Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
76


__ADS_3

Mata seorang gadis perlahan-lahan terbuka. Ia merasakan sakit di bagian leher belakang, seolah dirinya telah menerima pukulan keras. Ia menatap ke sekeliling ruangan yang terasa asing baginya. Ia tak bisa bergerak atau berkata-kata karena mulut, tangan dan kakinya yang diikat.


Ini dimana? Apa aku di culik? batin Gianna. Ia berusaha bergerak untuk melepaskan ikatan yang membelenggu tangannya tetapi ikatan itu terlalu ketat hingga ia tak bisa membukanya.


Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, Gianna dengan cepat kembali berpura-pura masih pingsan.


"Target masih pingsan, bos!" ujar seorang lelaki yang sepertinya sedang menghubungi atasannya, ketika melihat penampakan Gianna.


Lelaki itu mendekati Gianna, untuk memeriksa nafas gadis itu.


"Cantik banget, mau diapakan si bos ya? Kalo model begini, bekas orang lain juga, aku tetap mau peristri!" gumam lelaki itu sembari mengelus pipi mulus Gianna yang membuat Gianna merasa mual karena muak dan bersumpah serapah dalam hati.


Tak lama Gianna mendengar pintu kembali dibuka dan ditutup. Lalu terdengar suara pintu dikunci dari luar.


"Cihhh, b*ngsat s*alan! Awas aja nanti!" ujar Gianna sembari menghapus bekas tangan lelaki tadi ke baju yang menutupi pundaknya karena jijik.


Gianna menebak-nebak dalam hatinya, apakah Inka sudah mengetahui masalah penculikannya ini. Entah mengapa ia yakin bahwa Inka akan segera menolong dirinya.


Tuhan, jangan biarkan aku mati konyol malam ini! batin Gianna yang mendadak merasa takut. Gianna memeriksa ke sekeliling ruangan untuk memastikan tidak ada CCTV di ruangan itu.


Seumur-umur, baru kali ini Gianna mengalami penculikan dan itu membuat ia merasa was-was bahwa ia tak akan selamat kali ini, karena ia tahu dengan pasti siapa yang menjadi dalang penculikannya kali ini. Ia berdoa-doa dalam hati bahwa malam itu seorang malaikat sedang senggang dan bersedia untuk menyelamatkan dirinya.


****


"S*al! Berani mereka menculik Gigi!" Segara merasa geram karena penculikan yang dialami oleh Gianna. Ia tak menyangka bahwa Gianna akan menjadi salah satu target dari musuh mereka. Segara sudah berada dalam perjalanan menuju tempat penyekapan dari Gianna. Kenneth sudah mengirimkan lokasinya kepada seluruh tim yang memudahkan mereka untuk melacak keberadaan Gianna.


Sementara itu, di sebuah gedung, seseorang sedang menyelinap masuk dan terlihat sudah melumpuhkan beberapa penjaga yang mengawasi gedung itu.


"Bagian dasar, Clear! Lantai dua ada 5 orang yang berjaga, di ruang sudut kiri. Dan tiga orang sedang berpatroli!" ujar seseorang pada orang yang menyusup di gedung itu.

__ADS_1


Tretttt!!!


Suara alat kejut listrik terdengar di salah satu koridor, yang membuat penjaga yang terkena sengatannya jatuh pingsan. Pelaku penyetruman itu menyeret si penjaga ke salah satu kamar kosong yang ada di gedung itu. Ia melanjutkan perjalanannya sesuai dengan arahan dari rekannya yang sedang mengamati dari kejauhan.


Kedua penjaga lainnya, juga sudah berhasil ia lumpuhkan. Ia segera bergerak lantai tiga.


"Lantai tiga, ada 10 penjaga, roger! Lima berjaga dalam ruangan yang berada dua pintu dari ruangan target! Dua penjaga berjaga di depan pintu ruangan target dan tiga penjaga sedang berpatroli!" ujar rekan kerja sang penyusup.


"Tim yang lain udah tiba di tempat, roger!" ujar sang rekan yang terus memberikan informasi kepada si penyusup.


"Dicopy, roger!" balas sang penyusup.


Sang penyusup masuk ke salah satu ruangan, dan menunggu waktu yang tepat untuk bergerak.


****


Setelah beberapa saat, sang rekan kembali memberi informasi kepada si penyusup.


