
Inka tetap berpura-pura menggeliat seolah terganggu karena ulah sang suami. Ia membuka matanya secara perlahan dan menatap sang suami yang sedang tersenyum geli ke arahnya.
Baiklah masih ingin bersandiwara rupanya, batin Kanigara sambil tertawa dalam hati karena Inka masih saja menyimpan beberapa rahasia untuk dirinya sendiri.
"Sayang aku kenapa? Gi..., Gianna gimana?" ujar Inka dengan wajah serius yang membuat Kanigara ingin sekali mencubit pipi istri cantiknya karena gemas.
"Udah selesai aktingnya, sayangku?" ujar Kanigara sembari menyerahkan ponsel miliknya kepada sang istri yang membuat Inka menggigit bibirnya karena malu. Ternyata Kanigara sudah mengetahui rahasianya. Ia menundukkan kepalanya karena tak tahu harus berkata apa kepada Kanigara.
Pada akhirnya, Inka mengangkat kepalanya dan menatap Kanigara dengan wajah bersalah.
"Maaf!" ujarnya lirih yang membuat Kanigara menatapnya dengan sayang. Kanigara menggenggam tangan Inka sambil tersenyum.
"Kamu hampir buat jantung aku copot liat video aksi kamu! Kamu mau berubah jadi wonder woman atau charlie angels kah?" tanya Kanigara yang membuat Inka memanyunkan bibirnya karena merasa Kanigara sedang mengolok-ngolok dirinya.
Inka memilih diam dan tak menjawab pertanyaan dari sang suami karena ia merasa kesal. Kanigara pun secara tiba-tiba mencium kening Inka yang membuat gadis itu terkejut dan meminta Inka berkata jujur kepada dirinya terkait penyelamatan yang dilakukannya terhadap Gianna.
****
Sementara itu di kamar Gianna, Gianna masih sibuk menangis di pelukan Segara yang membuat lelaki itu merasa iba. Ia terus memeluk sahabatnya itu untuk menenangkan Gianna.
"Kamu mau aku gimana biar kamu engga nangis lagi? Mata kamu udah bengkak banget tau engga!" ujar Segara. Seolah tak memperdulikan ucapan Segara, Gianna masih tetap menangis yang membuat Segara menjadi sedikit frustasi.
Pada akhirnya, Segara memilih diam dan membiarkan Gianna mengeluarkan semua emosinya, hingga gadis itu tenang dengan sendirinya. Tak lama, tak lagi terdengar suara tangisan dari Gianna, melainkan suara helaan nafas yang teratur pertanda gadis itu sudah tertidur.
Segara hanya tertawa lirih saat melihat bahwa Gianna sudah tertidur di pelukannya. Ia menggeser tubuh Gianna perlahan yang membuat gadis itu bergumam tanda protes karena tidurnya terganggu.
Segara membaringkan Gianna dan membantunya melepas sepatu yang dikenakan gadis itu. Ia menyelimuti Gianna dan menatap sahabatnya itu dengan lekat sebelum akhirnya mengelus rambut Gianna dan mencium kening gadis itu.
__ADS_1
Tepat saat Segara akan keluar, Inka dan Kanigara sudah mengetuk pintu kamar Gianna untuk melihat keadaan gadis itu.
"Gigi udah tidur, dia nangis terus sampe ketiduran!" jelas Segara yang membuat Inka merasa bersalah. Ia merasa bahwa ialah yang menjadi penyebab keluarga dan semua orang yang dikasihinya menjadi target balas dendam musuh-musuhnya.
Inka duduk di kursi yang ada di samping ranjang. Ia menggenggam tangan Gianna dan menggumamkan kata "maaf". Ia tahu bahwa sejak awal ia tak perlu melibatkan orang-orang terdekatnya dalam rencana balas dendamnya sehingga menempatkan mereka dalam masalah.
"Sayang, it's not your fault. Jangan bersedih, Gianna juga pasti juga engga akan pernah nyalahin kamu!" ujar Kanigara sambil berjongkok di samping Inka yang terlihat merasa sangat bersalah.
"Tapi semua memang salah aku kak, coba kalo aku engga ngelibatin kalian semua!" ujar Inka lirih dengan mata yang mulai berembun.
"Bukan salah kamu, Ka. Emang kaminya yang mau dilibatkan dalam misi kamu! Don't blame your self!" balas Segara yang berdiri di sisi Inka. Inka tetap saja merasa tertekan akibat perasaan bersalah yang menghantuinya.
