Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
72


__ADS_3

Malam itu, Inka dan Kanigara sudah duduk berhadapan di sofa yang ada dalam kamar Inka. Inka menunggu dalam diam hingga Kanigara membuka pembicaraan, sedangkan Kanigara sedang menatap Inka dengan lekat seolah sedang merangkai kata sebelum mengutarakan isi hatinya.


"Sayang, apa ada yang mau kamu ceritakan kepadaku?" tanya Kanigara yang membuat Inka tersenyum simpul.


Inka menghela nafas panjang dan merasa malam itu adalah saat yang tepat untuk menceritakan semuanya. Inka pun memulai kisahnya. Setiap kali Inka menceritakan kecelakaan yang menimpanya, Kanigara mengerutkan dahinya dan wajahnya terlihat menegang seolah menahan emosi. Inka menceritakan semua yang dialaminya kecuali satu hal yaitu kematian dan kehidupannya kembali.


"Kenapa kamu menyembunyikan semuanya dari aku, padahal aku adalah suami kamu? Apa kamu pikir aku engga bisa melindungi kamu, istri aku?" tanya Kanigara yang terlihat sedikit kesal.


Inka tersenyum ketika mendengar nada kesal dalam suara Kanigara yang menurut Inka cukup menggemaskan, karena seorang Kanigara yang terkenal tegas dan dingin bisa mengeluarkan kekesalanya dengan wajah cemberut yang membuat Inka ingin mencubit pipi lelaki yang ia cintai itu.


"Maafkan aku sayang, waktu itu aku hanya berusaha untuk menepati janji kita untuk tidak saling mencampuri urusan masing-masing. Ehmmm, waktu pertama kali kita nikah, kamu juga cukup dingin ke aku, makanya aku memilih diam. Lagipula, aku juga bisa menjaga diriku sendiri, sayang," ujar Inka yang membuat Kanigara menyadari bahwa sikapnya yang telah membuat jarak terbentang di antara mereka kala itu.


Kanigara merasa menyesal dan meminta maaf kepada Inka atas sikap buruknya dulu. Inka hanya menjawab suaminya dengan ciuman lembut di pipi lelaki tampan itu, yang membuat Kanigara memeluk sang istri dengan erat.


*****


Sementara itu di suatu tempat, seorang lelaki tua sedang mengamuk karena mendapat berita tak mengenakkan tentang putrinya.


"B*jingan!!! Kanigara dan istri s*alnya itu, udah ngebuat Leticia sampai masuk rumah sakit jiwa?! Kenapa kamu baru ngabarin aku sekarang! Kamu juga jadi suami tak becus, gimana mungkin kamu ngebiarin keluarga Janu membuat istri kamu sampai mengalami gangguan kejiwaan? Atau kamu yang sudah menyiksa putriku, lalu melemparkan fitnahan ke keluarga Kanigara?!" selidik Buana yang membuat Bimantara mengumpat dalam hatinya.


"Silakan ayah mertua selidiki, apakah memang aku ada menyiksa atau membuat putri ayah menderita?!" ujar Bimantara mencoba tetap terlihat tenang di hadapan ayah mertuanya itu. Hari itu, Bimantara memang sengaja menemui Buana secara langsung, untuk lebih menegaskan maksudnya dan bersikap layaknya menantu yang baik dengan mengunjungi sang mertua.

__ADS_1


Buana langsung meminta Bimantara memesan tiket kepulangan mereka ke Batam, karena ia ingin langsung melihat kondisi Leticia. Bimantara tersenyum puas dalam hatinya karena merasa Buana sudah masuk dalam jebakannya dan mempercayai semua kata-kata yang diucapkannya.


Selidiki kebenarannya, dan kabari aku secepatnya! Karena aku tak mempercayai be**bah ini!


****


"Leticia sayang, ini papi, Nak! Kamu kenapa jadi kayak gini?" ujar Buana sembari memeluk Leticia yang sama sekali tak merespon perkataan dari Buana itu. Ia hanya menatap Buana dan mengelus pipi lelaki itu selama sesaat lalu, sebelum akhirnya ia kembali berdiam diri sembari menatap boneka yang ada di tangannya. Buana menangis kala melihat keadaan Leticia yang sangat menyedihkan.


Tak lama, Bimantara masuk setelah selesai berkonsultasi dengan psikiater yang merawat Leticia. Leticia yang merasakan kehadiran orang lain di ruangan itu menoleh dan melihat Bimantara dengan lekat. Pupil mata Leticia membesar saat melihat lelaki itu. Tiba-tiba Leticia menjerit histeris dan melempari Bimantara yang membuat Buana terkejut, sedangkan Bimantara terguncang karena reaksi yang diperlihatkan oleh istrinya itu.


