Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
29


__ADS_3

Inka terharu mendengar perkataan sang sahabat yang membuat gadis itu menangis sambil mengulurkan tangannya ke arah Segara.


"Baiklah Tuan Segara Saki yang terhormat, jadilah sekutu abadiku!" Perkataan Inka itu membuat mereka tertawa dan berpelukan untuk saling menguatkan. Inka menuliskan sesuatu di kertas yang membuat Segara mengerutkan dahinya, lalu mengangguk.


Mereka bekerja seperti biasa, tapi mereka bekerja lebih senyap dari biasanya. Pada saat jam makan siang, Segara mengajak Inka untuk makan siang di luar kantor.


"Jelaskan sama aku maksud tulisan kamu tadi! Aku ngerasa kayak balik ke masa kita SMA tau engga. Nulis di kertas biar engga ketauan sama guru kita lagi bergosip..., hahaha!" ujar Segara yang membuat Inka tertawa. Inka pun menceritakan perihal foto mereka berdua saat di dalam kantor yang dikirimkan kepada Kanigara untuk menyulut kemarahan suami Inka itu.


Segara terkejut mendengar penuturan dari Inka. Ia menanyakan reaksi Kanigara saat mendapatkan foto-foto itu.


"Aku pikir dia bakalan ngamuk, tapi dia cuma peringatin aku biar lebih jaga sikap aja sih. Menurut Kanigara itu salah satu ulah pesaing bisnis mereka. Tapi menurut aku beda. Ehmm, pak sekutu, kamu tau tugas kamu kan?" tanya Inka sembari memainkan kedua alisnya, yang membuat Segara memutar kedua bola matanya lalu tertawa.


"Siap, bu bos! Laksanakan!"


****


"Mami, papi, Kak Asher!" seru Inka saat melihat ketiga orang terkasihnya itu sedang duduk manis di ruang makan, saat Inka baru pulang dari kantor.


"Sayangku...," seru Elisha memeluk putri kesayangannya itu. Inka membalas pelukan sang ibu dengan erat untuk menyalurkan rasa rindunya. Ia juga berpelukan dengan Oliver dan Asher.


"Suka dengan kejutannya, adik kecil?" tanya Asher yang membuat Inka mengangguk cepat dalam pelukan sang kakak.


"Kenapa engga ngabarin kalo kalian ke sini, Mi? Aku kan bisa pulang lebih cepat!" ujar Inka sedikit kesal. Elisha hanya tertawa sambil mengelus pipi sang putri.


"Surprise, sayang..., Lagian kami tau kalian pasti sibuk. Apalagi kamu yang sedang serah terima tugas bareng Segara," jelas Elisha yang membuat Inka kembali memeluk sang ibu.


"Mami, papi, bro?" ujar Kanigara terkejut saat melihat mertua dan kakak iparnya berada di kediaman mereka. Ia segera memeluk ketiga orang dari keluarga Alora itu.

__ADS_1


"Kamu kok engga bilang kalo Papi, Mami mau ke sini, Yang?" tanya Kanigara sembari mengelus rambut Inka.


"Aku juga baru tau, Kak!"


"Kejutan, Nak Kani...," ujar Oliver.


Inka dan Kanigara pamit undur diri untuk membersihkan diri, lalu bergabung kembali dengan Oliver dan keluarga mereka. Mereka berlima mengobrol santai, sembari bersantap malam bersama. Tak lama Niskala muncul dengam wajah sedikit pucat, yang menyebabkan Inka menanyakan keadaannya.


"Kak Niska, sakit? Kok mukanya pucat?" tanya Inka khawatir yang membuat Niskala tersenyum. Niskala menyapa keluarga Alora sebelum menjawab pertanyaan dari adik iparnya itu.


"Kakak gapapa, cuma pusing dikit. Lagi banyak kerjaan!"


Elisha menyuruh Inka untuk menghubungi dokter keluarga Janu untuk memeriksa Niskala. Awalnya Niskala menolak tapi Elisha berkeras. Niskala mengalah saat melihat aura keibuan Elisha keluar, yang menyebabkan dirinya merindukan kehadiran ibu mereka selama sesaat.


****


Tak lama Melanie datang dan memeriksa keadaan Niskala.


"Kalo kamu berpikir mau menjodohkan mereka, jawabannya enyahkan pikiran kamu itu!" bisik Kanigara seolah bisa membaca pikiran sang istri yang membuat Inka memandang suaminya dengan tatapan bertanya. Kanigara hanya menyeringai tanpa menjawab bahasa tubuh sang istri, yang membuat Inka mencebik kesal.


