
Gianna hanya bisa menatap Inka dengan wajah kagum. Terkadang Gianna merasa tak bisa menyelami pikiran sahabatnya itu, tapi ia merasa senang bisa mendampingi sahabatnya menjalani kehidupan keduanya. Ia ingin memiliki andil dalam membantu sahabatnya itu dalam rencana balas dendam Inka.
Kali ini Gianna akan memastikan bahwa Inka tak akan berjuang sendirian lagi. Gianna bisa membayangkan bagaimana saat Inka harus menjalani neraka setelah pernikahannya sendirian, kesepian dan tenggelam dalam keputusasaan tanpa ada yang mendukung atau menemani dirinya.
"Oiii, malah melamun!" seru Inka yang membuat Gianna tersadar dari lamunannya. Gianna memeluk sahabatnya itu sembari menahan air matanya yang akan keluar. Ia berjanji dalam hatinya bahwa Inka akan mencicipi kebahagiaan dalam kehidupan keduanya. Inka hanya menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu dengan sayang.
"Trus untuk Leticia, gimana rencana kita selanjutnya, Bu Bos?" tanya Gianna penasaran setelah adegan penuh haru tadi berakhir.
"Kembali menunggu dan bertahan, sayangku. Ikan baru memakan umpan, saat suasana tenang, sobat!" balas Inka singkat sembari memikirkan sesuatu, lalu melihat Gianna dengan lekat.
"Mak, aku rasa kita perlu menyelidiki lebih lanjut tentang Seila. Aku ngerasa dia engga bergerak sendiri, dan serbuk yang dicampurkan ke makananku itu, pasti berasal dari orang lain. Tolong selidiki lebih lanjut, bu detektif!" lanjut Inka sembari tersenyum penuh arti kepada Gianna yang sedang menyeringai ke arahnya.
****
Sementara itu, di ruang kerja Niskala.
"Kamu ngerasa engga kasus ini lebih rumit dari yang kelihatan, Gar? Seila dan Bik Marni engga mungkin ngelakuin itu semua sendiri tanpa arahan siapa pun! Gimana menurut kamu?" tanya Niskala sambil mengusap dagunya beberapa kali.
"Bener kak, aku rasa kita tetap harus nyelidiki latar belakang Seila. Kalo menurut penuturan Inka tadi pagi, Bik Marni pasti hanya pion yang digerakkan Seila sama komplotannya! Tapi aku ngerasa Inka tau sesuatu yang engga kita tahu!" ujar Kanigara sembari membayangkan wajah sang istri yang terlihat begitu berbeda tadi pagi.
Kanigara merasa banyak hal yang tidak ia ketahui tentang Inka, termasuk bagaimana gadis feminin seperti istrinya bisa menyimpan borgol di kamarnya.
__ADS_1
Menarik! Batin Kanigara yang merasa perlu mengenal sang istri lebih jauh. Inka sekarang pastinya lebih pintar dan menarik dari yang Kanigara ingat dulu. Inka yang ia kenal saat remaja dulu adalah gadis belia pemalu dan penyendiri yang suka menulis dan bermain boneka. Tapi Inka yang ia lihat tadi sungguh jauh berbeda, sangat percaya diri dan cantik. Ehhhh....
Kanigara langsung mengenyahkan pikiran aneh yang tiba-tiba muncul di pikirannya. Ia berdeham dan memokuskan diri untuk mendengarkan perkataan sang kakak.
****
Tak lama Melanie datang untuk memeriksa keadaan Leticia yang masih dikurung oleh Kanigara di kamar tamu. Inka mendampingi Melanie untuk melakukan pemeriksaan itu, karena Kanigara dan Niskala masih berdiskusi di ruang kerjanya.
Leticia sudah mulai siuman saat Melanie dan Inka memasuki kamar tamu. Ia masih sedikit pusing saat Melanie memeriksanya, sedangkan Inka memilih untuk duduk tenang di sofa sembari memperhatikan kondisi musuhnya itu. Inka melihat jam di tangannya. lalu tersenyum misterius.
"Kenapa aku ada di sini? Dan kenapa aku diperiksa dokter?!" tanya Leticia bingung sembari menatap Inka.
