
Dokter Ringga mencoba menyembunyikan keterkejutannya dengan berdeham.
"Ehmm, belum bisa dipastikan Pak Bima, karena orang mengalami histeris bisa disebabkan oleh banyak hal contohnya trauma masa lalu, shock dan kejadian lain yang membuat orang itu terguncang. Maka dari itu, tadi saya menyarankan agar Ibu Leticia dirawat secara intensif di rumah sakit, saya juga akan membuat jadwal konsultasi dengan psikiater terbaik di rumah sakit." Dokter Ringga mengulangi penjelasannya, yang membuat Bimantara mengangguk paham.
Pada akhirnya Bimantara memberi ijin kepada Dokter Ringga untuk melaksanakan sarannya itu. Leticia pun segera dibawa ke rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut.
****
"Jalankan rencana selanjutnya," ujar seseorang kepada seorang gadis di seberang panggilan.
"Aye captain," ujar sang gadis yang terlihat senang karena akhirnya ia mendapat misi lanjutan. Ia sudah tak sabar untuk menjalankan misinya kali ini, karena ia ingin membalaskan dendam majikan yang sangat dikasihinya.
Ia berharap bahwa Leticia dan Bimantara akan mendapat hukuman yang setimpal dengan semua kejahatan yang sudah mereka lakukan selama ini. Ia sebenarnya sudah muak melihat keberadaan Leticia dan Bimantara yang masih bisa hidup enak, bergelimang harta di atas penderitaan orang lain.
Gadis itu berharap di kehidupan ini, mereka akan mendapatkan karma dari perbuatan mereka dan ia akan menjadi salah satu orang yang akan memastikan hal itu.
****
"Plan A sukses, plan B akan segera dilaksanakan," ujar seseorang kepada Inka yang membuat Inka tersenyum puas.
"Makasih buat bantuannya, Rhode. Aku tunggu kabar selanjutnya ya," ujar Inka. Mereka berbincang sebentar sebelum akhirnya Inka memutuskan panggilannya.
Baiklah, sekarang bukan waktunya bersantai! Rencana yang sudah disusun sejak awal akan dilaksanakan satu per satu, batin Inka. Ia tak yakin akan punya cukup waktu untuk melaksanakan semuanya bila ia terus mengulur waktu. Inka merasa bahwa kehidupannya tak akan lama lagi, jadi ia harus bergegas untuk memastikan semuanya sesuai dengan rencana yang sudah disusun olehnya.
"Gi, laksanakan rencana kita satu per satu sekarang," ujar Inka sembari memandang Gianna lekat. Sejak tadi Gianna sibuk memandangi sahabatnya yang terlihat sibuk itu. Hari itu, Gianna sengaja datang ke kantor Inka untuk menemaninya makan siang.
__ADS_1
"Mulai dari yang mana, urutan abjad atau huruf?" tanya Gianna yang membuat Inka mencebik dan memelototi dirinya. Gianna terkikik geli dan menatap Inka yang sedang memperhatikannya dalam diam.
Gianna langsung terdiam dan merasa ada yang berbeda dari seorang Inka. Ia segera mendekati Inka dan menatapnya dengan serius.
"Apa sudah mendekati waktunya?" tanya Gianna yang mendadak bersedih karena melihat Inka menganggukkan kepalanya.
"Seriusan???" tanya Gianna tak percaya. Inka kembali mengangguk yang membuat Gianna mundur dan menatap Inka dengan mata yang memburam akibat air mata. Ia segera memeluk Inka dan menangis dalam pelukan sahabatnya itu.
Inka menghela nafas berat karena ia berusaha dengan keras agar tak mengeluarkan air matanya dan membuat Gianna semakin sedih.
"Kamu tau darimana kalo waktu kamu engga banyak lagi, Ka? Kenapa kamu harus ninggalin kami lagi?" tanya Gianna dengan nada yang begitu sendu.
"Kenyataan yang aku kira mimpi itulah jawabannya, Gi. Pria muda itu bilang kalo waktuku engga banyak lagi, jadi aku tau itu pertanda bahwa kita harus segera melaksanakan misi kita untuk menghancurkan musuhku di masa lalu," jelas Inka yang membuat Gianna melepaskan pelukannya dan menangkup tangan Inka.
