
Kanigara terus mencuri pandang ke arah Inka selama sarapan yang membuat Niskala mendengus geli. Baru kali ini, Niskala melihat sang adik terusik dengan keberadaan seorang wanita yaitu Inka.
"Ekhemmm, Gar..., makanannya di depan kamu bukan di wajah istri kamu," goda Niskala yang membuat Kanigara memutar bola matanya kesal sembari memperingatkan sang kakak melalui tatapan matanya. Niskala hanya tertawa kecil, sedangkan pipi Inka terlihat merona.
"Hai, hai, kami datang!" seru seseorang yang membuat punggung Inka menegang.
Leticia! Akhirnya muncul juga! Batin Inka sembari tersenyum samar. Kali itu Leticia datang bersama dengan sang ayah yang bernama Buana Aru, si rubah tua yang sejak awal mengirimkan sinyal permusuhan kepada Inka. Tatapan sinis dan mencemooh yang selalu dialamatkan kepada Inka lama, yang membuat Inka yang polos itu menunduk takut.
Leticia memperkenalkan sang ayah kepada Inka. Buana tetap sama, ia berusaha mengintimidasi Inka dengan tatapannya.
Maaf, Pak Tua! Aku bukan Inka yang dulu! Batin Inka sembari menyalami Buana dengan tatapan tenang, bahkan dengan berani Inka menatap langsung ke mata pria tua itu yang membuat Buana sedikit terkejut.
"Saya Inka Alora, Om. Istri Kanigara!" ujar Inka lembut tapi penuh dengan penekanan. Ia menyunggingkan senyum ramah yang dibalas dengan senyuman mencemooh oleh Buana.
"Ekhem...." Niskala berdeham untuk memperingatkan Buana bahwa ada dirinya dan Kanigara di tempat itu. Buana langsung mengubah raut wajahnya dan mulai memeluk Kanigara dan Niskala bergantian.
****
Mereka sarapan bersama, sebelum akhirnya Buana pergi bersama Niskala dan Kanigara untuk meninjau proyek kerja sama yang mereka jalin. Tinggallah Leticia yang ditemani oleh Inka berbincang di ruang tamu.
"Gimana kabar kamu, Inka sayang?" tanya Leticia berbasa-basi.
"Baik kak, dalam rangka apa ke Batam?" tanya Inka yang sebenarnya sudah mengetahui jawabannya.
"Papi minta kami pindah ke sini, karena mami kan udah engga ada. Jadi papi bilang, balik ke sini aja biar dekat sama keluarga besar papi yang memang asli Batam. Aku juga senang banget karena aku jadi punya waktu lebih banyak untuk kumpul bareng kalian," jelas Leticia yang terlihat sangat ceria. Inka hanya tersenyum simpul walau dalam hatinya, ia ingin tertawa karena kedatangan Leticia ke Batam kali ini hanya akan menjadi permulaan neraka baginya.
****
Inka sudah kembali ke kamarnya, karena Leticia sudah kembali ke kediamannya.
"Non, saya udah dapat beberapa updatean yang Non Inka minta kemarin. Saya dapat bocorannya sih dari Seila, Non. Saya yakin si Seila jujur, soalnya dia polosan anaknya," ujar Rima sembari menjelaskan semua informasi yang ia dapat dari Seila.
__ADS_1
"Tu..., tunggu dulu kamu bilang kalo Riska itu bawaannya Bik Marni. Anak tetangganya gitu?" tanya Inka memastikan pendengarannya.
"Bener..., seratus buat Non Inka," ujar Rima sambil terkekeh yang membuat Inka tersenyum. Namun ia langsung mengambil sikap diam, karena ada tak kesesuaian kisah pada dua fase kehidupan yang sudah ia lewati. Inka meminta Rima memanggil Bik Marni, untuk mengkonfirmasi kebenarannya.
"Bik, saya boleh tau di rumah ini, siapa yang pinter mijat ya? Kok kayaknya badan saya pegal-pegal ya!" ujar Inka menggerak-gerakkan bahu dan lehernya.
"Saya bisa kok, Non. Dulu saya sering mijitin almarhumah nyonya besar. Katanya nyonya besar sih pijatan saya enak, Non," ujar Bik Marni sambil tersenyum malu. Inka pun meminta wanita setengah baya itu untuk memijat tubuhnya. Inka mengajak sang bibik mengobrol tentang kehidupannya sebelum bekerja di kediaman keluarga Janu dan tentang staf di kediaman barunya itu.
