Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
83


__ADS_3

Sudah genap tiga hari Inka belum juga sadar, hal itu membuat Kanigara merasa sangat cemas. Niskala dan Asher menerbangkan tim medis khusus untuk memantau perkembangan kondisi Inka dan janin yang sedang di kandungnya.


Seluruh keluarga merasa khawatir melihat kondisi Inka. Elisha terus meminta tim medis untuk memantau Inka dan janinnya. Ia berdoa agar Inka bisa segera sadar karena kondisi Inka akan sangat mempengaruhi keadaan bayi yang sedang bertumbuh dalam rahimnya.


"Dok, apakah janinnya aman?" tanya Elisha sembari terus memantau monitor yang ada di sebelah ranjang Inka.


"Sejauh ini kondisi Bu Inka dan janinnya cukup stabil Bu. Kita hanya bisa berharap semoga Bu Inka bisa segera sadar." Penjelasan sang dokter membuat Elisha dan Kanigara menghela nafas berat. Gianna yang juga berada di ruangan itu menerka-nerka apakah Inka mengalami kejadian mati suri seperti yang ia alami sebelumnya.


Kanigara melihat gerak-gerik Gianna yang tak biasa, seolah gadis itu mengetahui sesuatu. Kanigara segera meminta ijin kepada Elisha untuk berbicara berdua dengan Gianna. Elisha pun mengangguk dan memilih duduk di sofa yang yang berada di sebelah ranjang Inka sembari menggenggam tangan sang putri yang seolah masih tertidur sangat lelap.


"Bangun sayang, demi kami, demi bayi kalian!" bisik Elisha.


****


Sementara di suatu tempat yang penuh kabut, seorang wanita sedang duduk sembari mengelus perutnya. Ia merasa lelah karena sudah berjalan begitu jauh, tetapi tak menemukan sosok yang ia cari.


"Sayang, kita akan pulang! Sabar sebentar ya," ujar Inka sembari mengelus perutnya dengan sangat lembut.


"Akhirnya kamu kembali...," ujar seseorang yang tiba-tiba sudah berada di samping Inka. Ia duduk manis sembari menatap perut Inka yang sembari membesar.


"Kamu..., kenapa aku bisa kembali ke sini?" tanya Inka yang membuat Kanigara muda itu tertawa kecil. Ia menunjuk ke arah perut Inka tanpa mengatakan apapun. Inka merasa bingung dengan bahasa tubuh yang ditunjukkan lelaki itu.


Inka mencoba meminta penjelasan dari lelaki muda itu. Namun lelaki itu hanya menatapnya sendu dalam sikap diamnya. Inka menyerah, ia meminta lelaki itu untuk mengembalikannya ke dunia nyata, karena ia tahu keluarganya sudah menunggu dirinya.


Tetapi sebelumnya Inka ingin memastikan sesuatu kepada Kanigara muda itu.


"Berapa lama lagi waktuku? Apa kamu bisa memberitahu hal itu?" tanya Inka dengan hati-hati. Lelaki itu hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Tiba-tiba lelaki muda itu, mengelus perut Inka dan berubah menjadi cahaya yang menyusup ke dalam perutnya.


"Terima kasih sudah kembali, Ma. Aku senang kita bisa bersama lagi. Kali ini pastikan kita tak akan terbunuh lagi, ya!" Inka mendengar suara lirih yang berasal dari rahimnya, lalu semua terlihat menyilaukan.


****


"Ahhh...," gumam seorang wanita terdengar yang membuat lelaki yang ada di sampingnya tersadar.


"I..., Inka..., kamu udah sadar?" ujar Kanigara sembari memeluk Inka yang tengah membuka matanya secara perlahan.


"Akhirnya kamu bangun juga!" Kanigara menghela nafas lega saat merasakan tangan Inka yang membalas pelukannya. Kanigara sempat menitikkan air matanya karena ketakutannya tak terjadi.


Tim medis segera mengecek kondisi Inka dan janin yang ada dikandungannya. Tim medis mengatakan keadaan Inka dan calon buah hatinya baik-baik saja. Semua keluarga akhirnya bisa bernafas lega saat mendengar berita baik itu.


"Sayang, kamu terus membuat jantungku terasa hampir berhenti!" ujar Kanigara lirih yang membuat Inka merasa bersalah. Ia memeluk suaminya dengan erat untuk menyalurkan semua rasa yang dalam hatinya.


