
"Sebarkan informasi bahwa aku hamil," ujar Inka pada seseorang yang berada di seberang panggilan.
"Baik, Bu Inka, siap dilaksanakan," balas orang tersebut yang membuat Inka tersenyum simpul. Inka sudah tidak sabar melihat reaksi dari para musuhnya bila mendengar kabar yang sengaja ia sebarkan itu. Ia sudah bisa memprediksi sikap yang akan diambil oleh para musuhnya itu, tetapi rencana Inka ini bukanlah rencana tanpa pemikiran yang matang sebelumnya. Kabar kehamilan Leticia memberikan Inka suatu ide untuk membuat rencana pembalasan dendamnya terasa lebih dramatis.
Tak lama, Gianna datang dengan membawakan beberapa barang yang diminta oleh Inka.
"Ini semua buat apaan sih, Nak?" tanya Gianna saat melihat wajah sumringah dari Inka yang sedang duduk di hadapannya di ruang pribadi Inka.
"Kok pake nanya sih, Mak?! Kan kamu tau untuk apa semuanya ini," balas Inka sambil tertawa kecil untuk menggoda sahabatnya itu yang membuat Gianna memutar matanya karena kesal.
"Kiirimkan ini ke orang suruhan Kenneth itu, konfirmasi untuk menaikkan dosisnya sebanyak setengah ampul! Udah saatnya bermain di atas kecongkakan manusia yang selama ini sudah membuat aku dan keluargaku menderita!" desis Inka yang membuat bulu kuduk Gianna meremang. Ia tak pernah melihat sorot mata Inka seperti yang baru saja ia tunjukkan. Ia tahu bahwa kali ini, Inka akan melancarkan serangan yang sebenarnya kepada pihak lawan mereka.
****
Keesokan harinya, Inka sudah bersiap untuk kembali ke kantor setelah beberapa hari ia beristirahat di kediaman mereka. Saat itu, Inka, Kanigara dan Niskala sedang duduk bertiga di ruang makan sambil mengobrol sebelum mereka berangkat ke kantor.
__ADS_1
"Udah ngerasa cukup sehat buat kembali ke kantor, adik kecil?" tanya Niskala yang langsung mendapatkan jawaban berupa anggukan mantap dari Inka. Hal itu membuat Niskala tertawa kecil dan menepuk puncak kepala Inka dengan sayang, yang membuat Kanigara memelototi sang kakak. Niskala yang melihat tatapan tak biasa dari Kanigara itu, hanya tersenyum geli untuk memanas-manasi adiknya itu.
Inka yang juga melihat reaksi dari sang suami itu, langsung tersenyum simpul dan menggenggam hangat tangan Kanigara yang membuat tatapan sang suami ke arah Niskala melunak. Inka hanya bisa menghela nafas pelan dan berjanji dalam hati untuk mengingatkan Niskala agar tak selalu menggoda Kanigara.
Pagi itu, Inka diantar oleh Kanigara ke kantor karena ia ingin menemani sang istri. Entah mengapa akhir-akhir ini Kanigara selalu ingin berada di dekat istrinya itu. Ia merasa khawatir bila tidak melihat Inka berada di sekitarnya. Perasaan cemas dan takut kehilangan Inka seolah menguasai pikirannya, apalagi kejadian "mati suri" yang dialami Inka sebelumnya merupakan pukulan keras bagi Kanigara. Momen itu juga yang menyadarkan dirinya bahwa ia sudah mencintai sang istri sejak lama tanpa ia sadari, atau egonya terlalu enggan mengakui kenyataan itu.
****
"Apa!!! P**acur itu hamil?! Hamil?! Hamil?! Kamu bilang perempuan m*rahan itu hamil! TIDAK MUNGKIN! Hahaha! ITU TIDAK MUNGKIN!" teriak Leticia histeris sambil menjambaki rambutnya seperti seseorang yang sudah kehilangan kesadaran.
Informan Leticia yang merupakan kaki tangan yang selama ini selalu mengirimkan berita tentang semua hal yang terjadi di kediamaan keluarga Janu, merasa takut karena tingkah laku aneh yang diperlihatkan Leticia kepadanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bimantara saat melihat kamar yang mereka tempati sudah hancur terkena amukan dari sang istri. Bimantara hanya bisa menghela nafas panjang melihat kelakuan dari Leticia yang semakin aneh setiap harinya. Ia kadang melihat Leticia berbicara sendiri entah pada siapa, ia juga pernah melihat amukan Leticia yang tak terkendali. Leticia bisa mengamuk hanya karena hal kecil yang mengusik dirinya.