S*al, kenapa perempuan s*alan ini malah mengamuk waktu ngeliat aku?! Lelaki tua ini bisa curiga! batin Bimantara geram. Mereka segera memanggil perawat dan dokter untuk memeriksa kondisi Leticia.


"Kenapa Leticia mengamuk setelah melihat kamu?" tanya Buana dengan nada keras yang membuat Bimantara mengepalkan tangannya dan memutar otak untuk memberikan jawaban yang masuk akal kepada ayah mertuanya itu.


Selama ini, Bimantara sama sekali tak pernah menjenguk Leticia, saat istrinya itu di rawat di rumah sakit jiwa. Kedatangannya kali itu pun sebatas untuk menemani Buana, menjenguk sang putri. Bimantara masih menyimpan dendam kepada Leticia, karena sudah berani menggugurkan janin yang merupakan darah daging dari lelaki itu.


Kanigara s*alan! Kalo sampai memang ini semua karena kamu dan keluarga Janu, maka aku akan memusnahkan jejak keluarga Janu dari dunia ini! batin Buana sembari menatap Bimantara yang juga masuk dalam daftar orang yang ia curigai.


****


"Bimantara menemui Buana sesuai dengan dugaan kita sebelumnya, apa yang harus kita lakukan setelah ini, Bu Bos?" tanya sang ajudan kepada Rhode.

__ADS_1


"Kirimkan bukti perselingkuhan Bimantara dan pelayan tak tahu diri itu!" ujar Rhode sembari menatap ke layar laptopnya yang menunjukkan penampakan seorang wanita yang sedang diikat dan terlihat terkulai lemah karena tak mendapat asupan makanan sejak beberapa hari. Rhode menatap wanita itu dengan tatapan penuh kebencian.


Rhode masih mengingat bahwa Frissy pernah menyebut nama sahabatnya dan bahkan mengajak gadis itu ke kediaman mereka. Ternyata musuh dalam selimut yang menjebak Frissy hingga ia menjadi pemuas n**su b*jat Bimantara adalah Seiska Lamara alias Seila. Ia berpura-pura menjadi sahabat Frissy hanya untuk menghancurkan hidup keluarga Rhode melalui adiknya itu, karena keluarga Rhode adalah salah satu musuh besar keluarga Bimantara.


"Dendam ini tak akan selesai, sebelum kalian merasakan neraka selama kalian masih bernyawa," gumam Rhode dengan mata yang berembun dan gemeretak gigi, menahan semua kepedihan yang menyelubunginya.


Sang ajudan hanya berdiam diri kala melihat ekspresi yang ditunjukkan oleh atasannya itu. Ia juga akan melakukan hal yang sama bila ia berada di posisi Rhode. Bahkan alasan ia bergabung di bawah kepemimpinan Rhode adalah untuk membalaskan dendamnya untuk kematian majikan yang sangat ia sayangi.


****


"Buana ada di Batam, dan Rhode sudah mengirimkan bukti perselingkuhan Bimantara, selanjutnya apa?" tanya Gianna yang saat itu berada di ruang kerja Inka.


"Kirimkan selingkuhannya langsung ke Buana. Biarkan ia menyelesaikan apa yang kita mulai! Tetapi pastikan Rhode menyetujui hal ini, karena ia punya dendam pribadi dengan perempuan itu!" ujar Inka yang membuat Gianna mengangguk paham. Gianna juga sudah mendengar kisah lengkapnya dari mulut Rhode sendiri dan ia menyetujui tindakan yang diambil oleh Inka.


Inka memikirkan beberapa hal yang akan mereka kerjakan selanjutnya. Tiba-tiba ia mengingat pembicaraannya dengan Kanigara malam itu. Ia menimbang sesuatu sebelum akhirnya ia mengambil keputusan. Ia keluar dari ruang kerjanya bersama Gianna dan mencari Kanigara. Gianna memberi waktu kepada sahabatnya itu agar bisa berduaan dengan sang suami.


"Sayang, kali ini maukah kamu bekerja sama aku untuk membalas Bimantara dan semua orang yang sudah menyakiti keluarga kita?" tanya Inka sembari menatap lurus ke arah Kanigara.


Kanigara sedikit terkejut mendengar perkataan dari Inka, tetapi sesaat kemudian ia mengangguk mantap yang membuat Inka memeluk erat sang suami sebagai ucapan terima kasihnya.


Kali ini, pembalasan dendam ini terasa lengkap!

__ADS_1


****


__ADS_2