
"Non, Nona Muda..., Non, gapapa?" Rima mengetuk pintu kamar mandi saat mendengar suara muntah Inka.
"Aku gapapa, Rim," ujar Inka setelah membuka pintu kamar mandi. Inka melarang Rima untuk memberitahukan kepada siapapun kondisi Inka saat itu. Ia juga berpesan agar tak ada siapapun yang mengganggu dirinya selama dua jam kedepan, yang langsung mendapat anggukan dari Rima.
"Gi, tolong carikan aku barang-barang yang udah aku wa ke dirimu barusan, say! ASAP ya!" ujar Inka saat menghubungi Gianna setelah Rima pamit undur diri.
"Okehhhh, nak! Btw, kenapa suaramu 3L (lemah, letih, lunglai) begitu?" tanya Gianna sedikit curiga karena mendengar suara Inka yang tidak seperti biasanya.
"Dia menaikkan dosisnya. Jadi lumayan ngefek ke badanku. Makanya aku perlu barang-barang yang ada di list itu dengan segera," jelas Inka yang membuat Gianna mengumpat.
"Kenapa kamu engga jadikan supnya sebagai bukti aja sih? Kan tinggal bawa ke lab, trus lapor polisi. Gitu aja kok repot! Ngapain kamu ngebiarin badan kamu menderita kayak gitu?!" ujar Gianna penuh emosi yang membuat Inka mendengus geli.
"Watch and see, darl. Permainan engga akan menyenangkan kalo terlalu cepat diketahui pemenangnya. Lagian alurnya banyak berubah sayang, kita belum tau siapa kawan dan lawan yang sebenarnya. Aku gapapa kok," ujar Inka yang membuat Gianna memulai lagi pidato panjangnya. Pada akhirnya, Inka hanya meletakkan ponsel miliknya dan menganggap nasihat Gianna sebagai cerita pengantar tidur.
****
Keesokkan harinya, Kanigara menepati janjinya. Ia sudah duduk lebih awal di ruang makan dan menunggu Inka. Setelah sarapan Kanigara dan Inka pun akhirnya berangkat. Kepergian mereka disertai tatapan sinis yang berasal dari seseorang.
Harusnya aku yang pergi bersama Kak Gara! Gapapa..., gapapa sabar diriku. Bentar lagi gadis itu akan segera berulah dan membuat Kanigaraku membenci dirinya. Aku akan satu-satu perempuan tercantik yang akan mendapatkan hati tuan muda kedua keluarga Janu, batinnya sembari menyeringai licik.
Kanigara dan Inka hanya berdiam diri selama perjalanan mereka. Inka terlihat sibuk menatap keluar jendela untuk menikmati pemandangan di sepanjang jalan karena ia tak terlalu mengenal kota Batam sehingga ia memfokuskan diri untuk segera bisa menghafal jalan-jalan di kota itu. Inka tahu GPS bisa membantunya terkait hal itu, tapi banyak pengalaman yang membuktikan bahwa ada saja jalan alternatif yang tak bisa dideteksi oleh GPS, bahkan terkadang GPS bisa error dan membuat penggunanya tersesat.
__ADS_1
"Ini Pantai Marina, salah satu pantai yang paling populer di Batam," ujar Kanigara setelah ia memarkirkan mobil mereka. Inka hanya menganggukkan kepala, lalu keluar dari mobil untuk melihat pemandangan yang menawan hati itu. Inka bisa melihat berbagai kegiatan yang dilakukan pengunjung lain di tempat itu.
"Ada permainan yang mau kamu coba?" tanya Kanigara saat mereka berjalan bersisian di sepanjang pantai. Inka menatap Kanigara dengan tatapan seorang anak kecil yang menginginkan sesuatu dari orang tuanya. Tatapan Inka itu terlihat menggemaskan di mata Kanigara. Dengan sedikit ragu, Inka menunjuk ke arah permainan yang ingin dicobanya.
"Kamu serius mau main itu?" tanya Kanigara tak percaya. Inka mengangguk mantap sambil tersenyum. Kanigara menatap sekilas ke arah sang istri yang berpenampilan feminin hari itu. Inka mengenakan gaun santai dan ia meminta untuk bermain parasailing yang membuat Kanigara memutar bola matanya karena perpaduan yang sangat bertolak belakang itu.
