
"Ekhmmm, ekhmmm," gumam seseorang yang sedang diikat mulut dan tangannya dan ditempatkan dalam sebuah ruangan gelap yang membuat ia tak tahu dirinya berada di mana.
"Bos, target sudah kami tempatkan di ruangan yang bos perintahkan! Kami menunggu instruksi selanjutnya!" ujar bawahannya saat menghubungi atasan mereka. Perkataan si bawahan membuat atasannya tertawa puas.
"Suruh Marco menghubungi Nyonya Kanigara yang terhormat. Katakan kalo berani melapor polisi atau lelaki di keluarga Janu dan Alora, atau tahanan kita itu akan mati. Suruh si cantik itu datang sendiri!" perintah sang atasan yang sudah membayangkan kalau rencananya akan berhasil kali ini.
Lelaki itu bisa membayangkan betapa hancurnya keluarga Janu dan Alora bila seorang nyawa seorang Inka berakhir di tangannya. Ia tak perduli bila ia harus menghadapi amukan dari lelaki-lelaki yang sangat menyayangi Inka itu. Baginya membalas Kanigara dengan menyakiti wanita yang sangat dicintainya dan melihat kehancuran Kanigara setimpal dengan resiko yang harus diambilnya.
"Saatnya mengambil resiko besar untuk mendapatkan hasil yang setimpal!" ujar lelaki itu.
****
Inka mendapatkan sebuah pesan masuk dari nomor yang tak dikenal. Ia membuka pesan itu, lalu menyeringai. Ia tahu bahwa permainan sudah dimulai dan ia sudah menantikannya sejak lama.
Inka merasa sudah terlama bermain aman, sesekali ia ingin memberikan kejutan manis untuk membuat para musuhnya tak lagi menganggap bahwa ia adalah lawan yang mudah untuk dipermainkan.
Bersiaplah! Mereka sudah mengundang kita bermain!
Inka mengirimkan pesan kepada seseorang dan bersiap untuk berangkat ke alamat yang dikirimkan lewat pesan itu. Inka mengirimkan pesan kepada Kanigara bahwa ia akan pergi sebentar ke toko bunga milik Gianna agar sang suami tak khawatir, karena sejak kejadian Inka koma beberapa waktu lalu , Kanigara tak pernah melonggarkan pengawasannya terhadap Inka.
Kanigara setiap hari selalu menghubungi Inka untuk memastikan sang istri dalam keadaan baik. Inka bersyukur dengan perhatian sang suami, hanya saja terkadang hal itu membuat Inka kesulitan bergerak karena Kanigara menjadi lebih sering bekerja dari rumah daripada pergi ke kantor.
Kanigara tak pernah tahu sepak terjang Inka, selama ini. Inka memang tak ingin melibatkan Kanigara dalam rencana balas dendamnya, karena Kanigara merupakan salah satu dari daftar orang yang masuk dalam rencana balas dendamnya walau dalam bentuk yang berbeda.
****
__ADS_1
Bos, Nyonya Inka sudah bergerak! Apa kita harus bergerak sekarang?
Seseorang sedang mengirimkan pesan kepada atasannya.
Tidak perlu! Tunggu sinyal sesuai instruksi yang diberikan sebelumnya. Tetap di posisi masing-masing.
Balasan dari atasannya itu, membuat gadis sedikit kecewa. Ia sangat menantikan waktu dimana ia bisa melihat sepak terjang Inka secara langsung. Ia yakin Inka masih menyembunyikan banyak hal menarik yang membuat ia semakin ingin melibatkan diri.
Gadis itu menunggu dengan gelisah, ia terus melihat ponsel yang ada di tangannya menantikan instruksi lanjutan yang berasal dari atasannya itu. Satu jam berlalu tetapi tak ada dering membahagiakan yang sudah dinantikannya sejak tadi.
Tangannya sudah gatal untuk bertanya kembali kepada sang atasan. Namun ia mengurungkan niatnya karena takut menyinggung atasannya itu. Ia berjalan mondar-mandir sembari menghitung waktu yang seakan berjalan sangat lambat.
Setelah menanti selama dua jam, akhirnya pesan yang ditunggunya pun datang.
Bergerak! Diam di radius 100 meter dari lokasi. Yang terlihat keluar dari gedung, yang bukan anggota kita, RINGKUS!
"Saatnya berolahraga!" ujarnya sambil bertepuk tangan senang.
