Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
24


__ADS_3

Kanigara bersikap layaknya suami yang baik bagi Inka selama kunjungan mereka ke kantor cabang Alora Group yang ada di Batam. Kanigara bahkan memberikan kupon makan siang gratis kepada seluruh karyawan yang ada di kantor Inka yang membuat sang istri tersenyum dan mengucapkan terima kasih kepada suaminya itu.


"Ya udah, kami balik ke kantor dulu ya sayang," ujar Kanigara sembari memeluk Inka di hadapan Niskala dan Segara yang berada dalam ruangan kerja Inka. Inka berusaha bersikap biasa karena sepertinya sang suami belum selesai memainkan permainan pamer kemesraan yang membuat Inka kesal.


"Hati-hati, kak" balas Inka sembari mengantar kedua lelaki dari keluarga Kanigara itu ke parkiran dengan ditemani Segara yang berperan sebagai wakil Inka. Niskala seperti biasa selalu melakukan sentuhan fisik berupa ciuman di pucuk kepala, mengelus rambut atau memeluk Inka, tetapi anehnya gadis itu tak keberatan karena sentuhan yang dilakukan oleh Niskala itu sama seperti tindakan kasih yang dilakukan oleh Asher pada dirinya selama ini.


Inka berharap Niskala bisa menjadi kakak kedua bagi dirinya karena entah mengapa Inka merasa, keberadaan Niskala di Batam adalah untuk dirinya. Kanigara hanya diam saat melihat Inka membalas pelukan singkat Niskala. Ia merasa kesal karena tadi saat ia memeluk sang istri, Inka bahkan tak mengangkat tangannya untuk membalas pelukan Kanigara.


Ada apa dengan gadis ini dan Kak Niskala sebenarnya? batin Kanigara yang tiba-tiba merasa kesal. Inka yang melihat perubahan raut wajah Kanigara, menghela nafas panjang dan mendekati lelaki itu lalu berjinjit mencium pipi sang suami yang mempunyai tinggi 182 sentimeter itu. Kanigara terkejut lalu tersenyum sembari kembali memeluk sang istri dengan erat.


Aku engga akan ngebiarin Kak Niskala mendapat kesulitan karena menunjukkan kasih sayangnya kepadaku, batin Inka yang tiba-tiba gemetar kala mengingat kejadian yang terjadi pada salah satu sepupu Kanigara yang sangat dekat dengan dirinya kala itu. Ia mengingat Leticia bercerita bagaimana Kanigara menghancurkan perusahaan milik sang sepupu karena ketahuan mengajak Inka makan siang bersama saat Kanigara berada di luar negeri. Yang membuat Inka stress dan melampiaskan semuanya dengan menghancurkan beberapa barang mewah di kediaman keluarga Janu yang membuat sang suami murka dan mengurungnya di kamar.


"Kamu kenapa, sayang?" tanya Kanigara khawatir. Inka menarik nafas dalam-dalam sebelum akhirnya mendongak dan menatap wajah Kanigara sambil memaksakan diri untuk tersenyum agar sang suami tak mencurigainya.


"Gapapa kak, tiba-tiba ngerasa dingin aja," ujar Inka berbohong. Kanigara langsung melepas jas miliknya dan menutupi tubuh Inka, yang dibalas Inka dengan tersenyum dan mengucapkan terima kasih. Inka mengepalkan tangannya di balik jas Kanigara yang menempel di tubuhnya.


****


Inka segera melemparkan jas Kanigara dengan sembarangan di sofa yang ada di ruangannya. Ia bergidik jijik karena semua sikap manis yang ditunjukkan sang suami selama beberapa hari ini. Ia berusaha mengendalikan emosinya yang tiba-tiba saja meninggi karena kejadian di parkiran tadi.


Ia berjalan mondar-mandir karena tiba-tiba saja rasa panik kembali menghantuinya. Ia menarik nafas dalam-dalam dan coba menghembuskannya. Ia melakukan hal itu selama beberapa kali. Ia tak ingin mengonsumsi obat penenangnya lagi. Tapi rasa panik itu sepertinya tak jua pergi.

__ADS_1


Tiba-tiba ketukan di luar pintu ruangan Inka terdengar.


