Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
38


__ADS_3

Kanigara terkejut saat melihat kehadiran sang istri di ruang kerjanya. Inka menatap Kanigara sambil tersenyum manis.


"Kamu kenapa bisa di sini, sayang?" tanya Kanigara yang masih tak percaya dengan penglihatannya.


"Ehmm, office tour mungkin! Tadi Kak Niska ngajakin aku ke sini. Jadi aku iyain aja, lagian aku juga belum pernah kesini kan sebelumnya...," ujar Inka santai yang membuat Kanigara baru menyadari dirinya belum pernah mengajak Inka ke kantor mereka. Ia juga belum pernah memperkenalkan Inka secara resmi sebagai istrinya kepada seluruh manajemen dan staf di perusahaan yang mereka pimpin.


Pada akhirnya, Kanigara mengajak Inka untuk diperkenalkan kepada seluruh jajaran manajemen dan staf yang berada di kantor mereka. Ia langsung memperkenalkan Inka sebagai istrinya. Setelah itu, Kanigara mengantarkan Inka kembali ke kantornya.


"Makasih kak udah ngantar aku ke kantor. Kakak hati-hati ya," ujar Inka yang hendak keluar dari mobil sang suami ketika mereka telah tiba di parkiran kantor Inka.


"Ehmmm, aku lupa bilang..., besok malam ada gala dinner yang diadakan oleh rekan bisnis kita. Aku mau kamu nemanin aku ke sana..., bisa kan?" tanya Kanigara. Inka tersenyum lalu menganggukkan kepala menyanggupi permintaan suaminya itu.


"Emmmmm...."


Cup!


Tanpa aba-aba Kanigara mengecup pelan dahi Inka yang membuat Inka mematung.


"Selamat bekerja, istriku!" ujar Kanigara sambil tersenyum simpul. Inka hanya menganggukkan kepalanya dan keluar dari mobil Kanigara seperti orang linglung. Ia menyentuh dahinya sembari menimbang apa maksud dari tindakan suaminya itu. Sejak tadi pagi lelaki itu dengan seenaknya mencuri ciuman dari Inka, tanpa alasan yang jelas.


****


Saat pulang kantor, Kanigara kembali menjemput Inka. Inka merasa canggung karena masih mengingat kejadian tadi pagi saat suaminya itu melayangkan ciumannya sebanyak dua kali kepada dirinya.


"Emmm, Kak Kani boleh aku tanya sesuatu?" tanya Inka yang tak bisa menahan diri untuk tetap diam.


"Silakan...," balas Kanigara yang tetap terlihat fokus menatap jalanan.


"Apa maksud ciuman kakak tadi pagi? Bukankah ada batasan yang udah kita sepakati berdua?" tanya Inka penuh penekanan. Ia merasa perlu meluruskaan permasalahan tentang sentuhan yang boleh dan tidak yang sudah tertuang dalam perjanjian mereka.


"Inka sayang, mungkin kamu lupa terakhir kali kita ngobrol di kamar tentang ini, kamu bilang kita harus kelihatan mesra di depan orang lain. Aku cuma menjalankan permintaan kamu kok!" Perkataan santai Kanigara itu membuat Inka mencebik dan menatap tajam ke arah sang suami.

__ADS_1


"Mesra kak! Tapi tidak berlebihan dan hanya di depan publik! Dan yang paling pasti NO KISS ON THE LIPS! Aku harap kakak bisa menghormati perjanjian kita!" Inka menatap Kanigara dengan kesal. Kanigara tersenyum samar karena baru kali ini Inka benar-benar menunjukkan ekspresi kesalnya dan Kanigara menyukai hal itu karena Inka terlihat lebih manusiawi daripada ekspresi datar atau senyum simpul yang lebih sering menghiasi wajah gadis itu.


****


Leticia sudah menunggu kedatangan Kanigara layaknya seorang istri yang sedang menanti suaminya pulang kerja. Ia sudah sejak tadi mondar-mandir di ruang tamu menanti kepulangan Kanigara. Begitu mendapat informasi mobil Kanigara sudah memasuki kediaman keluarga Janu. Leticia langsung memperbaiki penampilannya dan bergegas menunggu kehadiran Kanigara di depan pintu masuk kediaman itu.


Inka langsung memutar bola matanya kesal saat melihat penampakan Leticia yang sudah berdiri manis di depan pintu masuk seolah sudah mengetahui kehadiran mereka tepatnya kehadiran suami Inka itu.


Ehmmm, it's show time, beib! batin Inka sembari tersenyum sinis yang diselimuti kegelapan dalam mobil itu.


Kanigara berhenti di depan pintu masuk kediaman mereka.


"Gara say...," ujar Leticia terputus dan ingin segera menghampiri Kanigara tetapi langkahnya terhenti saat melihat Kanigara membukakan pintu penumpang dan Inka keluar dengan anggun yang membuat Leticia mengumpat dalam hati.


Ia melupakan perkataan Inka tadi pagi perihal meminta Kanigara menjemput dirinya sepulang dari kantor.


"Inka, Gara sayang, kalian sudah nyampe ya. Feelingku kuat juga ya, tau kalo kalian bakalan segera pulang," ujar Leticia sembari tertawa malu dan mulai mendekati Kanigara.


