
Inka dan Riska bersiap untuk menerima dan melawan serangan dari musuh mereka. Dua orang dari penjaga yang ada di belakang Ucok maju dan mulai menyerang Inka dan Riska secara bertubi-tubi. Inka dan Riska berhasil membalas serangan mereka dengan baik.
Kedua lelaki itu mampu mereka lumpuhkan tetapi kondisi fisik Inka mulai melemah karena kehamilannya membuat energinya cepat terkuras. Tetapi Inka berusaha untuk menutupinya dengan raut wajahnya yang tetap terlihat tenang. Tak terlihat kepanikan di wajah istri dari Kanigara itu.
Kedua penjaga lainnya pun maju dan mulai menyerang Inka dan Riska. Kali ini lawan mereka lebih tangguh dari yang sebelumnya yang membuat baik Inka maupun Riska sedikit kewalahan.
Inka bergerak mundur dan mencari celah untuk menemukan titik lemah dari lawan yang jauh lebih tinggi darinya itu. Di sisi lain, Riska beberapa kali terkena pukulan dari lawannya yang membuat Riska terhuyung bahkan terjatuh.
Inka ingin membantu Riska, tetapi ia sama sekali tidak mendapat celah karena lawannya sama sekali tak memberi waktu buat Inka untuk bergerak bebas. Inka sedikit lengah karena melihat Riska yang tersungkur setelah mendapat tendangan dari lawannya, Inka pun mendapat pukulan mendadak yang membuat ia sedikit terhuyung.
"Nyonya muda!" seru Riska yang sudah bangkit dari jatuhnya. Suara tawa Leticia terdengar nyaring, yang membuat Inka mencibir. Ia meludahkan darah yang mulai terasa di dalam mulutnya karena pukulan keras yang ia dapatkan tadi.
Inka hanya memberi tanda agar Riska tetap tenang, Inka menatap sang lawan dengan tatapan yang berbeda. Tatapannya berubah menjadi sangat dingin. Ia menatap langsung ke mata lawannya, yang membuat lelaki itu sedikit terintimidasi.
Lelaki itu kembali menyerang Inka dengan tendangan dan pukulan bertubi-tubi yang bisa ditangkis oleh Inka dengan baik. Inka sudah memperhatikan gerakan lawannya sejak tadi, dan akhirnya ia bisa membaca gerakan lelaki itu.
Bruk!!!
Suara jatuh pun terdengar saat Inka berhasil menghantam rahang lelaki itu dengan tinjunya, kemudian menyiku ulu hati lelaki itu yang membuat lawannya tersungkur dan pingsan.
Inka segera membantu Riska melawan musuh yang sedari tadi menyerang Riska dan membuat tubuh gadis itu mengalami beberapa lebam yang berasal dari serangan lawannya. Lelaki itu kewalahan karena serangan dua orang wanita yang mempunyai ilmu bela diri yang sangat baik itu.
__ADS_1
Ia mampu melawan Riska seorang diri, tetapi serangan tambahan yang berasal dari Inka membuat ia beberapa kali memilih posisi bertahan karena bila digabungkan serangan kedua lawannya itu sangat mematikan.
Inka memberi kode kepada Riska yang bisa dibaca gadis itu dengan baik. Riska segera menyerang lelaki itu dengan tendangan yang mengarah ke bagian dada lelaki itu. Lelaki itu menangkis tendangan Riska dengan kedua tangannya yang membuat Inka leluasa menyerang bagian bawah tubuh lelaki itu.
Inka menyerang bagian paha lelaki itu hingga membuat lelaki itu mengerang keras.
Bruk!!!
Lelaki itu tersungkur sambil mengerang kesakitan. Suara tepukan tangan terdengar dari arah Ucok yang membuat Inka dan Riska langsung kembali siaga.
Inka sebenarnya sudah tak mempunyai tenaga lagi bila harus bertarung dengan Ucok yang notabene mempunyai ilmu bela diri yang berada di atas dirinya maupun Riska. Perut Inka pun sudah terasa sangat nyeri.
Keringat dingin mulai bercucuran dari dahi Inka. Ia menyentuh perutnya untuk menenangkan janin yang ada di rahimnya.
