
Pada akhirnya Rhode pun menemani Niskala di kamarnya. Mereka makan dalam diam sembari menatap taman kediaman keluarga Janu yang sudah diselimuti kegelapan malam.
"Ehmmm, apa kakak menangisi wanita yang disebut oleh lelaki yang datang tadi, kah?" tanya Rhode tanpa sadar. Ia sebenarnya tak ingin mengorek masa lalu Niskala, tetapi entah mengapa bibirnya mengkhianati Rhode.
Hatinya terlalu penasaran yang membuat dirinya tak bisa menahan diri untuk tak bertanya. Niskala menatap Rhode dengan intens, yang membuat gadis itu merasa bersalah karena telah salah bertanya. Niskala menghela nafas lelah, dan pada akhirnya ia menceritakan kisah cintanya yang tragis.
Kisah itu berakhir dengan Rhode yang menangis sambil terisak dalam pelukan Niskala. Ia tak menyangka bahwa atasan sekaligus kerabatnya itu pernah mengalami peristiwa yang akan membuat hati teriris sembilu kala mendengarnya. Rhode tak bisa membayangkan bila dirinya berada di situasi seperti itu.
Ia mungkin kehilangan seluruh anggota keluarganya tetapi ia tak ada ditempat saat kemalangan itu terjadi, tetapi Niskala melihat semua kejadian yang lelaki itu alami secara langsung.
"Ma..., maaf kak karena aku mengorek luka lama kakak. Aku, aku salah!" ujar Rhode yang terisak dalam pelukan Niskala yang merasa terenyuh karena tangisan pilu Rhode. Baru kali ini, ia bisa menceritakan kisahnya kepada orang lain. Selama ini hanya Kanigaralah yang mengetahui detil kejadiannya.
Niskala baru melepas pelukannya saat merasa Rhode sudah tenang. Wajah Rhode yang menyadari posisi mereka, seketika bersemu malu. Ia segera meminta maaf kepada Niskala karena alih-alih menghibur, malah ia yang dihibur oleh Niskala.
Niskala hanya tersenyum simpul sembari mengacak rambut Rhode pelan sembari mengucapkan terima kasih karena sudah bersimpati kala mendengar kisahnya dan berusaha membantunya sejak dari kantor tadi.
"Terima kasih karena sudah bantu aku melewati hari ini, sekarang tidurlah. Selamat malam, Rhode!" ujar Niskala kala mereka sudah berdiri di depan pintu kamar yang ditempati oleh Rhode. Rhode mengangguk sembari menatap Niskala dengan mata bengkak dan penglihatannya yang kabur karena terlalu banyak menangis.
Rhode tanpa aba-aba, memeluk Niskala sekali lagi dan bergegas masuk ke kamarnya. Ia menempelkan punggungnya di pintu sembari memegang dadanya untuk menetralisir jantungnya yang tengah berdegup kencang. Ia tak menyangka bahwa ia berani memeluk Niskala seperti tadi.
Iya, aku hanya berusaha menghibur, Kak Niska! Engga ada maksud apapun! Tetapi kenapa hati merasakan sesuatu yang lebih?
****
Sementara itu di tempat lain, seseorang sedang mengingau dalam mimpinya.
__ADS_1
"CEPAT! WAKTUMU TAK LAMA LAGI! Jika kau tidak pergi, maka mereka yang kembali padamu akan pergi menggantikan dirimu!" ujar suara yang semakin lama semakin menjauh.
"Tungguuu..., Tunggu..., Jangan pergi!" teriak Inka dalam tidurnya yang membuat Inka tersentak dan bangun dari ranjangnya.
"Mi..., mimpi apa itu? Kenapa begitu terasa nyata?" gumam Inka sambil mengusap wajahnya. Ia merasa seolah mimpi itu adalah pertanda dan juga pengingat bagi dirinya. Inka mendadak merasakan ketakutan sekaligus kesedihan, menyelimuti dirinya.
Kanigara yang baru saja keluar dari kamar mandi, merasa bingung saat melihat sang istri yang sedang duduk di ranjang mereka sembari memegangi dadanya. Kanigara langsung mendekati Inka untuk memeriksa keadaan sang istri.
Begitu melihat Kanigara, Inka langsung memeluk sang suami dengan erat. Hormon kehamilannya, membuat Inka lebih manja dan bergantung pada Kanigara. Inka menjadi lebih sering meminta Kanigara untuk menemaninya.
