
"Nyonya muda," ujar Riska tanpa suara dan keluar dari persembunyiannya. Ia segera membantu Inka untuk melonggarkan ikatan pada tangan dan kakinya.
Riska berbicara sambil berbisik kepada Inka.
"Nyonya tau dari mana saya ada di sini?" tanya Riska bingung.
"Aku mimpiin kamu! Terima kasih karena sudah membantu aku selama ini! Aku engga akan bisa membalaskan dendam ini, kalo kalian semua engga membantu!" ujar Inka yang membuat Riska terkejut dan memahami sesuatu.
"Nyo, nyonya muda juga hidup kembali?" tanya Riska dengan tatapan tak percaya. Inka mengangguk pelan dan hal itu membuat Riska meneteskan air matanya. Ia tak menyangka bahwa mereka hidup kembali secara bersamaan.
Riska langsung memeluk Inka untuk menumpahkan semua perasaan yang dipendamnya selama ini. Ia sampai harus menggigit bibirnya agar suaranya tak sampai terdengar. Inka menenangkan Riska dengan suara lembutnya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Pokoknya kali ini Nyonya muda dan calon Tuan muda kecil harus selamat." Perkataaan Riska menghangatkan hati Inka dan membuat semangatnya untuk hidup kembali berkobar.
****
Sementara itu, di tempat lain seseorang sedang menginstruksikan sesuatu kepada beberapa orang yang ada di hadapannya.
"Ingat semua harus tetap di posisi masing-masing sampai ada aba-aba untuk bergerak. Penyelamatan kali ini harus berhasil!" seru Kanigara dengan nada tak terbantahkan yang membuat semua bawahannya menjawab dengan serempak dan segera berpencar untuk menempati posisinya masing-masing.
Sayang, bertahanlah kali ini kami engga akan ngebiarin kamu ngalamin kejadian yang sama! batin Kanigara yang sangat mengkhawatirkan keadaan dari sang istri.
Mereka bergerak cepat menuju titik-titik yang sudah ditentukan sebelumnya. Semua bergerak dalam senyap.
"Kami udah berada di dalam. Roger!"
"Copy!"
****
"Kak, sebaiknya perempuan murahan itu kita eksekusi sekarang, entah mengapa aku merasa bahwa ada yang salah!" ujar Leticia yang bersandar dalam pelukan Ucok. Leticia merasa bahwa penculikan Inka yang mereka lakukan terlalu mudah. Ia mengenal Inka yang baru dengan baik.
Leticia sudah pernah melihat sendiri kepiawaian Inka dalam hal bela diri dan gadis itu juga memiliki pengamatan yang tajam dalam banyak hal. Inka terkesan berdiam diri, tetapi satu hal yang Leticia baru sadari bahwa Inka sebenarnya sedang mengamati lawan bicaranya.
__ADS_1
"S*al! Kak, minta penjaga cek kamar p**acur itu!" seru Leticia yang langsung berdiri dan bergegas menuju kamar dimana Inka disekap.
Sementara itu Ucok langsung menghubungi bawahannya melalui handy talky (HT) yang ada di tangannya. Leticia berlari sekencang yang ia bisa, ia meraih gagang pintu yang ternyata masih terkunci. Ia mengambil kunci yang ada di saku celananya dan membuka pintu ruangan itu.
Leticia tanpa sadar menghela nafas lega saat melihat penampakan Inka yang masih tertidur di ranjang.
"Dasar perempuan s*alan, malah enak-enakan tidur!" teriak Leticia sembari mengguncang tubuh Inka dengan kasar. Inka terbangun dan menatap Leticia dengan wajah sayu khas orang baru bangun tidur.
"Kenapa lagi, Leti? Kamu engga bisa ngebiarin aku tidur tenang! Aku lapar, karena sejak diculik kalian sama sekali engga ngasih aku makan!" keluh Inka yang membuat Leticia tertawa mencemooh.
"Orang udah mau mati aja, masih pake minta makan! Tenang aja engga lama lagi kamu engga akan ngerasa lapar lagi! Soalnya udah koit!" Leticia tertawa puas sembari menepuk-nepuk pipi Inka dengan sedikit keras.
Inka hanya menatap Leticia sambil berdiam diri. Setelah kepergian Leticia, Riska kembali keluar dari persembunyiannya.
"Tuan Niska dan Tuan Kanigara udah masuk dari lorong rahasia, Nyonya! Sebaiknya kita juga bersiap untuk keluar dari ruangan ini!" bisik Riska yang membuat Inka mengangguk. Inka segera membuka ikatan yang membelenggu tangan dan kakinya.