BImantara juga masih merasa Leticia terobsesi pada kehidupan Inka dan Kanigara, karena di beberapa kesempatan Leticia terus meminta anak buahnya untuk mengawasi Inka dan semua orang yang berhubungan dengan istri Kanigara itu. Bimantara sama sekali tak keberatan dengan hal itu, karena ia juga mendapat keuntungan dari perintah yang dikeluarkan oleh Leticia itu.
__ADS_1
"Kamu tau sayang, p**acur itu hamil anak Kanigara! DIA HAMIL!" seru Leticia sembari menatap nanar ke arah Bimantara. Perkataan sang istri membuat Bimantara terkejut, tetapi ia segera tersadar saat mendengar suara Leticia menghancurkan barang-barang di kamar mereka kembali terdengar. Bimantara segera menangkap tangan Leticia dan memeluk gadis itu. Bimantara mencoba menenangkan Leticia yang sepertinya masih ingin melampiaskan kekesalan hatinya. Namun hari itu, Leticia sepertinya lepas kendali bahkan ia sempat menggigit tangan Bimantara yang memeluknya dari belakangan.
"Lepasin aku b**ngsat!" seru Leticia yang tiba-tiba seolah tidak mengenal Bimantara. Bimantara menatap Leticia dengan tatapan aneh. Ia segera mengambil sesuatu di meja kerjanya dan langsung menangkap tangan sang istri. Leticia sempat merontak, tetapi tenaganya tak cukup kuat untuk mengimbangi cengkeraman Bimantara di kedua lengannya. Bimantara memborgol tangan Leticia di kedua tiang penyangga ranjang mereka.
Hal itu membuat Leticia menatap Bimantara dengan murka, sembari mengeluarkan sumpah serapah yang membuat Bimantara kesal dan menampar pipi Leticia dengan keras. Namun hal itu tidak membuahkan hasil sesuai yang diinginkan oleh Bimantara karena Leticia tetap saja mengumpat dan memaki-maki dirinya, hingga akhirnya Bimantara memilih pergi setelah selesai memborgol kaki dan tangan Leticia agar istrinya itu tak lagi bisa bergerak dengan leluasa.
"B**NGSAT, LEPASIN AKU!" Teriakan Leticia menggema setelah kepergian Bimantara. Leticia terus meracau hingga ia merasa lelah dan tertidur karena keletihan yang ia alami. Bimantara meminta anak buahnya untuk menyelidiki kebenaran dari informasi yang diberikan oleh Leticia tadi. Ia juga meminta anak buahnya untuk memanggil dokter keluarga mereka untuk datang.
Sekitar setengah jam kemudian, dokter Ringga yang merupakan dokter keluarga Bimantara datang dan memeriksa kondisi Leticia yang masih diborgol oleh Bimantara karena lelaki itu takut Leticia belum selesai dengan amukannya dan mencederai salah satu orang di kediaman mereka.
Dokter Ringga sama sekali tak terlihat terkejut dengan penampakan yang ia lihat di kamar Bimantara, karena sejak awal sebelum ia menerima tawaran Bimantara untuk menjadi dokter keluarganya, Bimantara sudah menjelaskan secara rinci segala kemungkinan yang terjadi atau penampakan yang pasti, suatu saat akan dilihat oleh dokter paruh baya itu. Ia sama sekali tak keberatan dengan pekerjaan itu karena gaji yang ditawarkan sangat tinggi dan ia hanya melakukan tugasnya sebagai dokter tidak lebih dari itu, sesuai perjanjian mereka di awal.
Dokter Ringga menatap Bimantara dan menimbang sesuatu sebelum akhirnya mengutarakannya kepada pemilik kediaman Yoga itu.
"Bu Leticia, seperti mengalami anemia akut. Hal itu menyebabkan wajah dan kulitnya terlihat pucat. Dan ada gejala psikis yang terdeteksi dari perilaku Bu Leticia yang menurut pemandangan saya bukan hal yang wajar. Saya akan merekomendasikan seorang pskiater yang bagus dan saya harap Bu Leticia bisa dirawat di rumah sakit untuk pemeriksaan yang lebih intens," jelas Dokter Ringga dengan bahasa yang cukup berhati-hati karena ia tak ingin menyinggung perasaan Bimantara.
__ADS_1
"Apa menurut dokter, istri saya sakit jiwa?" tanya Bimantara tanpa basa-basi.
****