****
Setelah dua jam perjalanan Inka sampai ke alamat tujuannya. Ia memasuki pekarangan sebuah gedung tua dengan perlahan sembari mengamati sekitarnya. Ia melihat beberapa bawahan dari musuh sudah berjaga di persembunyiannya masing-masing yang membuat Inka tersenyum remeh.
Inka memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu masuk gedung tua yang dimaksud dalam pesan yang diterima Inka. Inka memasuki gedung itu dengan tenang karena ia sudah bisa memastikan apa yang menantinya.
Seseorang tiba-tiba menyergapnya dari belakang, yang membuat Inka menyeringai. Ia melepaskan sergapan lelaki bertubuh besar itu dengan santai, yang membuat lelaki itu terkejut. Ia tak menyangka bahwa Inka mempunyai kemampuan bela diri yang mumpuni.
__ADS_1
Saat lelaki itu sedang lengah karena belum lepas dari keterkejutannya, Inka langsung menyerang rahang lelaki itu dengan telapak tangannya yang membuat lelaki itu langsung mengerang kesakitan karena merasakan sesuatu yang patah pada rahangnya.
Mendengar teriakan dari lelaki itu, beberapa lelaki lain langsung berdatangan.
"Ingat wanita itu harus hidup!" teriak seseorang yang membuat Inka mencibir. Ia mengangkat tangannya secara tiba-tiba yang membuat para lelaki itu berhenti dan mengelilingi Inka.
"Lepaskan wanita yang kalian culik itu! Sebelum nyawa kalian berakhir di tempat ini!" ujar Inka yang membuat para lelaki itu tertawa remeh.
"Wahhh, perempuan ini langsung sombong karena bisa numbangin salah satu dari kita! Gimana kamu mau menghadapi enam pria kekar seperti kami, cantik! Sudah pasrah saja, kami akan memperlakukan kamu dengan baik," seru seorang lelaki yang berada di sisi kanan Inka.
Inka menatap lelaki itu dengan senyuman mengejek yang membuat pria besar itu tersinggung dan mencoba menyerang Inka. Inka menunduk saat lelaki itu mencoba melayangkan pukulannya ke arah kepala Inka. Inka kembali menghajar bagian rahang lelaki itu dengan cara yang sama dengan serangan awalnya tadi.
Lelaki itu langsung terkapar yang membuat kelima lelaki lainnya terkejut. Dua dari pria itu mencoba menyerang Inka bersamaan. Inka menangkis serangan salah satu pria dengan lengan kirinya sembari melayangkan tendangannya ke arah pria lainnya. Setelah itu ia melayangkan pukulan mautnya ke arah ulu hati penyerang pertama yang membuat keduanya mengerang kesakitan.
Salah seorang pria menyekap Inka dari belakang sebentar kedua pria lainnya berusaha menyerang Inka. Inka menggunakan kakinya untuk kembali menyerang ************ pria yang mendekapnya itu, yang menyebabkan lelaki itu mengerang kesakitan dan melepaskan dekapannya.
Inka langsung memiringkan tubuhnya dan menangkis pukulan dari salah satu lelaki yang belum terkena pukulan dari Inka. Inka menangkap tangan yang penyerang itu dan memelintir tangan itu ke arah belakang sembari menendang bagian perut lelaki terakhir yang berlari mendekatinya.
Setelah para lelaki itu tumbang. Ia mengeluarkan sesuatu dari saku celananya dan mengarahkannya ke leher lelaki yang lengannya masih dipelintir oleh Inka.
"Dimana wanita yang kalian sekap? Antarkan aku ke sana!" ujar Inka tegas yang membuat lelaki itu mematuhinya karena takut Inka akan menancapkan pisau lipat yang dipegang gadis itu ke lehernya.
Tetapi tiba-tiba suara tepukan tangan dari belakang mereka terdengar yang membuat Inka mencibir karena ia tahu dari siapa asal tepuk tangan itu.
"Nona Inka Alora a. k. a Nyonya Inka Janu. Senang melihat kunjungan anda di tempat ini. Aku tak menyangka bahwa seorang Inka yang terlihat begitu manis mempunyai kemampuan bela diri yang tak bisa dipandang sebelah mata! Lepaskan anak buahku, atau dokter cantik ini mati!" ancam seorang lelaki sembari tertawa lepas yang membuat Inka mendengus kasar.
__ADS_1
"Well, well Tuan Maxwell Burandi. Apa kabar? Senang bisa bertemu kembali!" ujar Inka sembari tersenyum manis yang membuat lelaki itu bingung.
****