
Setahun berlalu sejak kejadian Inka koma. Setahun sudah Kanigara hanya bisa melihat Inka dari kejauhan. Inka sudah siuman dan bayi mereka pun sudah Inka lahirkan dalam walau ia masih dalam keadaan koma. Tetapi ia sama sekali tak mengingat tentang kehamilannya.
Saat siuman, Inka kehilangan ingatannya. Inka hanya bisa mengingat semua hal kecuali semua hal tentang Kanigara termasuk kehamilannya, sehingga Elisha melarang Kanigara untuk menjenguk putrinya.
Selama setahun, Kanigara hanya bisa menatap Inka dari kejauhan dan menerima kabar tentang Inka melalui Asher. Kanigara hanya bisa menahan semua kerinduannya karena ia tak ingin membuat Inka tersiksa dengan semua ingatan yang kemungkinan akan kembali muncul bila ia bertemu dengan sang istri.
Rhode dan Riskalah yang bertugas menjadi ibu pengganti bagi bayi laki-laki yang Inka lahirkan. Rhode sudah tinggal bersama keluarga Janu karna Rhode sudah resmi menjadi nyonya besar di keluarga itu. Niskala menikahi Rhode enam bulan setelah kejadian yang menimpa Inka.
"Gentala sayang, udah bangun ya!" ujar Rhode saat melihat box bayi yang ada di samping tempat tidurnya bergerak.
Gentala Argani Janu, putra semata wayang dari Kanigara dan Inka. Bayi laki-laki yang berpipi tembem, berkulit putih dan bermata coklat seperti sang ibu.
Rhode meminta Riska untuk memanaskan susu yang sudah mereka beli dari bank susu di rumah sakit. Riska segera melaksanakan perintah sang nyonya. Riska merasa sedih dan merindukan Inka setiap kali ia melihat wajah Gentala.
Wajah bayi itu merupakan perpaduan wajah kedua majikan yang sangat disayanginya itu.
Nyonya muda kedua, cepatlah pulih.... Kami merindukanmu, Tuan Muda kecil pasti membutuhkanmu, seperti halnya Tuan Muda kedua, batin Riska yang terus mendoakan kesembuhan dari nyonya mudanya itu
****
"Mami...," ujar Inka yang merasakan hal yang dirinya merasa aneh dan tidak nyaman.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Elisha yang menatap wajah sedih sang putri.
"Mi, kayaknya Inka sakit. Kenapa p****ara Inka mengeluarkan air walau cuma sedikit. Hal ini udah sering kejadian.... D**a Inka juga sangat sakit dan terasa bengkak Mi. Inka juga terkadang bermimpi tentang seorang bayi yang menangis. Matanya mirip Inka, Mi!" ujar Inka yang membuat Elisha terkejut.
Dalam hati sanubari Elisha, ia memang menginginkan Inka sembuh, karena ia juga merindukan cucunya itu. Ia juga merasa kasihan dengan sang putri dan keluarga kecilnya. Bagaimanapun ia bisa merasakan ketulusan Kanigara terhadap putrinya selama ini.
"Sayang, mungkin itu hanya bunga tidur. Ehmmm, untuk air yang mengalir itu bisa kita periksakan ke dokter. Nanti kakak ipar kamu juga bisa meriksa kamu kan, sayang?" ujar Elisha lembut yang membuat Inka mengangguk.
Gentala!
****
"Halo putri cantik kami, gimana kabar kamu hari ini, Bu Bos?" ujar Gianna yang sudah duduk manis di kantor Inka.
"Kabarku baik, kamu itu ke sini mau jumpai aku, atau mau nyambangin calon suami kamu yang posesif itu?" sindir Inka yang membuat Gianna terkikik.
__ADS_1
Gianna pun menjelaskan alasannya datang, yang membuat Inka menghela nafas panjang.
"Iya Gigi sayang, kamu udah ngomong ribuan kali. Lagian gaunnya udah kamu sediakan juga, gimana mungkin aku engga mau jadi bridemaid kamu! Aneh-aneh aja deh!" ujar Inka karena Gianna terus mengingatkan tugas nya sebagai pagar ayu saat pesta pernikahan Gianna dan Segara yang akan berlangsung dua minggu lagi.
Gianna menatap Inka dengan tatapan sendu. Ia tak menyangka bahwa sudah beberapa bulan Inka masih belum bisa mengingat tentang Kanigara dan Gentala bayi mereka.
Ahhh, cepatlah sembuh sayangku! Mari berbahagia bersama!
****
Pesta pernikahan Gianna dan Segara pun akhirnya tiba. Gianna terlihat sangat cantik yang membuat Inka merasa sangat bahagia. Ia sudah menunggu momen ini selama bertahun-tahun dan ia berbahagia untuk kedua sahabat sejatinya itu.
"Kamu cantik banget! Aku berbahagia buat kalian berdua, sayangku!" ujar Inka sembari memeluk Gianna. Melanie, Rhode dan Inka bertugas sebagai bridemaids dari Gianna.
"Pengantin pria dan groommaidsnya udah nunggu, yuk!" ujar Melanie. Ketiga wanita lainnya mengangguk. Mereka berjalan keluar, menuju ke arah tempat pemberkatan yang berada di sebuah taman hotel mewah di Bali.
