
Kanigara dan keluarga Alora menjadi sangat overprotektif setelah mengetahui kehamilan Inka. Inka tak lagi diijinkan bekerja ke kantor. Kanigara malah menyarankan Inka agar kembali menggeluti hobinya yaitu melukis, untuk membuang rasa bosannya saat berada di rumah saja.
Kanigara juga memutuskan untuk bekerja dari Jakarta selama kehamilan sang istri, setelah mendapat persetujuan dari Niskala. Niskala juga mengucapkan selamat kepada Inka dan Kanigara, ia merasa bahagia karena sebentar lagi ia akan menjadi seorang paman, walau sebenarnya ada terselip rasa khawatir akan keselamatan Inka.
Kehamilan Inka bisa digunakan untuk menyerang keluarga Janu dan Alora karena calon pewaris, tampuk kekuasaan keluarga Janu sedang bertumbuh di rahim Inka. Ia tahu bila sampai sesuatu terjadi dengan Inka dan calon bayinya, maka Kanigara tak ada bisa bertahan.
"Perketat keamanan di kediaman keluarga Alora, pastikan semua makanan dan minuman di kediaman itu aman dan pastikan juga tak ada penyusup di sekitar mereka, terutama Nyonya Inka," ujar Niskala saat menghubungi penjaga yang selama ini selalu mengawasi Inka dan keluarganya dalam senyap.
"Siap laksanakan, Tuan Besar!"
****
Suara ketukan terdengar di salah satu ruangan yang ada di kediaman keluarga Janu.
"Masuk," ujar seorang gadis yang berada dalam ruangan itu.
"Kamu," ujar gadis itu saat melihat penampakan sosok yang sangat ia rindukan selama beberapa minggu ini. Gadis itu langsung melemparkan dirinya ke pelukan lelaki itu.
"Gimana kabar dokter cantik hari ini?" ujar sang lelaki yang membuat gadis itu tertawa kecil. Lelaki itu membalas pelukan gadis itu dengan erat.
"Aku baik, Ash. Kalian gimana? Kamu kok bisa ke sini? Aku dengar Inka hamil ya?! Selamat ya bentar lagi kamu bakalan jadi paman," ujar Melanie sembari menatap wajah tampan tunangannya itu.
"Makasih, kami baik. Aku mau lihat keadaan kamu, makanya aku terbang ke Batam. Besok pagi aku udah balik lagi ie Jakarta. Kamu belum jawab pertanyaanku, kabar kamu gimana?" tanya Asher yang membuat Melanie tersenyum.
__ADS_1
Ia tak menjawab pertanyaan Asher. Ia malah mempererat pelukannya di tubuh sang tunangan, seolah ia takut kehilangan lelaki itu. Asher menghela nafas pelan dan membelai rambut panjang Melanie dengan sayang.
Asher mengajak Melanie berkencan kilat hari itu. Ia mengajak Melanie makan siang bersama dan menikmati lembayung senja di tepi pantai.
"Ehmmm, Melanie..., sebenarnya aku pengen ngebahas sesuatu sama kamu. Aku rasa kalo lewat telepon kurang etis, makanya aku kemari." Perkataan Asher itu membuat Melanie merasakan firasat buruk. Ia tak siap mendengar perkataan Asher selanjutnya, tetapi ia menahan diri. Ia sama sekali tak merespon perkataan Asher. Ia terlalu takut bahwa firasatnya benar.
"Ehmm, aku minta maaf karena kami, nyawa kamu beberapa kali jadi terancam. Kehidupan kamu pun engga lagi aman dan tenang. Ehmmm, akan lebih baik kalo kamu menjauh dari kami. Aku akan mindahin kamu ke rumah sakit di luar negeri dimana kehidupan kamu bisa kembali seperti semula." Asher menghela nafas berat. Ia tak mampu melihat ke arah Melanie, untuk melihat reaksi dari tunangannya itu.
Melanie memegang dadanya yang terasa nyeri karena ia tahu kemana arah pembicaraan dari Asher. Ia menunduk sembari mengepalkan tangannya. Ia mendengus kasar dan menoleh ke arah Asher yang sedang menatap ke kejauhan.
"Intinya kamu mau pertunangan kita dibatalkan, begitu?" tanya Melanie yang merasa mulai kesal kepada Asher yang sudah seenaknya memutuskan semuanya sendiri tanpa bertanya terlebih dahulu dan mempertimbangkan perasaannya.
"Iya!" jawab Asher singkat yang membuat Melanie menggeretakkan giginya.
