
Pemakaman Oliver dilaksanakan setelah seluruh pihak keluarga berkumpul di Jakarta. Inka dan Elisha tak berhenti mengeluarkan tangisan pilu karena kehilangan sosok yang paling sabar dan mencintai keluarganya dengan sangat. Kanigara berusaha untuk menghibur Inka yang sepertinya masih sangat terpukul karena kepergian ayah mertuanya itu.
"Pi, kenapa pergi sebelum Inka! Inka juga belum bisa ngasih cucu kayak yang papi mau selama ini!” bisik Inka di telinga Oliver yang sudah terbujur kaku di peti mati yang sudah disiapkan oleh keluarga. Inka memeluk erat tubuh sang ayah dengan sayang. Air mata kepedihan mengalir dari pelupuk mata istri Kanigara itu. Kanigara dengan sigap merangkul Inka dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya, sembari membisikkan kata-kata menenangkan untuk sang istri.
Sementara itu Elisha sedang beristirahat di kamarnya karena sudah dua kali pingsan akibat guncangan yang ia terima. Ia masih belum menerima kepergian mendadak, suami yang sangat dicintainya itu. Ia tak menyangka Tuhan memanggil sang suami begitu cepat. Padahal baru tadi pagi, Elisha mengantarkan sang suami sampai ke depan pintu kediaman mereka saat Oliver akan berangkat ke kantor. Tak sampai setengah jam, kabar Oliver kecelakaan karena tabrakan beruntun ia terima yang menyebabkan Elisha pingsan di tempat.
“Mi, udah dong, jangan nangis terus. Nanti mami sakit, papi udah tenang. Kalo Mami kayak gini papi bisa sedih!” ujar Asher yang sedang menemani Elisha di kamar utama. Elisha hanya diam dengan tatapan kosong seakan jiwa sang ibu sedang terpisah dari raganya. Melanie yang berdiri di samping Asher, menepuk pundak tunangannya itu pelan untuk menguatkan Asher. Melanie menemani Elisha setelah Asher keluar dari kamar karena masih sibuk mengurusi acara penguburan sang ayah.
****
Upacara penguburan jenazah Oliver telah selesai dilaksanakan, isak tangis keluarga Alora terdengar hingga peti mati terkubur sempurna dalam liang lahat yang sudah disediakan di makam pekuburan keluarga besar Alora. Seluruh keluarga dan sahabat terdekat keluarga Alora sudah kembali ke kediaman Alora untuk menghibur Elisha, Asher dan Inka.
Inka menutup mulutnya rapat selama acara penghiburan itu berlangsung. Ia menangis dalam diam, di pelukan Kanigara yang membuat Kanigara merasa sesak karena tak bisa menghibur sang istri. Ia hanya mampu memeluk, merangkul dan membisikkan kata-kata penguatan yang mungkin saat itu sama sekali tak berarti bagi Inka yang masih tenggelam dalam kesedihannya.
Niskala, Gianna, Segara, Jordan, Max dan Sellah , semuanya duduk di sisi kanan, kiri dan belakang Inka dan Asher. Melanie terus mendampingi calon ibu mertuanya di dalam kamar utama karena Elisha kembali pingsan setelah acara penguburan selesai dilaksanakan.
Setelah acara penghiburan selesai, Inka meminta waktu untuk menyendiri di ruang kerja pribadinya. Ia membutuhkan waktu untuk memikirkan segala hal yang telah terjadi. Seluruh keluarganya membiarkan Inka mengambil jarak untuk meresapi kesedihannya sendiri.
“Pak Kenneth, kirimkan video dan bukti yang harusnya dikirimkan kemarin!” ujar Inka dengan nada dingin yang
__ADS_1
membuat detektif sewaannya itu sedikit terkejut tetapi langsung melaksanakan permintaan orang yang membayar jasanya itu. Sebelumnya Kenneth sudah menghubungi Inka untuk menyampaikan belasungkawa, tetapi yang mengejutkan Kenneth dalam pembicaraan pribadinya dengan Inka hari itu adalah Inka meminta Kenneth untuk menyelidiki tentang penyebab kematian sang ayah.
Setelah Inka menutup panggilannya, ia duduk termangu sembari menatap langit senja yang perlahan
menemani nelangsanya.
