Ketika Inka Menjadi Inka

Ketika Inka Menjadi Inka
28


__ADS_3

Segara terkejut dengan pertanyaan yang diajukan oleh Inka. Inka tersenyum maklum, saat melihat reaksi dari sahabatnya itu. Inka pada akhirnya, memutuskan untuk jujur dan menceritakan kisah pilu masa lalunya kepada Segara.


Segara membeku, saat mendengar semua cerita yang mengalir dari bibir Inka. Ia tak tahu harus berkata apa, ia begitu terguncang hingga merasa tubuhnya bergetar. Ia menatap Inka dengan tatapan kosong, yang membuat Inka dan Gianna memandang iba ke arah lelaki yang sudah menemani mereka sejak kecil itu.


Tanpa aba-aba Segara langsung memeluk tubuh Inka yang membuat gadis itu terkejut.


"Ke..., kenapa kamu milih jalan ini, Ka? Kenapa kamu engga pilih jalan yang lain, kenapa? Kamu bisa pergi keluar negeri, ngejalanin bisnis keluarga Alora di sana, menikah dengan lelaki yang mencintai kamu! Don't do stupid things like this, Ka! Ka..., kamu berhak bahagia, tanpa harus bersinggungan dengan masa lalu kamu! Ceraikan Kanigara, hiduplah dengan bahagia!" ujar Segara panjang lebar dengan suara bergetar yang membuat kedua gadis yang bersamanya terenyuh.


Inka menepuk punggung Segara untuk menenangkan sahabatnya itu. Segara melepaskan pelukannya dan menatap Inka dengan lekat.


" Aku mohon, Ka..., jangan lagi menyerempet maut hanya untuk rencana balas dendam konyol yang mungkin bisa membawa kematian kedua kali buat kamu!" ujar Segara dengan tajam yang membuat perubahan pada raut wajah Inka. Gianna mencoba menengahi kedua sahabatnya itu sebelum Segara merasakan kemarahan Inka. Namun semuanya terlambat.


Plakkk....


Inka sudah terlebih dulu melayangkan tamparannya ke pipi Segara yang membuat baik Segara maupun Gianna terkejut.


"Konyol?! Konyol kamu bilang?! Aku..., aku yang ngalamin semua penderitaan itu, Tuan Segara Saki yang terhormat! Jika Tuhan memberi aku kehidupan yang kedua, apa menurut kamu kesempatan itu diberi agar aku lari dari masa lalu aku. Dimana aku mati mengenaskan tanpa bisa membela diri aku?! teriak Inka dengan tubuh yang bergetar hebat. Gianna langsung memeluk Inka karena takut sahabatnya itu akan pingsan secara tiba-tiba.


Inka menatap nanar ke arah Segara yang merasa bersalah dan menyesal dengan perkataannya yang sudah menyinggung hati sahabatnya itu.


"Aku hanya minta satu hal, tolong rahasiakan semua yang kamu dengar ini, kalo kamu masih nganggap aku sahabatmu! Aku mohon keluar dari sini sekarang!" ujar Inka yang membuat Segara mematung di tempatnya. Ia menatap tubuh Inka yang terkulai lemas dalam pelukan Gianna. Segara mengepalkan tangannya dan berlalu dari ruangan itu.


Sepeninggal Segara, Inka menangis sejadi-jadinya yang membuat Gianna terhenyak dan menangis bersamanya.

__ADS_1


****


Keesokan harinya Buana dan Leticia datang ke kediaman keluarga Janu dan menyebabkan keributan.


"Inka Alora, keluar kamu!" seru Buana penuh emosi yang membuat Niskala keluar dari kamarnya dan mencari sumber keributan itu.


"Ada apa pagi-pagi sudah teriak-teriak di rumah orang, Om?" ujar Niskala tenang.


"Mana perempuan itu?! Dia udah berani ngeracunin putriku! Dia harus dijebloskan ke penjara sekarang juga!" balas Buana yang membuat Niskala menghela nafas kesal.


"Om, punya bukti kalo Inka ngeracuni Leticia?! Inka juga korban, Om! Dia sama sekali engga tau ada sesuatu yang dimasukkan Seila dan Bik Marni ke minumannya!" jelas Niskala yang masih mencoba bersabar menghadapi temperamen dari ayah Leticia yang meledak-ledak itu.


Buana tetap bersikeras, dan terus berteriak memanggil Inka hingga Inka, Kanigara dan Gianna muncul. Leticia dan Buana memandang Inka penuh kebencian. Inka tetap memasang wajah datar.


Buana terus mencecar Inka agar mengakui perbuatannya yang membuat Inka mencibir.