"Wahhh, wanita-wanita yang luar biasa! Kalian berdua mampu melawan anak buah terbaikku! Baiklah tahap pemanasan sudah selesai, sekarang saatnya kita mulai bagian terbaiknya!" ujar Ucok yang tanpa aba-aba langsung menyerang Inka dan Riska yang membuat kedua gadis itu terkejut untuk sesaat.
"Matilah kau, Inka!" teriak Ucok sembari melayangkan tendangan mematikannya ke arah perut Inka. Inka yang terlambat membaca gerakan Ucok hanya bisa pasrah saat itu, tetapi tendangan yang dilayangkan oleh Ucok itu tak mengenai tubuh Inka karena seseorang sudah menangkisnya terlebih dahulu.
"Maaf kami datang terlambat, adik kecil!" ujar Niskala sambil mengedipkan matanya ke arah Inka yang membuat Inka menghela nafas lega dan bergerak mundur. Ia menabrak seseorang yang berada di belakangnya, dan mendapati Kanigara sudah menangkap tubuhnya yang merasa sangat lemah.
"Sayang, kamu gapapa?" tanya Kanigara khawatir karena melihat wajah Inka yang terlihat pucat. Kanigara langsung mengajak Inka untuk duduk. Inka memeluk tubuh Kanigara selama sesaat karena ia sangat senang saat melihat wajah dari sang suami.
__ADS_1
Sang suami memeriksa kondisi Inka dan menemukan bahwa ada lebam di bagian pipi Inka dan bekas darah di sudut bibir Inka yang membuat pandangan Kanigara menggelap. Ia meminta Riska untuk menjaga Inka.
Ia mengecup dahi Inka sembari mengucapkan kata "maaf" dan langsung bergabung bersama Niskala yang sedang bertarung melawan Ucok. Sementara itu, Leticia tidak lagi terlihat di tempat itu.
"Wahhh, berpesta tanpa diriku! Maaf terlambat kawan!" seru seseorang yang baru saja datang, yang tak lain adalah Bimantara. Ucok segera menyeringai karena Bimantara muncul di saat yang tepat. Sementara itu di luar telah terjadi pertarungan antara anak buah Niskala dengan anak buah Bimantara yang baru saja datang.
Akhirnya Niskala, berhadapan dengan Ucok. Sedangkan Kanigara berhadapan dengan Bimantara. Lengan Niskala terkena goresan pisau kecil milik Ucok yang sejak tadi ia sembunyikan di balik kemeja yang kenakan.
"Licik seperti biasanya, ehmmm," sindir Niskala yang membuat Ucok mencemooh lawannya itu.
"Hidup itu keras, kawan! Bertarung tanpa persiapan hanya akan membuatmu mati konyol!" seru Ucok yang sudah bersiap untuk menyerang Niskala dengan pisaunya. Kali ini Niskala berhasil menangkis serangan itu dan menyerang bagian lengan Ucok hingga pisau yang dipegangnya terlepas.
Niskala segera memelintir tangan Ucok dan memiting leher lelaki itu, hingga Ucok kesulitan bergerak. Tiba-tiba Leticia muncul dari suatu ruangan sembari pistol.
"Lepaskan dia!" teriak Leticia dengan pandangan yang terlihat nanar. Niskala langsung memutar tubuhnya dan menemukan Leticia sedang mengarahkan senjata itu ke arah dirinya.
Leticia kembali berteriak dan meminta Niskala untuk melepaskan sang kakak. Di lain sisi, Bimantara mengambil kesempatan untuk menyerang Kanigara saat suami Inka itu lengah karena mendengar teriakan dari Leticia itu. Kanigara mundur beberapa langkah karena mendapat tendangan dadakan dari Bimantara.
Bimantara mengambil kesempatan itu untuk lari ke arah Inka, tetapi Riska langsung menahan langkah Bimantara. Mereka bertarung tetapi Riska terkecoh dengan gerakan Bimantara yang membuat Riska masuk dalam perangkap lelaki itu dan menjadi tawanannya.
Bimantara memerintah Niskala untuk melepaskan Ucok. Niskala menatap ke arah Kanigara, Inka dan Riska secara bergantian. Ketiganya memahami arti tatapan dari Niskala itu. Bimantara menyeringai puas saat melihat Niskala memulai melepaskan lengannya dari leher Ucok.
__ADS_1
"Sekarang!"
****