“Dasar Inka bodoh, kenapa bisa melupakan peristiwa penting yang satu ini?!” gumam Inka yang secara mendadak mendapatkan sebuah memori yang terluput dari ingatannya yaitu kematian sang ayah. Inka baru mengingat alasan pertunangan Asher ditunda kala itu adalah karena sang ayah, baru saja meninggal dunia.
“S*al!” teriak Inka sembari memukuli lantai dimana ia terduduk kala mengingat kenangan pahit itu.
Ia merasakan kesal dan sesal yang datang bersamaan dan menyebabkan dadanya terasa begitu sesak. Lagi-lagi kali ini takdir tak bisa ia tebak, karena ternyata di kehidupan keduanya Inka tetap tak bisa menyelamatkan keluarga terkasih. Ia tak menyangka ingatannya yang hilang, merupakan salah satu takdiryang paling menyakitkan dan harus ia terima di dua kali kehidupan yang sudah Inka jalani yaitu kehilangan sang ayah.
****
Sementara di suatu tempat, seseorang sedang tertawa puas melihat video saat kejadian naas yang menimpa ayah mertua dari musuh bebuyutannya itu. Seorang gadis muda yang berada di pangkuan lelaki itu menyeringai licik saat melihat mobil Oliver yang berada di sebelah kanan jalan tiba-tiba mengarahkan setirnya ke kiri secara mendadak karena dikejutkan oleh truk yang tiba-tibamelintas dan memepet mobilnya. Dan tanpa sengaja mobil yang berada di sebelah kiri menghantam mobil Oliver dengan keras yang menyebabkan mobil Oliver terguling beberapa kali dan menghantam bahu jalan.
Mobil Oliver yang ringsek dan penampakan tubuh Oliver yang terpental keluar dan bersimbah darah, membuat Bimantara dan gadis yang di sampingnya bersorak penuh kemenangan.
Bimantara sudah lama menargetkan keluarga Inka sebagai salah satu tumbal kebenciannya terhadap Kanigara. Awalnya ia berniat untuk menunda lebih lama pembalasan dendamnya tetapi ia mengingat perbuatan Inka dan Asher yang mempermalukannya membuat Bimantara kembali meneguhkan niatnya untuk melancarkan serangannya kepada keluarga Alora.
__ADS_1
Hari itu, pembalasan dendamnya berhasil. Sebenarnya ia tak ingin melenyapkan nyawa Oliver, ia hanya ingin memberi peringatan kepada Inka dan Asher untuk tidak melawannya. Namun takdir berkata lain, Oliver harus meregang nyawa pada hari itu.
Bagusss! Inka Janu, selamat menikmati kepedihanmu! Karena sebentar lagi, luka itu akan aku taburi garam supaya penderitaanmu terasa lengkap! batin gadis yang saat ini sedang di***bu oleh Bimantara untuk merayakan kemenangan mereka.
****
Leticia sedang sibuk menonton tayangan yang ada televisi dan tanpa sengaja ia melihat berita tentang kematian Oliver Alora, ayah Inka. Ia sempat terkejut selama sesaat, tetapi setelah itu ia tertawa kencang sambil bertepuk tangan dan membayangkan wajah Inka saat melihat tubuh sang ayah yang sudah terbujur kaku di peti mati.
Ia terus bertepuk tangan dan tertawa hingga lelah. Ia tak menyangka bahwa semesta membantu dirinya untuk balas dendam kepada perempuan yang sudah merebut sahabat sekaligus lelaki yang sangat dicintanya, Kanigara.
Selamat menikmati penderitaanmu, perempuan bsuk!* batin Leticia sambil tertawa bahagia.
Tiba-tiba pintu ruangan di mana Leticia dirawat, diketuk oleh seseorang. Tak lama penjaga yang ditugaskan oleh Bimantara untuk menjaga Leticia masuk sembari membawa sebuah paket yang dibungkus dengan kertas kado warna pink yang bermotif hati.
"Maaf, Nyonya besar ada paket untuk anda!" ujar pengawal itu singkat.
Leticia bingung karena ia sama sekali tak membeli apapun secara online yang dikirimkan ke rumah sakit, tetapi karena bungkus kado yang menghiasi kotak itu, ia berpikir bahwa kemungkinan itu adalah kado yang disiapkan oleh Bimantara untuknya.
"B*NGSATTTT!!!"
__ADS_1
****