itu cuaca tidak begitu baik, karena hari sedang mendung seolah memahami perasaan Inka hari itu. Mereka berdiam diri sembari duduk berdampingan dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Kanigara secara tiba-tiba yang membuat Inka bingung. Ia menatap Kanigara dengan lekat seolah meminta penjelasan lebih detil.
"Kenapa kamu menghindari aku?" lanjut Kanigara yang membuat Inka tertegun. Ia tak menyangka Kanigara akan mempertanyakan hal itu.
Kanigara terlihat diam dan menatap ke kejauhan sembari memikirkan jawaban Inka. Ia menghela nafas berat, sembari menimbang sesuatu.
"Aku tak percaya cinta! Karena seperti kamu bilang cinta sepihak itu menyakitkan! Hal itu yang terjadi sama mami. Menunggu cinta papi hingga akhir hayatnya, tanpa mendapatkan balasan sesuai yang ia inginkan! Maaf karena menerima lamaran kamu dan membuat kamu berakhir sebagai istriku! Jangan mencintaiku, tetaplah jadi partner yang baik tanpa cinta! Berkompromilah denganku!" ujar Kanigara sembari berjalan meninggalkan Inka agar memiliki waktunya sendiri.
Inka terkejut dengan pernyataan Kanigara itu. Itu kali pertama Kanigara membicarakan tentang perasaannya. Namun perkataan Kanigara itu bagai pisau yang menghujam jantung Inka. Air mata mengalir membasahi pipinya. Inka menangis terisak karena semua keletihan dan perasaan kalah yang ia rasakan sepanjang hari itu.
Sementara itu Kanigara, menyarangkan tinjunya ke setir mobilnya. Ia tak tahu mengapa perasaannya semakin tak menentu setelah mengatakan semua perkataan menyakitkan itu kepada sang istri. Ia menggusar rambutnya dengan kasar beberapa kali, karena tak memahami apa yang hatinya inginkan sebenarnya.
__ADS_1
Setelah tenang, Inka kembali ke mobil dan mereka pulang ke kediaman keluarga Janu. Hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka. Tak ada yang berusaha mencairkan suasana dingin yang tercipta di antara mereka. Setelah tiba di kediaman mereka, Kanigara langsung menuju ruang kerjanya, sedangkan Inka memasuki ruang pribadinya.
Mereka sama-sama merasa membutuhkan waktu sendiri. Inka duduk di meja kerjanya sembari memikirkan masa lalunya dengan Kanigara. Ia bisa mengingat dengan jelas bahwa sejak awal, lelaki itu memang menghindari dirinya. Kanigara yang dulu, berbeda dengan Kanigara yang sekarang. Kanigara yang sekarang jauh lebih hangat dan cenderung tak bisa Inka prediksi.
Mengapa kamu berbeda? Batin Inka dan merasakan debaran yang lain dalam hatinya.
****
"Sellah!" seru Inka terkejut saat melihat sekretaris kesayangannya itu sudah duduk manis di ruangan kerja mereka di kantor. Inka langsung memeluk Sellah yang membuat gadis muda itu terharu sembari menitik air matanya.
"Saya kirain, Bu Inka engga ingat saya lagi! Hiks!" Perkataan Sellah yang diselingi air mata itu membuat Inka tertawa dan menepuk pelan punggung sekretarisnya itu.
"Udah senang Bu Bos?" tanya Asher yang muncul setelah selesai memarkirkan mobil mereka. Inka mengangguk senang sembari memeluk sang kakak, untuk mengucapkan terima kasih.
Tak lama Segara pun muncul dan mereka bertiga berangkat untuk meninjau lokasi proyek baru mereka sebelum Asher dan Segara kembali ke Jakarta. Setelah makan siang, mereka bertiga kembali ke kantor.
"Bu Inka, tadi ada seseorang yang mencari Ibu Inka. Ini kartu namanya, katanya besok ia akan datang lagi," ujar Sellah yang mendapatkan informasi dari bagian resepsionis kantor mereka. Inka mengangguk dan menerima kartu nama yang diserahkan oleh Sellah.
Inka duduk di meja kerjanya sembari menunggu Asher dan Segara yang tadi ia tinggal di parkiran. Inka menatap ke arah kartu nama yang ada di meja.
"Bimantara Nusra! Akhirnya muncul juga!" Senyum sinis menghiasi wajah cantik Inka.
__ADS_1
****