
Kanigara menatap ngeri ke arah Inka yang terlihat sedang melayang terbawa parasut karena tali penarik parasut yang digunakan Inka terputus.
"PUTAR SPEED BOATNYA!" teriak Kanigara yang langsung dilaksanakan oleh supir speed boat karena tak ingin menjadi sasaran murka Kanigara. Wajah Kanigara menggelap, aura membunuh memancar dari tubuh lelaki itu.
Inka yang terkejut karena tali penarik parasutnya putus merasa terkejut dan sedikit mual karena tubuhnya terombang-ambing terbawa oleh parasut yang masih melayang di udara.
Tuhan, tolong jangan langsung ambil nyama keduaku ini! Aku belum melaksanakan rencanaku! Doa Inka sembari mencoba lepas dari keterkejutannya. Pada saat itu Inka mencoba mengamati lokasi dirinya dan menyadari bahwa bila parasut jatuh, ia akan jatuh ke air jadi tak akan berbahaya bila ia berada di posisi yang benar.
Tak lama parasut itu jatuh ke air dan sempat membuat Inka merasa kesulitan untuk melepaskan diri dari parasut itu. Untungnya ia memakai pelampung pada tubuhnya sehingga ia bisa tetap aman.
"Inka, kamu gapapa?" seru Kanigara saat speed boat yang mereka tumpangi tiba di lokasi Inka jatuh. Kanigara langsung melompat ke dalam air dan membantu Inka untuk melepaskan diri dari parasut yang ia gunakan tadi. Kanigara membantu Inka naik ke atas speed boat dan mencoba memeriksa keadaan Inka.
Inka merasa tubuhnya terasa sangat lemas akibat shock therapy yang ia rasakan tadi. Kanigara mendudukkan Inka dan memeluk istrinya itu untuk menenangkan tubuh Inka yang terlihat gemetar.
"Kalo sampai istri saya kenapa-kenapa, kalian akan saya tuntut! Dan kasus ini akan segera saya usut sampai tuntas!" ancam Kanigara setelah mereka sampai di daratan dan menemui pemilik penyewaan parasailing itu. Kanigara langsung mengajak Inka ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut. Inka sudah menolaknya tapi Kanigara memaksa yang menyebabkan Inka memilih mengalah, daripada harus bersitegang dengan suaminya itu yang terlihat kesal itu.
"Istri kamu, gapapa kok, Gar! Santai.... Mba Inkanya cuma shock aja. Engga ada yang lain!" jelas Melanie dokter yang memeriksa Inka, sekaligus dokter keluarga Janu.
Ahhh, ini toh dokter Melanie. Ehmmm, cakep..., kenapa Kak Kani atau Kak Niska engga nikah sama cewek ini aja kelihatannya juga baik kok? Batin Inka saat memperhatikan interaksi yang terjadi di antara Kanigara dan Melanie.
"Ahh, iya kenalin saya Melanie, dokter di rumah sakit ini, sekaligus dokter keluarga Janu. Saya udah ketemu Mba Inkanya dua kali, tapi Mba Inkanya baru kali ini ketemu saya ya?" sapa sang dokter dengan ramah karena sejak tadi ia menyadari bahwa Inka memperhatikannya dan ia takut Inka berpikir aneh saat melihat interaksi dirinya dengan Kanigara.
"Iya saya baru kali ini ketemu dokter. Makasih karena udah bantuin saya waktu itu. Panggil aja saya Inka, dok," balas Inka sambil tersenyum simpul.
Mereka sempat mengobrol sebentar, hingga akhirnya Melanie pamit undur diri karena harus memeriksa pasien lainnya.
****
Tak lama Niskala, Gianna, Jordan dan Segara tiba di rumah sakit setelah Niskala dihubungi oleh Kanigara untuk mengabarkan bahwa mereka tak pulang hari itu karena Inka kecelakaan.
__ADS_1
"Bu bro, apalagi kali ini? Engga puas nyerempet jurang terus ya?! Jantungan trus diriku gara-gara dirimu, nak!" gerutu Gianna saat mereka ditinggalkan berdua setelah para pria memutuskan untuk mencari minuman.
Apa ini bagian dari rencana Kanigara, makanya dia ngajak aku keluar hari ini? Trus
siapa laki-laki muda tadi? Apa dia yang ngebantu Kanigara untuk menjalankan rencananya? Batin Inka. Namun ia sama sekali tak menceritakan kejadian itu kepada Gianna. Ia ingin menyelidiki hal itu sendiri, untuk memastikan dugaannya terkait perubahan Kanigara benar adanya.
