
"Wahh, pengantin baru rasa lama..... Kita honey moon sekali aja belum, ini pasangan malah mau honey moon kedua. Nyesek tau engga, nak!" gerutu Gianna sambil memanyunkan bibirnya saat mengunjungi kediaman keluarga Janu, keesokan harinya.
Inka hanya tertawa dan mengatakan bahwa Kanigaralah yang mengajak dirinya. Ia tak menyangka hanya sehari sejak kejadian manis yang terjadi di antara sepasang suami istri itu, Kanigara langsung mengajak Inka berbulan madu untuk kedua kalinya.
Tentu saja, Inka tak akan menolak penawaran yang diajukan oleh Kanigara. Di kehidupan kali ini, ia tak akan membuang kesempatan untuk menjadi semakin dekat dengan sang suami. Ia akan menikmati waktu yang tersisa bagi mereka berdua. Ia tak ingin menyesal untuk kedua kalinya. Ia juga akan memastikan bahwa ia akan segera mengandung buah hatinya bersama Kanigara.
"Gi, thanks banget udah ada buat aku selama ini ya. Semua impian ini engga akan bisa jadi kenyataan kalo kamu engga ada di sisi aku untuk membantu, menguatkan dan jadi pilar pelindung terkuat aku," ujar Inka tiba-tiba yang membuat suasana berubah menjadi haru.
"Apaan sih, nak! Kamu ngomong gitu, kayak bakalan segera pisah aja sama aku! Ingat jangan mati sebelum balas dendammu terpenuhi!" ujar Gianna sembari menggenggam tangan Inka erat dan menatap sahabatnya itu dengan lekat. Inka hanya tersenyum simpul, ada kesenduan yang menyelusup di dalam hatinya.
Ia tak akan melupakan kejadian aneh yang ia alami saat ia mati suri sebelumnya.
Jika memang waktuku sesingkat yang dikatakan Kanigara muda itu, maka aku harus segera menjalankan rencanaku secepatnya! batin Inka sembari mengepalkan tangannya.
Inka berpikir jika ia memang harus mati, maka sebelum hari kematiannya, semua keluarga dan orang yang ia kasihi harus memiliki kehidupan damai dan tenang tanpa ada musuh yang selalu berusaha mengintai dan mencelakai mereka, seperti yang Inka alami.
****
"Adik kecil udah siap berangkat?" tanya Niskala, saat ia, Asher dan Gianna mengantarkan Kanigara dan Inka ke Bandara.
__ADS_1
"Udah kak," ujar Inka sembari memeluk sang kakak ipar. Ia pun berpelukan dengan Asher dan Gianna.
Wajah Kanigara terlihat santai ketika melihat interaksi di antara Inka dan Niskala yang membuat Inka bernafas lega, karena rasa cemburu Kanigara terhadap kakak kandungnya itu sudah menguap dan menghilang. Ia tak ingin kesalahpahaman di masa lalu terjadi kembali di masa kini, walau dengan pribadi yang berbeda.
"Semuanya sampai jumpa di Jakarta ya. Jaga tuh tunangannya, Pak Bos! Awas digondol orang sebelum pesta pertunangan kalian. Jangan galak-galak juga sama calon kakak ipar aku, Tuan Muda Asher," ujar Inka sambil bercanda ketika ia berada dalam rangkulan sang kakak.
"Iya bawel..., Jangan lupa waktu pulang udah bawa calon ponakan kami ya," balas Asher yang membuat mereka berlima tertawa.
Inka dan Kanigara pun memasuki ruang tunggu VIP untuk menunggu jadwal keberangkatan mereka. Saat sedang menuju ke ruang tunggu, Inka mengerutkan dahinya sembari melihat ke suatu titik yang membuat Kanigara yang sedang menatapnya, melihat ke arah pandangan Inka tertuju.
Apa aku engga salah lihat ya? batin Inka sembari menghentikan langkahnya secara tiba-tiba. Ia merasa ragu dengan penglihatannya karena sosok yang tertangkap matanya itu berlalu dengan sangat cepat. Ia tak mungkin mengejar sosok yang membuat ia penasaran itu, saat Kanigara sedang berada bersama dirinya.
