Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
32


__ADS_3

"Mami tau kita engga tidur sekamar...," ujar Kanigara saat mereka berdua berada di dalam mobil sekembalinya dari Bandara. Inka terkejut dengan perkataan Kanigara. Namun ia tahu insting sang ibu sangat kuat ditambah pengamatannya yang tajam, tak jarang Elisha mengetahui apa yang tidak diketahui orang lain terutama bila itu terkait dengan keluarganya.


Inka memilih tak merespon perkataan Kanigara itu, ia hanya diam yang membuat Kanigara melihatnya dengan tatapan bertanya. Kanigara sama sekali tak menyukai sisi kepribadian Inka yang seperti itu. Saat Inka diam, ia menjadi sosok yang tak bisa dijangkau dan itu membuat Kanigara terganggu.


"Mulai hari ini, kita akan tidur dalam satu kamar demi menghormati mami. Dan aku sedang tak menerima bantahan, Inka sayang!" tandas Kanigara yang membuat Inka menatapnya tajam.


"Perjanjian kita masih berlaku, Tuan Muda Kedua! Sebagian lelaki gentleman, seharusnya kamu bisa memegang janji bukan?!" sindir Inka dengan nada dingin.


"As I say before, dear..., Tak ada bantahan, istriku!"


****


Sejak malam itu, Inka tidur satu kamar dengan sang suami dengan perjanjian bahwa kamar pribadi Inka tetap Inka gunakan sesuai dengan keinginannya. Kanigara sama sekali tak keberatan dan hal itu membuat Inka bisa bernafas lega karena begitu banyak hal yang disimpannya di ruangan itu terkait rencana pembalasan dendamnya.


Inka kembali merasa canggung dengan kedekatan mereka di ranjang malam itu. Ia masih tak tahu bagaimana harus bersikap di hadapan sang suami karena intensitas pertemuan mereka akan semakin banyak karena sudah tinggal sekamar.


Sementara itu Kanigara terlihat santai, suaminya yang memang pendiam itu melakukan segala aktivitasnya dengan tenang. Kanigara adalah pribadi yang sangat terorganisir, ia akan selalu meletakkan barang-barangnya di tempat semula sehingga kamarnya selalu terlihat rapi.


Dulu hanya Bik Marni yang boleh membersihkan kamar Kanigara tapi sekarang tugas itu dilimpahkan kepada Riska sesuai dengan pengaturan yang dilakukan oleh Inka sebagai nyonya rumah.


"Tiga hari lagi persidangan Bik Marni dan Seila, apa kamu gapapa ke pengadilan sebagai saksi?" tanya Kanigara saat mereka sudah bersiap untuk tidur.


"Gapapa kok, Kak. Lagian itu kewajiban kita kan...," balas Inka.


"Aku temani...."


****

__ADS_1


Keesokan harinya Leticia kembali memperlihatkan wajahnya di kediaman Inka. Kebetulan hari itu adalah akhir pekan, Inka sudah berencana mengajak Asher dan Segara untuk berwisata sebelum mereka kembali ke Jakarta.


Inka memutar bola matanya kesal karena harus selalu melihat penampakan musuhnya itu di kediaman mereka. Inka meminta Rima menginfokan ke bagian dapur untuk membuatkan minuman untuk Leticia, sembari ia menemui Kanigara untuk mengabarkan kedatangan Leticia.


"Ehmm, Kak..., kebetulan hari ini aku mau ngajakin Kak Asher dan Segara keluar. Gapapa kan kalo kakak yang nyambut Leticia, soalnya besok mereka udah balik ke Jakarta...," ujar Inka karena sebenarnya ia malas harus meladeni wanita rubah itu.


Kanigara sempat terdiam mendengar perkataan sang istri, tetapi tak lama kemudian ia menganggukkan kepalanya dan memberikan ijin kepada Inka yang membuat ia tersenyum bahagia. Inka tanpa sadar mencium pipi sang suami. Kedua insan itu sempat terpaku karena tindakan tiba-tiba Inka itu. Inka langsung berdeham dan pamit undur diri dari hadapan sang suami.


Kanigara masih terpaku di tempatnya, sambil menyentuh pipinya yang tadi terkena sentuhan bibir sang istri.


Apa tadi itu? batin Kanigara sembari menggelengkan kepalanya dan bersiap menemui Leticia.


****


Ternyata Niskala minta diikutsertakan saat melihat Inka dan Asher akan berangkat. Inka, Asher dan Niskala hanya menyapa Leticia sekedarnya sebelum mereka bertiga keluar dari kediaman keluarga Janu.


