Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
47


__ADS_3

Inka terkejut mendengar perkataan suaminya itu. Wajahnya sedikit merona, ia mencoba menarik tangannya tetap Kanigara menahannya.


"Kemarilah!" ujar lelaki itu dengan lembut yang membuat Inka tertegun, lalu menolak ajakan suaminya itu.


"Ehmmm, bukankah lebih baik kita menjaga jarak? Mengingat kita hanyalah sebatas partner?" ujar Inka sedikit ragu yang membuat Kanigara terhenyak sesaat karena melihat kilatan asing di mata gadis itu.


Perasaan takut, sedih tetapi tersirat sedikit asa terpancar dari tatapan Inka malam itu. Kanigara tak melepas genggaman tangannya dan mengulang perkataannya lagi.


"Kemarilah!"


Inka menatap Kanigara lekat, seolah mencari sesuatu di mata sang suami.


Bolehkah jika kali ini saja aku berharap, Tuhanku? batin Inka yang pada akhirnya mengalah pada hatinya.


Ia mendekati sang suami dan berbaring di sampingnya. Kanigara tersenyum, kemudian berbaring menyamping dan memeluk sang istri dengan lembut yang membuat Inka membeku.


"Maaf untuk kelakuanku hari ini. Aku bersalah..., lain kali aku akan melakukannya dengan sadar dan lembut." bisik Kanigara yang membuat Inka semakin membeku.


Maksudnya?!


****


"Aku setuju! Dengan satu syarat balaskan dendamku kepada keluarga Janu!" ujar seorang wanita yang membuat lelaki yang ada di hadapannya menyeringai licik.


"Dengan senang hati, sayangku! Kita punya musuh yang sama!" balas sang lelaki sembari mencium mesra sang wanita. Wanita itu merasa jijik, tetapi ia menahan semuanya demi mencapai tujuannya.


Leticia resmi menjadi Nyonya Leticia Yoga tepat seminggu setelah ia bermalam di kediaman Bimantara. Pernikahannya diselenggarakan secara tertutup sesuai dengan permintaan Leticia, karena gadis itu tak ingin berita pernikahannya tersebar dan sampai di telinga Kanigara.


Dalam hatinya, ia masih ingin memiliki lelaki dari Inka itu. Ia sudah terlalu terobsesi sehingga tak bisa melihat lelaki lain bahkan setelah ia menikah dengan Bimantara sekalipun. Buana yang menghadiri pernikahan itu hanya bisa pasrah saat pemberkatan nikah itu selesai dan putrinya itu resmi diperistri oleh Bimantara yang merupakan musuh dari keluarga Janu.

__ADS_1


Buana tak bisa menghentikan pernikahan itu, karena Bimantara langsung menemui Buana untuk mengakui perbuatannya dan mengatakan ingin bertanggung jawab dengan menikahi Leticia. Ia tahu dengan baik siapa Bimantara dan bagaimana sepak terjangnya. Tapi nasi sudah menjadi bubur, tak ada jalan kembali bagi Leticia yang sudah terlanjur dicemari oleh lelaki itu.


Buana hanya berharap binar cinta yang muncul setiap kali Bimantara menatap putrinya tak akan lekang di makan waktu. Ia hanya bisa mendoakan sebejat-bejatnya Bimantara, tetapi ia bisa takluk di hadapan cinta seperti Buana saat bertemu dengan ibu Leticia.


Sejak kematian sang istri, Buana membesarkan Leticia tanpa sekali pun berpikir untuk menikah lagi, walau keluarga besarnya berusaha membujuk Buana untuk mencari ibu baru bagi Leticia. Leticia pun tak pernah keberatan Buana mencari istri lagi, tapi cinta kepada sang istri menghalangi langkahnya untuk membagi hati.


****


"Bu bos, kali ini alurnya sesuai..., tuh j*lang sama b*debah busuk menikah juga! Pantes aja bisa nikah, se-frekuensi soalnya ya!" ujar Gianna yang saat itu berada di kantor Inka. Inka sudah kembali bekerja di kantor karena gipsnya sudah dibuka dan ia pun sudah merasa nyaman untuk berjalan, walau masih harus perlahan.


"Perbuatan mereka akan semakin kejam sejak mereka bersatu! Kita harus ekstra berhati-hati mulai saat ini! Karena alur bisa berubah dan apapun bisa terjadi!" ujar Inka sembari menghela nafas berat.


Inka menatap Gianna dalam diam, seolah menimbang sesuatu.


