Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
43


__ADS_3

"Bu bos, kayaknya ini udah keterlaluan! Kenapa engga langsung ditindak aja sih? Nih..., udah aku beli yang baru...," seru Gianna kesal karena sudah beberapa kali Inka terpaksa menyerempet maut karena ulah musuh-musuh Inka di masa lalu.


"Sabar sayangku, btw, makasih buat ini! Aku udah bilang dari awal pembalasan ini akan berjalan perlahan tapi pasti. Bukankah irisan kecil yang dilakukan terus menerus lebih terasa menyakitkan daripada sekali tembakan lalu mereka mati!" balas Inka sembari mengaktifkan ponsel baru yang dibelikan oleh Gianna.


Gianna hanya bisa menghela nafas panjang, dan tak lagi mendebat sahabatnya itu karena ia tahu bahwa dirinya tak akan bisa mengubah pendirian istri Kanigara itu. Tak lama, Kanigara muncul dengan membawakan kopi dan makan malam untuk dirinya dan Gianna yang membuat Gianna berterima kasih kepada lelaki itu.


****


Sementara itu di kediaman keluarga Janu, Leticia mendengarkan ceramah dari sang ayah dengan malas.


"Kamu mau ngerusak rencana kita, Leticia?! Kenapa kamu bisa bertindak sendiri bahkan berani berbohong mengatasnamakan papi, untuk menjalankan rencana kamu itu! KAMU TAU PAPI UDAH DITEROR DAN MEREKA TAU ITU PERBUATAN KITA, LETI!" teriak Buana pada putri semata wayangnya itu dari seberang panggilan. Leticia terkejut saat mendengar penuturan sang ayah, tapi kekeraskepalaannya membuat Leticia menutup mata terhadap kenyataan itu


Hatinya sudah dipenuhi kebencian dan dendam yang membuat pikiran Leticia tak lagi rasional. Ia hanya ingin melenyapkan Inka dari dunia ini dengan segera walau memakai cara apapun. Hatinya tak sanggup menahan amarah saat melihat kemesraan Kanigara dan Inka.


Bahkan hari itu, ia membuat rencana penculikan dirinya hanya agar menarik perhatian Kanigara dan bisa bermanja kepada lelaki yang dicintainya itu. Namun ternyata rencana yang disusun tidak berjalan dengan baik karena sang ayah melancarkan serangannya terhadap Inka di hari yang sama dengan Leticia.


"Sekarang papi tarik diri dulu aja, balik ke London. Urusan di sini biar aku yang handle, tapi kasih aku kekuasaan penuh untuk merintah anak buah papi. Aku jamin kita engga akan bakalan gagal lagi, Papi boleh jadi penasehat aku dari jauh. Aku pasti akan balas kegagalan kita kali ini!" ujar Leticia yang membuat Buana menghela nafas berat.


Ia menyadari bahwa ia terlalu memanjakan Leticia selama ini dan selalu mengikuti apapun kemauan putrinya itu. Buana merasa kali ini putrinya itu sudah gelap mata dan melangkah terlalu jauh. Buana tak ingin Leticia disakiti, tapi lelaki itu lebih tak ingin Leticia menyakiti dirinya sendiri.


"Kamu berjuang dengan cara kamu sendiri. Anak buah papi engga akan bergerak tanpa perintah langsung dari papi. Kalo kamu butuh sesuatu hubungi papi. Besok papi kembali ke London. Jaga diri kamu baik-baik!" Buana langsung memutuskan panggilannya yang membuat Leticia mencebik kesal.


Ia merasa kali ini sang ayah tak lagi mendukung usahanya untuk mendapatkan Kanigara dan melenyapkan Inka, wanita yang sudah dinobatkan Leticia sebagai musuh abadinya itu.


****

__ADS_1


"Kenapa kamu engga mau dirawat di rumah sakit aja, Ka?" tanya Kanigara setelah mereka kembali ke kediaman keluarga Janu di keesokan harinya.


"Aku engga suka bau rumah sakit. Rasanya aku udah terlalu sering nyium aroma obat-obatan sejak tiba di sini," ujar Inka sambil tersenyum simpul yang membuat Kanigara merasa bersalah, walau ia tahu bahwa sang istri tidak sedang menyindir dirinya.


Inka tetap bekerja dari rumah selama masa pemulihan dirinya, ia juga meminta Sellah untuk merahasiakan keadaannya kepada seluruh staff dan klien yang mencari dirinya.


"Gimana Gi, kamu dapat updatean dari Kenneth terkait kecelakaan kemarin?" ujar Inka saat menghubungi Gianna malam itu. Gianna menjelaskan secara rinci hasil investigasi dari detektif yang mereka sewa itu.


