Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
63


__ADS_3

Pertunangan Asher dan Melanie, akhirnya digelar. Keluarga kedua belah pihak terlihat sangat bahagia dengan pertunangan kedua insan muda itu, tak terkecuali Inka. Ia terus menggoda Asher dan Melanie yang membuat Melanie beberapa kali tersipu.


"Selamat calon kakak ipar, satu step lagi bakalan resmi jadi kakak ipar aku! Pepet terus kak..., bisik Inka di telinga Melanie yang membuat dokter keluarga Janu itu merona. Melanie berubah menjadi gadis pemalu bila sudah mendengar yang berkaitan dengan Asher, calon suami yang sangat ia cintai itu.


Asher tak lagi dingin, tetapi juga tak begitu hangat. Asher seolah masih memberi jarak di antara mereka berdua. Hal itu menjadi tugas lanjutan yang harus diselesaikan oleh Melanie, karena ia ingin Asher kembali menjadi Ashernya yang hangat dan sangat mencintai dirinya.


"Happy, karena rencana kamu berhasil, istriku sayang?" tanya Kanigara yang sedang duduk di samping Inka sambil menggenggam tangannya. Inka mengangguk sambil tersenyum manis ke arah sang suami yang membuat Kanigara merasa jatuh hati lagi dan lagi kepada sang istri.


"Kak Gara?" ujar seseorang yang tiba-tiba saja duduk di samping Kanigara, yang membuat Inka ikut menoleh ke arah sumber suara yang terlihat sedang menatap Kanigara dengan tatapan yang dikenal Inka dengan baik, tatapan penuh damba.


Kanigara menoleh ke arah wanita cantik dan seksi yang ada di sampingnya sembari mengernyitkan dahinya.


"Apa kita saling mengenal?" tanya Kanigara dingin, karena merasa tak pernah mengenal perempuan yang duduk di sampingnya secara tiba-tiba itu. Pose mengundang yang gadis itu tunjukkan secara implisit mampu dibaca dengan baik oleh Kanigara maupun Inka.


Inka tetap diam sembari memperhatikan gerak-gerik gadis yang mencoba menggoda sang suami.


"Ahhh, maaf Kak Gara, aku lupa memperkenalkan diri. Aku Dafina Reza, anak dari Pak Suganda Reza, salah satu rekanan bisnis kakak. Aku pernah lihat Kak Gara di satu pesta perusahaan papi," jelas gadis muda itu.


Kanigara yang mengenali nama salah satu rekanan bisnisnya itu hanya tersenyum simpul sembari menganggukkan kepalanya.


"Saya kenal dengan Pak Suganda dan beliau juga diundang ke acara ini. Sepertinya saya lupa menyapa beliau, mungkin kamu bisa mengobrol dengan istri cantik saya, Inka Alora," ujar Kanigara yang beranjak untuk meninggalkan kedua wanita itu, setelah mencium mesra bibir sang istri yang membuat Inka sedikit tersipu.


Sementara itu, Dafina menatap interaksi dari Kanigara dan Inka sembari mengumpat dalam hati dan mengepalkan tangannya. Reaksi dari Dafina itu, tak lepas dari pengamatan Inka yang membuat istri Kanigara itu mencibir.

__ADS_1


"Halo saya Inka, istri dari Pak Kanigara!" tegas Inka yang secara tidak langsung menegur Dafina karena memanggil suaminya dengan panggilan "kakak", padahal mereka tak saling mengenal.


"Ahhh, aku Dafina. Boleh aku panggil kalian berdua dengan sebutan kakak kan?" tanya Dafina santai yang membuat Inka mendengus pelan dan memahami dengan baik tujuan dari gadis yang duduk di dekatnya itu.


"Ehmmm, boleh-boleh aja, no worries!" ujar Inka santai yang membuat Dafina terlihat senang. Dafina mengobrol dengan Inka, lebih tepatnya mengorek informasi tentang kehidupan pribadi Kanigara dari sang istri.


Inka dengan santai membalas pertanyaan yang diajukan oleh Dafina. Inka tahu niat Dafina, dan ia memilih mengakomodasi keingintahuan Dafina itu sembari mengumbar kemesraan yang terjadi di antara dirinya dan Kanigara yang membuat gadis muda itu berang dan tak bisa lagi menutupi kekesalannya.


