
Oliver terkejut dengan permintaan putrinya itu. Ia mengenal Kanigara dengan sangat baik, karena lelaki muda itu sudah menjadi sahabat putranya sejak kecil. Namun seingat dirinya, baik Inka maupun Kanigara tak pernah terlihat cukup dekat hingga membuat sang putri meminta Oliver melamar sahabat dari Asher itu.
"Kamu yakin, sayang? Setahu papi, kamu engga pernah terlihat dekat dengan Gara? Apa alasan kamu meminta Kanigara menjadi suami kamu?" tanya Oliver untuk memastikan niat dari Inka.
"Yakin pi! Kami emang engga dekat tapi aku udah lama cinta sepihak sama Kak Kani," balas Inka dengan menyebutkan nama panggilan sayangnya kepada Kanigara selama ia menjadi istrinya dulu. Oliver menghela nafas berat dan meminta waktu kepada Inka untuk memikirkan semuanya. Ia tak bisa mengambil keputusan sepenting itu hanya karena permintaan sang putri. Oliver memang memikirkan kebahagiaan Inka, tetapi ia merasa Inka harus lebih dekat dengan Kanigara sebelum memutuskan nasib masa depannya dengan menikahi Kanigara.
Inka hanya mengangguk dan memberi waktu kepada sang ayah untuk memikirkan permintaannya itu. Namun demi kelancaran misinya, Inka juga menemui Asher dan memohon bantuan dari sang kakak untuk membujuk sang ayah agar memberi restu dan bersedia melamar Kanigara untuk dirinya.
"Kamu yakin, Ka?" tanya Asher yang membuat Inka mendengus kasar karena Asher menanyakan hal sama seperti Oliver, sang ayah.
"Kenapa sih kakak ngajuin pertanyaan yang sa ma dengan papi? Klo aku engga yakin, apa mungkin aku berani ngajuin permintaan itu ke papi?" jelas Inka sembari memandang sang kakak dengan tatapan teguh.
Asher memikirkan perkataan Inka, lalu mencoba mengingat rekam jejak pergaulan Kanigara yang selama ini selalu bersih. Kanigara juga merupakan pribadi yang baik dan sangat bertanggung jawab. Ia sudah mengemban tugasnya sebagai pewaris kedua tahta Janu Group di usia belia karena ayah sahabatnya itu meninggal dunia saat Kanigara masih duduk di bangku SMA. Ia dan sang kakak yang bernama Niskala yang pada akhirnya memegang tampuk kepemimpinan di Janu Group dibantu oleh sang tante. Keberhasilan Niskala dan Kanigara saat itu, tak lepas dari bantuan semua karyawan sang ayah yang sangat loyal kepadanya.
"Ekhemmm," gumam Asher setelah ia sadar dari lamunannya. Pada akhirnya Asher mengangguk dan berjanji akan membantu sang adik yang membuat Inka segera memeluk sang kakak sembari mengucapkan terima kasih. Asher sangat yakin bahwa Kanigara akan mampu membahagiakan adik perempuan yang sangat disayanginya itu.
****
Oliver akhirnya setuju untuk mengajukan lamaran kepada Kanigara setelah dibujuk dan diyakinkan oleh Asher dan Elisha. Inka dan Gianna merasa senang mendengar kabar itu karena satu step dalam rencana awal mereka sudah berhasil mereka lalui. Mereka hanya tinggal menunggu sesuai waktu yang telah ditetapkan oleh Inka untuk merealisasikan niatnya itu, walau Inka sebenarnya masih sedikit ragu dengan hasil lamaran itu karena dalam ingatan Inka, Kanigara sempat menolak lamarannya sebanyak dua kali sebelum akhirnya berubah pikiran dan bersedia menikahi Inka.
__ADS_1
"Ehm, Ka, sorry kalo aku nanya sesuatu ke kamu. Kamu yakin mau ngejalankan rencana kamu? Apa kamu engga pernah mikir kalo Tuhan mungkin ngasih kamu kehidupan kedua bukan untuk balas dendam, tapi hidup sebaga Inka yang baru dan lepas dari bayang-bayang masa lalu kamu?!" tanya Gianna yang tiba-tiba khawatir kalau Inka akan mengalami kehidupan yang sama dengan sebelumnya. Ia tak siap bila harus kehilangan Inka, saat ia tahu apa yang sudah dialami Inka di kehidupan pertamanya.
"Pernah! Tapi pertemuanku dengan Kanigara membuat aku yakin Tuhan ngasih kesempatan kedua buat aku, supaya aku bisa memperbaiki kesalahanku dan meraih apa yang seharusnya jadi milikku. No turning back, beb!" balas Inka dengan tatapan teguh yang membuat Gianna mengangkat kedua tangannya tanda menyerah. Gianna tahu bila Inka sudah membulatkan tekadnya tak akan ada yang bisa mengubah keputusannya kecuali Tuhan atau keinginannya sendiri.