Deg.... Deg.... Deg....
Inka tiba-tiba merasa keanehan pada dirinya. Jantung berdetak begitu kencang hingga ia merasa sedikit sesak. Ia berusaha mengendalikan pernafasannya dengan menarik nafas dalam-dalam lalu membuangnya secara perlahan.
Mata Inka bersirobok dengan seorang lelaki yang memandangnya dengan tatapan aneh, seolah mengenal Inka dan tersirat kerinduan yang mendalam terhadap dirinya. Inka mengernyitkan dahinya, jantung wanita semakin bertalu saat menatap wajah lelaki yang luar biasa tampan itu.
"Inka, kamu baik-baik aja, sayang?" tanya Melanie pelan yang membuat Inka mengangguk. Kelima orang lainnya menatap Inka dengan was-was, mereka takut Inka akan pingsan atau semacamnya saat melihat Kanigara.
Namun yang mereka khawatirkan tidak terjadi. Inka terlihat tidak nyaman saat melihat Kanigara, tetapi ia tak bereaksi yang seperti yang mereka takutkan. Elisha, Riska dan Rima menatap mereka dari kejauhan. Ketiga wanita itu merasa khawatir dengan kondisi Inka, tetapi mereka menghela nafas lega karena Inka terlihat cukup tenang.
Elisha menggendont bayi Gentala yang suday sangat ia rindukan beberapa bulan itu. Ia mencium dan memeluk Gentala dengan sayang.
Gentala sayang, ternyata mami Gentala baik-baik aja ketemu papi kamu, batin Elisha. Gentala yang seolah bisa mendengar isi hati sang nenek, tertawa kecil yang membuat Elisha terkejut dan merasa Gentala sangat menggemaskan.
****
Acara pemberkatan berjalan lancar dan mereka pun sudah masuk ke ruang resepsi. Inka merasa penasaran dengan bayi yang gendong sang ibu saat pemberkatan. Ia melihat ke sekeliling untuk mencari bayi tadi. Ia menemukan sang bayi yang berada dalam gendongan lelaki yang bernama Kanigara.
Inka merasa ragu untuk maju dan menemui mereka. Ia menatap mereka berdua dengan lekat. Kepalanya mendadak merasa sakit saat melihat pemandangan itu. Inka memegangi kepalanya.
"Gentala sayang, sini sama mami Rhode!" seru Rhode yang membuat Inka terbelalak karena terkejut.
__ADS_1
Ge..., Gentala? Kenapa nama bayi itu sama dengan bayi yang ada di mimpi aku! batin Inka yang membuat kepalanya terasa semakin sakit.
Mendadak semua terasa gelap.
****
Inka menatap langit-langit ruangan yang berwarna putih. Ia pun bisa memastikan bahwa saat itu ia berada di rumah sakit.
Inka berusaha mengangkat tubuhnya, tiba-tiba tangan seseorang terulur dan membantunya untuk duduk.
"Kamu?" tanya Inka yang terkejut karena melihat Kanigaralah yang sedang membantunya.
Kanigara hanya tersenyum dan menanyakan kabar Inka. Ia juga memanggil dokter untuk memeriksa kondisi Inka. Tak lama seluruh keluarganya masuk. Ia melihat mereka satu per satu, dan matanya berhenti pada bayi yang ada dalm gendongan Riska.
Ia menatap Riska lekat. Ia tersenyum ke arah Riska.
"Kamu apa kabar, Ris?" tanya Inka tiba-tiba yang membuat semua orang di ruangan terkejut. Ternyata Inka juga masih mengingat Riska.
"Saya baik, Nyonya muda. Saya merindukan Nyonya," ujar Riska berurai air mata yang membuat Inka menatapnya sayang. Inka memintanya mendekat.
Saat Riska mendekat, Inka begitu terkejut karena melihat bayi dengan wajah yang persis sama dengan yang ada di mimpinya.
"Gentala...," ujar Inka lirih yang membuat semua orang di ruangan iti terkejut. Inka langsung meminta Gentala, dan Riska meletakkan bayi Gentala di pangkuan sang ibu.
Tatapan Inka dan Gentala beradu. Inka seolah melihat matanya pada mata lelaki mungil itu. Kanigara yang tak bisa melihat adegan itu, langsung berdiri dan mengarahkan tubuhnya ke arah jendela. Ia tak sanggup melihat pemandangan itu. Ia berusaha menahan diri untuk tidak memeluk kedua orang yang paling dicintainya itu karena takut kondisi Inka buruk lagi. Mata Kanigara berkabut karena melihat tatapan sayang Inka kepada putra mereka.
Niskala menepuk bahu sang adik untuk menguatkan lelaki itu.
Tawa gentala terdengar saat Inka mengelus perutnya.
Mami kita berhasil!
Sebuah suara menggema dalam benak Inka yang membuat ia terkejut. Ia segera memeluk Gentala yang membuat seisi ruangan itu menangis.
"Kanigara sayang, kemarilah. Aku merindukanmu!"
...ΩΩΩΩΩΩΩΩ F I N ΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1