Melanie sempat berkenalan dengan keluarga Alora.


"Kamu?" seru Melanie dan Asher bersamaan yang membuat Inka dan Kanigara menoleh ke arah kedua insan yang sedang bersalaman itu. Melanie dan Asher langsung melepaskan genggaman tangan mereka, dan saling melemparkan tatapan sengit yang membuat Inka mengerutkan dahinya.


Melanie langsung pamit dan meninggalkan kediaman Segara secepat yang ia bisa. Inka bahkan tak sempat menawari Melanie untuk minum teh terlebih dahulu. Inka memicingkan matanya meminta penjelasan sang kakak, karena sudah menyebabkan dokter cantik itu pulang dengan wajah yang sedikit ditekuk.


"Apa, dek?" tanya Asher dengan wajah datarnya seolah tak ada yang terjadi tadi. Inka tetap memandang sang kakak dengan tatapan teguh yang membuat Kanigara merasa geli dengan interaksi dari kedua kakak beradik itu.

__ADS_1


"Melanie itu mantannya Asher, sayang!" ujar Kanigara santai yang membuat Asher memelototi adik ipar sekaligus sahabat dekatnya itu.


"Lemes amat tuh bibir, bro?!" tegur Asher kesal yang membuat Kanigara menyeringai. Inka tak percaya saat mendengar perkataan sang suami. Asher menghela nafas kemudian menceritakan kisah cinta masa SMA-nya bersama Melanie.


Alurnya berubah lagi, pikir Inka karena sebelumnya baik dirinya maupun Asher sama sekali tak mengenal Melanie. Bahkan tak pernah ada karakter bernama Melanie dalam kehidupan pertamanya.


****


Orang tua Inka dan Asher sudah beristirahat di kamar yang disediakan. Inka dan Kanigara saat itu sedang duduk berdua di kamar Kanigara. Inka terpaksa pindah ke kamar Kanigara sementara waktu, selama keluarganya berada di kediaman keluarga Janu. Inka hanya tak ingin keluarganya sedih, karena mengetahui bahwa dirinya dan Kanigara tidur di kamar yang berbeda.


Suasana canggung terjadi di dalam ruangan itu. Tak ada yang membuka pembicaraan. Mereka hanya duduk bersisian di atas ranjang dan sibuk dengan pikiran mereka masing-masing. Kanigara melirik ke arah Inka yang terlihat sedang membaca sebuah buku di tangannya.


"Ekhemmm, novel?" tanya Kanigara sembari menunjuk ke arah buku yang ada di tangan sang istri. Inka menoleh ke arah Kanigara sembari mengangguk. Sedari tadi sebenarnya Inka sama sekali tak membaca satu kata pun dari novel yang ada di pangkuannya itu. Pikirannya melalang buana dan merasa sedikit tidak nyaman dengan situasi yang terjadi pada mereka malam itu.


Kilasan masa lalu dimana Kanigara selalu tidur sambil memunggungi dirinya membuat ia meremas selimut yang menutupi setengah bagian tubuhnya. Rasa tertolak itu kembali menghantui diri Inka, yang membuat gadis itu bernafas dengan berat.


"Kamu kenapa?" tanya Kanigara yang mendengar helaan nafas Inka yang tak biasa. Inka hanya menggelengkan kepalanya dan turun dari ranjang. Ia membuka pintu balkon dan segera berjalan keluar. Ia menghirup udara malam yang dingin malam itu sebanyak yang ia bisa, dan menghembuskannya dengan pelan.


Exhale, inhale, Inka! batinnya sambil mengelus dadanya yang terasa sesak. Tiba-tiba sebuah sweater tersampir menyelimuti punggung dan bahu Inka yang membuat gadis itu menoleh.


"Kamu kenapa?" tanya Kanigara untuk kedua kalinya. Inka menghela nafas panjang sebelum akhirnya menjawab pertanyaan suaminya itu.


"Cuma keingat kejadian kemarin kak, jadi serangan paniknya kambuh. Tapi udah gapapa kok," ujar Inka berbohong. Kanigara hanya diam sembari menatap ke arah sang istri seolah sedang menimbang sesuatu. Inka kembali menatap ke kejauhan karena tak ingin menatap wajah Kanigara lebih lama lagi.


"Ekhemm, boleh aku nanya sesuatu?" tanya Kanigara pelan yang dijawab Inka dengan anggukan tanpa menatap ke arah suaminya itu.


"Kenapa kamu bisa punya borgol?"

__ADS_1


Deg!!!


****


__ADS_2