Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
84


__ADS_3

Niskala sedang sibuk di ruang kerjanya saat melihat sekelibat bayangan yang berasal dari luar jendela ruangannya itu. Niskala langsung bersikap siaga. Rhode yang juga berada di ruangan itu berpura-pura tidak merasakan apa pun, tetap ia menegakkan posisi duduknya dan bersikap waspada.


Niskala melihat ke arah Rhode karena mengkhawatirkan keadaan asistennya itu bila serangan dari musuh tiba-tiba datang.


"Rhode, kamu bisa melanjutkan pekerjaan kamu besok. Ini juga udah malam," ujar Niskala yang berusaha terlihat santai. Rhode menolak dengan alasan bahwa pekerjaannya masih belum selesai. Niskala tetap memaksa Rhode untuk segera pulang, yang membuat Rhode kesal.


"Pak Niskala, sebenarnya ada apa kok tumben bapak ngusir saya? Biasa juga kita pulang di waktu yang sama!" ujar Rhode yang membuat Niskala berdecak kesal.


"Apa kamu selalu sekeras kepala ini? Kamu mau membantah perintah atasan kamu?" tegas Niskala yang membuat Rhode menatap Niskala dengan lekat. Ia mengetahui alasan mengapa Niskala memaksanya melakukan hal itu, tetapi ia tetap ingin berada di sisi Niskala bila memang yang datang menyerang adalah musuh mereka.


Pada akhirnya, Rhode mengalah dan menghela nafas berat karena sikap Niskala yang sama sekali tak terlihat berniat untuk mengubah perintahnya. Rhode menyusun semua perlengkapannya dan berlalu dari ruangan itu.


****


"Keluarlah!" seru Niskala yang membuat tawa seseorang terdengar dari balik jendela ruangan kerja lelaki itu.


"Lama tak bersua, kawan! Ternyata instingmu masih kuat seperti dulu!" ujar seorang lelaki yang sedang duduk santai di hadapan Niskala. Niskala hanya berdiam diri dan memandang tajam ke arah lelaki yang melihat dengan tatapan menghina.


"Aku engga akan berbasa-basi, ini adalah peringatan pertama, sekaligus terakhirku. Serahkan perempuan yang bernama Inka. Atau aku akan membuat kau menyesal! Kau ingat bagaimana tragisnya harus kehilangan seseorang yang kau cintai dimana gadis cantik dibantai beserta seluruh keluarganya kan?" ancam lelaki yang tetap melihat ke arah Niskala dengan tatapan mencemooh.


Niskala mengepalkan tangannya karena emosi. Ia tak menyangka bahwa lelaki itu berani mengungkit masa lalu yang menorehkan luka yang mendalam bagi Niskala. Ingatan itu membawa trauma tersendiri bagi kakak Kanigara itu.


"Beraninya kau mengungkit hal itu! Apa kau lupa siapa gadis dan keluarga yang kau bantai itu!" teriak Niskala sambil berdiri dan bergerak dengan cepat lalu mencengkeram baju lelaki itu dan menariknya berdiri.


Lelaki itu tertawa puas karena berhasil memancing kemarahan dari Niskala. Niskala menatap nanar lelaki yang bertubuh lebih pendek darinya itu. Niskala bisa melihat bekas luka yang masih tercetak jelas di pipi lelaki itu.

__ADS_1


"Bagiku, keluarga adalah orang yang berada di pihakku tanpa berkata tapi. Jadi gadis bodoh yang jatuh cinta pada musuh terbesarku, bukanlah siapa-siapa. Begitu juga keluarga yang begitu mencintainya dan lelaki itu!" ujar Ucok yang membalas tatapan Niskala dengan malas.


"Ingat untuk menjaga adik iparmu itu dengan baik, atau gadis itu akan berakhir seperti adikku yang malang! Hahaha." Ucok keluar dari ruangan kerja Niskala dengan seringaian puas karena ia berhasil memancing kemarahan Niskala. Ia tahu bahwa dengan membicarakan masa lalu mereka saja, trauma yang dialami oleh Niskala akan kembali muncul ke permukaan.


"See you soon, Bro!"


****


Niskala langsung ambruk setelah pintu ruangan kerjanya tertutup. Ia mengepalkan tangannya kala mengenang semua masa lalu pahit yang ia alami. Ia masih mengingat dengan jelas bagaimana lelaki gila seperti Paolo menghabisi gadis yang ia cintai termasuk seluruh keluarga gadis itu yang notabene adalah keluarga kandungnya sendiri.


