
Akhhhhh....
Tiba-tiba terdengar helaan nafas panjang di sela keheningan yang terjadi di sebuah ruangan.
Seseorang membuka matanya saat mendengar suara helaan nafas itu.
"Sayang..., Sayang..., kamu udah bangun?" tanya Kanigara tak percaya saat melihat tangan Inka mulai bergerak. Kanigara menunggu Inka membuka matanya.
Inka berusaha membuka kelopak matanya yang terasa berat. Ia mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menjernihkan pandangannya.
"Ini dimana?" tanya Inka lirih.
"Ini di rumah sakit, sayang! Kamu koma selama dua minggu!" jelas Kanigara yang membuat Inka mengangguk lemah. Kanigara memeluk tubuh Inka sembari menangis. Ia merasakan kelegaan yang teramat sangat. Akhirnya, Inka, Inkanya siuman dari komanya.
"Sayang, terima kasih sudah kembali. Aku, aku takut kalo kamu engga akan bangun," ujar Kanigara sembari mempererat pelukannya ke tubuh sang istri. Ia tak perduli bila Inka melihat sisi lemahnya.
Inka tetap diam dalam pelukan sang suami. Pikirannya masih menerawang ke arah lelaki yang baru saja ditemuinya tadi.
Koma dua minggu? Apa sebenarnya yang terjadi? batin Inka karena ia merasa belum pergi lama. Bila ia memperhitungkan waktu ketika ia berada di tempat berkabut itu, maka ia berada di sana tak lebih dari satu jam.
"Kak Kani, boleh tau kenapa aku koma?" tanya Inka tiba-tiba yang membuat Kanigara terkejut. Kanigara melepaskan pelukannya dan menatap Inka dengan lekat. Kanigara segera menjelaskan detil kejadian sebelum Inka pingsan saat mereka melihat lokasi kebakaran di area kantor Inka.
Inka mulai mengingat kejadian itu. Inka ingat bahwa saat mereka tiba di tempat kejadian, tiba-tiba Inka mengingat kejadian saat ia dibakar hidup-hidup di vila milik Kanigara. Ingatan itu membuat dirinya terguncang dan akhirnya pingsan.
Inka ingin menanyakan hal lain, tetapi kedatangan Melanie dan seorang perawat membuat ia mengurungkan niatnya. Setelah melakukan pemeriksaan, Melanie menyatakan bahwa Inka sudah melewati masa kritisnya. Melanie dan tim akan melakukan pemeriksaan lanjutan untuk memastikan bahwa kondisi Inka sudah benar-benar aman.
__ADS_1
Melanie memeluk Inka untuk menyatakan kelegaannya. Inka membalas pelukan dari calon kakak iparnya itu. Setelah Inka dan Kanigara kembali berduaan, Inka menatap wajah lelah Kanigara yang membuat dirinya merasa bersalah.
Inka mengulurkan tangannya dan menyentuh pipi Kanigara yang terlihat semakin tirus. "Maaf membuat kalian khawatir dan terima kasih sudah menunggu, aku sudah kembali," bisik Inka yang membuat Kanigara menghela nafas lega.
Kanigara kembali memeluk sang istri dan mencium kening Inka yang membuat Inka tersenyum. Tak lama keluarga Alora, Niskala, Rhode, Gianna, dan Jordan langsung bergegas ke rumah sakit begitu mendengar Inka sudah siuman.
Mereka bergantian memeluk Inka dan mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kelegaan mereka karena Inka sudah siuman.
****
Sementara itu, di tempat lain seseorang sedang mengamuk karena mendapatkan berita yang membuat amarahnya memuncak.
"Dia bangun? Dia masih hidup? Apa-apaan itu!" teriak Leticia pada salah satu bawahan Bimantara yang membawa kabar itu kepadanya.
Leticia melempar gelas wine di tangannya, yang hampir mengenai tubuh lelaki bawahan suaminya itu. Lelaki itu terkejut, tetapi memilih tetap diam di tempatnya.
Leticia berteriak frustasi sepeninggal bawahan Bimantara tadi. Ia bahkan melemparkan vas mahal yang ada di kamar itu hingga semua hancur berantakan.
"Kenapa semuanya tak berjalan sesuai inginku?!" teriak Leticia sambil memukuli lantai tempat ia terduduk. Bimantara yang mendengar teriakan istrinya hanya berdiri di depan kamar tanpa berniat masuk. Ia membiarkan Leticia menyalurkan emosinya.