"Oiii, diajak ngomong malah melamun!" seru Gianna yang membuat Inka tersadar dan tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal.
****
Sementara itu, di kantin rumah sakit keempat pria dari keluarga Janu dan keluarga Saki sedang membicarakan hal penting terkait kecelakaan Inka.
"Kamu udah menghubungi pihak kepolisian terkait hal ini, Gar?" tanya Niskala.
"Udah kak, tapi aku juga nyuruh anak buah kita untuk bergerak lebih dulu. Aku takut ini ulah pesaing bisnis kita!" balas Kanigara yang membuat ketiga lelaki lainnya mengangguk.
Niskala, Jordan, Segara dan Gianna menemani mereka hingga hampir tengah malam hingga Inka terpaksa "mengusir" mereka. Pada akhirnya mereka berempat bersedia untuk pulang setelah mendapat tatapan mengancam dari Kanigara.
Apa mau semua lelaki ini?! batin Kanigara kesal. Setelah keempat orang itu pergi, Kanigara menatap Inka tajam dan memutuskan untuk duduk di sofa tamu dan mengecek ponselnya tanpa memperdulikan Inka yang menatapnya dengan bingung.
Kanigara mengetik sesuatu di ponselnya dengan kesal.
JANGAN SENTUH MILIKKU DENGAN SEMBARANGAN!
Pesan itu membuat ketiga lelaki yang membacanya berekspresi berbeda. Niskala menggelengkan kepalanya sambil tertawa saat membaca isi pesan Kanigara di grup pesan yang baru mereka buat saat di rumah sakit tadi. Sedangkan Segara hanya tersenyum geli, berbeda dengan adiknya yang langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Alamat kena pecatlah diriku kalo sekali lagi meluk kak Inka ini namanya," gerutu Jordan yang membuat Segara tertawa.
****
__ADS_1
Sementara di tempat lain, seseorang sedang menampar pipi seseorang dan menendang dada lelaki itu dengan keras.
"Dasar tak becus! Pekerjaan kecil aja engga bisa kau kerjakan dengan baik!" ujar seorang lelaki yang memandang orang suruhannya dengan tatapan membunuh yang membuat lelaki yang sudah terluka itu menunduk takut.
"Maafkan saya Tuan, sekali lagi engga akan gagal lagi. Saya janji!"
Lelaki yang berang itu meremas dagu lelaki itu dengan tatapan penuh amarah, yang membuat bawahannya itu gemetar ketakutan.
"Sekali lagi kau gagal, nyawa anak dan istrimu yang jadi taruhannya! Ngerti kau!" ujar lelaki itu sembari menyuruh bawahannya itu keluar. Lelaki itu menatap nanar ke langit malam itu sepeninggal bawahannya tadi. Ia menyesap wine yang ada di gelasnya.
"S*al! Lagi-lagi gagal." Lelaki itu melemparkan gelas berisi wine itu ke lantai sembari menggeretakkan giginya.
****
"Nona muda, nona muda gapapa? Saya khawatir waktu dengar Non Inka kecelakaan?" ujar Rima dengan wajah hampir menangis saat menyambut kepulangan nyonya dan tuannya itu.
"Aku gapapa kok, Rim. Kamu tenang aja. Toh, lebih parah dari ini aku udah pernah ngalamin," ujar Inka yang memperkecil suaranya dengan tatapan sendu yang tersirat dalam pancaran matanya.
"Kamu istirahat dulu ya, aku ke kamarku dulu. Nanti aku ke kamar kamu lagi," ujar Kanigara sembari mengecup kening Inka dan berlalu dari hadapan kedua gadis itu. Inka sempat terpaku karena tak siap dengan tindakan manis yang ditunjukkan Kanigara tadi.
"Ihhhh, so sweet banget, Nona muda.... Mau dong di sun juga!" goda Rima yang langsung mendapatkan pelototan dari Inka. Rima hanya terkekeh melihat tatapan menegur yang ditujukan Inka pada Rima.
****
Sementara itu di sebuah ruangan seorang gadis sedang menggunting rambut sebuah boneka barbie dengan kesal.
"Kenapa dia engga mati aja?! Mati! Mati! Mati! P*l*cur s*alan!"
Boneka barbie itu tak lagi cantik seperti sedia kala.
__ADS_1
****