Gianna tak tahu harus bersikap bagaimana lagi, selain mengikuti arahan dari Inka. Ia tahu setiap kisah pasti ada akhir, apalagi Inka pada kehidupan pertamanya memang sudah tiada. Ia akan memastikan bahwa semua rencana Inka akan berhasil mereka laksanakan sebelum hari kepergiaan Inka selamanya.
****
"Sayang akhirnya kamu kembali," ujar seorang lelaki sembari mencium wajah seorang perempuan yang membuat gadis itu terkikik geli dan memeluk lelaki itu dengan erat.
"Geli sayang..., kamu engga kangen aku ya? Lama banget aku nungguin kamu, tau engga?" balas gadis itu manja yang membuat lelaki itu semakin bern*fsu ingin langsung berc**bu dengan gadis yang sudah lama menjadi p**uas n**su lelaki itu.
"Kenapa kamu juga tega nikah dengan wanita yang aku benci? Aku pasti akan merebut kamu dari dia!" Gadis muda itu itu memukul dada sang pria dengan keras yang membuat lelaki itu tertawa puas. Lelaki itu terus mengelus bagian s**sitif dari gadis yang sejak tadi menggodanya itu dan mereka berakhir di ranjang p**nas malam itu.
Keesokan harinya sang gadis masih belum melepaskan lelaki itu dari b**aian, tetapi lelaki itu terpaksa untuk menolak tawaran penuh ke***kmatan dari sang gadis seperti yang mereka habiskan tadi malam.
__ADS_1
"Maaf sayang, aku harus kembali ke istriku agar ia tak curiga! Aku akan menemui kamu nanti malam, untuk membicarakan rencana kita sambil menikmati malam panjang seperti semalam," ujar lelaki itu me***cup bahu polos gadis itu. Wanita muda itu mencebik tapi ia tahu bahwa ia tak akan bisa menahan lelaki itu lebih lama lagi.
Gadis itu merasa kesal karena lelaki yang sangat dicintainya itu menikahi wanita yang selama ini sudah bersikap kurang ajar kepadanya. Perempuan yang paling dibencinya melebihi kebenciannya terhadap seorang Inka.
S*alan, awas aja kalo sampai dia merebut Bimantara dari aku! batin gadis itu dengan geram sembari melangkahkan kakinya ke kamar mandi untuk berendam. Ia ingin mengenyahkan perasaan tak menyenangkan yang ia rasakan setelah membayangkan bahwa lelaki yang ia cintai itu berc**bu dengan wanita j*lang itu.
Dia harus mati!
****
"Wah, itu bukannya nyonya Leticia yang kemarin baru USG ya?" ujar seorang perawat kepada perawat yang lain. Bimantara yang kebetulan melintas di depan mereka tiba-tiba berhenti dan menanyakan hal itu kepada mereka.
"Maaf mba-mba, kalo boleh tau nyonya Leticia yang mana yang mba berdua maksudkan ya?" tanya Bimantara sambil tersenyum ramah.
"Ahhh, yang itu Pak," ujar salah seorang dari mereka sembari menunjuk ke arah Leticia yang sedang duduk santai di salah satu sofa rumah sakit.
"Ohhh, ada keperluan apa istri saya di USG ya?" tanya Bimantara yang membuat keduanya terkejut selama sesaat lalu sebelum akhirnya mengucapkan selamat kepada Bimantara karena akan menjadi seorang ayah.
Bimantara begitu terkejut karena tak menyangka bahwa Leticia sedang berbadan dua dan itu adalah benih cinta mereka. Bimantara segera mengucapkan terima kasih dan bergegas ingin menemui Leticia. Ia sudah tak sabar ingin memeluk sang istri yang sedang mengandung calon buah hati mereka.
Bimantara merasa bersalah karena sudah menampar sang istri beberapa hari yang lalu, untung saja Leticia juga tak melakukan sesuatu yang membahayakan dirinya sendiri.
Leticia sedang melakukan pemeriksaan lanjutan yang membuat Bimantara harus menahan diri untuk menanyakan perihal kabar kehamilan istrinya itu. Ia dengan sabar menemani sang istri untuk melakukan check-up.
Setelah selesai mereka kembali ke kamar dan Bimantara memeluk Leticia yang membuat wanita itu bingung. Bimantara menceritakan tentang berita yang ia dengar dari kedua perawat tadi yang membuat tubuh Leticia bergetar dan jatuh pingsan. Leticia mengatakan sesuatu sebelum ia pingsan.
__ADS_1
"DIA MATI!"
****