Bimantara mengetahui bahwa Leticia memiliki emosi yang meledak-ledak bila sedang marah, sehingga ia memilih memberi ruang bagi Leticia untuk meluapkan hal itu. Bimantara berencana untuk menyediakan tempat khusus bagi Leticia untuk melepaskan semua kemarahannya sehingga tak merusak barang atau membahayakan dirinya sendiri.
"Bersihkan semua sesegera mungkin, setelah Nyonya kalian kembali tenang!" perintah Bimantara kepada staf rumah yang berjaga di depan kamar Leticia, lalu meninggalkan tempat itu. Bimantara tahu bahwa Leticia tak akan membunuh dirinya sendiri, sekali pun ia berada dalam tingkat frustasi yang tinggi karena gadis itu takut mati.
****
__ADS_1
"Trauma kamu balik waktu ngeliat kebakaran itu ya, Bu Bos?" tanya Gianna setelah ia mendapat kesempatan untuk bicara berdua dengan Inka. Inka hanya menganggukkan kepalanya, saat mendengar pertanyaan Gianna. Gianna menghela nafas berat. Ia menceritakan semua kekalutan yang dialami oleh dirinya, keluarga Inka, Niskala terutama Kanigara. Ia menceritakan bahwa Kanigara sama sekali tak beranjak dari sisi Inka sejak Inka pingsan di pelukan Kanigara hingga Inka siuman.
Gianna menceritakan bagaimana setiap hari Rima dan Riska bergantian untuk mengantarkan keperluan Kanigara selama menjaga Inka. Elisha, Oliver, Asher dan Niskala sudah membujuk Kanigara agar bergantian menjaga Inka, tetapi suami Inka itu menolak penawaran tersebut.
Gianna bahkan menceritakan bagaimana ia mendengar beberapa kali bisikan lirih dari Kanigara, yang dibisikkan lelaki itu ke telinga Inka.
"Inka..., Inka..., jangan pergi! Jangan tinggalkan aku! Gitu cara Kak Kani ngomong, bu bos! Kayaknya dia udah fall in love, betul-betul sama dirimu nak!" bisik Gianna yang membuat Inka tertegun.
Jadi suara yang memanggil itu suara Kak Kani, jadi itu bukan mimpi! Itu nyata?! Aku mati untuk kedua kalinya?! batin Inka tak percaya.
Inka menatap Gianna dengan lekat yang membuat Gianna membalas tatapan itu dengan pandangan bertanya. Inka menghela nafas panjang, lalu memilih menceritakan pengalaman aneh yang baru saja dialaminya.
"Aku mati untuk kedua kalinya, Gi!" ujar Inka yang membuat Gianna melongo. Inka melanjutkan perkataannya yang membuat Gianna terkejut. Gianna tak tahu harus bereaksi seperti apa setelah Inka menceritakan kisahnya.
"Bu bos, kalo mendengar ceritamu, menurut diriku, dirimu itu engga mati dalam arti sebenarnya. Tapi pernah dengar istilah mati suri kan? Yang rohnya katanya dibawa kemana gitu, trus tau-tau bangun lagi?! Nah, kalo menurut aku, kamu ngalamin itu nak. Karena dari sejak pingsan sampe sekarang, ya dirimu masih di rumah sakit aje, neng!" jelas Gianna setelah beberapa saat kemudian, yang membuat Inka hanya menganggukkanh kepalanya pelan karena sebenarnya ia tak begitu fokus mendengar penjelasan dari Gianna.
Pikiran Inka tetap melayang ke kejadian di luar nalar yang ia alami. Inka mencoba mengingat wajah bocah kecil dan anak remaja yang menarik tangannya saat di tempat berkabut itu. Ia juga berusaha mengingat wajah Kanigara yang pernah ia lihat saat muda dulu, ketika sahabat kakaknya itu sedang mengunjungi kediaman mereka.
Mirip! Tetapi mengapa Kanigara versi masa mudalah yang menemuinya di tempat aneh itu. Pemikiran seperti itu terus berkecambuk dalam benak Inka. Inka juga memikirkan perkataan lelaki muda itu, tentang perihal menjemputnya kembali.
Apakah aku akan segera mati, setelah misiku selesai? Dan apakah penampakan terakhir itu adalah realita yang terjadi di masa yang akan datang? batin Inka yang mendadak merasakan kesedihan yang mendalam karena pada akhirnya masa hidupnya hanyalah sebatas penyelesaian balas dendamnya. Setelah itu ia akan kembali meninggalkan dunia ini.
****
Sementara itu, tak jauh dari mereka seseorang tengah mendengar pembicaraan itu dalam diam. Ia tak menunjukkan reaksi apapun.
__ADS_1
Mati untuk kedua kali?
****