Aduhh, tidak di saat kondisiku lagi kayak gini, batin Inka yang terlihat semakin panik karena nafasnya mulai tak beraturan. Ia langsung mendekati meja kerjanya dan mengambil obat penenang yang ada di tasnya, tetapi sialnya karena tak jua mendapat jawaban dari Inka, Segara masuk dan melihat kejadian yang terjadi pada Inka.


Karena terkejut mendengar suara Segara, Inka menjatuhkan obat penenang itu, yang menyebabkan semuanya berhamburan di lantai. Inka berjongkok lelah, dan mencoba memunguti obat-obat yang berserakan di lantai dengan tangan gemetar. Segara yang tersadar dari keterkejutannya, akhirnya berlari mendekati Inka dan membantu Inka mengambil obat dan memberikan segelas air langsung ke mulut Inka.


Inka terduduk lemas di lantai sembari memeluk dirinya setelah ia berhasil menelan obat itu dengan susah payah. Segara langsung bergegas memunguti obat penenang Inka, meletakkannya di meja lalu memeluk sahabat kecilnya itu. Inka menangis di pelukan Segara selama beberapa waktu hingga Inka menjadi tenang kembali.


****


"Ceritakan semuanya! Bukannya kata Kak Asher kamu udah cukup lama engga ngonsumsi obat-obat kayak gini lagi," seru Segara yang membuat Inka mendengus kasar.


"Kalo aku bilang belum siap untuk cerita, gimana? Aku bingung ngejelasin semuanya ke kamu. Tapi aku janji akan cerita kalo waktunya udah tepat! Aku gapapa kok," jelas Inka yang membuat Segara kesal. Ia menatap Inka dengan tajam yang membuat Inka sedikit tidak nyaman. Ia tahu Segara membutuhkan jawaban saat itu juga, tapi ia tak ingin menarik semua orang masuk ke dalam masalah dan rencananya.


Segara menghela nafas berat karena ia tahu tatapan balik yang ditujukan oleh Inka itu adalah jawaban buat dirinya. Inka tak akan membuka mulutnya hingga waktu yang tepat menurut sahabatnya itu.


Gianna! aku harus ngorek informasi dari si bawel itu! Walau mulut bebeknya akan mengoceh terlebih dahulu, aku akan bertahan kali ini! Batin Segara karena sejujurnya ia malas berhadapan dengan wanita yang merupakan sahabat kecilnya juga. Segara tak pernah akur dengan Gianna sejak kecil karena menurut Segara tingkah gadis itu sangat menyebalkan dan selalu mampu memancing emosi Segara.


****


Inka menenggelamkan dirinya dengan melakukan serah terima pekerjaan dengan Segara, hingga mereka berdua tak menyadari waktu sudah beranjak malam.

__ADS_1


Suara ketukan di pintu terdengar yang membuat keduanya mengangkat wajahnya dari layar laptop yang ada di hadapan mereka.


"Masuk!" ujar Inka.


"Maaf Bu Inka dan Pak Segara, apa ibu dan bapak tidak makan malam?" tanya Max yang merupakan asisten sementara Segara selama ia berada di Batam. Inka melihat jam di tangannya dan terkejut karena ternyata waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam.


Ia langsung memutuskan untuk menyudahi pekerjaan mereka hari itu dan bersiap untuk pulang. Ia meminta supir kantor mereka untuk mengantarnya pulang. Segara memaklumi permintaan Inka itu karena saat ini seorang Inka sudah menjadi istri Kanigara, jadi ia juga punya tanggung jawab lain di luar pekerjaan.


"Hati-hati, Bu Bos," ujar Segara yang membuat Inka mengangguk sambil tersenyum.


"Sampai jumpa besok, Pak Wakil CEO," balas Inka saat mobil yang ditumpanginya akan melaju.


****


"Pak Imran, mulai besok saya minta tolong untuk antar-jemput saya ya..., makasih!" ujar Inka untuk mengantisipasi kejadian yang terjadi pagi ini.


"Baik siap, Bu Inka. Saya lakukan dengan senang hati." Inka hanya tersenyum dan mengucapkan terima kasih lalu turun dari mobil itu dan melangkah masuk ke kediaman Keluarga Janu dengan berat hati.


"Ternyata kamu masih ingat untuk pulang ya?"


Deg!

__ADS_1


****


__ADS_2