
Setelah seminggu, Leticia muncul kembali di kediaman keluarga Janu yang membuat Inka tersenyum simpul. Leticia bertingkah seolah tak terjadi apa pun pada dirinya.
"Selamat pagi semuanya, maaf ya aku menghilang selama seminggu ini. Aku tiba-tiba ada urusan kerjaan di Medan. Gara sayang, aku udah ngabarin kamu, kan?" ujar Leticia sembari duduk di sebelah Kanigara dan menggenggam tangannya santai yang membuat Inka mencibir. Kanigara mengangguk untuk menjawab perkataan sahabatnya itu.
Saat itu Kanigara, Inka dan Niskala sedang sarapan di ruang makan sambil berbincang santai. Kanigara menggeser tangannya sebagai isyarat bagi Leticia agar mengangkat tangannya, tetapi gadis itu sengaja menggenggam tangan Kanigara lebih lama untuk memanas-manasi Inka.
"Gimana perjalanan kamu kemarin, Let! Sepertinya engga ada drama penculikan lagi ya?!" ujar Niskala sarkastik untuk menyindir Leticia, yang membuat Leticia terkejut dan segera mengubah raut wajah cerianya. Ia berdeham dan mengubah raut wajahnya menjadi datar.
"Klien aku kemarin udah nyiapin body guard buat jagain aku setelah mereka tahu ada kejadian penculikan kemarin, Kak!" balas Leticia dengan wajah berpura-pura bersyukur.
"Syukurlah kalo gitu Kak, mungkin kak Leti juga udah bisa milih calon suami potensial biar bisa jagain kakak, kayak Kak Kani yang selalu jagain aku," balas Inka sembari menggenggam tangan sang suami dan tersenyum manis ke arah Leticia. Leticia mengutuki Inka dalam hatinya, tetapi melemparkan senyum kamuflase ke arah musuhnya itu.
"Suami potensial kayak Gara, emang susah didapat ya, Ka? Barometer tentang karakter suami ideal aku juga, harus mirip dengan Kanigara, supaya aku bisa bahagia kayak kamu, sayang!" balas Leticia dengan maksud menyindir Inka secara telak. Namun musuhnya itu hanya tersenyum manis sembari menatap suaminya itu dengan lekat.
"Beruntungnya Kanigara hanya satu dan sudah menjadi milikku, bukan begitu Kak Leticia?!" Perkataan penuh penekanan itu membuat Leticia menggeram dalam hati. Niskala dan Kanigara hanya tersenyum simpul saat mendengar perkataan dari istri Kanigara itu. Inka meminum tehnya dengan tenang sembari menatap Leticia dengan lekat.
Di masa lalu mungkin kamu berhasil menjauhkan Kanigara dari sisi aku! Tapi kali ini jangan pernah bermimpi melakukan hal itu, J*lang! batin Inka. Sebelah tangannya terkepal di atas pangkuannya, kala bayangan masa lalu muncul tanpa diundang.
Bayangan Kanigara yang terus memberikan punggungnya kepada Inka. Berjalan menjauh tanpa pesan dan kabar. Kembali tanpa kata, pergi pun dalam diam. Setahun pernikahan yang menjadi ujian berat bagi Inka.
"Sayang kamu kenapa?" tanya Kanigara yang menyadari gelas yang dipegang oleh Inka berbunyi saat bersentuhan dengan tatakan gelas selama beberapa detik. Niskala yang melihat hal itu juga langsung bersiaga, seandainya Inka kembali mengalami serangan panik.
"Gapapa kak, kakiku kadang masih nyeri. Kayaknya aku udah kelamaan duduk. Bisakah bantu aku ke kamar?" tanya Inka yang langsung membuat Kanigara bergerak dan menggendong Inka lalu memerintahkan Rima untuk membawakan kursi roda Inka ke kamar mereka.
__ADS_1
Niskala memilih untuk meninggalkan Leticia setelah kepergian Kanigara dan Inka yang membuat musuh Inka itu tak henti-hentinya mengumpat dalam hatinya.
****
Malam itu, Leticia bertingkah biasa. Ia makan dengan tenang bersama ketiga anggota keluarga Janu. Inka seperti biasa makan dalam diam sembari mendengarkan pembicaraan yang terjadi antara Niskala dan suaminya terkait pekerjaan mereka.
