Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
51


__ADS_3

Inka mengerjap-ngerjapkan matanya, dan melihat ke sekelilingnya. Ia kelihatan bingung karena ia seolah berada di sebuah tempat yang diselubungi kabut putih tanpa ujung.


"Dimana aku? Ini ada dimana?" gumam Inka bingung. Ia menyentuhkan jarinya ke arah kabut yang berwarna putih yang menyerupai awan itu. Lalu ia melihat ke arah pakaian yang dikenakannya, ia tak lagi memakai pakaian yang ia kenakan sebelumnya.


Saat itu, ia mengenakan gaun panjang yang mirip seperti jubah, menjuntai hingga menutupi kakinya. Gaun itu berwarna putih bersih. Inka mengernyitkan dahinya, seolah memikirkan sesuatu.


Apa aku udah mati?! batin Inka. Ia tersentak akibat pemikirannya itu.


"Engga mungkin! Pembalasan dendamku belum selesai! Kak Kani, Kak Asher, Papi, Mami, Kak Niskala, Giannaaaa!" teriak Inka sembari menyusuri kabut yang seolah tiada bertepi itu. Inka mulai takut bahwa apa yang dipikirkannya benar adanya.


Setelah lelah berputar-putar mencoba mencari orang-orang yang dicintainya itu, Inka terduduk sambil menangis. Ia tak menyangka bahwa perjuangannya harus berakhir saat itu juga. Ia masih belum menyelesaikan segala rencana yang sudah ia susun selama ini.


Inka belum sempat membalas kebaikan orang-orang yang dicintainya dan rela berkorban demi dirinya di masa lalu, ia bahkan tak sempat mengucapkan selamat tinggal kepada seluruh keluarganya.


"Kenapa harus sekarang, Tuhan?! Balas dendamku belum tuntas! Kenapa Kau memberi aku kehidupan kedua, tetapi di tengah jalan kau mengambilnya kembali?!!" raung Inka sambil memukuli dadanya yang terasa sesak. Ia memukuli kabut yang menjadi saksi bisu dari segala kepedihan yang ia rasakan saat itu.


"Inka!!! Inka!!!" Tiba-tiba terdengar suara seseorang yang memanggil-manggil namanya berulang kali. Suara yang penuh dengan kepedihan yang membuat hati Inka terasa semakin nyeri. Ia berlari mencari sumber suara di tengah kabut yang terasa semakin tebal yang menyebabkan jarak pandangan Inka semakin sempit.


"Si..., siapa itu?! Ini aku, aku di siniiii! Kamu bisa dengar suaraku?!" teriak Inka frustasi. Air mata juga membuat pandangan Inka mengabur hingga ia jatuh tersandung.


"Inka..., Inka!!! Jangan pergi, jangan tinggalkan aku!" Teriakan itu terasa memekakkan telinga Inka dan membuat Inka menutup telingannya.


"Inka...," ujar seseorang yang sedang berjongkok di depannya. Inka terkejut saat melihat seorang anak kecil muncul di hadapannya.


"Kenapa kamu menangis? Kenapa kamu bermain terlalu jauh?! Kamu tau, aku mencarimu dari tadi. Ayo pulang! Jangan tinggalkan aku lagi, ya!" ajak anak lelaki itu sambil tersenyum dan mengulurkan tangannya ke arah Inka. Inka menatap binar ceria di mata lelaki kecil tampan itu. Pria kecil itu mengingatkan Inka pada seseorang.


"Ayo pulang! Semua udah nungguin kamu, kamu jangan takut ada aku, kita engga akan tersesat!" ujar lelaki kecil itu lagi.


"Ka..., kamu siapa? Apa aku mengenal kamu?" tanya Inka setelah ia menemukan suaranya.

__ADS_1


"Aku Kanigara!" ujar bocah lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


****


Sementara itu....


Tittttttttttt


Terdengar suara yang berasal dari monitor tanda-tanda vital pasien di kamar dimana Inka di rawat. Kanigara meraung yang membuat Asher dan Niskala terpaksa memegangi tubuh suami Inka itu.


"Inka..., Inka!!! Jangan pergi! Jangan tinggalkan aku!" ujar Kanigara sembari mengguncang tubuh Inka dan meminta gadis itu untuk bangun.


Elisha menangis di pelukan Oliver sembari menatap wajah cantik sang putri yang sepertinya memutuskan untuk meninggalkan mereka. Gianna terduduk di sudut ruangan rumah sakit itu sembari memukuli dadanya yang sesak karena Inka telah tega mengkhianati janji mereka dan pergi sebelum semua dendam sahabatnya itu, berhasil mereka balaskan.


