
Kanigara berusaha menjaga kesadarannya tetapi obat p***ngsang yang digunakan oleh Leticia adalah obat dengan dosis tinggi. Leticia mulai membelai wajah Kanigara lagi, dan mulai membuka kancing bajunya satu per satu dengan perlahan untuk memberi daya pikat yang lebih kepada Kanigara yang sedang menatapnya dengan intens.
Saat ia mulai melancarkan aksinya lebih lanjut, tiba-tiba pintu ruangan kerja itu terbuka dan menampakkan wajah murka Niskala. Niskala langsung menampar wajah Leticia dengan keras hingga gadis itu jatuh tersungkur. Kanigara menggeliat kesakitan karena reaksi obat yang sudah dicampur ke dalam teh yang diminumnya.
Leticia gemetar ketakutan saat melihat tatapan membunuh yang diarahkan Niskala kepada gadis itu.
"BERANINYA KAU, J*LANG!!! PAK GUGUN!!!" Suara Niskala menggelegar yang membuat Inka mendengar teriakan sang kakak ipar dari kamarnya. Ia segera menyuruh Rima untuk melihat apa yang terjadi.
Rima segera melaporkan apa yang dilihatnya yang membuat Inka meminta Rima mengantarkan dirinya dengan kursi roda ke tempat dimana Niskala berada. Inka menatap nanar kondisi sang suami yang sepertinya menahan sakit yang teramat sangat.
Kanigara yang melihat kedatangan Inka, langsung berlari ke arah sang istri dan memeluk gadis itu. Inka terkejut tapi ia mengetahui dengan pasti apa yang terjadi.
"Siapkan air dingin di bathtube dengan segera Rima!" bisik Inka yang membuat Rima langsung bergegas melakukan perintah dari nyonya itu. Kanigara mengelus wajah Inka, lalu menciumi leher, pipi bahkan bibirnya. Inka membiarkan adegan itu terjadi dan menjadi tontonan bagi siapa pun yang berada di situ, sambil tersenyum sinis kepada Leticia yang menatapnya penuh kebencian.
"KELUARKAN, PEREMPUAN J*LANG INI SEKARANG!!!" seru Niskala yang membuat Inka menahan Pak Gugun. Niskala menatap Inka dengan tatapan bertanya yang membuat Inka tersenyum.
"Murni!!!!" seru Inka yang membuat staf pribadi Leticia itu berjalan terpogoh-pogoh ke arah Inka.
"Riska, Murni, berikan teh itu kepada Leticia tersayang, lalu keluarkan ia dari kediaman ini!" ujar Inka dengan datar yang membuat Leticia gemetaran. Riska langsung mengunci tubuh Leticia yang berusaha memberontak dan Murni meminumkan teh itu langsung ke mulut Leticia yang membuat gadis itu terbatuk-batuk.
"Riska, Murni, lemparkan dia keluar!" ujar Inka yang mulai kesulitan karena serangan Kanigara.
"Betewe, terima kasih buat obatnya. Kami akan menikmati malam ini dengan penuh kebahagiaan, Leticia sayang," ujar Inka yang menatap Leticia dengan dingin, lalu mencium sang suami dengan mesra yang membuat Leticia meraung.
Setelah kepergian Leticia, Pak Gugun dan Niskala segera membawa Kanigara ke kamarnya dan merendam suami Inka itu di air dingin yang sudah disiapkan oleh Rima sebelumnya.
"Kak, makasih karena udah nyelamatin Kanigara...," ujar Inka penuh kelegaan yang membuat Niskala memeluk adik iparnya itu dengan sayang.
__ADS_1
"Sama-sama, makasih juga karena kamu udah menceritakan kekhawatiran kamu tentang niat di balik ajakan Leticia malam ini," ujar Niskala sembari mengacak rambut gadis itu pelan. Niskala dan Pak Gugun menunggu di kamar mandi hingga kondisi Kanigara kembali normal.
Tak lama, Riska dan Murni kembali ke kamar Inka, untuk melaporkan bahwa perintah Inka sudah mereka laksanakan.
"Riska, Murni, makasih buat bantuannya. Murni makasih karena udah bertahan dan cukup menderita di samping Leticia selama beberapa minggu ini. Aku sangat menghargai bantuan kalian!" ujar Inka yang membuat kedua wanita yang ada di hadapannya itu tersenyum malu.