Kanigara tak tahu harus berkata apa. Ia hanya memeluk erat sang istri, meluapkan semua emosi yang ia rasakan kala mendengar semua kisah yang dituturkan oleh Inka. Ia tak menyangka dirinya yang paling membuat Inka menderita selama kehidupan pertamanya.


Walau mungkin orang lain, akan mengatakan Inka gila dan kejadian seperti itu tak akan mungkin terjadi, tetapi Kanigara mempercayai cerita sang istri sepenuhnya, tanpa ada sedikit pun keraguan.


"Maaf, maaf, sayangku..., aku berdosa sama kamu dan bayi kita!" ujar Kanigara sambil terisak. Ia tak mampu lagi menahan kesedihannya. Ia membayangkan semua yang sudah dilalui sang istri, demi bertahan hidup berdampingan dengan pria yang mengacuhkan dan membuat dirinya dan calon buah hati mereka terbunuh dengan begitu dramatis.


Mereka menangis sambil berpelukan semalaman. Inka merasa kelegaan memenuhi dirinya, saat sudah menceritakan semuanya kepada Kanigara. Permintaan maaf sang suami seperti oasis yang membasuh dahaganya.


Kanigara terus memeluknya hingga pagi yang membuat Inka merasa bahagia. Ia bisa merasakan ketulusan Kanigara saat meminta maaf kepada dirinya dan Kanigara kecil yang sedang tumbuh dalam rahimnya.


Terima kasih karena menunggu mama kembali, Kanigara kecilku, batin Inka sembari mengelus perutnya.

__ADS_1


****


"Sayang, Ucok dan Leticialah yang membakar aku dan bayi kita saat di vila milik keluarga kakak. Aku mengingat semuanya waktu kakak cerita tentang siapa Ucok. Tiba-tiba sekelibat ingatku kembali, makanya aku pingsan." Inka menceritakan semua yang terjadi saat ia pingsan, dan kemana dia pergi, lalu bertemu dengan siapa.


Cerita Inka lagi-lagi membuat Kanigara merasa terenyuh. Ia membisikkan sesuatu kepada calon buah hatinya yang berada di rahim sang istri, yang membuat Inka terharu.


Kanigara menatap Inka karena teringat sesuatu.


"Vila? Apa vila yang inikah?" tanya Kanigara dengan wajah serius, yang membuat Inka tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Kanigara menghela nafas lega karena setidaknya kali ini Inka dan keluarga mereka bisa aman.


"Apa keberadaan Leticia sudah ketahui, sayang?" tanya Kanigara yang membuat Inka menggelengkan kepalanya. Inka bisa memperkirakan bahwa kali ini, Leticia pasti dibantu oleh seseorang yang ahli dalam hal persembunyian hingga Kenneth belum bisa mendapat informasi tentang keberadaan Leticia.


Inka masih belum menemukan benang merah, hubungan antara Leticia dan Ucok karena dalam ingatan Inka, Leticia dan Ucok terlihat sangat mesra layaknya sepasang kekasih atau pasangan suami istri. Ia juga masih bertanya-tanya tentang hubungan antara Bimantara, Leticia dan Ucok.


Ia kembali menanyakan beberapa hal yang diketahui oleh Kanigara tentang ketiga orang itu. Inka berharap keterangan dari sang suami, bisa membawa titik terang tentang tanya dalam hatinya. Kali ini Inka akan menjamin bahwa tak ada lagi keluarganya yang menjadi korban kejahatan dari musuh-musuhnya itu.


****


"Mereka bersembunyi dengan sangat baik, semua rekanan kita yang ku mintai bantuan tak bisa menembus pertahanan mereka. Aku rasa persiapan mereka kali ini tak main-main. Kita harus waspada!" ujar Ucok yang merasa bahwa kali ini musuh mereka, bertindak sangat hati-hati.


Pertahanan yang dibentuk oleh Niskala, Kanigara, Asher dan Inka, sangat matang sehingga penyusup pun akan mereka temukan dengan mudah.


"Apa ada celah lain yang bisa kita masuki?" tanya Ucok yang membuat Bimantara berpikir. Ucok sudah lama mendekam di penjara dan ia hanya mengikuti berita tentang Niskala, tetapi tidak dengan keluarganya.


"Jika tidak ada, maka kita yang harus membuat celah itu! Mungkin kita perlu mengunjungi seseorang!" ujar Ucok sembari menyeringai.


KAMI DATANG!

__ADS_1


****


__ADS_2