Hal itu membuat Leticia kesal, namun ia menahan amarahnya karena ia ingin kembali mendekatkan diri kepada Kanigara.


"Duduk!" ujar Kanigara datar yang membuat Leticia merasakan sakit di dadanya karena seumur hidupnya Kanigara tak pernah bersikap sedingin itu kepadanya.


Semua gara-gara perempuan m*rahan itu! batin Leticia tak terima.


"Gara, aku mau minta maaf sama kamu dan Inka! Aku tau aku salah, engga seharusnya aku dan papi ngomong gitu ke Inka. Inka juga cuma korban!" Leticia memulai aktingnya dengan menitikkan air mata. Kanigara tetap diam sembari menunggu penjelasan Leticia lebih lanjut.


Melihat Kanigara hanya diam dan terlihat tanpa reaksi, Leticia pun melanjutkan kata-katanya.


"Aku pengen kita kayak dulu lagi, Gar. Aku kangen sama kamu! Kamu tau kan dari kecil aku yang dukung dan selalu nemanin kamu! Aku sayang banget sama kamu, Gar. Aku engga pengen persahabatan kita berakhir kayak gini!" Leticia berjalan dan duduk di sofa yang berada di samping Kanigara sembari berusaha menggenggam tangan Kanigara.

__ADS_1


Kanigara tak menepis tangan Leticia yang membuat gadis itu merasa mendapatkan angin segar. Kanigara menghela nafas berat sebelum akhirnya menoleh ke arah Leticia yang masih berderai air mata.


"Aku harap kamu engga ngelakuin hal bodoh dan engga beretika kayak kemarin, Let. Kamu tau aku menyayangi kamu sebagai sahabat dan Leticia yang aku tahu engga seperti kamu akhir-akhir ini," ujar Kanigara yang membuat Leticia mengangguk mantap.


Yesss! Leticia bersorak dalam hati karena merasa ia sudah berhasil memenangkan hati Kanigara. Kali ini ia akan memanfaatkan kesempatan ini dengan sebaik mungkin untuk memisahkan Kanigara dan Inka. Ia tak akan membiarkan seorang pun memiliki Kanigara yang merupakan cinta pertamanya itu.


****


Sementara itu, Inka sedang menikmati waktunya bersama tiga kesatria yang sedang menemaninya.


"No! Engga lagi Inka. Cukup kejadian kemarin yang hampir membuat kamu celaka!" tolak Asher saat Inka meminta diijinkan untuk bermain parasailing kembali.


"Temenin kak! Kali ini kan ada kakak, jadi aku engga terbang sendiri. Please!" bujuk Inka yamg membuat Asher mencebik. Ia selalu mengalami kesulitan untuk menolak keinginan Inka, bahkan ia sering terkena amukan Oliver dan Elisha karena membiarkan Inka bermain permainan ekstrim.


Pada akhirnya ketiga pria itu mengabulkan permintaan Inka bahkan menemani gadis itu bermain. Kali ini semuanya berjalan lancar. Inka dan Asher terbang bagaikan burung sembari menikmati angin dan pemandangan alam di sekitar. Segara dan Niskala juga mengikuti jejak mereka.


Inka terlihat bahagia, karena ia dikelilingi orang yang menyayanginya. Di sudut hatinya ia berharap Kanigara ada di situ dan menikmati hari itu bersama mereka, tetapi Inka tahu bahwa ia tak boleh berharap banyak agar tak terluka lagi. Walau ia melihat ada perubahan pada diri Kanigara, tetapi ada kalanya ia masih merasakan sifat dingin Kanigara saat mereka bersama.


"Oiii, melamun aja! Mau naik jet ski engga, dek?" tanya Asher sembari menepuk pundak sang adik pelan. Inka mengangguk cepat yang membuat Asher tertawa dan mengacak rambut gadis cantik itu.


Inka sudah bersiap untuk berlomba dengan ketiga lelaki yang ia sayangi itu. Ia merasa begitu hidup saat itu. Tawa ceria Inka menggema dan wajahnya terlihat begitu cerah dan bahagia.


Cantik!


Saat akan bersiap untuk melaju tiba-tiba Inka dikejutkan dengan pelukan seseorang di pinggangnya dan bisikan yang membuat tubuhnya membeku.


"Ingin bersenang-senang tanpa aku, emmm!!!"

__ADS_1


****


__ADS_2