"Oh iya, Buana terbang ke London hari ini, bu bos! Cih, kurang nyali juga ternyata!" ujar Gianna penuh kebencian yang membuat Inka tersenyum, sekaligus memikirkan sesuatu.


Ada yang beda, kenapa alurnya berubah lagi? batin Inka.


****


"Kalo ada yang nyariin aku, bilang aku nginap di tempat kolegaku karena ada kerjaan, paham kamu!" ujar Leticia kepada murni yang sudah ditugaskan oleh Inka, untuk melayani Leticia.


Leticia melenggang santai dan keluar menuju halaman dimana teman-temannya sudah menunggu. Tanpa Leticia sadari seseorang sedang mengamatinya dalam diam. Leticia terlihat berbeda malam itu, ia berdandan seolah akan menghadiri sebuah pesta. Ia mengenakan gaun hitam berbahan silk, bertali satu, dipadankan dengan high heels bermodel T-Strap berwarna senada.


"Let's party beibbbb," seru Leticia setelah memasuki mobil mewah yang terparkir di depan halaman kediaman keluarga Janu itu.


"Target meninggalkan area, bos," ujar seseorang di seberang panggilan.


"The party begins..." Seringai seseorang yang sedang berkirim pesan kepada rekannya.


****

__ADS_1


Suara hingar bingar di sebuah gedung terdengar. Aroma minuman, cerutu, parfum, asap, berbaur menjadi satu di tempat itu. Beberapa orang terlihat sedang meliuk-liukkan tubuhya di lantai dansa, Leticia adalah salah satunya. Leticia mengikuti irama musik dengan begitu lincahnya seolah ia sudah terbiasa dengan keadaan itu.


"Move your body, beib. Lets dancing all night long...," seru Leticia dengan tawanya yang lepas. Beberapa pria memperhatikan gadis cantik itu dengan intens. Kaki jenjang dan lekuk tubuh gadis semampai itu, membuat mata pria normal dan hidung belang akan sulit berpaling, termasuk seorang lelaki yang sedang menikmati minumannya di sebuah meja temaram bersama beberapa orang sahabatnya.


Cantik, sexy, tipeku! batin lelaki itu sambil menyeringai licik.


Leticia terlihat kembali ke meja mereka bersama teman-temannya. Mereka kembali memesan minuman.


"Kamu engga takut ketauan si Gara kalo main ke club kayak gini, Let? Gara kan, anti banget tempat kayak ginian?" ujar Leah salah satu sahabat Leticia.


"Ihhh, kalo itu sih engga usah khawatir, cintaku..., Gara itu percaya banget sama aku! Tinggal kasih alasan rasional dan pamit waktu mau pergi, beres deh urusan!" balas Leticia sambil tersenyum pongah.


Pesanan minuman mereka datang, Leticia kembali menikmati suasana dengan meminum segelas brandy yang ada di tangannya. Leticia merasakan euforia kebahagiaan dengan mengecap minuman kegemarannya saat berada di klub malam bersama dengan teman-temannya.


"Nona, ini ada minuman dari tuan yang ada di meja sana," ujar waitress yang melayani mereka tadi. Leticia menatap ke arah lelaki yang sedang mengangkat gelasnya ke arah Leticia. Leticia tersenyum, sembari mengambil gelas yang diserahkan oleh sang waitress dan balas mengangkat gelas itu sembari menatap lelaki yang sedang tersenyum menggoda itu. Teman-teman Leticia cekikikan karena interaksi Leticia dan lelaki yang terbilang tampan itu.


Leticia merasakan desakan untuk ke kamar kecil. Leticia beranjak dengan sedikit sempoyongan akibat minuman keras yang sudah ditenggaknya. Leticia berjalan pelan sembari berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan tubuhnya.


"Kamu gapapa?" tanya seseorang yang ternyata adalah lelaki yang memberikan minuman kepada Leticia tadi.


"I'm okay..., anyway, thanks buat minumannya. Itu dari kamu, kan?" balas Leticia sembari tersenyum manis. Tiba-tiba Leticia merasakan perasaan yang aneh saat bertatapan dengan lelaki itu, suhu tubuhnya seakan meningkat. Ia merasakan panas, dan ada getaran seperti tersengat sesuatu yang menyenangkan sekaligus mendebarkan.


Rona merah menghiasi wajah Leticia. Ia mengalungkan tangannya ke lelaki itu, yang membuat lelaki itu menyeringai puas.


"Target bergerak dengan seorang pria, bos!" ujar seseorang yang membuat orang dihubunginya tersenyum puas.

__ADS_1


"Selamat menikmati malam ini sayang, karena esok tak akan sama lagi!" ujar seseorang sambil mengangkat gelas yang ada di tangannya sembari menikmati pemandangan malam melalui jendela kamarnya.


****


__ADS_2