Inka merasa informasi yang disampaikan oleh Rima cukup akurat walau ada beberapa cerita dimana Bik Marni lebih mengetahui kejadiannya dibanding Seila yang baru bergabung menjadi staf rumah keluarga Janu sejak empat tahun yang lalu.
****
"Non, saya kelupaan ngasih tau sesuatu," ujar Rima saat ia membantu Inka menyisir rambutnya.
"Riska itu aneh..., kalo ngeliat saya dia itu engga pernah senyum, Non. Kata Seila, dia emang gitu. Dia cuma dekat sama Bik Marni..., sama yang lain dia itu jutek, Non," ujar Rima pelan karena tak ingin ada yang mendengar.
"Jutek?!" tanya Inka tak percaya karena seingatnya dulu Riska selalu bersikap ramah kepada semua orang di rumah itu. Informasi yang Inka terima di beberapa poin mengalami perubahan dari ingatan masa lalu Inka. Rencana Inka juga terpaksa mengalami beberapa perubahan karena situasi, sikap, sifat dan tokoh yang bermunculan juga mengalami perubahan yang cukup signifikan yang membuat Inka merasa sedikit kesulitan.
****
"Tegang amat tuh muka!" ujar Gianna yang membuat Inka memelototi dirinya. Gianna tahu dari ekspresi Inka bahwa ada sesuatu yang pelik sedang terjadi. Inka pun menceritakan semua informasi yang ia dapat dari Rima maupun Bik Marni. Ia juga menceritakan tentang kedatangan Leticia ke kediaman mereka.
Gianna berusaha mencerna semua cerita Inka yang memusingkan itu.
"Jadi intinya menurut kamu ada tambahan orang lagi yang harus dicurigain?" tanya Gianna langsung ke intinya.
"Tepat!"
"Ya elah, tau gitu tinggal bilang nambah list orang yang jadi target operasi kita, neng! Ribet dah!" ujar Gianna yang membuat Inka tertawa. Inka dan Gianna memutuskan untuk menunggu waktu yang tepat agar orang-orang yang mereka curigai memakan umpan yang sudah mereka lemparkan, walau sebenarnya Inka masih curiga dengan tindakan Kanigara yang tak wajar terhadapnya sejak awal pertemuan mereka.
Inka pun menceritakan tentang kekhawatirannya itu kepada Gianna yang membuat Gianna mengelus dagunya sembari berpikir.
__ADS_1
"Gayamu, Gi. Udah macam detektif Conan aja lu!" ujar Inka sambil menyenggol lengan Gianna yang membuat sahabatnya itu terkikik.
"Lagi mendalami peran atuh, neng! Ganggu aja sih!" keluh Gianna dan mulai membeberkan informasi yang ia dapat tentang Kanigara sesuai dengan permintaan dari Inka sebelumnya.
****
Inka tiba di kediaman keluarga Janu bersamaan dengan kepulangan Kanigara dan Niskala.
"Baru pulang juga, Ka? Gimana toko bunganya Gianna? Kakak pengen dong diajakin ke sana juga, kapan-kapan...," ujar Niskala kala mereka bertemu di halaman.
"Iya kak, tokonya baik-baik aja. Kakak nanyain toko atau yang punya nih? Ehhh, ini titipan dari Gianna buat kakak ganteng katanya," ujar Inka sambil memberikan sebuket bunga dan kartu yang diselipkan di dalam buket itu.
Niskala tertawa senang saat membaca kartu yang berasal dari sahabat Inka itu. Inka yang penasaran mengintip isi kartu itu.
Dear Kakak ganteng,
ini sebuket bunga untuk orang ganteng, awas jangan dihirup ada cemcemannya. Awas loh nanti jadi jatuh cinta sama yang ngerangkai bunganya😊.
Penuh Cinta....
Gigi ❤❤
Dasar Gianna sableng, pikir Inka sambil menggelengkan kepalanya karena selalu takjub dengan kelakuan sahabatnya itu.
Sementara itu, Kanigara yang berada di belakang mereka menatap Inka dengan tatapan aneh.
Tolong aku, Kanigara!
Deg!
****
__ADS_1