"Ahhh, ohhh, bukan apa-apa kak, aku pikir aku ngeliat kawan lama aku, ternyata bukan!" ujar Inka yang tersadar karena pertanyaan Kanigara. Kanigara hanya mengangguk dan menggenggam tangan Inka untuk melanjutkan perjalanan mereka, walau ia merasa tatapan Inka terlihat sangat tak biasa seolah ada keterkejutan yang terpancar dari pandangan istrinya itu.
Kanigara menyimpan pertanyaan itu dalam hatinya, tetapi ia akan melakukan penjagaan ekstra terhadap Inka. Ia tahu Inka menyimpan rahasia yang tak ingin dibaginya, tetapi Kanigara akan memastikan bahwa rahasia itu akan segera ia ketahui.
****
"Akhirnya sampe juga!" ujar Inka yang terlihat sangat senang. Kali ini, Kanigara memilih destinasi yang cukup jauh. Kanigara mengajak Inka untuk berkunjung ke negara yang sangat disukai oleh Kanigara karena sangat bersih, tenang dan terasa sangat romantis.
__ADS_1
Kanigara memilih untuk berbulan madu di Kota Lucerne yang ada di Swiss. Inka terlihat sangat bahagia dengan pilihan sang suami. Ia memang menyukai tempat wisata yang tenang dan menyuguhkan pemandangan danau, gunung dan kota-kota tua dengan arsitektur klasik yang memanjakan mata.
"Suka, sayangku?" bisik Kanigara saat memeluk Inka dari belakang di balkon hotel tempat mereka menginap yang menyuguhkan pemandangan danau indah yang bernama Danau Lucerne.
Inka berbalik ke arah sang suami dan mencium pipi Kanigara sebagai jawaban dari pertanyaan suaminya itu. Kanigara tersenyum senang dan tak melewatkan waktu untuk me***mbu sang istri. Inka hanya bisa pasrah setiap kali Kanigara memulai aksinya, karena ia juga sangat menikmati kegiatan manis bersama suaminya itu.
Setelah menghabiskan waktu semalaman di ranjang hotel, keesokan paginya Kanigara mengajak Inka untuk mengunjungi tempat wisata terkenal di kota Lucerne yang bernama Gunung Pilatus. Inka sangat menikmati pemandangan indah yang disuguhkan selama perjalanan menuju ke destinasi wisata tujuan mereka itu.
Danau Lucerne yang jernih dan indah, jejeran pegunungan dan puncak Gunung Pilatus yang tertutup salju yang membuat Inka berdecak kagum. Kanigara sangat menyukai binar indah yang terpancar dari sorot mata sang istri. Pipi Inka yang memerah karena cuaca dingin membuat wajah putih Inka terlihat semakin cantik di mata Kanigara. Kanigara merasa gemas, dan mencium pipi sang istri dengan mesra yang membuat Inka merona.
Ia bersyukur karena bisa memiliki wanita secantik dan sebaik hati Inka untuk mendampingi Kanigara, seumur hidupnya. Ia juga menikmati perjalanan cinta mereka yang tumbuh secara perlahan tapi pasti. Ia berjanji akan menjaga Inka, agar tak lagi mengalami banyak kejadian tak menyenangkan yang bahkan sempat membuat Kanigara mengalami ketakutan yang tak pernah ia rasakan seumur hidupnya kala Inka mengalami koma.
Setelah itu, Kanigara mengajak sang istri menikmati acara belanja di Kota Tua Lucerne yang membuat Inka kegirangan. Jejeran bangunan abad pertengahan yang menyajikan beragam kisah tersirat yang disuguhkan melalui guratan-guratan cat yang terlihat menua, tetapi meninggalkan kesan yang mendalam. Inka melayangkan pandangan ke sekeliling untuk memanjakan matanya yang selalu terlihat lapar karena pemandangan indah yang tak kunjung berlalu.
Inka berbelanja beberapa barang, untuk dirinya, Kanigara dan oleh-oleh untuk orang-orang terkasihnya. Saat sedang melihat-lihat toko yang menjadi target mereka selanjutnya, tanpa sengaja mata Inka menatap sesuatu yang membuat ia terkejut. Ia bertanya-tanya apakah pandangannya yang salah atau memang sosok yang dilihatnya adalah orang yang memiliki kemiripan dengan sosok yang dikenalnya atau memang orang yang sama.
"Dia?" gumam Inka lirih yang masih terdengar oleh Kanigara.
"Dia?!"
__ADS_1
****