"Kamu tadi sempat meracau sebelum pingsan, jadi kamu di bawa ke kamar ini, Kak," ujar Inka tenang. Leticia sama sekali tak mengingat kejadian yang menimpanya. Ia hanya merasa tubuhnya sangat lemas dan tak bertenaga seolah telah berolahraga selama beberapa jam tanpa henti.
Efeknya hilang! Batin Inka.
Tak lama Leticia diantarkan pulang oleh supir keluarga Janu, yang sempat membuat Leticia kesal padahal ia sudah berakting agar terlihat masih lemah supaya Kanigara bersedia mengantarnya.
****
Menjelang malam Segara dan Jordan muncul di kediaman keluarga Janu. Mereka terpaksa menunda keberangkatan mereka ke kediaman itu tadi pagi, walau mereka sudah mendengar kabar tak mengenakkan itu dari Kanigara dan Inka. Mereka harus mengurusi tugas kantor selama petinggi perusahaan mereka itu dimintai keterangan di kantor polisi terkait kejadian yang menimpa Inka dan Leticia.
__ADS_1
Mereka segera menemui Inka dan Gianna di ruang pribadi Inka. Gianna masih setia menemani Inka karena Gianna merasa takut Inka kembali mengalami serangan panik bila ditinggalkan sendiri.
"Kamu gapapa, Ka?" tanya Segara begitu mereka duduk bertiga di ruangan itu. Jordan pergi menghadap Kanigara karena ada urusan penting terkait pekerjaan yang harus ia bahas dengan atasannya itu.
"Aku gapapa kok, Ga," ujar Inka sambil tersenyum simpul.
"Aku udah dengar sebagian cerita dari Gianna, tapi aku pengen tau sejak kapan kamu tau kamu diracuni?" tanya Segara tegas yang membuat Inka menghela nafas berat dan menatap Gianna seolah meminta penjelasan. Gianna hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal karena ketahuan memberitahu Segara perihal racun yang sudah dikonsumsi Inka sejak ia tiba di kediaman keluarga Janu.
"Dua hari setelah aku tiba di kediaman ini. Dan itu bukan racun. Itu hanya sejenis jamur yang bisa menyebabkan halusinasi dan dalam jangka panjang bisa menyebabkan kerusakan mental dan fisik pada orang yang mengkonsumsinya,
Jamur sihir atau magic mushroom namanya. Efeknya biasa berlangsung sekitar enam jam. Setelah itu mereka akan lupa apa yang mereka perbuat. Mereka ingin membuat aku terlihat seperti orang yang memiliki gangguan kejiwaan supaya Kanigara menjauhi aku dan pernikahan kami berantakan," jelas Inka yang membuat Segara terguncang. Ia tak menyangka bahwa menikahi Kanigara malah membuat nyawa Inka terancam.
Segara terdiam selama beberapa saat sembari menatap Inka yang tetap terlihat tenang itu. Segara kehilangan kata-katanya ia tak tahu harus berkata apa untuk menanggapi perkataan Inka atau bagaimana cara menghibur sahabatnya itu. Gianna menatap Inka dan Segara bergantian karena ia merasa kedua sahabatnya itu sedang larut dalam pikirannya masing-masing.
"Sampai kapan kalian mau menyembunyikan sesuatu dari aku?" tanya Segara tiba-tiba yang menimbulkan raut terkejut di wajah Inka dan Gianna. Gianna tetap diam, karena ia tahu keputusan mutlak berada di tangan Inka, apakah ia ingin jujur kepada Segara atau tidak. Inka menghela nafas panjang dan memandang sahabat laki-lakinya itu dengan lekat.
"Aku engga ingin ngelibatkan lebih banyak orang dalam masalah yang aku hadapi Sega. Aku engga mau nyawa orang lain ikut terancam karena terlibat dalam rencanaku!" ujar Inka tegas yang membuat Segara tak bisa menutupi keterkejutannya. Hal itu membuat Inka tersenyum miris. Segara menimbang beberapa saat sebelum akhirnya menjawab.
"Apa arti persahabatan kita di mata kamu, Ka? Apa kamu pikir aku pengecut yang takut mati?" balas Segara mantap yang membuat Inka mengangguk-anggukkan kepalanya. Inka berdiam diri sembari menimbang kembali keputusan yang harus diambilnya.
"Kamu percaya reinkarnasi atau orang yang bisa hidup lagi setelah dia meninggal, Ga?"
__ADS_1
****