
Akhirnya Inka dan Kanigara kembali berdua, setelah Leticia kembali ke London, Niskala dan Gianna kembali ke Batam, sedangkan Asher dan Segara kembali ke Jakarta.
"Hari ini aku pergi ke Pulau Komodo ya kak," ujar Inka memberitahukan rencananya kepada Kanigara setelah mereka selesai sarapan. Kanigara tak langsung merespon perkataan Inka, ia seolah sedang memikirkan sesuatu.
"Aku ikut!" ujar Kanigara yang membuat Inka terkejut, tetapi ia dengan cepat mengembalikan ekspresinya ke mode normal. Ia hanya mengangguk dan meminta Bik Uti untuk menambahkan bekal piknik yang sudah dia minta untuk disiapkan sebelumnya.
Selama perjalanan, Inka sama sekali tak membuka mulutnya yang membuat Kanigara merasa gadis itu sangat pendiam. Namun bila ia perhatikan, saat Inka bersama Asher dan para sahabatnya, bahkan dengan sang kakak Niskala, Inka jauh lebih hangat bahkan ia bisa tertawa riang.
Apa yang ia ucapkan dulu kebohongan ya? Jadi apa alasannya melamarku sebenarnya? Batin Kanigara yang mulai mencurigai motif dibalik niat Inka menikahi dirinya. Kanigara memutuskan untuk menyelidiki hal itu setelah mereka kembali ke Batam.
"Ehmm, kak..., lusa kita kan balik ke Batam. Apa boleh besoknya aku langsung masuk kantor?" tanya Inka dengan sedikit ragu.
"Selama kamu engga ngerasa capek, terserah kamu aja. Aku engga akan nahan kamu. Aku engga akan mencampuri urusan kerja kamu sama sekali. Tapi kalo kamu butuh saran, kamu bisa bertanya kapan aja," ujar Kanigara yang membuat Inka tersenyum.
Dia berubah! Kenapa sikap Kanigara terasa berbeda dibanding kehidupan sebelumnya, ya Tuhan? Batin Inka yang masih terus mencurigai perubahan sikap Kanigara yang cukup berbeda dengan kehidupan pertamanya.
****
Inka dan Kanigara terlihat menikmati perjalanan mereka. Untuk menuju Pulau Komodo mereka harus naik perahu selama dua jam. Namun keindahan alam yang disuguhkan selama perjalanan membuat waktu tak terasa menjemukan. Inka memandang ke bukit-bukit yang tampak dari kejauhan. Ia juga menikmati suguhan air yang membentang luas dan suara air yang timbul karena perahu yang mereka tumpangi. Inka tersenyum kala menikmati semua kesempurnaan ciptaan Sang Khalik yang memberikan ketenangan tersendiri bagi jiwanya.
__ADS_1
Kanigara sendiri sedang menikmati keindahan yang ia lihat melalui wajah sang istri yang sangat tenang seolah menyatu dengan keindahan alam selama perjalanan mereka menuju Pulau Komodo. Tangan Kanigara bergerak secara refleks, ia menyentuh rambut sang istri yang tertiup angin dan menyelipkannya ke balik telinga Inka yang membuat Inka dan Kanigara sendiri terkejut.
"Ekhemmm, rambut kamu menghalangi pandangan aku. Jangan mikir macam-macam," ujar Kanigara yang membuat Inka tersenyum simpul dan menganggukkan kepalanya. Lagi-lagi Kanigara terpana menatap wajah cantik sang istri kala tersenyum.
Kanigara mengepalkan tangannya kesal, karena pikirannya yang menjelajah terlalu jauh. Ia tak menyangka gadis pendiam itu, bisa mengusik pikirannya tanpa melakukan apapun. Kanigara memilih kembali meningkat kewaspadaannya terhadap sifat dan perilaku sang istri. Ia memikirkan seseorang yang tahu dengan sangat jelas sikap dan sifat asli Inka. Kanigara tersenyum puas dan akan segera merealisasikan semua yang muncul di pikirannya kala itu.
"Hati-hati," ujar Kanigara yang berdiri sebagai tameng untuk Inka saat melihat Komodo yang berukuran sebesar ukuran manusia dewasa berkeliaran secara bebas di pulau yang merupakan habitat asli hewan predator yang termasuk dalam klasifikasi hewan purba itu. Inka tertawa kecil saat melihat tingkah Kanigaranya yang menurutnya sangat lucu. Kanigara tertegun dan menatap Inka dengan tatapan aneh yang membuat Inka sedikit risih.
