Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
49


__ADS_3

Mereka memulai acara itu dengan makan malam bersama sebelum mereka masuk ke acara inti yaitu untuk melamar Melanie menjadi istri dari Asher. Melanie beberapa kali terlihat melirik ke arah Asher, tetapi lelaki itu sama sekali mengabaikan dirinya.


"Ini yang masak Melanie loh! Gimana Sha, enak kan?" ujar Remaya, sang tante. Perkataan Remaya itu membuat Melanie tersipu.


Elisha memuji masakan Melanie, begitu pun dengan Inka dan keluarga mereka yang lain, terkecuali Asher yang sama sekali tidak menunjukkan reaksi apapun. Lelaki itu makan dalam diam, yang membuat Elisha geram dan memelototi putra sulungnya itu.


Setelah makan malam selesai, Asher meminta waktu untuk berbicara berdua dengan Melanie. Melanie pun mengajak Asher ke taman untuk berbicara dengan mantan kekasihnya itu.


"Aku nggak akan menolak pertunangan ini dalam pembicaraan kali ini. Tapi aku akan segera membatalkan pertunangan kita! Jangan pernah berharap kamu akan menjadi bagian dari keluarga Alora. Satu kesalahan fatal itu sudah cukup untuk mengubah pandangan aku tentang kamu!"


Asher langsung meninggalkan Melanie tanpa menunggu balasan dari gadis itu. Melanie memandang Asher dengan tatapan penuh luka. Ia tak menyangka bahwa lelaki itu sama sekali tak memberi dirinya kesempatan untuk membela diri. Melanie tak pernah melakukan kesalahan seperti yang dituduhkan oleh Asher, seseorang menjebaknya sehingga terlihat seakan Melanie sedang mengkhianati Asher.


Acara malam itu berjalan baik, Melanie menerima lamaran dari pihak keluarga Asher. Gadis itu mencoba menutup mata terhadap sikap Asher yang sangat dingin terhadapnya. Tak ada senyum yang tersungging di bibir lelaki itu, saat ia menyematkan cincin pertunangan mereka di jari Melanie. Melanie sama sekali tidak mempermasalahkan sikap Asher itu. Kali ini Melanie berjanji akan memenangkan kembali hati calon suaminya itu.


****


"Asher..., kamu nggak bisa bersikap lebih manis ya, ke Melanie? Dia itu calon istri kamu! Mami kecewa dengan sikap kamu tadi, apa pikiran Remaya waktu kamu bersikap kayak tadi?!" tegur Elisha, yang membuat Asher memandang ibunya dengan malas.


"Mi, aku udah bilang aku nggak mau nikah sama perempuan itu! Kenapa Mami tetap memaksa? Ya, kayak gitu jadinya!" ujar Asher cuek.


Elisha hanya bisa menghela nafas berat mendengar jawaban dari sang putra yang membuat dirinya kesal. Elisha beberapa kali menanyakan alasan mengapa Asher menolak untuk dijodohkan dengan Melanie, tetapi lelaki itu sama sekali tidak pernah memberikan alasan yang jelas, mengapa ia selalu menolak permintaan dari kedua orang tuanya itu.


Sebenarnya Elisha bisa melihat pandangan yang ditunjukkan Asher kepada Melanie, seolah hal itu merupakan petunjuk kepada Elisha terkait hubungan yang sebelumnya terjalin di antara kedua Insan muda itu. Namun ia memilih menunggu Asher, yang menjelaskan hal itu kepada dirinya.


****

__ADS_1


Keesokan harinya Inka dan Asher berangkat meninjau ke lapangan, proyek baru mereka sedang berjalan .


"Kakak akan menunjuk Max sebagai asisten kamu di sini, Dek! Kakak masih membutuhkan Segara di Jakarta. Max juga pernah menjadi asisten Segara selama menggantikan kamu di sini. Pekerjaan Max juga memuaskan! Kakak yakin kamu nggak akan kecewa, sayang!" ujar Asher saat mereka dalam perjalanan kembali ke kantor.


Inka hanya mengangguk paham karena ia yakin bahwa keputusan Asher adalah keputusan yang terbaik karena selama ini sang kakak tak pernah salah memilih orang-orang yang bekerja dengannya, terutama orang yang menjadi tangan kanannya seperti Segara dan Inka.


Saat mereka tiba di kantor, ternyata seorang Bimantara Yoga sudah menunggu kedatangan mereka. Asher menaikkan alisnya saat melihat lelaki itu. Asher mengenal dengan baik siapa itu Bimantara dan bagaimana hubungannya dengan keluarga Janu terutama Kanigara, adik ipar sekaligus sahabatnya itu.


Ia banyak mendengar sepak terjang seorang Bimantara dari cerita Kanigara.