"Aduhhh, kepalaku...," ujar Inka tiba-tiba sembari memegang lengan Kanigara. Kanigara refleks memegang kedua bahu Inka untuk menyeimbangkan tubuh sang istri yang terlihat sedikit oleng.


"Kepalaku sakit, Kak," ujar Inka lirih sembari menyandarkan tubuhnya ke tubuh suaminya yang membuat Leticia menggeretakkan giginya. Tanpa aba-aba, Kanigara langsung menggendong Inka ala bridal menuju ke kamar mereka sembari meminta Rima membawakan tas kerja mereka. Kanigara bahkan tak membalas sapaan Leticia.


Inka menyandarkan kepalanya di dada bidang suami yang berjalan cepat sambil menyunggingkan senyum samar. Leticia menghentakkan kakinya karena kesal. Kanigara mengabaikan dirinya hanya karena seorang Inka, yang menurut Leticia tak pantas bila harus bersaing dengan dirinya. Bagi Leticia, hanya dirinyalah yang pantas buat seorang Kanigara Janu.


****


"Kamu gapapa? Rima tolong telepon dokter Melanie untuk datang ke sini!" ujar Kanigara yang langsung ditimpali oleh Inka.


"Engga perlu kak, aku cuma kecapean aja kok. Aku hanya perlu istirahat aja. Rim, tolong bawain makan malam aku ke kamar ya, sama siapkan teh chamomile yang biasa ya," ujar Inka. Kanigara mempertimbangkan permintaan Inka, lalu menyetujuinya dengan syarat ia akan makan malam bersama Inka di kamar mereka.


Inka menghela nafas pelan sambil menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Nih, orang kenapa sih? Ntah maunya apa! Nyuruh orang menjauh, tapi dia yang mepetin mulu! batin Inka yang tak mengerti apa sebenarnya yang ada di pikiran Kanigara.


Inka pun pasrah dan membiarkan Kanigara makan malam bersamanya. Lagipula ia juga ingin melihat reaksi Leticia saat tak melihat Kanigara di ruang makan. Inka kembali mengingat masa lalunya, saat ia terpaksa makan sendiri di ruang makan ketika Leticia sakit dan meminta Kanigara menemani gadis itu di kamarnya dan Kanigara tak menolak sama sekali.


Tangan Inka sedikit bergetar saat mengingat hal menyakitkan itu. Kanigara yang melihat hal itu langsung sigap mengambil sendok yang berada di tangan Inka.


"Akhhh, buka mulut kamu, aku suapin. Tangan kamu sampe bergetar cuma ngangkat sendok. Rima panggil dokter Mel...," ujar Kanigara terpotong karena lagi-lagi Inka menolak perintah Kanigara itu. Kanigara menghela nafas kesal karena Inka sangat keras kepala.


Kanigara meletakkan sendok yang ada digenggamannya sembari menatap Inka dengan tajam.


"Rima, suapin nyonya kamu! Jangan berhenti sampe semua makanan di piring ini habis! Kalo engga habis, bersiaplah kamu akan mendapat ganjaran karena kekerasan kepala nyonya kamu ini!" ancam Kanigara sembari meninggalkan Inka dan memasuki ruang kerjanya sambil membanting pintu dengan keras yang membuat Inka dan Rima terkejut. Rima menatap takut ke arah pintu yang baru saja tertutup itu, yang membuat Inka tersenyum geli.


"Dia marah ke aku, bukan sama kamu, Rim. Gapapa aku habis makanannya ya," ujar Inka yang membuat Rima menghela nafas lega. Ia belum pernah melihat Kanigara marah dan sampai mengancam stafnya. Ia berusaha mengingatkan dirinya agar tak menyinggung perasaan sang tuan barunya itu dan akan selalu membujuk nona mudanya untuk mengikuti permintaan Kanigara.


****


"Nona muda, cantik banget!" seru Rima saat selesai membantu Inka berdandan dan berpakaian. Gaun malam kombinasi brokat dengan model tertutup dan bermodel long sleeve dress berwarna golden brown yang terlihat sangat mewah dan elegan membalut tubuh Inka dengan sempurna.


Kanigara menunggu kedatangan Inka ke kamar mereka karena dari tadi malam Kanigara masih mogok bicara dengan Inka. Ia masih kesal dengan kejadian semalam. Tak lama pintu penghubung kamar mereka dan ruang pribadi Inka terbuka dan menampakkan wajah Inka.


Kanigara tertegun melihat penampilan Inka.


Cantik!!!


****


Mereka tiba di hotel tempat gala dinner rekan bisnis Kanigara diselenggarakan. Kehadiran Inka dan Kanigara menarik perhatian banyak pihak. Bahkan banyak yang terang-terangan menatap penuh kekaguman ke arah pasangan muda itu.


Banyak sahabat, kolega dan rekan bisnis Kanigara yang penasaran dengan penampakan istri pebisnis muda itu, karena selama ini Kanigara hanya mengumumkan pernikahannya tanpa pernah memperkenalkan sang istri ke depan publik. Hari itu rasa penasaran mereka akhirnya terjawab dan mengakui bahwa kedua insan itu merupakan pasangan yang sangat serasi, kecuali satu orang yang sedang menatap sinis ke arah mereka.


"Kita bertemu lagi, Bu Inka!" ujar seseorang yang membuat tatapan Kanigara menggelap.

__ADS_1


****


****


__ADS_2