Inka tersenyum geli melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh Kanigara itu. Tanpa sadar Inka menarik tangan Kanigara untuk mengikutinya, tetapi sesaat kemudian ia berhenti karena bingung lalu menatap Kanigara.
"Toiletnya dimana?" tanya Inka yang membuat Kanigara tertawa sambil mengacak rambut Inka perlahan karena gemas. Kanigara pun mengajak Inka ke sebuah yatch yang sedang berlabuh.
"Kita ngapain ke sini? Aku kan mau main, Kak!" keluh Inka yang terkesan manja di mata Kanigara yang kembali membuat lelaki itu kembali tertawa.
"Tapi kamu nyari toilet..., ya udah aku ajak ke sini."
"Kak, ini yatch, bukan toilet!" gerutu Inka yang terlihat mulai kesal.
"Di yatch juga ada toilet kan, istriku sayang!" balas Kanigara yang membuat Inka tertegun.
Istriku..., istriku sayang! Fix, nih orang kesurupan! Atau apa ini bagian dari rencananya? Batin Inka yang mulai waspada dan mereka-reka maksud Kanigara yang menurut Inka telah bersikap aneh sejak mereka tiba di pantai tadi. Inka tak lagi mendebat Kanigara, ia mengikuti Kanigara masuk ke dalam yatch mewah itu. Sang suami menunjukkan toilet yang dicari oleh Inka, seolah ia sudah sangat hafal tempat itu.
Kanigara menunggu Inka selesai dari toilet dengan bercakap-cakap dengan seseorang yang tiba-tiba saja muncul.
__ADS_1
"Semuanya sudah oke, Tuan Muda," jelas sang lelaki muda itu dan segera pamit undur diri setelah melihat Inka keluar dari dalam yatch. Inka bertanya dalam hati siapa gerangan lelaki tadi, tetapi ia menutupinya dengan menunjukkan wajah datar. Kanigara tersenyum penuh arti saat melihat sang istri sudah berganti pakaian dengan mengenakan celana jeans berwarna navy, kemeja santai berwarna putih, lengkap dengan sneaker yang berwarna senada dengan celana yang dikenakan oleh Inka.
Gadis itu mengikat rambutnya dengan model pony tail yang membuat Inka terlihat segar dan lebih muda dari usianya.
"Ayok, kak!" ajak Inka yang terlihat bersemangat. Kanigara hanya pasrah mengikuti kemauan Inka walau ia merasa khawatir dengan pilihan permainan yang diinginkan oleh gadis itu.
"Siap, kak?" tanya pengemudi speed boat yang akan membawa Inka terbang. Inka mengacungkan jempolnya dan bersiap untuk melakukan parasailing. Kanigara menemani Inka hanya di atas speed boat. Kanigara berasalan bahwa ia takut ketinggian, sehingga tak bisa menemani Inka bermain.
Perlahan parasut Inka melayang di udara setelah tali yang mengikat parasut itu dilonggarkan secara perlahan. Kanigara menatap ngeri saat melihat Inka yang perlahan menjauh dan terbang. Inka menatap Kanigara sembari tersenyum senang dan melambaikan tangannya ke arah sang suami. Parasut Inka terbang semakin tinggi yang membuat Inka merasakan sensasi menyenangkan sekaligus menegangkan secara bersamaan. Tiupan angin yang cukup kencang, laut yang terlihat begitu luas, pemandangan bangunan-bangunan yang ada di sekeliling pantai membuat hati Inka merasa sangat bahagia dan tenang.
Walau pun Inka terkesan rapuh, tapi sejak kecil ia menyukai permainan yang memacu adrenalin setiap kali mereka sekeluarga berlibur. Ia menyukai permainan kora-kora, halilintar, tornado, dan permainan menantang lainnya yang membuat Asher selalu menolak bilang diminta untuk menemani Inka bermain. Saat duduk di bangku SMA, Inka mulai tertarik dengan permainan air seperti banana boat, parasailing bahkan bermain jet ski.
Inka membentangkan tangannya dan merasakan tiupan angin segar yang membuat ia merasa terbang seperti burung di udara.
Perasaan bebas dan lepas ini selalu terasa sangat menyenangkan, batin Inka sambil berteriak senang.
"Inka!!!"
Deg....
****
__ADS_1