"Kamu engga takut?" tanya Kanigara pada akhirnya. Inka menggelengkan kepalanya sebagai jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh sang suami.
"Kalo Leticia pasti udah sembunyi di belakang kalo liat Komodo segede itu," ujar Kanigara yang tak memperhatikan ekspresi Inka yang berubah akibat perkataan suaminya itu. Inka hanya mendengus pelan, dan menyimpan rasa tak nyaman itu dalam hati.
****
Mereka duduk bersama di tempat itu sembari memandang lembayung senja yang perlahan muncul seiring dengan sang surya yang kembali ke peraduannya. Inka menikmati semilir angin yang menyapa wajahnya dan padang rumput yang membentang indah di sekitar pulau itu. Pasir putih dan warna biru laut yang memanjakan mata mereka.
Inka dan Kanigara tak banyak berbincang. Mereka asyik menikmati pemandangan dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing.
"Makasih buat hari ini Kak," ujar Inka setelah mereka kembali ke vila. Inka meninggalkan Kanigara tanpa berharap mendapat jawaban dari lelaki itu. Ia kembali ke kamar utama dan membersihkan diri. Tak lama Kanigara juga memasuki kamar utama. Inka dan Kanigara mematung di tempat karena saat Kanigara masuk, Inka sedang berganti pakaian, sehingga Kanigara masih sempat melihat lekuk tubuh sang istri yang terbalut pakaian dalam miliknya.
__ADS_1
"S*al! Cepat pakai baju kamu!" seru Kanigara yang langsung membalikkan badannya dan keluar dari kamar itu dengan membanting pintu. Inka memilih tetap diam dan menyelesaikan ritual berganti pakaiannya dengan santai.
Inka dan Kanigara terlihat canggung setelah kejadian di kamar utama tadi. Tak ada kata yang keluar dari bibir keduanya, mereka hanya bersantap malam dalam diam. Inka tetap melakukan tugasnya untuk menyendokkan makanan ke piring Kanigara dan memberikannya kepada sang suami. Kanigara hanya berdeham dan menyantap makanan yang diberikan oleh sang istri.
****
"Ehmmm, kak..., malam ini aku boleh tidur di kamar tamukah? Soalnya aku kangen dan mau telponan sama Gianna. Aku takut ganggu tidur kakak," ujar Inka lembut yang mendapat anggukan dari Kanigara. Inka tersenyum ke arah suaminya, tetapi Kanigara segera mengalihkan pandangannya dan fokus menyantap sajian yang ada di depannya.
Inka tak mengatakan apapun, ia menikmati santap malam yang disediakan oleh Bik Uti sembari memikirkan rencana yang akan ia laksanakan sesampainya di Batam nanti. Bila di kehidupan yang dulu, Leticia dan ayahnya memutuskan pindah ke Batam sebulan setelah pernikahannya dengan Kanigara, jadi bila alur kisahnya masih sama berarti bulan depan musuhnya itu akan segera menunjukkan batang hidungnya lagi dan mencoba mengganggu ketentraman hidup Inka.
Ada beberapa alur kisah yang Inka ubah sendiri pada kehidupan keduanya kali ini. Termasuk percepatan pernikahan dan dirinya yang tetap bekerja di kehidupan kali ini. Jadi bisa dipastikan ada alur cerita yang ikut berubah karena pilihan yang diambil oleh Inka. Ia harus siap dengan semua kemungkinan yang terjadi dan selalu terbuka terhadap perubahan rencana sesuai kenyataan yang terjadi di lapangan.
"Gi, lusa kami balik. Aku perlu bantuan Kenneth untuk mengecek pergerakan Leticia dan papanya, karena bila tidak ada perubahan bulan depan mereka akan pindah ke Batam. Kita perlu bersiap untuk segala kemungkinan terkait kepindahan mereka. Aku mintol ya, mak!" ujar Inka saat menelepon Gianna malam itu.
"Serahkan semuanya pada detektif Gianna dan Kenneth, cintaku! Cucok meong banget loh rasa kehidupanku setelah kehidupan keduamu sayangku. Aku jadi bisa main detektif-an kayak gini. Aku jadi ngerasa kayak Gianna Holmes, hihihi," balas Gianna yang membuat Inka tertawa.
"Thanks for everything, my dear. Aku engga akan bisa ngelakuin semua ini sendiri tanpa bantuan kamu. See you, Gianna Holmes!" Inka memutuskan panggilannya sambil tersenyum.
"Leticia sayang, ucapkan selamat tinggal pada kehidupan sempurna dan bahagiamu. Karena neraka akan mendekatimu secara perlahan."
__ADS_1
****