****
"Kamu gapapa, kan?" tanya Asher kala menghubungi Melanie.
"Kami aman. Gianna juga udah berhasil diselamatkan! Mel, kamu bisa ambil cuti beberapa harikah? Anak buah Bimantara pasti masih berusaha nyari kamu di rumah atau rumah sakit!" Nada suara Asher yang terdengar khawatir membuat hati Melanie menghangat. Ia berjanji akan langsung mengajukan ijin, yang membuat Asher merasa tenang.
Ia juga menghubungi Niskala untuk meminta tolong menjaga keamanan Melanie. Dalam hati sebenarnya Asher merasa bersalah karena Melanie hampir menjadi korban penculikan anak buah Bimantara untuk yang kedua kalinya.
Ia merasa ia harus melakukan sesuatu agar nyawa Melanie tak lagi terancam walau harus mengorbankan sesuatu yang sangat berharga baginya.
****
Keesokan harinya di kediaman keluarga Alora, seluruh keluarga termasuk Segara dan Gianna melakukan sarapan bersama. Mereka sengaja mengobrol ringan tanpa menyinggung masalah yang terjadi tadi malam karena Elisha sedang bersama dengan mereka pagi itu.
Selesai acara sarapan bersama, Inka dan Kanigara mengajak Elisha duduk di taman sambil mengobrol santai yang merupakan kebiasaan baru yang mereka bangun agar bisa memulihkan kondisi psikis dari sang ibu, sesuai saran dari psikiater yang merawat Elisha.
__ADS_1
Di lain pihak, Gianna ijin untuk kembali ke kamarnya karena masih merasa sedikit terguncang, Segara berinisiatif menemani sahabatnya itu. Ia tahu bahwa Gianna saat itu membutuhkan seseorang yang bisa menemani di sisinya.
"Gimana perasaan kamu hari ini?" tanya Segara yang duduk di samping Gianna yang sedang duduk di balkon kamar yang ditempatinya.
Gianna hanya berdiam diri, ia tak membalas pertanyaan Segara. Segara merasa bingung sekaligus kesal dengan sikap diam yang menurut Segara seperti di luar kebiasaan Gianna. Ia tak terbiasa menghibur wanita karena di rumah, sang ibu selalu dimanjakan sang ayah sehingga terkadang baik dirinya maupun Jordan hanya menjadi "nyamuk" di antara kemesraan sang ayah dan ibu mereka.
Tiba-tiba Gianna menatap ke arah Segara dan menatapnya dengan lekat, sembari berkata,
"Gar, waktu aku diculik kamu khawatir engga? Kalo aku sampai mati semalam, kamu sedih engga?"
Pertanyaan absurb dari Gianna itu membuat Segara terkejut dan mencebik karena kesal.
"Pertanyaan kamu bisa lebih berbobot lagi engga? Apaan sih ngomong-ngomong tentang kematian?" ujar Segara yang tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia tahu Gianna pasti terguncang tetapi entah mengapa pertanyaan Gianna itu membuat emosinya tersulut.
Gianna kembali diam karena tak mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Ia ingin tahu apa yang ada di benak Segara, saat mengetahui ia diculik. Ia hanya ingin mendengar jawaban yang ia harapkan dari seorang Segara, tetapi hanya kekecewaan yang ia rasakan.
Gianna menghela nafas panjang yang membuat Segara menoleh ke arahnya.
"Gar, seandainya aku dan Inka tenggelam di saat yang bersamaan, siapa yang akan kamu selamatkan lebih dulu?" tanya Gianna yang membuat kening Segara berkerut. Ia merasa pagi itu Gianna terlihat aneh, dan perkataannya juga tak mencerminkan diri Gianna yang ia kenal.
"Engga ada yang aku selamatkan duluan, karena kalian berdua bisa berenang! Kamu kenapa sih Gi, pagi-pagi ngomongnya udah ngelantur aja?!" Segara pada akhirnya menghadap dan menatap Gianna dengan intens.
"Kamu kenapa? Kamu mau aku gimana biar kamu lebih tenang, Gigi sayang?!" tanya Segara mencoba bersikap sabar menghadapi Gianna yang sepertinya masih terguncang.
"Nikahin aku!"
Ehhh!!!
__ADS_1
****