Sebuah tamparan dilayangkan Melanie kepada Asher, yang membuat lelaki itu terkejut selama sesaat. Namun, ia tahu Melanie berhak marah dan melakukan tindakan seperti itu kepadanya.
"Kamu pikir kamu siapa?! Tanpa ngomong apapun, kamu mutusin semuanya seolah hal itu adalah yang terbaik buat kehidupan aku! Aku bukan anak kecil, Asher Alora! Aku tau dengan sangat baik apa yang menjadi kebahagiaanku! Kalo kamu mau mutusin pertunangan kita, silakan! Tapi aku engga akan ngikutin kemauan kamu! PAHAM!" seru Melanie penuh emosi. Air mata sudah menggenang di pelupuk matanya karena luka yang terasa menyayat di hatinya.
"Kalo bukan kamu, maka aku akan hidup selibat selamanya," ujar Melanie lirih tetapi masih terdengar oleh Asher. Melanie tak lagi mengatakan apapun. Ia memilih melangkah pergi dari tempat itu karena tak sanggup lagi mendengar perkataan Asher.
Ia tahu bila ia mendengar penolakan Asher sekali lagi, maka dunianya akan runtuh seketika itu juga. Ia bersedia melewati bahaya bila Asher bersamanya. Hanya Asher, lelaki yang ia cintai dan yang berhak memiliki hati dan tubuhnya. Namun ternyata sekali lagi, lelaki itu melepasnya tanpa memberi kesempatan bagi Melanie untuk memantapkan dirinya menjadi bagian dari keluarga Alora.
****
__ADS_1
Asher mengantar Melanie kembali ke kediaman keluarga Janu. Hanya ada keheningan di dalam mobil yang mereka kendarai. Tak ada satupun dari mereka yang membuka suara, Melanie memilih melayangkan pandangannya ke luar jendela.
Asher pun hanya fokus mengemudikan mobilnya. Dalam hati, Melanie masih berharap Asher akan berubah pikiran. Namun, ia tahu bila Asher sudah memutuskan sesuatu, akan sulit untuk merubahnya.
Mereka telah sampai di kediaman keluarga Janu. Saat Melanie hendak membuka pintu mobil, tangan Asher menahannya.
"Mel, aku mohon kamu mau nerima tawaran aku. Ini semua demi keselamatan kamu! Cukup buat aku ngeliat kamu keserempet bahaya karena aku! Aku engga akan bisa memaafkan diri aku, kalo sampe kamu kenapa-napa!" ujar Asher yang terlihat frustasi karena Melanie sepertinya sama sekali tak mau memahami niat baiknya.
"Kalo kamu takut aku kenapa-napa, buat aku terus ada di sisi kamu, Ash. Bukan malah nyuruh aku jauhin kamu!" ujar Melanie sambil terisak. Ia memukuli dada Asher yang berusaha memeluk gadis itu, untuk menenangkannya.
"Kamu jahat, Ash! Bertahun-tahun aku nunggu kamu bisa nerima aku lagi! Selangkah lagi aku bisa jadi bagian dari hidup kamu, tapi kamu malah nyuruh aku pergi! Tega kamu, Ash!" Asher tertegun mendengar perkataan dari Melanie. Hatinya merasa terhenyak karena mendengar perkataan dari tunangannya itu.
Tak ada lagi kata-kata yang terucap dari bibir kedua insan itu. Hanya terdengar suara isak tangis yang lirih dari Melanie. Asher tetap memeluk Melanie, hingga gadis itu tenang.
Tangis Melanie pun reda, ia meminta Asher melepaskan pelukannya. Ia menegakkan punggungnya dan menatap lurus ke arah netra Asher. Asher tahu dengan pasti sikap yang akan diambil oleh gadis yang sudah dikenalnya sejak remaja itu.
"Ba...," ujar Melanie yang terputus karena Asher langsung bergerak dan mencium bibir Melanie yang membuat gadis itu membeku. Ia tak tahu harus berbuat apa, ia terlalu terkejut dengan tindakan Asher.
Tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang dimasukkan Asher ke jarinya. Melanie mengangkat tangannya dan melihat sebuah cincin berlian yang sangat indah melingkar cantik di jari manis tangan kanannya.
"Maaf udah buat kamu nangis, sayangku! Dua minggu lagi kita nikah, dan kamu harus pindah ke Jakarta untuk tinggal bareng aku! Mutasi kamu ke Jakarta juga udah aku urus!" ujar Asher sembari mengecup kening Melanie dengan lembut.
"Asher!!!"
__ADS_1
****