Dafina segera pamit undur diri yang membuat Inka tersenyum sinis. Dafina sendiri adalah tokoh baru dalam kisah kehidupan Inka. Inka tak lagi terkejut dengan perubahan alur dan penambahan tokoh dalam cerita yang sedang ia rangkai itu.


****


Setelah beberapa hari di Jakarta, Inka, Kanigara, Niskala, dan Melanie akhirnya bertolak kembali ke Batam. Inka merasakan kesedihan karena harus berpisah kembali dengan keluarganya. Ada keengganan meninggalkan kedua orang tua dan kakak laki-lakinya itu, seolah ada sesuatu yang mengganjal di benaknya.


Inka menyimpan perkara itu dalam hatinya karena tak ingin membebani pikiran orang-orang yang dikasihinya itu. Ia akan mencari cara untuk mengenyahkan pikiran yang mengganggunya itu. Ia mencoba menikmati perjalanan mereka menuju ke Batam.


"Kenapa hari ini kamu lebih pendiam, sayang? Apa ada yang kamu pikirkan?" tany Kanigara saat melihat perubahan sikap sang istri, sejak kepulangan mereka ke ke Batam.


Inka yang mengetahui sikap Kanigara yang sangat peka terhadap perubahan sikapnya, hanya bisa menghela nafas panjang. Kanigara yang melihat hal itu segera mendekati Inka, karena merasa ada hal yang sedang membebani pikiran sang istri.


Inka menatap Kanigara yang sudah duduk di depannya dalam diam.


"Mungkin aku hanya sedih karena harus berpisah dengan papi, mami dan Kak Asher," ujar Inka sembari meletakkan kepalanya di dada sang suami yang membuat Kanigara tersenyum geli. Ia merasa Inka sangat manis saat sedang manja. Kanigara mengelus rambut Inka, sembari meminta Inka mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Inka menuruti kemauan sang suami, mata mereka bertemu dan Kanigara bisa melihat kesenduan di mata istrinya itu. Ia menghibur Inka dengan berjanji bahwa bulan depan, Ia akan mengajak Inka berlibur lebih lama di Jakarta agar Inka bisa bersama dengan keluarganya. Senyum Inka terbit, tetapi ia tetap merasa ada sesuatu yang membuat dirinya tak merasa bahagia hari itu.


****


Keesokan harinya, Inka bangun dengan kondisi yang tidak lebih baik. Ia merasakan bahwa kepalanya terasa sakit karena ia tak bisa tidur nyenyak malam tadi. Ia meminum obat karena merasa sangat tak nyaman akibat nyeri yang terasa menganggu. Ia berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, tetapi ia merasa oyong hingga ia harus berpegangan.


Tiba-tiba saja, Inka merasa sangat lemas dan akhirnya ia menabrak meja yang ada di dekatnya hingga membuat Kanigara terbangun. Ia segera berlari ke arah Inka yang terlihat terduduk di lantai.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Kanigara sembari membopong Inka kembali ke ranjang mereka.


"Pusing, oyong, Kak," keluh Inka yang membuat Kanigara segera menghubungi Melanie untuk datang.


Tak lama, Melanie tiba di kediaman mereka dan memeriksa kondisi Inka. Ia merasa ada sesuatu yang berbeda pada tubuh Inka yang membuat ia mengernyitkan dahinya dan seperti ingin memastikan sesuatu.


"Ehmmm, udah sejak kapan kamu ngerasa sakit kepala dan oyong kayak gini, Ka?" tanya Melanie.


"Ehmmm, mungkin dua atau tiga hari, Kak," ujar Inka dengan suara lemah. Hal itu membuat Melanie mengangguk paham. Ia melanjutkan pemeriksaannya terhadap Inka. Kanigara terlihat sangat tegang menantikan penjelasan dari Melanie terkait sakitnya Inka. Kanigara pernah merasa cemas bila Inka memiliki penyakit berat yang menyebabkan istrinya itu gampang sekali pingsan.


Kanigara segera menghujani Melanie dengan banyak pertanyaan yang membuat Melanie merasa geli dan segera mengangkat tangannya agar Kanigara diam. Setelah merasa Kanigara cukup tenang, Melanie pun membuka suaranya.


"Ehmmm, kamu siapan dulu, gih! Kita harus pergi ke suatu tempat untuk memastikan kondisi dan penyakit yang diderita Inka." Perkataan Melanie langsung membuat Kanigara waspada, tanpa banyak kata Kanigara segera bersiap.


****

__ADS_1


"Apa??? Hamil?!"


****


__ADS_2