"Om Buana, apa anda punya bukti bahwa saya telah meracuni putri anda?" tanya Inka dengan tatapan dingin yang membuat Buana sedikit terperangah karena Inka terlihat sama sekali tak terintimidasi dengan semua ancaman yang sudah dialamatkannya kepada gadis itu.


"Itu...," ujar Buana ragu, karena bila ia mengungkapkan kebenarannya maka pihak Kanigara akan mengetahui bahwa pihaknya sedang memata-matai keluarga Janu.


"Leticia saksinya, setelah meminum teh dari kamu dia langsung merasakan keanehan pada tubuhnya. Iya kan, sayang?" lanjut Buana yang meminta dukungan sang putri. Leticia langsung mengiyakan perkataan sang ayah dan mulai meluapkan amarahnya kepada Inka. Inka hanya tersenyum simpul menghadapi kemarahan ayah dan putrinya itu.


"Om Buana, memang ada sesuatu yang dimasukkan ke dalam minuman yang diminum oleh Kak Leticia, tapi target yang sebenarnya adalah saya. Saya punya saksi terkait hal itu, saya juga merasa bersalah karena ketidaktahuan saya menyebabkan Kak Leticia menjadi korban,

__ADS_1


Pihak kepolisian sedang menyelidiki hal ini dan pelakunya juga udah ditangkap. Untuk apa yang menimpa Kak Leticia, saya secara khusus meminta maaf," ujar Inka dengan tenang yang membuat Buana semakin berang. Ia merasa tak puas dengan penjelasan Inka. Ia tetap menyerang Inka secara verbal yang membuat Inka muak.


"Jadi om maunya gimana? Saya bisa menuntut om dengan pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik. Om, mau kita bertemu di pengadilan, silakan ajukan tuntutannya! Saya tunggu!" ujar Inka dengan tatapan dingin yang membuat Buana sedikit gentar. Ia tak menyangka bahwa seorang bocah ingusan berani melawannya secara verbal dan tak kelihatan takut sama sekali.


Buana mencoba berkelit, setelah melontarkan beberapa ancaman kosong, ia dan Leticia meninggalkan kediaman keluarga Janu. Kanigara yang sejak tadi menjadi penonton pasif tersenyum samar sembari menatap ke arah Inka yang masih terpaku di tempatnya.


Partner yang sempurna! Batin Kanigara bangga melihat keberanian serta ketenangan Inka menghadapi gempuran kata-kata kasar yang dilontarkan oleh Buana dan Leticia. Sementara itu Niskala mendekati Inka sambil mengacak pelan rambut Inka.


"Gadis pintar..., terima kasih sudah bertahan dan menjadi lebih kuat!" ujar Niskala dengan sorot mata yang tak terbaca. Inka sempat tertegun mendengar perkataan Niskala itu.


"Kakak ganteng, aku mau juga dong dielus rambutnya. Dari kemarin aku udah jadi penjaga adik ipar kakak ini, loh!" canda Gianna untuk mencairkan suasana tegang yang sudah tercipta sejak kedatangan Buana tadi. Niskala pun mengabulkan permintaan Gianna yang membuat Gianna menjerit senang. Niskala dan Kanigara tergelak melihat kelakuan sahabat Inka itu.


****


Inka memasuki ruangan kerjanya dengan hati yang berat setelah pertengkarannya dengan Segara tadi malam. Ia menghela nafas panjang sebelum membuka pintu ruangan itu. Ia melihat ke arah Segara yang sudah duduk manis dan berkutat dengan laptopnya. Segara melihat ke arah Inka dengan tatapan yang sulit untuk diartikan.


"Kita perlu bicara!" ujar Segara yang membuat Inka mendengus kasar dan memilih duduk di sofa menunggu Segara yang sepertinya telah bersiap untuk mengkonfrontasi dirinya lagi. Inka memandang Segara dengan tatapan dingin yang membuat Segara sedikit terintimidasi. Ia tahu Inka yang sekarang tak lagi sama dengan Inkanya yang dulu.


Segara sama sekali tak tahu harus berbahagia atau sedih karena perubahan yang terjadi pada sahabatnya itu. Namun ia tahu, Inka sudah mempersiapkan semua yang ia perlukan untuk membalaskan dendam masa lalunya.


"Maafin aku untuk kata-kataku semalam, aku tau aku salah. Aku hanya ingin kamu bahagia di kehidupan baru kamu, Ka," jelas Segara membuka pembicaraan. Inka tetap diam dan menunggu Segara menyelesaikan perkataannya.


"Bagi dukamu dengan kami, Ka. Aku di pihakmu."

__ADS_1


****


__ADS_2