Sementara itu, Riska bertugas untuk membuka pintu yang sudah dikunci kembali oleh Leticia. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik rambutnya dan mulai mengerjakan tugasnya.
Klik...
"Aman, Nyonya!" bisik Riska. Kedua gadis itu segera menyusuri lorong- lorong dimana kamar-kamar di vila itu dibangun secara berjejer.
"Wooiiii, siapa kalian?!" teriak seseorang dari belakang Inka dan Riska. Riska segera mengambil tindakan dengan berlari ke arah lelaki tadi dan berusaha melumpuhkan lelaki tadi. Riska berhasil membuat lelaki itu pingsan dengan dua kali tendangan dan satu pukulan tepat di ulu hatinya.
Namun lelaki itu sudah sempat memberitahukan keadaan di tempat itu kepada seluruh tim yang berjaga. Inka dan Riska segera bergegas menuju lorong rahasia yang hanya diketahui oleh keluarga Janu saja.
Saat akan menuju tempat itu sepuluh orang penjaga sudah berlari ke arah mereka yang membuat Inka berdecak kesal. Inka dan Riska langsung memasang "kuda-kuda" mereka dan bersiap untuk memberikan perlawanan. Riska sudah meminta Inka mundur dan membiarkan dirinya untuk menghadapi para lelaki itu, tetapi Inka menolak dan berkeras untuk membantu.
"Kamu urus bagian sana, aku bagian sini!" perintah Inka yang langsung mendapatkan anggukan cepat dari staf pribadinya itu.
Inka berdoa dalam hati semoga janin dalam rahimya akan tetap kuat dan bertahan sekali pun ia harus bergerak sangat lincah saat itu.
Mommm, ayo kita lakukan!
__ADS_1
Inka mendapatkan bisikan yang memompa semangatnya dan ia tahu siapa yang telah membisikkan kata-kata itu dalam hatinya.
Let's do it, buddy!
Inka dan Riska menumbangkan kesepuluh penjaga itu hanya dalam waktu singkat. Mereka kembali bergegas menuju ruang rahasia.
****
Sementara itu, Niskala dan Kanigara bergegas melewati lorong panjang menuju pintu ruang rahasia dalam vila keluarga mereka itu.
Mereka bergerak dalam senyap. Mereka sudah mendapat kabar dari Riska bahwa gadis itu dan Inka sudah keluar dari ruangan dimana Inka disekap.
"Sebentar lagi kami sampai, seluruh tim bergerak sekarang!" ujar Niskala memberi perintah melalui "earpiece" yang mereka gunakan.
Seluruh tim yang sudah mengepung lokasi vila itu segera bergerak sesuai dengan instruksi Niskala. Mereka melumpuhkan semua target dalam senyap. Semua penjaga yang berada di sekitar vila berhasil dilumpuhkan.
"Target sudah dilumpuhkan! Roger!" ujar salah satu kapten tim yang bertugas di bagian luar vila.
"Di copy! Tetap di titik masing-masing!"
****
Inka merasa sedikit nyeri di bagian bawah perutnya karena ia banyak melakukan tendangan dan gerakan bela diri saat melumpuhkan lawan mereka tadi. Ia berusaha mengelus perutnya beberapa kali sambil berjalan cepat.
"Wahhh, ternyata Nyonya muda dari keluarga Janu bukan lawan yang bisa dianggap enteng! Untuk ukuran ibu hamil, anda sangat lincah! Saya suka itu! Tetapi acara hiburannya sudah selesai. Sekarang kita mulai permainan yang sebenarnya!" ujar Ucok yang tiba-tiba muncul dan menghadang langkah mereka.
Di sampingnya Leticia sedang menyeringai licik, dan di belakang mereka ada empat orang penjaga. Inka beramsumsi bahwa keempat orang di belakang Ucok bukanlah orang biasa. Ia bisa menilai dari pembawaan mereka.
"Nyonya muda, biar saya yang melawan mereka. Nyonya muda bisa meninggalkan tempat ini!" ujar Riska sembari melindungi Inka dengan membentengi tubuh sang nyonya dengan tubuhnya.
Hal itu membuat Ucok dan Leticia tertawa geli, karena merasa Riska sangat naif dan seolah bisa mengalahkan mereka.
"Saatnya bersenang-senang, Nyonya Inka!"
__ADS_1
****