Kanigara selalu berusaha memenuhi permintaan Inka, karena tak ingin membuat istrinya itu bersedih dan mempengaruhi perasaan Inka yang kemungkinan bisa menganggu tumbuh kembang calon buah hati mereka yang sedang bertumbuh dalam rahim Inka.
Kanigara tak memaksa Inka untuk bercerita. Ia memilih untuk memeluk sang istri agar Inka kembali tenang. Ia tahu pasti ada sesuatu yang dialami sang istri dalam mimpinya.
"Yang, seandainya dalam waktu dekat kita harus berpisah, apakah kita siap ya?" Pertanyaan Inka dengan nada lirih itu membuat Kanigara terkejut. Ia tak menyangka Inka akan membahas tentang perpisahan dengannya. Ia merasa ketakutan yang beberapa waktu yang lalu menghantuinya, kini muncul kembali ke permukaan.
Inka mengangguk. Kanigara memeluk Inka dengan lembut sembari mengelus pelan punggung Inka yang merupakan kebiasaan baru mereka sejak Inka hamil. Hal itu selalu dilakukan oleh Kanigara untuk mengurangi ketegangan otot dan rasa sakit pada bagian punggung, pinggang serta pinggul yang Inka alami sejak perutnya semakin membesar.
Tuhan, jangan ambil dia dariku!
****
"Gi, kayaknya rencana kita harus kita percepat!" ujar Inka saat mereka selesai sarapan, di keesokan harinya.
Apa waktu Inka sudah semakin dekat? Gianna menatap sahabatnya itu dengan wajah sendu. Inka hanya tersenyum simpul dan menepuk tangan Gianna dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Gianna tahu bahwa Inka sedang berbohong, tetapi ia tak ingin mengorek isi hati Inka lebih lama karena ia takut ialah yang tak siap hati bila Inka bersikap jujur kepadanya.
__ADS_1
Pada akhirnya, Gianna hanya bisa mengangguk pasrah. Ia tahu Inka punya pertimbangan matang dan tugas satu-satunya Gianna adalah memberikan dukungan penuh kepada Inka.
"Minta kenneth, untuk mencari Leticia secepatnya. Aku tau Leticia merupakan kunci jawaban dari pertanyaan aku tentang hubungannya dengan Ucok!" tegas Inka yang membuat Gianna mengangguk paham.
****
Malam itu dua orang pria sedang duduk di kediaman keluarga Janu.
"Entah apa yang ada dipikirkan oleh Bu Inka? Ia terus meminta mencari Leticia secepatnya! Apa saya perlu memberitahukan lokasi Leticia, Pak?" tanya Kenneth kepada Niskala yang ada di depannya.
"Ia pasti ingin memastikan sesuatu pada Leticia! Beritahu saja, aku takut gadis kecil itu akan mencari jalan lain, bila ia tak menerima informasi tentang Leticia secepatnya!" balas Niskala.
Kenneth, yang merupakan tangan kanan Niskala mengangguk dan segera melaksanakan perintah dari atasannya itu. Sejak awal Kenneth merupakan orang yang diperintahkan Niskala untuk menjadi informan rahasia bagi Inka.
Setelah melaksanakan tugas yang diberikan oleh Niskala, Kenneth kembali duduk dan menatap atasannya itu dengan lekat seolah sedang menunggu waktu untuk menanyakan sesuatu yang selama ini memenuhi pikirannya.
Niskala membalas tatapan Kenneth dengan santai. Dari tatapan tangan kanannya itu, Niskala tahu bahwa lelaki yang lebih muda setahun darinya itu, ingin menanyakan sesuatu dan Niskala tahu dengan baik kemana arah pertanyaan Kenneth itu.
"Ada yang mau kamu tanyakan?" ujar Niskala santai yang membuat Kenneth meringis, karena lagi-lagi Niskala seolah bisa membaca pikirannya. Tanpa ragu Kenneth langsung mengajukan pertanyaan yang membuat Niskala terkejut selama sesaat lalu tergelak.
"Kenapa anda meminta saya untuk menjadi informan untuk bagi Bu Inka selama bertahun-tahun, bahkan sebelum Pak Kanigara menikah dengan beliau?"
Kenneth sedikit bingung saat melihat tawa yang menghiasi wajah atasannya itu. Tak lama kemudian Niskala mengangguk dan siap memberi jawaban kepada tangan kanannya.
"Karena aku kembali, untuk memastikan gadis malang itu tetap hidup dan tak mengalami luka yang sama!"
__ADS_1
****