
Inka terkejut saat melihat Kanigara yang muncul di depannya sembari menatap tajam ke arah sang istri. Inka menghela nafas berat dan mencoba meminta maaf kepada Kanigara karena tak mengabari dirinya bahwa Inka akan pulang terlambat malam itu.
Inka merasa sangat penat karena serangan panik yang terjadi tadi pagi dan segudang kesibukannya hari itu, sangat menguras tenaganya. Ia tak ingin lagi melakukan drama percekcokan suami istri malam ini. Kanigara menarik pelan tangan Inka dan membawa sang istri ke kamarnya.
"Kak, please aku capek banget hari ini. Kalo emang mau bicarain sesuatu bisakah besok aja?" ujar Inka dengan nada memohon.
"Aku engga akan lama, apa maksudnya ini semua?" tanya Kanigara sambil melemparkan beberapa foto kebersamaannya dengan Segara, yang diambil secara diam-diam. Inka berdecak kesal sembari mengambil salah satu dari foto tersebut.
"Foto ini benar! Tapi apa yang terlihat engga seperti yang kakak pikirkan!" Inka berusaha membela dirinya tapi sepertinya Kanigara tak mempercayainya.
S*al! Permainan murahan kayak gini keluar lebih awal! Ternyata ada penyusup di kantor. Aku harus menangani hal ini segera, dan tampaknya aku bantuan Segara kali ini. Tuhan semoga pilihanku tak salah! Batin Inka sembari berdoa bahwa ia tak akan membahayakan jiwa Segara bila membawa sahabatnya itu masuk dalam rencananya. Karena Segara pasti akan mencurigainya bila besok ia mulai bergerak, sementara Segara masih sekantor dengan dirinya.
Ia kembali memusat dirinya pada lelaki yang sedang memandangnya seolah menunggu penjelasannya. Inka berusaha menjelaskan semuanya secara detail tapi menyembunyikan perihal serangan panik yang dia alami tadi pagi. Kanigara masih berdiam diri setelah Inka menyelesaikan penjelasannya.
"Inka, mungkin aku harus memberitahukan hal ini sama kamu. Keluarga Janu punya beberapa musuh di dalam dunia bisnis, aku rasa kamu juga tau masalah seperti ini umum terjadi di dunia persaingan bisnis. Jadi aku harap kamu bisa lebih berhati-hati dalam bersikap, karena walau pernikahan kita tanpa dasar cinta, tapi kamu sudah jadi bagian dari keluarga Janu saat ini dan seterusnya." Penjelasan panjang Kanigara membuat Inka terdiam. Inka merasa sedikit terkejut karena ternyata Kanigara tidak murka seperti yang terjadi di masa lampau. Lelaki itu terlihat mampu mengendalikan emosinya dengan baik.
Dia kembali berakting, atau sudah berubah. Atau apa begini Kanigara yang asli? Karena sejak dulu aku tak pernah tau sifat asli suamiku sendiri, batin Inka merasakan sesal yang entah muncul darimana.
Tiba-tiba perut Inka bergemuruh, yang membuat wajah Inka memerah karena malu.
"Kamu belum makan?" tanya Kanigara tak percaya. Inka hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lemah.
"Aku langsung pulang waktu liat jam, jadi engga sempat makan," jelas Inka yang membuat Kanigara mendengus kasar.
__ADS_1
"Ehm, boleh aku minta sesuatu? Tapi aku harap kakak engga bertanya apapun sampai aku menjelaskannya sendiri." Perkataan Inka itu dijabarkannya dengan tegas dan tenang yang membuat Kanigara bisa melihat aura pemimpin dalam diri sang istri dan hal itu membuatnya kagum.
Kanigara mendengarkan apa permintaan sang istri, lalu mempertimbangkannya sesaat sebelum akhirnya ia setuju. Ia cukup penasaran tentang alasan sang istri meminta hal seperti itu, tapi ia tahu saat itu ia tak punya opsi untuk bertanya.
****
Keesokan harinya, kediaman keluarga Janu kembali dihebohkan dengan kedatangan Leticia yang membuat Inka mengeluarkan seringai di balik gelas teh yang menutupi bibirnya.
Tamu yang ditunggu udah datang, saatnya permainan dimulai, batin Inka.