Inka mengisi hari-harinya dengan menenggelamkan diri dalam pekerjaannya sembari menunggu waktu pembukaan cabang baru perusahaan mereka di Batam yang akan dilaksanakan bulan depan. Gianna juga terus mengupdate informasi terkait daftar nama yang sudah berada di tangan detektif bayaran mereka yang bernama Kenneth.
"Menurut informasi dari Kenneth, Leticia dan ayahnya saat ini masih berada di London karena ibu dari perempuan itu baru saja meninggal. Kanigara juga hadir di hari pemakamannya," ujar Gianna yang membuat Inka menganggukkan kepalanya.
Ternyata memang ada yang berubah, batin Inka.
****
Kanigara terlihat mengedarkan pandangannya ke sekeliling, yang membuat Asher bertanya.
"Nyari siapa, bro?" goda Asher yang membuat Kanigara tersenyum simpul.
"Gue engga lagi nyari orang, gue cuma liat interior kantor baru lu yang lumayan keren juga," puji Kanigara yang membuat Asher mencebik karena ia yakin Kanigara sedang berbohong. Asher beberapa kali melihat Kanigara mencuri pandang ke arah adik perempuannya saat acara gunting pita tadi. Namun Asher memilih tak mendebat sahabatnya itu, ia malah mengajak Kanigara untuk berkenalan dengan rekan bisnis mereka yang lain.
Acara peresmian pun selesai, Oliver mengajak Kanigara untuk makan malam bersama. Pada acara makan malam kali itu, Inka dan Gianna sengaja tidak diikutsertakan, karena Oliver akan mengajukan lamaran yang diminta oleh Inka sebelumnya. Oliver dan Elisha takut bahwa Inka akan menjadi malu dan terluka bila Kanigara menolak lamaran mereka di hadapan sang putri. Asher pun menyetujui hal itu, karena Kanigara yang dikenalnya tidak akan segan menolak sesuatu secara langsung bila memang tak sesuai hatinya.
__ADS_1
Inka dan Gianna sebenarnya berada di sebelah ruangan dimana keluarganya dan Kanigara makan malam. Gianna berjalan mondar-mandir karena khawatir akan hasil pembicaraan terkait lamaran yang diajukan oleh sahabatnya itu. Sedangkan Inka hanya duduk diam sambil memainkan ponselnya. Gianna menatap Inka dengan tatapan bertanya, karena ia sama sekali tak bisa membaca jalan pikiran sahabatnya yg terlihat begitu tenang itu.
"Ka, kamu engga cemas atau apa gitu? Kenapa cuma diam kayak patung, gregetan aku ngeliatnya tau!" gerutu Gianna yang membuat Inka mengeluarkan cengirannya.
"Patung engga bisa main hape kali, Gi! Di kehidupan aku sebelumnya Kanigara nolak lamaranku sebanyak dua kali, jadi kalo kali ini dia nolak, aku sih engga kaget," balas Inka santai yang membuat Gianna memelototi dirinya.
****
Satu jam kemudian, Asher menghubungi Inka untuk meminta mereka bergabung. Saat memasuki ruangan, Inka tak lagi menemukan keberadaan Kanigara. Oliver meminta Inka dan Gianna untuk segera duduk. Oliver menatap Inka dengan lekat, sebelum membuka pembicaraan. Asher memandang Gianna dengan geli, karena alih-alih melihat Inka yang ia pikir akan terlihat cemas, tetapi yang ia dapati ternyata Giannalah yang sibuk meremas tangan dan kelihatan gugup.
"Ehmmm, Kanigara menerima lamaran kamu, sayang. Tapi demi etika, minggu ini Kanigara akan mengunjungi rumah kita, untuk melamar kamu secara resmi. Ia juga meminta agar pernikahan kalian dilaksanakan satu bulan dari sekarang," ujar Oliver yang membuat Inka terkejut. Ia mengerutkan dahinya karena merasa aneh mendengar informasi yang baru saja diberitahukan oleh sang ayah.
Gianna langsung memeluk Inka dan mengucapkan selamat, begitu juga dengan keluarganya. Inka memilih melakoni peran sebagai calon mempelai wanita yang berbahagia karena akan segera menikah dengan lelaki yang dicintai agar keluarganya tidak curiga.
****
Setelah Inka berada sendirian dalam kamarnya, ia duduk di sofa yang menghadap meja riasnya. Ia menatap dirinya dalam cermin dengan lekat. Ia melihat raut wajah sendu pada pantulan wajah aslinya itu.
"Selamat datang di permainan ini, sayang. Kali ini kau harus jadi pemenang, hidup atau mati!"
__ADS_1
****