"Ehmmm, Gara sayang. Ntar selesai makan bolehkah kita bisa berdua? Ada hal yang ingin aku ceritakan...," ujar Leticia yang membuat Niskala menaikkan sebelah alisnya. Sedangkan Inka tetap bersikap tenang seolah tidak sedang mendengarkan apa pun.
"Apa tidak bisa dibicarakan di sini?" tanya Kanigara datar. Leticia menggelengkan kepalanya yang membuat Kanigara menetapnya lekat, pada akhirnya lelaki itu mengangguk pelan. Tak reaksi apa pun dari Inka yang membuat Leticia berusaha menebak-nebak arti diam dari musuhnya itu. Namun Leticia tak perduli, ia harus segera melaksanakan rencananya.
Kanigara mengajak Leticia ke ruangan kerjanya. Mereka sudah duduk berhadapan dan ia menunggu Leticia untuk berbicara.
Tiba-tiba ketukan di pintu ruang kerja Kanigara membuat lelaki itu mengerutkan dahinya.
"Aku kangen ngobrol sama kamu, Gara! Rasanya sejak kamu menikah, kamu mulai menjauhi aku dan jujur itu membuat aku sedih!" ujar Leticia dengan mata yang berkaca-kaca.
Kanigara menghela nafas panjang, dan menepuk tangan Leticia untuk menenangkan gadis itu.
"Leti, semua hal bisa berubah. Begitulah kenyataan dalam hidup. Aku tak mungkin bersikap sama seperti waktu aku belum menikah. Aku harus menjaga perasaan Inka juga, Let!" ujar Kanigara yang membuat Leticia semakin membenci Inka.
Leticia meminum teh yang ada di hadapannya untuk menenangkan hatinya yang bergemuruh karena emosi.
Tahan Leticia! Tahan.... batin Leticia mencoba bersabar demi tujuannya. Kanigara meminum teh yang disediakan oleh Leticia. Ia menunggu Leticia untuk kembali membuka suaranya.
__ADS_1
"Lusa aku akan kembali ke London, mungkin ini akan jadi...," Perkataan Leticia terputus karena melihat Kanigara menggeleng-gelengkan kepalanya seolah sedang merasa pusing. Leticia tersenyum di balik gelas tehnya.
"Gara sayang, kamu kenapa?" tanya Leticia sembari mendekati Kanigara yang memegangi kepalanya. Lelaki itu menatap Leticia dengan pandangan bertanya sembari memicingkan matanya. Leticia berpura-pura tak melihat tatapan Kanigara itu.
"Kepalaku tiba-tiba pusing...," ujar Kanigara mencoba bangkit dari tempat duduknya. Leticia berdiri di hadapannya seolah sedang menahan langkah lelaki yang sepertinya ingin segera keluar dari ruang kerjanya itu.
"Gara sayang, sini aku bantu," ujar Leticia sembari mengelus dada Kanigara di balik kaos yang dikenakannya.
Akhirnya bereaksi! Leticia merasa sangat senang karena merasa rencananya akan berhasil.
Kanigara merasakan panas yang aneh dalam tubuhnya. Ia mencoba mendorong bahu Leticia pelan, karena merasa sahabatnya itu berdiri terlalu dekat dengannya. Bahkan ia merasa Leticia dengan sengaja menempelkan tubuhnya dengan tubuh Kanigara.
"Leticia, kamu masukkan apa ke dalam teh itu?" tanya Kanigara dengan suara yang tercekat.
Leticia mengelus wajah Kanigara sambil tersenyum menggoda.
"Malam ini kita akan bersenang-senang, sayangku! Apa kamu engga tahu, bahwa selama ini aku mencintaimu, Gara sayang?! Aku rela menjadi madu kamu, asal selamanya aku bisa hidup di sisi kamu!" balas Leticia yang membuat Kanigara mendorong tubuh Leticia dengan keras. Leticia jatuh terduduk, tetapi ia malah tertawa.
Kanigara berusaha untuk keluar dari ruangan itu, tetapi Leticia kembali menahannya dan mencoba meraba tubuh suami Inka itu lagi. Kanigara mencoba meredakan pusingnya dengan menggeleng-gelengkan kepala, tetapi tidak membuahkan hasil. Ia menatap Leticia dengan tatapan yang berbeda dan membuat Leticia tersenyum bahagia.
"Iyahhh, sini sayangku! Aku akan menghilangkan dahagamu. Kita akan mencapai puncak kebahagiaan dan kep**saan malam ini!"
****
__ADS_1