Paolo menembaki seluruh keluarganya tanpa terkecuali karena keluarganya menerima lamaran pernikahan yang berasal dari Niskala.


"Daphne..," ujar Niskala lirih. Wajah gadis yang selalu tersimpan di dalam benaknya, kali ini mengharu biru dalam pikirannya yang membuat Niskala terisak. Ia memegang dadanya yang terasa begitu nyeri.


Tiba-tiba pintu terbuka dan memperlihat wajah Rhode yang menatap Niskala dengan raut khawatir. Rhode segera bergegas mendekati Niskala yang melihat Rhode dengan tatapan terkejut.


"Bapak, engga kenapa-napa, kan?" tanya Rhode yang melihat mata Niskala yang memerah dan air mata yang membasahi pipi lelaki itu. Niskala menatap Rhode dengan tajam.


"Kenapa kamu mengalihkan pembicaraan? Kenapa kamu belum pulang, Rhode?" tanya Niskala sekali lagi.


"Aku khawatir kak. Tadi ada yang datang, kan? Kenapa engga ngebiarin aku nemenin kakak sih?" ujar Rhode yang tak lagi bersikap formal kepada Niskala. Rhode mengambil tisu dan menghapus air mata Niskala yang membuat lelaki itu tertegun.


Ia tak menyangka Rhode akan melakukan tindakan yang terasa intim itu, mengingat biasanya Rhode terlihat menjaga jarak darinya, walau keluarga Rhode adalah kerabat baik dari keluarga Niskala.


****

__ADS_1


Rhode mengantarkan Niskala pulang ke kediamannya.


"Kamu tidur di sini aja, udah terlalu malam untuk pulang. Banyak kamar kosong di sini, Riska tolong sediakan pakaian ganti untuk Rhode," ujar Niskala kepada Riska yang menyambut kepulangan majikannya itu.


Riska langsung mengerjakan apa yang diperintahkan oleh Niskala. Riska mengajak Rhode ke salah satu kamar tamu dan memberikan pakaian ganti kepada Rhode, lalu meninggalkan gadis itu agar Rhode bisa membersihkan diri.


Setelah selesai membersihkan diri, Rhode kembali mencari Riska untuk menanyakan letak dapur di kediaman itu.


"Bu..., ehhh, Nona Rhode, kalo mau makan sesuatu tinggal bilang aja nanti bisa dimasakin chefnya," ujar Riska saat Rhode meminta ijin untuk memakai dapur itu.


Rhode menolak dengan halus dengan mengatakan ingin memasak sesuatu. Riska berinisiatif untuk membantu Rhode yang membuat Rhode tersenyum sembari mengucapkan terima kasih.


Setelah selesai memasak dan menghidangkannya ke piring dan mangkok penyajian, Rhode menanyakan lokasi kamar Niskala yang membuat Riska tersenyum penuh arti. Rhode yang melihat senyum Riska, hanya bisa menghela nafas pelan karena merasa staf di kediaman Niskala itu berpikir lain tentang hubungan dirinya dan Niskala.


"Kak Niska...," seru Rhode yang membuat Niskala yang berada di dalam kamarnya mengerutkan dahinya sembari membuka pintu.


"Makan malam udah siap!" ujar Rhode yang membawa masuk makanan ke kamar Niskala. Riska mengikuti langkah Rhode. Rhode dan Riska meletakkan beberapa piring, mangkok dan gelas berisi makanan yang dimasak oleh Rhode. Niskala mengangkat alisnya sebelah melihat banyaknya makanan yang diantarkan oleh Rhode.


"Makanlah yang banyak, Kak. Untuk berpura-pura bahagia, butuh energi yang besar," ujar Rhode sembari pamit undur diri dari kamar yang terkesan maskulin itu. Wangi parfum Niskala menguar di sekeliling kamar itu yang membuat Rhode merasa tak asing di kamar itu. Hidungnya sudah terbiasa mencium aroma parfum Niskala kala berada di ruang kerja atasannya itu, sehingga perasaan yang sama melingkupinya saat berada di kamar lelaki itu.


Saat akan beranjak dari kamar Niskala itu, tangan Rhode ditarik pelan oleh Niskala sehingga langkah gadis itu tertahan. Niskala langsung meminta Riska untuk keluar dari kamarnya. Riska terkikik geli saat sudah berada di luar kamar tuannya itu.


"Untuk menjadi benar-benar bahagia, kita juga butuh seseorang untuk menemani supaya makan malamnya tidak terasa sepi, bukan?"


Ehhhh....

__ADS_1


****


__ADS_2