
Tubuh Bik Marni terlihat gemetar saat mendengar nada suara dan tatapan Inka yang tak biasa. Ia terus menunduk dan mengatup bibirnya rapat-rapat. Kanigara dan Niskala memperhatikan ekspresi Inka yang berbeda kala memandang wanita paruh baya yang sudah bekerja belasan tahun di kediaman mereka.
Kanigara sebenarnya ingin menanyakan perihal Seila yang sedang terduduk di lantai dengan tangan terborgol dan wajah kusut yang sedang memandang sinis ke arah sang istri, tetapi Kanigara akan mendapat semua jawabannya setelah Inka berhasil menginterogasi Bik Marni. Ia merasa sang istri tahu apa yang sedang diperbuatnya karena Niskala yang berada di sampingnya duduk dengan tenang sembari memperhatikan interaksi antara Inka dan Bik Marni.
"Saya tanya sekali Bik Marni, ada apa dengan semua ini? Saya tahu dengan sangat pasti bibi tau sesuatu tentang kejadian yang terjadi di ruang makan tadi!" Ketegasan Inka membuat Bik Marni semakin takut. Air mata menggenangi wajahnya yang terlihat semakin renta.
"Ma..., maafin saya, Nyonya Muda! Saya engga bermaksud membahayakan nyawa, Nyonya! Sa..., saya cuma mau balas dendam atas kematian anak saya!" ujar Bik Marni yang menangis dan terduduk di lantai. Bik Marni menceritakan tentang putrinya yang bernama Susan yang jatuh cinta pada Kanigara sejak masih duduk di bangku SMA. Dulu Susan sering Bik Marni ajak untuk ikut kerja di kediaman keluarga Janu setiap liburan sekolah. Pertemuan Susan yang secara tak sengaja menabrak Kanigara saat akan keluar dari kediaman keluarga Janu, membawa benih cinta ke dalam hati gadis belia itu.
Saat itu Leticia juga sering main ke kediaman keluarga Janu dan bertemu dengan Susan selama beberapa kali. Leticia yang mengetahui tatapan tak biasa Susan kepada Kanigara, cemburu dan sering membully putri dari Bik Marni itu. Leticia bahkan menemui Susan saat sedang berada di sekolah dan membayar beberapa orang berandalan di sekolah untuk mengganggu gadis malang itu.
Bik Marni yang tidak mengetahui perihal yang dialami oleh putrinya itu bersikap biasa saja. Hanya beberapa minggu sebelum kejadian memilukan yang harus dialami keluarganya, Bik Marni menemukan bahwa baju seragam sekolah Susan sobek di beberapa bagian. Susan beralasan bahwa siang itu mereka tiba-tiba diminta untuk bergotong-royong membersihkan area sekolah dan bajunya tersangkut ranting pohon sehingga sobek. Bik Marni mencurigai penjelasan sang putri, tetapi ia memilih tidak mempermasalahkannya lebih lanjut karena Susan bersikeras bahwa ia telah berkata jujur.
"Su..., Susan saya, meninggal bunuh diri karena dip**kosa berandalan suruhan Leticia, Nyo..., Nyonya Muda!" teriak Bik Marni histeris yang membuat orang yang berada di ruangan itu terkejut. Kaki Inka terasa lemas seketika, matanya nanar dan air mata tanpa sadar mengalir dari pipinya. Gadis malang itu hanya meninggalkan sepucuk surat permintaan maaf yang ia tujukan kepada sang ibu karena memilih mengakhiri hidupnya.
"Ja..., jadi Susan bukan meninggal karena sakit Bik?" tanya Niskala setelah tersadar dari keterkejutannya.
"En..., engga Tuan Muda Pertama.... Putri cantik saya terpaksa meninggalkan dunia ini dan saya karena tindakan kejam seorang Leticia Aru! Ayah dari perempuan iblis itu menutupi semuanya dengan sangat baik, hingga tak ada celah untuk keluarga miskin seperti kami untuk membela diri." Bik Marni memukuli dadanya yang sesak. Kanigara kehilangan kata-katanya, ia begitu terguncang mendengar penuturan Bik Marni.
"Tuan Muda Kedua, wajah anda membuat putri saya merasakan neraka di usia mudanya, karena itu saya membenci wajah itu! Saya tak ingin kebahagiaan menghampiri hidup anda! Tapi ternyata anda diberkahi seorang istri yang begitu manis dan baik hati. Saya tak ingin melukai nyonya muda, tapi saya tahu beliau adalah salah satu sumber kebahagiaan anda. ANDA DAN PEREMPUAN IBLIS ITU TAK BERHAK BAHAGIA!" Bik Marni menatap Kanigara penuh kebencian yang membuat Kanigara terhenyak.