"Tega kamu, bu bos! Kenapa kamu tinggalkan aku sendirian, mana janjimu untuk tak mati kedua kali sebelum dendammu terbalaskan?!" gumam Gianna lirih di tengah air matanya yang mengucur deras dari pelupuk matanya.


****


Sementara itu, tawa kemenangan terdengar dari kamar Leticia. Kabar kepergian Inka, telah sampai ke telinga istri Bimantara itu.


"M*mpussss Kau, Inka! Bagus! Mati..., matilah!!! Tidurlah dalam damai, lihat dari atas sana bagaimana suami tampanmu akan segera kembali ke pelukanku! Hahahah! MATI! P**ACUR AKHIRNYA PERGI KE NERAKA!" seru Leticia bermonolog sembari menari penuh kebahagiaan.


Bimantara yang mendengar tentang kabar yang berasal dari anak buahnya yang sudah mereka tempatkan untuk memata-matai pergerakan keluarga Janu, sangat menyayangkan kepergian istri Kanigara itu.


Ia masih ingin bermain dengan gadis cantik itu! Ia masih ingin melihat sepak terjang Inka dalam dunia bisnis yang ia kelola dan Bimantara masih ingin melihat Kanigara kalut setiap kali mengetahui serangan yang ia tujukan ke arah Inka.


"Tidurlah dalam damai, Inka Alora! Senang pernah mengenal wanita cantik dan tangguh seperti dirimu. Andai kau bukan istri Kanigara, aku akan senang menjadikan wanita semenarik dirimu, menjadi milik dan sekutu abadiku!" ujar Bimantara sembari mengangkat gelas winenya sebagai tanda simpatinya.


****

__ADS_1


Jenazah Inka sudah dibawa ke kediaman keluarga Janu. Tangisan dari semua staf rumah keluarga Janu terdengar saat peti mati Inka dibawa ke dalam kediaman itu. Kanigara, Niskala, Asher, Gianna, Segara, dan Jordan menerima semua pelayat yang datang. Elisha dan Oliver memilih berdiam diri di kamar mereka karena Elisha belum rela melepas kepergian sang putri.


Ia masih merasa semuanya itu hanya mimpi. Mimpi itu akan segera berlalu dan putri cantiknya akan kembali ke pelukan mereka.


"Pi, Inka pasti pulang, kan? Dia cuma pergi main sebentar kan, Pi? Ini cuma mimpi kan, Pi? Oliver..., coba tampar aku, sayang! Kita harus bangun..., aku mau ketemu bayi kecilku!" raung Elisha yang membuat Oliver memeluk erat tubuh sang istri.


Ia ikut menangis bersama sang istri, ia pun tak percaya bahwa sang putri sudah kembali ke peraduan kekal dan meninggalkan mereka.


Kenapa harus Inka yang pulang lebih dulu, Tuhanku? Kenapa tidak kami saja, yang sudah hidup cukup lama! batin Oliver sembari menekan dadanya yang sesak.


****


"Bergegaslah, kita engga punya banyak waktu. Mengapa jalanmu begitu lambat?!" seru seorang lelaki yang sedang menarik tangan seseorang. Mereka sedang berjalan cepat melintasi sebuah lorong panjang, yang seolah tak berujung.


"Ini, kita mau kemana? Kenapa dari tadi engga sampai-sampai juga?! Aku capek!" seru gadis yang ditarik oleh lelaki itu.


"Cepatlah! Jangan bertanya! Waktu kita sempit!" ujar lelaki itu sembari menarik tangan sang gadis dan sedikit memaksanya untuk berlari.


Nafas gadis itu tersengal karena ulah sang lelaki yang berlari di depannya itu. Lelaki itu tak memperdulikan protes yang keluar dari mulut sang gadis. Ia terus membawa sang gadis untuk menyusuri lorong gelap itu.


Sembari berlari lelaki itu menggumamkan sesuatu yang tak jelas, dan tak bisa ditangkap oleh gadis itu.


"Kamu ngomong apa sih? Aku engga dengar! Ta..., tapi tunggu kamu siapa? Ma..., mana anak kecil tadi?" ujar sang gadis yang tak lain adalah Inka.


"Aku adalah dia, dia adalah aku! Ingatlah, waktumu tak lama. Aku akan membawamu pergi setelah tugasmu selesai! Sekarang pulanglah! Realita antara nyata dan mimpi hanya setipis kabut ini!" bisik lelaki itu sembari mendorong Inka ke dalam sebuah jurang.


Akhhhh!!!


****

__ADS_1


__ADS_2