
Inka dan Kanigara pun bertolak ke Batam dan bulan madu mereka pun berakhir. Sesuai dengan kesepakatan Inka dan Kanigara sebelumnya Inka akan menempati kamarnya sendiri yang berada di sebelah kamar milik Kanigara.
Inka menarik nafas dalam saat melihat gerbang megah kediaman Janu yang menjulang tinggi. Ingatan masa lalu kembali menyeruak dan memenuhi benaknya. Ia mencengkeram erat gaun yang dikenakannya, nafasnya Inka mulai tersengal yang membuat Kanigara menoleh ke arahnya.
"Kamu kenapa?" tanya Kanigara bingung dan terlihat cemas. Inka hanya menggelengkan kepala dan mulai mengatur nafasnya secara perlahan. Kanigara terus mengamati perubahan sang istri, untuk memastikan keadaannya.
"Kamu yakin, kamu gapapa?" tanya Kanigara kala mendengar nafas Inka semakin terdengar berat dan wajahnya yang semakin pucat. Tak lama dunia terlihat gelap bagi Inka. Kanigara segera menangkap tubuh Inka ke dalam pelukannya dan menghubungi dokter keluarga mereka.
****
Inka membuka matanya dan melihat langit-langit sebuah ruangan yang tak asing baginya.
Kamar Kanigara! Batin Inka sembari melihat ke sekeliling ruangan yang dulu merupakan kamar mereka berdua, sebelum akhirnya Inka dipindahkan ke sebuah kamar yang menjadi tempat pengasingannya sebelum ia meninggal.
"Kamu udah bangun?" ujar Kanigara yang baru keluar dari kamar mandi. Ia mendekati Inka hanya dengan menggunakan bathrobe yang membuat Inka menundukkan kepalanya dengan wajah tersipu. Sebelumnya Inka sama sekali tak pernah sekali pun melihat tubuh Kanigara yang selalu tertutupi oleh pakaiannya, karena dulu Kanigara selalu keluar dari kamar mandi sudah dengan berpakaian lengkap karena ia tak ingin Inka melihat bentuk tubuhnya.
Kanigara hanya tersenyum maklum saat melihat telinga Inka yang memerah. Inka berusaha untuk duduk, Kanigara langsung sigap membantunya, yang membuat Inka bisa melihat dada Kanigara yang tak tertutupi bathrobenya dan sontak wajah gadis itu semakin memerah.
"Kenapa aku di sini?" tanya Inka sembari mencoba mengingat kejadian sebelumnya.
"Kamu pingsan! Jadi aku bawa kamu ke kamar aku dulu untuk diperiksa Dokter Melanie, dokter keluarga Janu," jelas Kanigara. Inka tak merespon perkataan Kanigara karena ia memikirkan sesuatu.
Dokter Melanie? Siapa perempuan itu? Bukannya dulu dokter Anjas yang merupakan dokter keluarga Janu, kenapa berubah? Pikir Inka yang membuat dahinya berkerut.
__ADS_1
Tiba-tiba Inka merasa dahinya disentuh sesuatu dan ternyata jari telunjuk Kanigaralah yang sedang mengetuk pelan dahinya yang berkerut. Inka langsung memundurkan kepalanya dan menatap Kanigara dengan pandangan bertanya.
"Jangan kebanyakan mikir, kata dokter kamu stress dan kecapean, makanya kamu pingsan," ujar Kanigara sembari berjalan menjauhi Inka dan memasuki walk in closet miliknya. Inka masih penasaran dengan tokoh asing yang masuk dalam kehidupan barunya.
Dokter Melanie? Gimana mukanya ya? Aku harus cari tahu! Semua orang harus diwaspadai mulai sekarang! Batin Inka yang penasaran dengan wajah seseorang yang belum pernah dilihatnya itu dan memastikan wanita yang disebutkan oleh Kanigara tadi apakah kawan atau lawan.
Selain itu, Inka kembali merasa kesal karena ia bisa kembali pingsan saat melihat kediaman megah keluarga Janu yang menjadi saksi sebagian besar kenangan pahit yang dialami oleh Inka selama menjadi istri Kanigara.