__ADS_1
Seila yang berada di situ tertawa keras yang membuat semua orang di ruangan itu menatapnya.
"Bik Marni yang malang!!!"
Inka berjongkok di hadapan Seila dan mengeluarkan seringai yang menakutkan yang membuat Seila terdiam.
"Bagai pungguk merindukan bulan! Perempuan psycho yang memanfaatkan dendam seorang ibu untuk melancarkan rencana bulusnya. DASAR TAK TAHU MALU!" Tamparan keras Inka mendarat beberapa kali di pipi Seila yang membuat jejak tangan dan kemerahan, serta darah menghiasi wajah gadis muda itu.
****
Tak lama suara sirene dari mobil pihak kepolisian terdengar memasuki kediaman keluarga Janu. Gianna terlihat berlari memasuki kediaman itu bersama beberapa orang polisi.
"Kamu gapapa, nak?" ujar Gianna memeriksa kondisi Inka dengan saksama. Inka hanya menggeleng lemah, sembari menatap wajah sendu Bik Marni yang sedang diborgol oleh salah satu polisi yang ada di situ. Inka meminta waktu sebentar untuk berbicara dengan Bik Marni.
Ia merasakan sakit yang teramat dalam, karena kali ini pun ia tak bisa menyelamatkan Bik Marni walau dengan alasan yang berbeda. Sedangkan untuk Seila ia tak mempunyai gambaran yang jelas di masa lalu, karena gadis manis yang dulu periang itu sudah berhenti bekerja dari kediaman keluarga Janu dua bulan sebelum kematian Inka yang dulu.
Suasana hening yang menyesakkan terjadi di kediaman itu setelah pihak kepolisian membawa Seila dan Bik Marni. Niskala, Kanigara, Inka dan Gianna, mengikuti mobil polisi untuk dimintai keterangan terkait kejadian yang baru terjadi di kediaman keluarga Janu.
****
__ADS_1
Tiga jam kemudian Inka, Kanigara, Niskala dan Gianna tiba di kediaman keluarga Janu.
"Kita perlu bicara empat mata, kamu harus menjelaskan semuanya secara detail sekarang, sayang!" tegas Kanigara sembari menatap wajah lelah sang istri. Inka mengangguk dan terlihat pasrah karena ia tak lagi bisa mengelak kali ini.
"Sebenarnya aku juga baru tau, karena Rima yang engga sengaja ngeliat Bik Marni masukin sesuatu ke minuman aku tadi pagi. Trus aku engga sengaja ngasih teh aku ke Leticia," ujar Inka dengan nada penuh penyesalan. Ia tak bisa berkata jujur kepada Kanigara karena ia masih belum yakin niat sang suami kepada dirinya. Inka berusaha terlihat meyakinkan agar Kanigara dan Niskala mempercayai alibinya.
"Hubungannya dengan Seila?" selidik Kanigara.
"Seila ada bersama Bik Marni pagi itu!" ujar Inka singkat sembari menatap sang suami dengan lekat. Kanigara mencoba menyelidiki sang istri melalui mata gadis itu. Dan ia yakin Inka sama sekali tak berbohong. Pada akhirnya Niskala meminta Inka dan Gianna untuk beristirahat, sedangkan ia mengajak Kanigara masuk ke dalam ruang kerjanya.
****
"Kenapa kamu bohong sama Kanigara dan Kak ganteng?" tanya Gianna setelah mereka berada berdua di dalam kamar.
"Aku engga bohong, aku cuma engga menjelaskan semuanya secara detail," ujar Inka santai dan menceritakan hasil penemuan Rima tadi pagi. Gianna tak percaya bahwa sahabatnya itu menjadi gadis berotak encer di kehidupan keduanya walau sejak kebangkitan Inka, gadis itu tak berhenti mengejutkan Gianna dengan semua pencapaiannya selama ini.
"Jadi gimana kamu tahu kalo Leticia datang hari ini, nak?" tanya Gianna penasaran.
Inka tertawa lalu menepuk bahu Gianna dengan santai.
__ADS_1
"Anggap aja itu merupakan kebetulan menyenangkan dan aku pergunakan dengan sebaik mungkin. Bukankah pemain yang baik harus tau kapan waktu bertahan atau menyerang, sayangku?!"
****