"Gimana mereka tetap aman, kan? Gimana udah ada updatean tentang sekutu tak sengaja kita itu?" tanya Inka sambil mengetuk-ngetukkan tangannya di atas meja.


"Aman Bu Bos, tenang aja...." Gianna menjelaskan hasil temuan Kenneth dan rekannya yang membuat Inka menganggukkan kepalanya, kemudian terhenti.


"Rhode dan Fressy Keila!"


Deg!!!


Inka merasa terkejut dengan nama yang disebutkan oleh Gianna karena istri Kanigara itu tak asing kedua nama itu.


Kenapa di kehidupan kali ini, dia bisa terlibat? Dan mengapa kehidupannya begitu tragis? Itukah alasannya..., batin Inka sembari menekan dadanya yang tiba-tiba terasa sakit. Ia tak menyangka bahwa ia akan terikat benang merah dengan orang yang sama sekali tak muncul di kehidupan pertamanya setelah ia menikah dengan Kanigara.


Tiba-tiba ponsel Inka berdering.


"Halo kak...," ujar Inka lembut yang membuat Gianna langsung menajamkan pendengarannya karena mengetahui siapa yang menghubungi sahabatnya itu.

__ADS_1


"Aku jemput, kita makan siang bersama ya?" tawar Kanigara dari seberang panggilan.


"Boleh, tapi bareng Gianna gapapa, kah? Gianna lagi ada di kantorku soalnya." Perkataan Inka membuat Gianna bersorak tanpa suara. Inka hanya memutar bola matanya karena tingkah sahabatnya itu.


Setelah panggilan itu berakhir, Gianna langsung menyeringai dan siap untuk menyerbu Inka dengan banyak pertanyaan yang sudah bermunculan di kepalanya, tapi satu perkataan Inka membuat Gianna membatalkan niatnya dengan raut wajah penuh kekecewaan.


"Jangan bertanya!"


****


"Lohhh, kakak ganteng ikutan juga? Kan jadi bahagia akunya kalo gini!" seru Gianna saat melihat Kanigara masuk ke ruang kerja Inka bersama Niskala. Niskala hanya tertawa mendengar perkataan Gianna sembari memeluk singkat sahabat Inka itu.


Bagi Niskala, Gianna adalah adik perempuan keduanya setelah Inka. Ada satu rahasia yang dibagi oleh kedua orang itu tanpa sepengetahuan Inka maupun Kanigara. Hal itulah yang mempererat hubungan persahabatan kedua insan itu.


Kanigara mengajak mereja untuk menyantap olahan hasil laut di tepi pantai yang membuat Gianna bersorak kegirangan. Dirinya dan Inka sangat menyukai daerah pantai dan mereka berdua suka berlibur ke daerah yang mempunyai banyak pantai yang indah. Bila bersama Inka, mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan menginap di vila atau resort yang mempunyai private beach sehingga Inka merasa lebih leluasa dan tenang.


"Makasih buat traktirannya ya, Kak Kani. Sering-sering ya, ditunggu undangan berikutnya!" ujar Gianna sambil tertawa setelah mereka kembali ke kantor Inka.


"Sama-sama, makasih karena selama ini udah bantu buat jagain Inka ya, Gi!" Kalimat yang ambigu itu sempat membuat baik Gianna maupun Inka merasa Kanigara mengetahui sesuatu, tetapi raut wajah mereka tak menunjukkan hal itu.


"Itu mah, that's what friends are for, katanya atuh, Kang Kani...," canda Gianna yang membuat mereka berempat tertawa.


Kanigara mengecup kening Inka lembut sebelum kembali memasuki mobilnya.


"Alamak, melted aku bang! Janganlah kalian bermesraan di depan kami jombloers ini, ygy!" Perkataan Gianna bagai angin lalu di telinga Inka dan Kanigara yang saling melemparkan tatapan mesra itu. Niskala hanya merangkul Gianna sambil tertawa kala melihat ekspresi Gianna yang terlihat lucu baginya.


Sementara itu, tanpa mereka sadari sepasang mata sedang menatap mereka dengan tatapan nanar dan penuh dendam. Ia memukul setir mobilnya sambil mengumpat beberapa kali saat melihat kemesraan yang ditunjukkan Kanigara dan Inka.


Mati! Mati! Matilah kau, Inka! batin orang itu sembari menyeringai saat melihat Inka yang tiba-tiba pingsan dalam pelukan Kanigara.

__ADS_1


****


__ADS_2