Terdengar suara ketukan dari luar pintu, yang membuat Inka langsung menegakkan punggungnya tanda waspada, karena terlalu banyak pengkhianat yang berkeliaran di kediaman itu di masa lalu yang bekerja sama untuk menghancurkan dirinya.
"Masuk," ujar Inka setelah mendengar pintu diketuk selama beberapa kali.
"Inka, katanya kamu pingsan?" ujar Niskala kala ia memasuki kamar sang adik.
Niskala melihat tatapan heran dari sang adik ipar yang membuat Niskala geli dan akhirnya bertanya.
"Kamu kenapa, kok kayak ngeliat hantu, Ka? Padahal baru tiga hari kita engga ketemu. Ohhh, Kanigara engga bilang sama kamu kalo kita tinggal serumah ya?" tanya Niskala.
Deg!
Tinggal serumah? Alurnya kenapa berubah terlalu jauh? Batin Inka kesal sekaligus bingung karena semakin banyak orang yang harus ia waspadai dan selidiki karena orang-orang yang seharusnya tak berada di dekat mereka, malah bermunculan. Dimulai dari Jordan, Melanie sang tokoh baru hingga Niskala yang saat ini sedang menatap Inka dengan bingung.
"Inka?" panggil Niskala yang membuat Inka tersadar dari lamunannya. Ia memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk memikirkan ulang semuanya.
__ADS_1
"Iya Kak, mungkin Kak Kanigara lupa. Tapi aku senang Kak Niska juga tinggal di sini, jadi lebih rame," ujar Inka sambil tersenyum.
Tak lama Kanigara keluar dari walk in closetnya dan melihat sang kakak sedang mengobrol dengan sang istri.
"Udah pulang kantor, Kak?" tanya Kanigara saat melihat sang Kakak yang biasanya selalu pulang terlambat dari kantor sudah duduk manis di kamarnya.
"Kalian kan pulang hari ini, jadi aku sengaja pulang lebih cepat. Lagian ada Jordan dan Rhode yang bantu ngurusin perusahaan, hihihi," ujar Niskala santai yang membuat Kanigara mendengus kesal.
****
Sebelum acara makan malam, Kanigara mengumpulkan kepala pelayan dan semua staf kediaman Janu untuk berkenalan dengan sang nyonya rumah kedua yaitu Inka.
"Selamat datang di kediaman Janu, Nyonya Inka. Saya Gugun, kepala pelayan di sini," ujar lelaki berumur yang sudah menjadi kepala pelayan di kediaman Janu sejak ayah Kanigara masih hidup. Inka mengangguk dan tersenyum ramah sambil mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Pak Gugun yang membuat pria renta itu terkejut dan langsung mengulurkan tangannya untuk menjabat tangan nyonya rumahnya yang baru.
"Saya Inka, Pak. Mohon bantuan untuk kedepannya ya," ujar Inka yang membuat Pak Gugun langsung mengangguk kuat dan terlihat terharu yang membuat Niskala dan Kanigara menatap lelaki tua itu dengan geli, karena Pak Gugun terkenal sebagai lelaki yang melankolis.
Inka berkenalan satu per satu dengan semua staf hingga ia berkenalan dengan Bik Marni, Seila, Riska yang menjadi staf yang selama kehidupan masa lampaunya selalu membantu dirinya. Bahkan Bik Marni sampai dipecat oleh Kanigara karena membela dirinya. Inka berusaha menjaga raut wajahnya ketika berhadapan dengan ketiga wanita itu karena saat itu ia sangat ingin memeluk mereka dan mengucapkan terima kasih buat semua bantuan mereka. Ia mengepalkan tangannya untuk menahan perasaannya yang mengharu biru karena bisa bertemu dengan orang-orang yang membantunya di kehidupan pertamanya sehingga ia bisa bertahan hingga akhir. Inka berjanji akan membalas kebaikan mereka di kehidupannya kali ini.
Kemudian Inka melanjutkan perkenalannya dan menemukan wajah lama lain yang ia ingat. Tak ada wajah baru yang terlihat dari staf kediaman keluarga Janu, sehingga Inka tak perlu bersusah payah untuk menentukan pengkhianat yang harus segera ia lenyapkan dari
kediaman Janu sesegera mungkin.
Ehmmmm, masih sama, masih dengan wajah menyebalkan yang membuat aku ingin muntah!
__ADS_1
****