"Halo, Ka. Pada kemana kak Niska sama Gara?" tanya Leticia yang sudah menunjukkan batang hidungnya di ruang makan dan duduk di hadapan Inka.
"Bentar lagi juga datang. Kamu udah sarapan, Kak?" tanya Inka yang terlihat ramah hari itu.
"Aku ngeteh aja deh," ujar Leticia. Inka langsung menyodorkan teh yang ada di depannya. Leticia langsung menikmati teh itu tanpa bertanya.
"Pagi sayang," sapa Kanigara saat memasuki ruang makan sembari mengecup kening Inka ringan yang membuat Leticia membulatkan matanya karena tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia mengucek matanya untuk memastikan penglihatannya masih baik-baik saja.
Apa-apaan itu tadi?! Leticia menenggak teh yang ada di dalam gelas yang masih digenggamnya hingga tandas. Tak lama Niskala datang dan menyapa mereka. Leticia mulai merasa ada yang tak nyaman di tubuhnya. Ia menjadi gelisah, yang membuat Inka melirik ke arahnya.
Sudah bereaksi!
Sementara kedua orang yang berdiri tak jauh dari meja makan, tertunduk takut. Rekan perempuan yang berdiri mematung itu langsung pergi terburu-buru dari tempat itu. Sementara sang perempuan hanya diam mematung dan pasrah dengan keadaan yang timbul akibat perbuatan mereka itu.
__ADS_1
Inka melirik satu per satu ke orang-orang yang ada di ruang makan itu. Ia juga menangkap pergerakan orang yang keluar dari ruang makan itu secara tiba-tiba.
"Sayang, aku ke kamar sebentar ya," ujar Inka dan segera beranjak dari tempat itu.
****
"Seila, kamu mau kemana?" ujar Inka yang berjalan santai menuju Seila yang baru saja keluar dari kamarnya. Seila langsung berdiri mematung di tempatnya saat melihat sang majikan.
"Ehhh, Nyo..., nyonya muda. Saya mau buang sampah dulu, sampah di kamar saya udah penuh." Seila terlihat gugup saat menatap mata tajam milik nyonya rumahnya itu.
"Ehmmm, sampah ya? Boleh aku lihat?" ujar Inka yang kembali berjalan mendekati gadis muda itu. Seila terlihat semakin gugup dan melangkah mundur menjauhi majikannya itu. Seila berusaha menyodorkan kantongan yang dibawanya.
"Mati kau, Inka!" teriak Seila tiba-tiba sembari menjatuhkan tas yang dibawanya dan menghujamkan pisau yang disembunyikannya di laci tas tersebut ke arah Inka. Inka segera mengelak dengan memutar badannya ke samping dan menangkap tangan Seila yang memegang pisau dan menghantam lengan Seila dengan siku tangannya yang bebas hingga membuat pisau yang dipegang gadis muda itu terlepas.
Inka segera memelintir lengan gadis muda itu dan menekan tubuh Seila itu ke dinding. Ia mengambil tangan Seila yang bebas lalu mengikat kedua tangan gadis itu dengan borgol yang sudah dipersiapkannya di kantong jasnya.
****
Sementara itu, di ruang makan telah terjadi kehebohan karena Leticia tiba-tiba meracau seperti orang yang sedang kerasukan. Ia tertawa, menangis dan menggebrak meja. Ia juga mengeluarkan kata-kata kasar dan memaki Inka tanpa henti. Ia juga berhalusinasi seolah sedang melihat hantu, bayangan dan hal-hal aneh di luar nalar manusia.
Kanigara dan Niskala mencoba menenangkan Leticia yang sudah bertindak di luar nalar. Mereka dibantu oleh Pak Gugun membawa Leticia ke kamar tamu dan mengunci gadis itu di sana setelah sebelumnya mengikat tangan dan kaki Leticia agar tak membahayakan dirinya sendiri atau penjaga yang diserahkan tugas untuk mengawasi gadis itu. Kanigara dan segenap penghuni kediaman Janu merasa terkejut dengan yang apa yang telah terjadi kecuali dengan beberapa orang di antaranya.
Inka membawa Seila ke ruang keluarga dimana seluruh penghuni kediaman keluarga Janu sudah berkumpul di sana dan menatap tajam ke seseorang yang ada di ruangan itu.
__ADS_1
"Bik Marni, bisa jelaskan apa yang sedang terjadi?"
****