
"Selamat pagi, Inka sayang. Masih pagi udah kelihatan segar aja. Ehmmm, Ka, kamu mau ngeteh bareng aku engga siap sarapan? Ini kan hari libur, jadi aku pengen ngobrol santai bareng kamu. Aku rasa aku udah banyak salah ke kamu, jadi aku pengen minta maaf dan mengakrabkan diri lagi," ujar Leticia dengan nada memelas saat mereka berempat sedang sarapan bersama.
"Ehmm, boleh kak. Aku juga lagi senggang kok!" balas Inka sambil tersenyum simpul. Kanigara dan Niskala memilih diam dan tak menimpali pembicaraan kedua wanita itu. Niskala hanya memberikan tatapan peringatan ke arah Leticia yang membuat gadis itu sedikit salah tingkah.
Kenapa sih Kak Niska, kok benci banget sama aku ya? Apa karena kejadian kemarin? Tapi sebelum itu pandangan Kak Niska juga beda ke aku! batin Leticia kesal.
Leticia mengajak Inka untuk mengobrol di taman. Perbincangan itu hanyalah percakapan satu arah karena sejak tadi Leticialah yang lebih banyak berbicara sedangkan Inka menjadi pendengar yang baik seperti biasanya. Ia terlalu malas untuk membuka mulutnya dan beramah tamah dengan perempuan licik yang ada di depannya.
Inka mengiyakan ajakan Leticia semata-mata untuk memastikan sesuatu sesuai dengan kejadian di masa lalu.
"Aduh maaf ya, aku jadi kebanyakan ngomong, sayangku. Kalo udah ngomongin masa lalu, aku emang suka lupa diri. Maafin ya, Ka. Ahhh, aku jadi rindu masa-masa bahagia itu!" ujar Leticia yang membuat Inka mendengus pelan.
"Ahhh, sampe lupa. Sayangku, cobain teh ini. Kemarin Kanigara beliin ini buat aku. Kanigara masih ingat aja teh kesukaan aku, hihihi," kikik Leticia yang membuat Inka jijik.
Inka mengangguk sambil tersenyum simpul lalu melirik ke arah Rima dengan ekor matanya di balik gelas yang menutupi wajahnya. Rima yang melihat tanda dari Inka langsung mengangguk pelan. Hal itu membuat Inka tersenyum puas.
Di lain pihak, Leticia juga melemparkan senyum termanisnya kepada Inka yang membuat Inka mencibir dalam hati.
"Inka, kalo seandainya aku sering-sering ngajak kamu minum teh kayak gini gapapa kan?" tanya Leticia yang membuat Inka tersenyum simpul.
"Boleh aja kalo aku engga lagi sibuk dan selagi Kak Leticia masih di sini. Bukankah kakak akan kembali ke London setelah urusan kerja kakak di sini selesai? Setelah kakak balik ke London, jangan lupa kunjungi kami di sini ya. Ehmmm, kalo gitu aku balik ke ruang kerjaku dulu ya kak, aku baru ingat aku minta Sellah buat ngirim laporan ke aku. Makasih buat tehnya, tehnya enak," ujar Inka sembari menganggukkan kepalanya ke arah Rima dam berlalu dari tempat itu.
Leticia merasa geram dan mencengkeram gelas yang ada di tangannya dengan keras.
Dia..., dia berani ngusir aku?! Dasar perempuan m*rahan! Awas kau Inka, tak lama lagi Kanigara akan jatuh ke pelukanku! batin Leticia sembari tersenyum licik.
****
"Rima, kamu dapat yang aku minta?" tanya Inka sesudah mereka kembali ke kamar pribadi Inka.
"Dapat Nona Muda, ini...," ujar Rima sembari menyerahkan barang yang diminta nyonyanya itu.
"Kerja bagus, Rim. Sekarang kamu berjaga di sini. Jangan biarkan ada yang mengganggu aku, sampai aku keluar dari ruang kerjaku ya. Bilang aja aku lagi ada meeting dengan klien," perintah Inka yang langsung mendapat anggukan cepat dari Rima.
__ADS_1
Inka berada dalam kamar kerjanya cukup lama, hingga akhirnya setelah dua jam ia keluar dari ruang itu dan mendapati Rima tengah tertidur di sofa. Inka tersenyum dan membangunkan staf pribadinya itu dengan lembut.
"Maaf, Nona Muda, saya ketiduran," ujar Rima sembari tertunduk malu.
"Gapapa, sekarang kamu...," ujar Inka lalu berbisik di telinga gadis muda itu yang membuat Rima manggut-manggut.
Rima bergegas keluar dari kamar pribadi Inka. Inka tersenyum memikirkan sesuatu lalu menghubungi seseorang.
"Kali ini sesuai alur, cuma jenisnya berbeda," jelas Inka yang membuat Gianna mengumpat.