Mereka keluar dari ruangan itu setelah Niskala menyuruh para staf itu keluar. Niskala dan Pak Gugun membantu Kanigara untuk bertukar pakaian, lalu membaringkannya di ranjang. Niskala menyuruh Pak Gugun untuk keluar dari kamar itu, kemudian ia mengangkat Inka yang sejak tadi duduk di sofa untuk berbaring di samping Kanigara yang terlihat lemas.
"Makasih kak," ujar Inka dan Kanigara bersamaan. Niskala hanya tersenyum dan mengangguk. Setelah mencium kening adik iparnya, Niskala keluar dari kamar Kanigara agar memberikan waktu kepada kedua orang keluarganya itu untuk beristirahat.
****
"Bos, target diusir dari kediaman keluarga Janu. Target bertingkah aneh, bos! Sama seperti waktu itu!" ujar seseorang dari seberang panggilan yang membuat orang yang mendapatkan panggilan itu tertawa puas.
"Kirimkan dia ke b*jingan itu! Pasangan yang cocok untuk seorang j*lang adalah b*jingan busuk!" ujar seseorang yang dipanggil "bos" itu.
Done
Pesan singkat bawahannya membuat atasannya itu tersenyum puas.
Selamat menikmati malam panasmu lagi, Leticia sayang! Tapi ini belum cukup! Tunggu pembalasanku selanjutnya! batin seseorang yang sedang berdiri di dek kapal pesiar yang ditumpanginya, sembari menyesap segelas wine dan memandang ke kejauhan malam.
****
Sementara itu, bawahan Bimantara membawa seseorang ke hadapan sang atasan, yang membuat lelaki itu tertawa puas.
"Well, apa yang terjadi denganmu, sayang?" ujar Bimantara sembari melepaskan ikatan yang ada di tangan dan kaki Leticia. Ia juga membuka penutup mata gadis itu.
__ADS_1
Edward menemukan Leticia dalam posisi terikat tepat di depan kediaman Bimantara saat akan keluar dari kediaman itu. Ia segera membawa Leticia ke hadapan sang atasan, lalu pamit untuk mengecek CCTV untuk memastikan hal yang terjadi. Namun ia mendapati bahwa CCTV di kediaman itu rusak.
Edward merasa curiga bahwa ada yang memata-matai atasannya itu dan mengetahui perihal yang terjadi antara Bimantara dan Leticia.
****
Malam panas kembali terjadi di antara Leticia dan Bimantara yang membuat lelaki itu merasa bahagia. Ia kembali bisa mencicipi surga duniawi bersama wanita yang sudah mencuri perhatiannya itu.
Semakin ia bersama Leticia, semakin ia menginginkan lebih bahkan mengurungkan niatnya untuk mendekati Inka lagi. Bimantara terus memeluk Leticia semalaman setelah ke***matan yang mereka capai selama beberapa kali.
Leticia terkejut bukan main saat membuka matanya dan melihat wajah lelaki yang sangat dibenci dan dihindarinya berada sangat dekat dengan wajahnya. Ia langsung mendorong tubuh Bimantara dan menendangnya hingga lelaki itu jatuh dari ranjang.
"Masih pagi udah semangat lagi sayangku," ujar Bimantara sembari bangkit tanpa menutupi tubuh polosnya.
Leticia melontarkan sumpah serapah sambil mencakari tubuhnya dan meraung histeris yang membuat Bimantara langsung menangkap tangan Leticia agar gadis itu tidak menyakiti dirinya sendiri. Bimantara merasakan sedikit perasaan bersalah karena memperlakukan Leticia dengan tidak hormat.
Namun itu hanya sesaat, karena malam yang dihabiskannya dengan Leticia adalah malam terbaik bagi Bimantara dan ia juga beranggapan bahwa semua sentuhannya adalah untuk membantu Lsticia melepaskan diri dari pengaruh obat p***ngsang yang diminumnya.
****
Di tempat lain, Inka sedang berbaring sambil memandangi wajah tenang Kanigara yang sedang tertidur. Inka masih mengingat jelas semua sentuhan yang dilakukan oleh sang suami di ruang kerja Kanigara tadi, dan hal itu membuatnya tersipu.
Ia mengelus hidung dan bibir sang suami dengan pelan, agar tak membangunkan sang suami. Namun tindakan gadis itu terhenti karena tatapannya bersirobok dengan Kanigara yang membuka matanya secara tiba-tiba.
"Sedang menikmati keindahan, emmm...?!"
Deg....
__ADS_1
****