"Selamat siang Bu Inka, akhirnya kita ketemu lagi. Selamat siang Pak Asher, senang bisa bertemu Bapak di sini," ujar Bimantara ramah sambil sembari mengulurkan tangannya.


Asher bersikap santai dan membalas sapaan dari lelaki licik itu. Ia ingin mengetahui permainan apa yang sedang dimainkan oleh Bimantara sehingga musuh Kanigara itu bisa muncul di kantor cabang mereka. Mereka bertiga berbicara dengan santai di ruang rapat. Bimantara pun langsung mengutarakan niatnya untuk bekerja sama dengan perusahaan yang dikelola oleh keluarga Alora itu. Asher hanya tersenyum simpul dan langsung bisa menangkap tujuan dari Bimantara menjalin hubungan dengan perusahaan mereka.


"Wah, sepertinya saya mendapatkan dua jawaban yang sama seperti yang diutarakan oleh ibu Inka sebelumnya. Padahal saya sudah lama menunggu kesempatan untuk bisa bekerjasama dengan perusahaan besar seperti Alora Group," ujar Bimantara penuh penekanan, tetapi Asher dan Inka tetap memberikan jawaban yang sama sehingga membuat Bimantara tak mampu menutupi kekecewaannya.


Kenapa lelaki ini harus muncul di saat yang tidak tepat?! Tidak Kanigara, tidak Asher sama saja! Keduanya membuat aku murka! Tunggu saja pembalasanku karena aku tidak akan diam saja setelah dipermalukan seperti tadi! batin Bimantara sembari mengepalkan tangannya.


****


Bimantara meninggalkan tempat itu dengan marah tetapi baik Inka maupun Asher sama sekali tidak memperdulikan perasaan lelaki itu. Mereka sudah tahu dengan baik apa tujuan dari Bimantara sebenarnya, dan mereka tidak akan membiarkan Bimantara mendapatkan kesempatan untuk menghancurkan mereka dari dalam.


Musuh Kanigara merupakan musuh dari keluarga Alora juga. Walaupun mereka tidak akan bertindak jika keluarga Janu tidak meminta bantuan mereka, tetapi mereka akan memberikan dukungan bila keluarga Janu memintanya.


"Kamu harus berhati-hati dengan Bimantara, dia bukan lelaki yang gampang, dek! Dia sangat licik dan juga kejam. Tak sedikit lawannya yang ia jatuhkan dengan cara yang licik!" Asher memperingatkan Inka, yang dibalas Inka dengan anggukan paham. Inka sama sekali tidak menceritakan apa yang ia ketahui tentang Bimantara karena ia tak ingin Asher terlibat di dalamnya.

__ADS_1


Suara Asher dan Elisha yang memanggil-manggil namanya saat kebakaran yang menimpanya di masa lalu, masih suka terngiang di kepala Inka dan membuat hatinya nyeri dan sakit. Kali ini, Inka berjanji bahwa ia tak akan membiarkan dirinya mendengar lagi suara seruan kepedihan yang terlontar dari keluarganya, karena kemalangan yang menimpanya.


"Jalankan rencana kita! Mereka perlu dikasih pelajaran sesekali, supaya sadar!" ujar seseorang sambil menggeretakkan giginya penuh dengan amarah.


"Siap bos!" balas seorang bawahannya.


"Selamat menikmati hadiah kecil dariku karena kalian telah berani mempermalukanku! Aku akan memberikan kejutan berupa serangan fajar kepada kalian sehingga kalian tidak akan bisa melupakan kejadian itu!" batin seseorang yang dipanggil Bos itu.


****


Malam itu, Inka tengah menghabiskan waktunya dengan memeriksa laporan di ruang pribadinya. Ia teringat sesuatu yang membuat dirinya menghubungi seseorang.


"Sudah beres semuakah? Semuanya sudah diatur, kan? Aku harap semuanya bisa aman!" ujar Inka kepada seseorang dari seberang panggilan.


"Sudah aman, Bu. Tenang aja! Semua sudah di posisi masing-masing," balas sang penerima panggilan. Tak lama, Inka memutuskan panggilan setelah berbicara tentang beberapa hal penting lainnya.


Tiba-tiba kembali terdengar lemparan batu dari arah balkon ruang pribadi Inka. Gadis itu segera bergegas keluar dari ruang pribadinya dan mencari sumber suara itu. Ia kembali menemukan surat kaleng yang dikirimkan untuk dirinya. Ia mencoba mengecek ke segala penjuru dari balkonnya, tetapi tidak bisa menemukan siapa yang mengirim surat kaleng itu.


Inka membuka kertas yang sudah diikat di batu yang dilempar tadi. Inka sangat terkejut ketika membaca isi dari surat kaleng itu.


SELAMATKAN PERUSAHAANMU AKAN ADA KEBAKARAN!!!


Deg!!!


****

__ADS_1


__ADS_2