Penyusup itu segera bertindak dengan keluar dari persembunyiannya. Ia segera mengarahkan alat kejut listriknya ke penjaga terdekat dan membuatnya jatuh pingsan.


"Penyu...!!!" teriak si penjaga yang masih memegangi target, tetapi terputus karena sang penyusup telah lebih dulu menghantam kepala belakang si penjaga dengan kayu yang ia temukan di ruangan tempat persembunyiannya tadi.


Si penyusup, langsung membawa target ke sebuah ruangan. Ia mengunci ruangan itu dan bergegas untuk membuka ikatan yang membelenggu sang target.


"Inkaaa!!!" seru Gianna tanpa sadar yang membuat Inka langsung mengatup mulut sahabatnya itu. Gianna langsung menganggukkan kepala, tanda ia memaham situasi saat itu.


"Kamu, aku tinggal di sini. Segara, Kak Asher dan Kanigara udah ada di sini dan sebentar lagi mereka pasti nemuin ruangan ini. Aku pergi sekarang, mereka jangan sampai tau aku datang ke sini, okay? Nanti aku jelasin semuanya!" Inka memeluk tubuh Gianna dan bergegas keluar ruangan dengan arah yang berbeda agar tak bertemu dengan keluarganya yang lain.


"Siapa kamu?" ujar salah satu penjaga yang tak sengaja Inka jumpai. Tanpa menjawab Inka langsung menghadiahkan tendangan memutar hingga menyebabkan penjaga itu pingsan. Inka segera berlari melalui rute yang dipandu oleh Kenneth.

__ADS_1


Ia segera menaiki mobil sport miliknya yang sengaja ia parkir di area luar yang tak jauh dari gedung itu.


"Thanks buat bantuannya Pak Kenneth, saya rasa anda orang yang paling pintar membuat alibi kan!" ujar Inka dari seberang panggilan yang membuat Kenneth tersenyum.


****


Segara menendang ruangan dimana Gianna disekap, tetapi ia tak menemukan gadis itu yang membuat Segara mengerang. Ia berlari ke ruangan lain hingga akhirnya ia tiba di ruangan dimana Inka telah mengamankan Gianna.


Saat pintu didobrak dan terbuka, Gianna langsung berlari ke arah Segara. Segara langsung memeluk tubuh Gianna yang bergetar hebat.


"Kamu gapapa, Gi?" tanya Segara sembari mengecek setiap inci tubuh sahabatnya itu dengan saksama. Gianna tak mengatakan apapun, ia hanya menggelengkan kepalanya. Segara kembali memeluk Gianna untuk menenangkan gadis itu.


Tak lama Kanigara dan Asher, tiba di ruangan itu. Asher segera menanyakan keadaan Gianna, yang membuat Gianna terisak dan memeluk kakak dari sahabatnya itu. Asher menenangkan Gianna, yang sudah dianggapnya sebagai adik keduanya.


"Kamu kuat jalan? Kalo engga, biar kakak gendong!" ujar Asher karena masih merasakan getaran pada tubuh Gianna. Segara langsung menawarkan diri untuk menggendong Gianna yang mata Asher berkilat geli. Ia membiarkan tangan kanannya itu, menggendong Gianna.


****


"Nona Muda, mereka sudah kembali, " ujar Rima memberi informasi kepada Inka. Inka kembali berakting seolah masih tertidur pulas agar kepergiannya tadi tidak diketahui oleh keluarganya.


"Inka gimana?" tanya Kanigara kepada Rima yang terlihat duduk manis sembari menunggui sang majikan, saat lelaki itu memasuki kamar Inka.


"Nona muda masih tertidur, Tuan Muda," ujar Rima berusaha bersikap santai karena tatapan Kanigara yang terasa sangat mengintimidasi.


"Baiklah, kamu boleh pergi sekarang. Tolong siapkan chamomile tea kesukaan istri saya ya," ujar Kanigara yang membuat Rima langsung bergegas untuk membuatkannya.


Kanigara duduk di ranjang dan memperhatikan Inka yang tengah tertidur. Ia mengelus pipi mulus sang istri dengan lembut dan mengecup bibir gadis itu secara perlahan. Inka yang mendapat perlakuan manis seperti itu, hanya bisa meremas selimut menahan diri agar wajahnya agar tak bersemu merah.


"Inka, istriku sayang, sampai kapan kamu mau berpura-pura tidur, emmm?"

__ADS_1


Deg!!!


****


__ADS_2