"Wahhh! Wanita siluman, dedemit jadi-jadian itu orang emang ya! Gue garuk juga tuh orang!" desis Gianna yang membuat Inka tertawa.
"Ehmmm, ada yang baru..., sepertinya ada yang nyusup ke kamar Kak Gara. Kayaknya kita perlu ngasih hadiah manis untuk penyusup itu bukan?" ujar Inka sembari menyeringai yang membuat Gianna yang mendengar perkataan Inka bersorak senang dan bersemangat.
****
Inka masuk ke dalam kamar tidur sembari memeluk tubuhnya.
"Kak Kani...," seru Inka pelan yang membuat Kanigara mendongak dan menatap sang istri. Ia langsung mendekati Inka karena melihat Inka memegangi kepalanya.
Setelah itu, Kanigara naik ke ranjang dan memijat pelan kepala Inka.
"Kak, maaf sebelumnya bisakah memelukku kali ini aja?" bisik Inka lirih yang langsung mendapat anggukan dari Kanigara. Kanigara langsung membawa Inka ke dalam pelukannya untuk menenangkan sang istri.
Inka membalas pelukan Kanigara dan mencium pipi sang suami yang membuat Kanigara terkejut, tetapi tak mempermasalahkan tindakan Inka yang sedikit aneh itu, mengingat Inka sudah mengultimatum dirinya untuk bersikap mesra hanya di depan publik.
Nikmati hadiahmu, Leticia sayang! Inka yang sekarang terlalu pintar untuk menjadi korbanmu! batin Inka yang tersenyum sinis dalam pelukan Kanigara yang sedang mengelus punggung Inka.
****
Sementara itu di kamarnya, Leticia melemparkan barang yang ada di meja dengan sembarangan saat menatap kemesraan yang Inka dan Kanigara pertontonkan tanpa sadar di atas ranjang mereka yang terlihat melalui layar ponselnya.
"Perempuan s*alan! Akan ku bunuh kau! Ku bunuh! Menjauh dari Garaku..., Garaku!" teriak Leticia sembari mengacaukan seisi kamar itu. Tatapan nanar penuh dendam terlihat di wajah cantik Leticia. Ia meraung karena berang. Tanpa ia sadar seseorang sedang berada di dekat kamarnya dan menyeringai puas saat mendengar suara penuh keputusasaan yang terlontar dari bibir Leticia.
__ADS_1
****
"Istriku kenapa, Mel?" tanya Kanigara setelah Melanie selesai memeriksa Inka.
"Ini kayaknya alergi makanan atau minuman, Gar," jelas Melanie yang membuat Kanigara terkejut.
"Kamu punya alergi makanan atau minuman? Kenapa kamu engga pernah bilang?!" ujar Kanigara penuh dengan penekanan.
"Aku engga ada alergi makanan kak, aku cuma alergi minuman yang mengandung kafein. Makanya aku cuma minum teh chamomile dan teh hijau aja selama ini," balas Inka pelan.
"Hari ini kamu ada minum kopi atau sesuatu yang lain?" tanya Melanie. Inka berdiam diri seolah sedang mengingat sesuatu.
"Hari ini aku cuma minum teh bareng Kak Leti aja. Engga ada yang lain! Katanya teh itu hadiah dari Kak Kani, jadi dia bagiin teh itu ke aku," ujar Inka polos yang membuat Kanigara mengernyitkan dahinya.
"Rimaaa, panggil Leticia kemari!" tegas Kanigara yang langsung dilaksanakan oleh Rima.
****
"Gara sayang, kamu manggil aku? Loh, Inka kenapa, kok ada dokter di sini?" tanya Leticia pura-pura terkejut.
"Leti, hari ini kamu ngasih teh apa ke Inka?" tanya Kanigara dengan intonasi penuh penekanan yang membuat Leticia terkejut.
"Teh..., teh hitam kesukaan aku, Gar," ujar Leticia berusaha menjaga sikap tenangnya.
"Teh hitam mengandung kafein..., itu yang menyebabkan pusing yang diderita Inka tadi," jelas Melanie.
"Emang kenapa dengan teh hitam, Dok?" tanya Leticia.
"Inka alergi kafein," ujar Melanie yang membuat Leticia tertawa dalam hati.
M*mpus!!! Rasakan kau, Inka! Ahhh, ternyata semesta membantuku membalaskan dendamku ke perempuan s*alan ini! Ketimpa double sial, kau! batin Leticia puas.
Kanigara memperingatkan Leticia agar tak lagi memberikan teh hitam kepada Inka. Inka berusaha membela Leticia dan dirinya dengan mengatakan bahwa mereka berdua tak mengetahui kandungan yang ada di dalam teh hitam. Leticia langsung mendukung perkataan Inka dan berpura-pura memasang wajah sedih karena apa yang menimpa istri Kanigara itu.
__ADS_1
I got you, beib! batin seseorang.
****